Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Bukan Sekadar Tren! Inilah Makna Teman Level ala Gen Z yang Bikin Netizen Relate

Syeti Agria Ningrum • Selasa, 30 September 2025 | 14:00 WIB
Ilustrasi teman level yang lagi viral di kalangan Gen Z.
Ilustrasi teman level yang lagi viral di kalangan Gen Z.

PONTIANAK POST - Di era digital, terutama di kalangan Generasi Z, muncul banyak istilah unik yang menggambarkan dinamika hubungan sosial. Salah satu yang sedang ramai diperbincangkan adalah teman level. 

Fenomena ini bukan hanya sekadar guyonan di media sosial, melainkan juga cara kreatif anak muda mendefinisikan seberapa dekat atau serius hubungan yang mereka jalani. Dengan menyusunnya seperti tangga atau game level, hubungan sehari-hari terasa lebih mudah dipahami, relate, bahkan menghibur.

Teman level muncul dari kebiasaan Gen Z yang senang mengekspresikan pengalaman pribadi melalui meme, thread Twitter/X, hingga konten video TikTok. Hal-hal yang awalnya hanya bercanda di lingkaran kecil, bisa dengan cepat menjadi tren viral nasional karena formatnya sederhana dan bisa diterapkan oleh siapa saja. 

Hampir setiap orang bisa menempatkan dirinya atau hubungannya pada salah satu level mulai dari sekadar hubungan biasa biasa sampai pada tahap serius seperti dikenalkan ke orang tua atau diposting di media sosial.

Fenomena ini akhirnya menjadi lebih dari sekadar konten hiburan. Ia menggambarkan pola komunikasi, kepercayaan, dan nilai-nilai sosial yang dianut anak muda zaman sekarang. 

Dengan kata lain, teman level adalah potret cara Gen Z memahami pertemanan dan percintaan dengan bahasa yang fun, ringan, tapi sarat makna.

Apa Itu “Teman Level”?

Teman level adalah cara Gen Z menggambarkan proses bertahap dalam menjalin hubungan mulai dari sekadar kenal, jadi rekan curhat, sampai akhirnya dapat restu orang tua. Konsep ini sederhana, tapi relate banget buat kehidupan sehari-hari.

Berdasarkan fenomena yang beredar, inilah jenjang 10 level teman:

Level 1 – Teman Biasa: sekadar kenal, belum ada keterikatan.

Level 2 – Teman Strek: sering nongkrong, hubungan cair tapi ringan.

Level 3 – Teman Curhat: mulai ada kepercayaan, berbagi masalah pribadi.

Level 4 – Teman Mabar: makin intens, ada rutinitas bareng (gaming, hobi, aktivitas).

Level 5 – Saling Ngaku Cinta: hubungan berubah ke ranah romantis.

Level 6 – Sleep Call Tiap Malam: jadi kebiasaan intim, hubungan makin eksklusif.

Level 7 – Dikenalin ke Orang Tua: tanda keseriusan, mulai masuk ranah keluarga.

Level 8 – Dipost di Sosmed: pengakuan publik, validasi hubungan di era digital.

Level 9 – Direstui Orang Tua: legitimasi resmi, jadi pasangan serius.

Level 10 – Best Friend: puncak kedekatan, bisa sebagai sahabat sejati atau pasangan hidup yang sekaligus sahabat.

Baca Juga: Menghadapi Teman Bermuka Dua

Lebih dari Sekadar Tren

Jika diteliti lebih serius, fenomena ini bukan hanya sekadar permainan istilah atau bahan bercanda di media sosial.

Konsep ini sebenarnya punya kemiripan dengan teori-teori dalam komunikasi interpersonal dan psikologi hubungan, yang menjelaskan bahwa setiap hubungan manusia berkembang melalui tahapan tertentu.

1. Kontak Awal (Level 1–2)

Pada tahap awal hubungan, seseorang biasanya berada di level partner biasa atau strek. Hubungan ini masih ringan, sebatas kenal dan interaksi sehari-hari tanpa kedalaman emosional. 

Dalam teori komunikasi, fase ini disebut initiation stage, di mana individu baru mengenal dan mencoba memahami satu sama lain. 

Di sinilah hubungan diuji oleh faktor-faktor, apakah nyaman untuk ngobrol? Apakah punya kesamaan minat? Jika iya, hubungan berpotensi naik ke level berikutnya.

2. Keterbukaan (Level 3–4)

Memasuki tahap ini, hubungan menjadi lebih personal. Partner curhat atau mabar menandai adanya rasa percaya yang lebih besar. 

Curhat berarti individu sudah berani menunjukkan sisi rentan dirinya, sementara mabar (main bareng) menunjukkan intensitas kebersamaan. 

Dalam psikologi sosial, fase ini sejalan dengan exploration stage, ketika orang mulai membuka diri, membangun rasa nyaman, dan membentuk kebiasaan bersama. Hubungan mulai meninggalkan batas formal dan memasuki ranah emosional.

 

3. Komitmen Emosional (Level 5–6)

Saat hubungan mencapai saling mengaku cinta hingga sleep call tiap malam, terlihat jelas adanya kedekatan emosional yang intens. 

Pada fase ini, hubungan bukan lagi sekadar pertemanan, melainkan sudah menyentuh ranah romantis atau intimasi.

Komitmen emosional ditandai dengan kebutuhan akan kehadiran satu sama lain, keteraturan interaksi, dan munculnya ekspektasi untuk menjaga hubungan. 

Dalam teori hubungan, tahap ini dikenal sebagai intensifying stage di mana komunikasi semakin dalam, penuh makna, dan sarat perasaan.

4. Validasi Sosial dan Keluarga (Level 7–9)

Naik ke tahap ini berarti hubungan tidak hanya menjadi urusan pribadi, tapi juga melibatkan lingkungan sosial yang lebih luas.

Dikenalkan ke orang tua (Level 7) menjadi simbol keseriusan.

Dipost di media sosial (Level 8) bentuk pengakuan publik di era digital.

Direstui orang tua (Level 9) legitimasi formal yang biasanya menjadi langkah menuju masa depan bersama.

Tahap ini menunjukkan bahwa hubungan telah melewati batas privasi individu dan masuk ke dalam integrating stage menurut teori komunikasi, di mana pasangan atau sahabat sudah dianggap sebagai bagian dari identitas sosial maupun keluarga.

5. Puncak Hubungan (Level 10)

Level terakhir, yaitu best friend, bisa diartikan sebagai puncak dari semua level. Menariknya, level ini punya dua interpretasi:

Bisa berarti sahabat sejati yang sudah melalui berbagai fase bersama, sehingga hubungan terasa stabil, saling percaya, dan tidak mudah goyah.

Bisa juga berarti pasangan hidup yang bukan hanya kekasih, tapi juga sahabat terbaik.

Dalam psikologi hubungan, tahap ini mirip dengan bonding stage yaitu fase kedekatan paling tinggi, ditandai dengan loyalitas, kepercayaan penuh, dan rasa keterikatan yang kuat.

Apa yang terlihat seperti candaan di medsos sebenarnya menggambarkan pola yang cukup universal yaitu hubungan selalu berkembang, dari kenalan biasa hingga mencapai titik kedekatan yang paling mendalam.

Hal ini merupakan refleksi tentang bagaimana Gen Z membangun kedekatan, menjaga komitmen, dan mencari pengakuan sosial maupun keluarga. (*)

Editor : Miftahul Khair
#level #sahabat #Gen Z #teman