PONTIANAK POST – Kesepian kerap dianggap sebagai persoalan emosional semata. Namun, psikolog menegaskan bahwa kondisi ini memiliki dampak nyata terhadap kesehatan mental dan fungsi otak, mulai dari peningkatan risiko depresi hingga penurunan kemampuan kognitif, terutama jika berlangsung dalam jangka panjang.
Dilansir dari Antara (12/1), sejumlah penelitian menunjukkan area otak yang aktif saat seseorang mengalami penolakan sosial sama dengan area yang aktif ketika tubuh merasakan nyeri.
Respons ini diyakini berkembang secara evolusioner untuk mendorong manusia kembali membangun keterhubungan sosial.
Namun, isolasi emosional yang berlangsung lama membuat otak terus berada dalam keadaan siaga. Akibatnya, seseorang menjadi lebih mudah bereaksi terhadap hal-hal negatif dan semakin sulit mempercayai orang lain.
Baca Juga: Ciri-Ciri Orang yang Sangat Kesepian Meski Selalu Tersenyum di Depan Orang
Memicu Stres di Otak
Kesepian juga dapat memicu sistem stres di otak. Perasaan tersisih dianggap sebagai ancaman, sehingga tubuh melepaskan hormon stres seperti kortisol.
Jika berlangsung lama, hal ini bisa membuat seseorang mudah lelah, cepat marah, dan daya tahan tubuh menurun.
Dari sisi kognitif, orang yang merasa kesepian cenderung memaknai sinyal sosial secara negatif. Pesan singkat atau ekspresi wajah yang netral sering dianggap sebagai bentuk penolakan.
Hal ini membuat mereka semakin menarik diri dan merasa makin terisolasi secara emosional.
Kesepian juga memengaruhi harga diri. Kurangnya interaksi yang bermakna membuat seseorang jarang mendapat respons positif dari orang lain, sehingga motivasi menurun dan suasana hati memburuk.
Otak merasakan rasa sakit emosional ini secara nyata, hampir sama seperti rasa sakit fisik.
Baca Juga: Mengatasi Kesepian Emosional: Aktivitas yang Bisa Membantu Anda
Kesepian dan Depresi
Psikolog menyatakan kesepian dan depresi merupakan dua kondisi yang berbeda meski sering berkaitan.
Kesepian muncul ketika kebutuhan akan keterhubungan sosial tidak terpenuhi, sedangkan depresi dipengaruhi oleh faktor biologis dan kimiawi di otak.
Namun, kesepian yang berlangsung dalam jangka panjang dapat meningkatkan risiko terjadinya depresi.
Menurut psikolog, penanganan kesepian memerlukan pendekatan sosial dan psikologis secara bersamaan.
Membangun hubungan yang bermakna dinilai lebih penting dibandingkan sekadar memperbanyak interaksi.
Kegiatan kelompok, aktivitas relawan, dan komunitas berbasis minat disebut efektif dalam memperluas jaringan sosial.
Selain itu, pendekatan kognitif perilaku dapat membantu individu mengenali serta mengubah pola pikir negatif terkait hubungan sosial.
Praktik mindfulness dan sikap welas asih terhadap diri sendiri juga dinilai mampu meredakan tekanan emosional akibat kesepian.
Para ahli menegaskan interaksi digital tidak sepenuhnya dapat menggantikan pertemuan tatap muka. Keterhubungan secara langsung dianggap lebih efektif dalam menumbuhkan rasa aman dan kepercayaan.
Baca Juga: Menurut Psikologi, Orang yang Kesepian dalam Hidup Biasanya Menunjukkan 7 Perilaku Ini, Apa Saja?
Psikolog menilai upaya membangun kembali relasi sosial berperan penting dalam menekan stres dan menjaga kesehatan mental. (*)
Editor : Miftahul Khair