Karhutla Melanda Sidas Landak, Sekitar 50 Hektare Terbakar dan Api Dekati Permukiman Warga

PONTIANAK POST - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melanda kawasan perbukitan Dusun Pampang, Desa Sidas, Kecamatan Sengah Temila, Kabupaten Landak. Luas area terdampak kebakaran diperkirakan telah mencapai sekitar 50 hektare.
Bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menerjang Kabupaten Landak, Kalimantan Barat, tidak hanya membumihanguskan puluhan hektare lahan, tetapi juga memicu kabut asap pekat yang mengancam kesehatan masyarakat.
Merespons kondisi darurat tersebut, Bupati Landak Karolin Margret Natasa bersama Kapolres Landak AKBP Devi Ariantari turun langsung menembus lokasi titik api untuk membagikan masker pelindung kepada warga sekitar sekaligus memimpin upaya pemadaman.
Baca Juga: Polres Landak Salurkan Air Bersih Gratis untuk Warga Terdampak Kemarau
Pekatnya asap di lokasi bencana, khususnya di Dusun Pampang, Desa Sidas, membuat jarak pandang kian terbatas dan memperburuk kualitas udara.
Karolin yang hadir mengenakan seragam dinas membagikan masker secara mandiri kepada masyarakat serta petugas gabungan guna mengantisipasi risiko Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Langkah perlindungan ini mendesak dilakukan mengingat kobaran api telah merambat mendekati zona perumahan warga.
"Sementara diperkirakan 50 hektare ya. Masyarakat juga turun membantu, kita banyak dibantu oleh masyarakat juga sejak tadi malam. Karena memang lokasi apinya dekat dengan perkampungan," ungkap Karolin saat meninjau langsung lokasi karhutla.
Selain membagikan masker, Karolin memimpin evaluasi strategi penanganan di lapangan. Berdasarkan peta pemantauan terkini, empat titik api terdeteksi menyebar di wilayah Kecamatan Sengah Temila, Mempawah Hulu, dan Jelimpo. Kobaran api yang kian membesar di area semak belukar mendorong tim gabungan untuk mengajukan bantuan pemadaman udara (water bombing).
Baca Juga: Kemenkum Kalbar Kawal Raperda Bangunan Gedung dan SLF Landak Demi Kepastian Hukum Perizinan
Karolin menegaskan bahwa keselamatan warga serta personel darat merupakan prioritas tertinggi. Mengingat medan berbukit yang sukar dijangkau dan asap yang membahayakan, taktik pemadaman terpaksa disesuaikan.
"Sekarang untuk memadamkan api langsung ke titiknya sudah tidak memungkinkan, jadi kita menyekat penyebarannya dengan beberapa titik yang sudah kita tentukan untuk mencegat penyebaran api," ujar Karolin menjelaskan skema sekat bakar (firebreak).
Di sela peninjauan, Karolin turut membeberkan status kepemilikan lahan yang menjadi titik awal munculnya kobaran api. Berdasarkan data pemetaan, area tersebut terindikasi sebagai lahan terlantar milik korporasi.



