Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Guru Besar Unair Ingatkan Pentingnya Etika dalam Komunikasi Sehari-hari

C
Penulis: Chairunnisya❯
Ilustrasi penggunaan prompt AI (AI)
Ilustrasi penggunaan prompt AI (AI)

Advertisement

PONTIANAK POST - Di tengah derasnya arus komunikasi digital dan kebiasaan serba cepat, etika dalam berbicara dan menyampaikan pendapat dinilai semakin penting dijaga.

Cara seseorang mengkritik, meminta bantuan, hingga berinteraksi sehari-hari disebut dapat mencerminkan kualitas sikap dan pola komunikasi yang dimiliki.

Guru besar media dan komunikasi FISIP Unair, Rachmah Ida menegaskan bahwa menyampaikan kritik bukanlah sesuatu yang dilarang. Namun, kritik harus disampaikan secara elegan dan tetap berfokus pada persoalan yang dibahas.

Advertisement

“Kalau mengkritik, fokus saja pada aspek yang dikritik, jangan melebar ke hal lain. Gunakan bahasa yang objektif, tidak emosional atau personal. Pilihan diksi menjadi penting,” tegasnya, dikutip dari Jawapos.

Menurut Rachmah, perbedaan antara meminta tolong dengan sopan dan menodong permintaan secara kasar dapat terlihat jelas dari bahasa maupun nada komunikasi yang digunakan.

Advertisement

“Di Barat, anak-anak sejak kecil sudah diajari magic word ‘please’. Kadang ditambah emoticon senyum. Itu menandakan permintaan yang sungguh-sungguh dan sopan. Kalau dibiasakan, perilaku anak akan lebih beretika,” katanya.

Ia mengingatkan, kebiasaan menodong atau menuntut sesuatu jika dianggap normal akan membawa dampak serius terhadap pembentukan karakter seseorang.

“Akan terjadi kerusakan mental attitude dan behaviour. Dalam komunikasi manusia, harus ada mental filter agar interaksi tidak menimbulkan konflik,” ucap Rachmah.

Fenomena tersebut, lanjutnya, juga menunjukkan adanya pergeseran nilai dalam kehidupan sosial masyarakat. Ia membedakan antara semangat gotong royong dengan budaya instan yang berkembang saat ini.

“Gotong royong itu berbeda. Ia adalah nilai kolektif bangsa Indonesia. Sedangkan budaya instan dan menuntut lahir dari level individual, akibat kurangnya sosialisasi etika pergaulan dan komunikasi humanis sejak dini. Bayangkan, sejak bayi sudah diberi gawai, akhirnya sentuhan manusia berkurang,” jelasnya. (*)

Advertisement

Artikel Terkait

Fenomena Todong Prompt AI Cerminkan Generasi Serba Instan dan Minim Empati

Fenomena Todong Prompt AI Cerminkan Generasi Serba Instan dan Minim Empati

Fenomena minta prompt AI tanpa etika dinilai mencerminkan budaya instan dan menurunnya empati di ruang digital.

Jangan Asal Tanya! Ini Trik Jitu Gunakan AI untuk Belajar dan Bekerja

Jangan Asal Tanya! Ini Trik Jitu Gunakan AI untuk Belajar dan Bekerja

Sering pakai AI buat nugas atau kerja? Ketahui rahasia menggunakan kecerdasan buatan dengan tepat agar hasil maksimal dan tak keliru.

Etika Digital Anak Dinilai Harus Dibangun Sejak Dini oleh Orang Tua

Etika Digital Anak Dinilai Harus Dibangun Sejak Dini oleh Orang Tua

Pakar menilai literasi digital Indonesia masih lemah dalam pendidikan etika komunikasi dan empati sosial.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer