Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Kehidupan Masyarakatnya Tak Seindah Kilauan Batu Permata

Administrator • Kamis, 15 Oktober 2020 | 10:14 WIB
SOSIALISASI: Zainuddin (dua dari kiri) didampingi Wakil Ketua RT 2, RW 3, Helmi Kurnia mengingatkan warga akan pentingnya menggunakan masker ketika keluar rumah.  ADI WIJAYA/JAWA POS
SOSIALISASI: Zainuddin (dua dari kiri) didampingi Wakil Ketua RT 2, RW 3, Helmi Kurnia mengingatkan warga akan pentingnya menggunakan masker ketika keluar rumah. ADI WIJAYA/JAWA POS
Mengunjungi Kampung Penambang Intan di Landak

Menambang intan sudah menjadi rutinitas sebagian masyarakat di Desa Kuala Behe, Kabupaten Landak. Kemilau batuan permata itu mampu membius masyarakat di sana. Berikut liputan wartawan Pontianak Post di Kabupaten Landak.

ARIEF NUGROHO, Ngabang

Sejak lama, Desa Kuala Behe termasyur akan kekayaan alamnya, salah satunya intan. Tidak heran jika sebagain besar masyarakat di desa itu masih mengantungkan hidupnya sebagai menambang batu permata itu.

Salah satunya adalah Dusun Kandis. Dusun merupakan satu dari lima dusun yang ada di Desa itu. Dusun terdiri dari 40 kepala keluarga (KK) dengan jumlah populasi lebih dari 100 jiwa.

Hingga kini, sebagian besar masyarakat di dusun itu masih berprofesi sebagai penambang intan. Namun jangan dibayangkan jika kehidupan masyarakat Kandis, seindah kilauan permata.

Untuk bisa tiba di perkampungan itu, kita harus menempuh perjalanan kurang lebih dua jam, dari Kota Ngabang_ibu kota kabupaten. Sebagian jalannya merupakan jalan tanah perbukitan di area perkebunan kelapa sawit. Jika musim penghujan seperti sekarang ini, ruas jalan berubah menjadi lumpur. Becek dan licin.

Tapi apa boleh buat, jalan itu merupakan akses satu-satunya bagi masyarakat Kandis.

Untuk bisa memasuki area pemukiman Dusun Kandis, kita harus menyeberangi sungai  mengunakan perahu sampan. Maklum saja, hingga saat ini, dusun itu tidak memiliki jembatan atau akses jalan lain yang lebih mudah.

Sepintas, dusun ini tidak jauh berbeda dengan dusun atau perkampungan di  pedalaman Kalimantan Barat. Sepi. Tidak ada keramaian. Bangunan rumahnya pun, tidak seperti mewah pada umumnya, melainkan semi permanen. Tidak sedikit pula yang terbuat dari papan kayu.

“Kalau jam segini, warga jarang di rumah. Mereka bekerja,” ujar Ipul, seorang warga yang menemani saya berkunjung ke dusun itu.

Menjelang petang, suara motor air mulai terdengar. Memecah keheningan suasana kampung itu. Satu per satu, warga mulai berdatangan dari tempat mereka mencari nafkah. Ada yang dari ladang, kebun, ada juga dari lokasi penambangan.

Menurut cerita, aktivitas pertambangan intan sudah dilakoni masyarakat Kandis sejak lama. Bahkan, di awal tahun 1990-an, hampir 100 persen warganya mengantungkan hidupnya dari batu permata itu.

Kala itu, menambang emas dan intan dianggap sebagai peluang yang sangat menjanjikan. Warga bisa menyimpan uang puluhan hingga ratusan juta. Karena tidak jarang dari mereka yang mendapatkan intan berukuran besar.

“Kalau dulu intan masih banyak. Masyarakat biasanya menambang di pinggiran sungai ini,” aku Logo, ketua RT Kandis.

Berlimpahnya sumber kekayaan alam itu, sempat membuat warga Dusun Kandis terlena. Tidak sedikit anak-anak usia sekolah memilih untuk bekerja sebagai penambang daripada harus belajar di bangku sekolah.

“Dulu banyak anak-anak putus sekolah. Mereka memilih jadi penambang,” lanjutnya.

Namun, kondisi saat ini sudah jauh berbeda. Aktivitas penambangan emas dan intan sudah sangat berkurang. Jangankan untuk bisa mendapatkan ukuran besar, untuk dapat serpihannya saja sangat sulit. “Malah kadang-kadang tekor.” kata Logo.

Untuk menambang emas atau intan, modal yang harus disipakan minimal 15 sampai 20 liter solar perhari. Belum lagi potongan bagi hasil dengan pemilik lahan. Sebesar 10 persen.

“Jadi, berapapun hasil yang kita didapat hari itu, otomatis langsung dipotong 10 persen,” bebernya.

Menurut Logo, intan memiliki harga yang bervariatif, tergantung ukuran dan kualitasnya. Untuk kualitas terbaik, kata Logo, intan dengan warna putih bersih. Namun, ada juga intan dengan warna-warna tertentu, seperti warna biru. “Kalau yang hitam, malah kurang laku,” terangnya.

Meski menjanjikan, kata Logo, menambang intan tidak lagi menjadi tumpuan hidup masyarakat Kandis. Menginggat sumber tambang yang kian hari kian berkurang. Namun, pekerjaan lain dari sektor pertanian dan perkebunan pun tidak juga menghasilkan sesuai keinginan.

“Situasinya seperti ini. Dilema. Untuk sector pertanian dan perkebunan hanya cukup untuk sehari-hari. Tidak bisa dijual,” keluhnya.

“Bagaimana kami mau jual, kalau akses jalannya saja sulit. Kami sebenarnya butuh akses yang lebih mudah. Seperti perbaikan jalan atau jembatan,” sambungnya.

Selain akses jalan yang terbatas, Dusun Kandis juga tidak memiliki sumber air bersih dan penerangan dari perusahaan listrik negara (PLN). Mereka menggunakan panel tenaga surya bantuan pemerintah. Sedangkan untuk sumber air bersih, mereka masih mengandalkan air hujan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“Untuk air bersih kami masih mengandalkan yang di atas,” kata Logo sambil mengarahkan jari telunjuknya ke langit.

Untuk itu, dirinya berharap ada perhatian dari pemerintah daerah, agar Dusun Kandis terentas dari kemiskinan. “Minimal ada perbaikan jalan. Syukur-syukur ada jembatan,” katanya penuh harap. (*) Editor : Administrator
#landak