24.7 C
Pontianak
Thursday, December 1, 2022

Pertemuan BIMP-EAGA Bussines Council Bahas Konektivitas Hingga Krisis Pangan

BEBERAPA pertemuan digelar di hari pertama kegiatan Pertemuan Tingkat Menteri (PTM) ke-25 Brunei Darussalam-Indonesia-Malaysia-Philippines, East ASEAN Growth Area (BIMP-EAGA) Tahun 2022. Salah satunya pertemuan BIMP-EAGA Bussines Council (BEBC) dari empat negara anggota di Hotel Mercure, Rabu (23/11).

BEBC Indonesia Chairman Sayid Irwan mengungkapkan, BEBC merupakan kumpulan privat sektor di antara negara-negara BIMP-EAGA. Adapun pembicaraan dalam pertemuan kemarin adalah terkait berbagai kendala yang dihadapi BEBC. Salah satunya persoalan konektivitas antara wilayah anggota BIMP-EAGA dari empat negara tersebut.

“Di Indonesia sendiri (anggota BIMP-EAGA) terdiri ada empat pulau besar, Sulawesi, Kalimantan, Maluku, Papua yang kesemuanya punya kendala dari sisi konektivitas. Di Malaysia, Sabah, Sarawak, dan Filipina juga terpisah. Dan di tengah-tengah ada Brunei. Di antara kami di pulau Kalimantan sendiri terjadi problem yang sama (konektivitas), jadi kita poin utama berbicara itu,” ungkapnya.

Baca Juga :  Delegasi BIMP-EAGA Kunjungi Rumah Radakng

Sayid menambahkan, di samping itu ada hal-hal lain yang juga dibicarakan. Selain konektivitas, hal yang kedua mengenai lumbung pangan (food basket), dan yang ketiga sektor pariwisata. Namun semuanya lanjut dia, belum tuntas dibicarakan. Intinya para pengusaha dari empat negara itu diharapkan bisa saling bersatu. Kemudian pemerintah dari masing-masing negara juga dapat mendukung BEBC.

“Tiga hal pokok itu yang sebetulnya banyak cabangnya. Dunia ke depan kaitan dengan isu yang banyak kita dengar itu tentang food krisis. Di Indonesia, katakanlah di Sulawesi, banyak provinsi-provinsi yang dijadikan lumbung pangan, bisa melakukan itu,” ujarnya.

Dari sisi BEBC Sayid memastikan siap untuk bekerja sama dan membantu menanggulangi persoalan krisis pangan khususnya di wilayah Asia timur. Tinggal bagaimana, kata dia kolaborasi dengan pihak pemerintah bisa berjalan. Mengingat BEBC hanya sebatas privat sektor, sedangkan mengenai kebijakan dan regulasi, tetap di tangan pemerintah.

Baca Juga :  Jokowi Ceritakan Isi Pertemuan dengan Zelensky dan Putin

“Kami player yang di bawahnya, kami mohon ada support dan bantuan untuk bisa kita bermain dan kita menjadi the strongerst in the Asia kalau bisa, untuk menangani food krisis itu,” pungkasnya.(bar)

BEBERAPA pertemuan digelar di hari pertama kegiatan Pertemuan Tingkat Menteri (PTM) ke-25 Brunei Darussalam-Indonesia-Malaysia-Philippines, East ASEAN Growth Area (BIMP-EAGA) Tahun 2022. Salah satunya pertemuan BIMP-EAGA Bussines Council (BEBC) dari empat negara anggota di Hotel Mercure, Rabu (23/11).

BEBC Indonesia Chairman Sayid Irwan mengungkapkan, BEBC merupakan kumpulan privat sektor di antara negara-negara BIMP-EAGA. Adapun pembicaraan dalam pertemuan kemarin adalah terkait berbagai kendala yang dihadapi BEBC. Salah satunya persoalan konektivitas antara wilayah anggota BIMP-EAGA dari empat negara tersebut.

“Di Indonesia sendiri (anggota BIMP-EAGA) terdiri ada empat pulau besar, Sulawesi, Kalimantan, Maluku, Papua yang kesemuanya punya kendala dari sisi konektivitas. Di Malaysia, Sabah, Sarawak, dan Filipina juga terpisah. Dan di tengah-tengah ada Brunei. Di antara kami di pulau Kalimantan sendiri terjadi problem yang sama (konektivitas), jadi kita poin utama berbicara itu,” ungkapnya.

Baca Juga :  Mentan Tekankan Pentingnya Kolaborasi Atas Krisis Pangan

Sayid menambahkan, di samping itu ada hal-hal lain yang juga dibicarakan. Selain konektivitas, hal yang kedua mengenai lumbung pangan (food basket), dan yang ketiga sektor pariwisata. Namun semuanya lanjut dia, belum tuntas dibicarakan. Intinya para pengusaha dari empat negara itu diharapkan bisa saling bersatu. Kemudian pemerintah dari masing-masing negara juga dapat mendukung BEBC.

“Tiga hal pokok itu yang sebetulnya banyak cabangnya. Dunia ke depan kaitan dengan isu yang banyak kita dengar itu tentang food krisis. Di Indonesia, katakanlah di Sulawesi, banyak provinsi-provinsi yang dijadikan lumbung pangan, bisa melakukan itu,” ujarnya.

Dari sisi BEBC Sayid memastikan siap untuk bekerja sama dan membantu menanggulangi persoalan krisis pangan khususnya di wilayah Asia timur. Tinggal bagaimana, kata dia kolaborasi dengan pihak pemerintah bisa berjalan. Mengingat BEBC hanya sebatas privat sektor, sedangkan mengenai kebijakan dan regulasi, tetap di tangan pemerintah.

Baca Juga :  Ketapang Sukses Gelar MTQ XXX Kalbar

“Kami player yang di bawahnya, kami mohon ada support dan bantuan untuk bisa kita bermain dan kita menjadi the strongerst in the Asia kalau bisa, untuk menangani food krisis itu,” pungkasnya.(bar)

Most Read

Artikel Terbaru

/