Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Pangdam Jamallulael Bantah Rekayasa Kematian Serda Rafael, Ormas Dayak Desak Penyelidikan

Ashri Isnaini • Kamis, 18 Desember 2025 | 08:41 WIB

 

Pangdam Jamallulael
Pangdam Jamallulael

PONTIANAK POST – Kematian prajurit TNI AD Serda Rafael Tetelo Luna di Asrama Yonif TP 882/Hulubalang dipersoalkan Ormas Dayak Kalimantan Barat. Gabungan lintas organisasi ini melaporkan dugaan kejanggalan dalam peristiwa tersebut kepada Danpomdam XII/Tanjungpura. Sementara pihak Kodam XII/Tanjungpura menegaskan bahwa penanganan kasus sudah prosedural dan tidak ditemukan tanda kekerasan.

Rafael Tetelo Luna, prajurit Yonif TP 882/Hulubalang asal Dusun Sengkabang Melayang, Desa Gonis Tekam, Kecamatan Sekadau Hilir, Kabupaten Sekadau, ditemukan meninggal dunia pada dini hari, Jumat (12/12), di lingkungan asrama satuannya yang berlokasi di Desa Tembang Kacang, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya.

Ormas Dayak Kalbar, melalui laporan resmi yang ditandatangani unsur Dewan Adat Dayak (DAD) dan tim advokasi hukum, menyebut adanya indikasi ketidakwajaran pada kondisi jenazah. Berdasarkan dokumentasi awal yang diterima keluarga, korban ditemukan dalam posisi diduga gantung diri. Namun, tali yang digunakan dilaporkan tampak lentur dan tidak tegang, sementara posisi kaki korban masih menapak di lantai.

Selain itu, keluarga dan ormas menyoroti adanya luka atau memar di pangkal hidung korban yang diduga menyerupai bekas hantaman benda tumpul. Kejanggalan lain adalah telepon genggam milik korban yang hingga laporan dibuat belum diserahkan kepada keluarga, sehingga memunculkan kecurigaan adanya jejak komunikasi terakhir yang belum terungkap.

Pihak keluarga juga mengaku merasa diarahkan untuk menandatangani surat pernyataan penolakan autopsi. Kondisi tersebut dinilai menghambat upaya pengungkapan penyebab kematian secara medis dan hukum. Atas dasar itu, Ormas Dayak mendesak dilakukan penyelidikan dan penyidikan yang transparan, penyampaian hasil visum, autopsi independen bila diperlukan, serta pengamanan ponsel korban sebagai barang bukti kunci.

Di sisi lain, Panglima Kodam XII/Tanjungpura Mayjen TNI Jamallulael membantah adanya upaya penutupan kasus. Ia menegaskan, sejak awal kejadian pihaknya telah bertindak cepat dan terbuka. Bahkan, Pangdam mengaku langsung mendatangi lokasi dan memerintahkan agar jenazah tidak ditangani sebelum keluarga korban tiba.

“Saat kejadian saya langsung datang dan memerintahkan agar jenazah tidak diganggu terlebih dahulu. Jenazah dimandikan dengan disaksikan keluarga sebelum dimasukkan ke peti,” ujar Jamallulael kepada wartawan, Rabu (17/12).

Menurut Pangdam, seluruh proses penanganan jenazah dilakukan di hadapan keluarga, termasuk memperlihatkan kondisi tubuh korban sebelum dimakamkan. Dari pemeriksaan awal tim medis Kodam XII/Tanjungpura, tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan pada tubuh almarhum. “Kalau kekerasan, sama sekali tidak ada tanda. Justru kami menyarankan dilakukan autopsi, bahkan setelah Mabes TNI mendorong agar autopsi dilakukan. Namun keluarga menolak dan membuat surat pernyataan resmi bermaterai,” tegasnya.

Penjelasan serupa disampaikan Wakil Komandan Yonif TP 882/Hulubalang, Kapten Inf Freddy Prantino. Ia menyebut laporan awal diterima pada Jumat pagi dari perwira jaga terkait ditemukannya seorang prajurit dalam posisi tergantung di kamar mandi asrama. Satuan kemudian mengamankan tempat kejadian perkara dan melaporkan secara berjenjang hingga Polisi Militer Kodam XII/Tanjungpura dan tim medis Rumkit Kartika Husada turun menangani jenazah. Pihak Kodam juga menekankan bahwa Yonif TP 882/Hulubalang merupakan batalyon baru dengan personel satu leting, dan korban menjabat sebagai komandan regu. Dengan kondisi tersebut, dugaan kekerasan antaranggota dinilai sangat kecil. (ash)

Editor : Hanif
#kematian #kekerasan #kalbar #independen #ormas Dayak #serda #penyelidikan #Rafael Tetelo Luna