Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Rasa Malu Bukan Musuh: Ini Cara Menghadapinya dengan Bijak Menurut Ahli

Miftahul Khair • Kamis, 12 Juni 2025 | 13:32 WIB
Ilustrasi mengelola rasa malu saat mengobrol dengan orang baru.
Ilustrasi mengelola rasa malu saat mengobrol dengan orang baru.

PONTIANAK POST - Pernah merasa sangat kikuk saat bertemu orang baru? Atau merasa seperti ingin menghilang setelah melakukan hal yang menurutmu memalukan? Kamu tidak sendirian.

Banyak dari kita pernah atau bahkan sering berada dalam situasi sosial yang membuat tidak nyaman, merasa gugup, atau malu.

Namun, menurut Melissa Dahl, seorang penulis buku Cringeworthy: A Theory of Awkwardness dalam sebuah video di Kanal YouTube Big Think, momen-momen canggung sebenarnya bisa dijadikan alat bantu untuk memahami diri sendiri lebih dalam.

Dengan kata lain, rasa malu atau perasaan tidak nyaman itu bukanlah musuh, melainkan bisa menjadi kunci untuk tumbuh secara emosional.

Mari kita bahas bagaimana memahami dan cara menghadapi kecanggungan bisa jadi langkah awal mengatasi kecemasan sosial secara efektif dan manusiawi.

  1. Mengapa Kita Merasa Canggung?

Kecanggungan muncul ketika ada jarak antara cara kita melihat diri sendiri dan cara orang lain melihat kita.

Dalam dunia sosial, kita sering memegang "naskah sosial". Misalnya, menyapa, tersenyum, menjawab pertanyaan dengan sopan. Ketika sesuatu keluar dari pola itu, kita panik.

Melissa menjelaskan bahwa kita cenderung tidak nyaman saat persepsi kita terhadap diri sendiri bertentangan dengan persepsi orang lain.

Contohnya, kita merasa sedang tampil percaya diri, tapi orang lain melihat kita sebagai gugup atau aneh. Perbedaan ini menciptakan ketegangan emosional yang membuat kita ingin menarik diri.

  1. Menerima Bahwa Perbedaan Persepsi Itu Wajar

Dalam teori yang disebut “irreconcilable gap” oleh psikolog Philippe Rochat, selalu ada jarak yang tak terhindarkan antara diri yang kita bayangkan dan diri yang dilihat orang lain.

Kabar baiknya, kata Dahl, ini bukan kegagalan. Ini realitas semua manusia.

Misalnya, banyak orang tidak suka mendengar suara mereka sendiri karena terdengar berbeda dari apa yang mereka dengar saat berbicara.

Fenomena ini mencerminkan betapa kuatnya perbedaan persepsi internal dan eksternal.

Dahl menyarankan kita untuk tidak menganggap hal ini sebagai kekurangan, tetapi sebagai informasi berguna untuk tumbuh.

  1. Latihan Hadapi Momen Canggung Secara Sadar

Dalam buku dan penelitiannya, Melissa menyoroti cara-cara terapeutik untuk menghadapi kecanggungan.

Salah satunya datang dari Stefan Hofmann, seorang terapis dari Boston yang mengelola klinik untuk gangguan kecemasan sosial.

Strateginya? Hadapi ketakutan itu langsung. Misalnya, pasien diminta masuk ke toko buku dan menanyakan buku soal "kentut" atau mendekati meja orang asing di restoran untuk latihan pidato pernikahan.

Tujuannya bukan untuk mempermalukan, tetapi agar pasien belajar bahwa mereka tetap bisa bertahan bahkan setelah momen yang sangat tidak nyaman.

  1. Temukan Humor di Balik Rasa Malu

Menurut Dahl, humor adalah “ekspektasi yang terbalik”. Itulah kenapa momen canggung bisa jadi sangat lucu karena hasilnya berbeda dari yang kita bayangkan.

Saat kamu bisa menertawakan hal itu, kamu juga mulai menetralkan perasaan malu tersebut.

Salah satu pengalaman pribadi Melissa adalah ikut acara bernama Mortified, di mana peserta membaca catatan harian remaja mereka di depan umum.

Alih-alih merasa terisolasi, ia justru merasakan koneksi yang kuat dengan penonton.

Ternyata, cerita memalukan bisa menyatukan orang karena mereka bisa melihat diri mereka sendiri di dalamnya.

  1. Jangan Terlalu Keras pada Diri Sendiri

Salah satu pelajaran terpenting dari Dahl adalah berhenti terlalu serius menilai diri sendiri.

Kecanggungan bukanlah tanda bahwa kamu gagal secara sosial, tetapi justru menunjukkan bahwa kamu cukup sadar diri untuk peduli pada bagaimana kamu tampil di mata orang lain.

Dengan membingkai ulang rasa tidak nyaman itu sebagai bagian dari proses belajar, kita jadi bisa lebih santai menjalani kehidupan sosial.

Penutup

Rasa canggung, malu, atau tidak nyaman di situasi sosial bukanlah hal yang harus dihindari sepenuhnya.

Menurut Melissa Dahl, kita bisa menyambut momen-momen ini sebagai peluang untuk bertumbuh, memahami diri lebih baik, dan membangun koneksi yang lebih tulus dengan orang lain.

Jadi, mulai sekarang, ketika kamu merasa kikuk atau malu, anggap saja itu sinyal bahwa kamu sedang bergerak menuju versi dirimu yang lebih autentik. (mif)

Editor : Miftahul Khair
#psikologi #Cringeworthy #Malu #melissa dahl #kikuk #Cara Menghadapi #canggung