Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Karhutla Desa Galang Telan Korban Jiwa, Warga Terus Mengungsi dan Api Masih Belum Mau Padam

Wahyu Ismir Jartha Kusuma • Senin, 9 Februari 2026 | 22:24 WIB

 

Kapolsek beserta jajaran saat melakukan takziah di kediaman korban kabut asap akibat kebakaran lahan.
Kapolsek beserta jajaran saat melakukan takziah di kediaman korban kabut asap akibat kebakaran lahan.

PONTIANAK POST – Kebakaran hutan dan lahan gambut di Desa Galang, Kecamatan Sungai Pinyuh, Kabupaten Mempawah, yang terjadi sejak Sabtu (8/2) sore, menelan korban jiwa. Seorang warga setempat, Hj. Pusani (65), meninggal dunia setelah mengalami gangguan pernapasan akibat paparan asap kebakaran.

Peristiwa kebakaran pertama kali terdeteksi pada Sabtu (8/2) sore di kawasan Dusun Utara, Desa Galang. Api dengan cepat membesar dan menyebar karena tiupan angin kencang serta kondisi lahan gambut yang kering.

Kapolsek Sungai Pinyuh, AKP Setyadi, mengatakan luas lahan yang terbakar sementara diperkirakan mencapai sekitar 12 hektare.

“Lokasi karhutla berada di Dusun Utara, Desa Galang. Api cepat membesar dan menyebar karena faktor angin kencang dan kondisi lahan gambut yang kering,” ujar Setyadi, Senin (9/2).

Kobaran api terus meluas hingga mendekati jalan raya dan kawasan permukiman penduduk. Asap tebal menutupi sejumlah ruas jalan sehingga jarak pandang menjadi sangat terbatas dan membahayakan pengguna jalan.

“Titik api mencapai pinggir jalan dan mendekati rumah warga. Asapnya sangat pekat,” katanya.

Upaya pemadaman langsung dilakukan sejak Sabtu sore hingga malam hari. Puluhan personel gabungan dari TNI, Polri, BPBD, Damkar pemerintah dan swasta, relawan, serta masyarakat setempat dikerahkan ke lokasi. Namun, api sulit dipadamkan karena karakter lahan gambut dan angin yang terus bertiup kencang.

“Sampai malam hari, api masih terus meluas ke area sekitarnya. Faktor lahan gambut dan angin kencang membuat pemadaman tidak maksimal. Upaya dilanjutkan hari ini,” ujar Setyadi.

Hingga Minggu (9/2) siang, titik api masih aktif di sejumlah lokasi. Asap pekat menyelimuti kawasan permukiman Desa Galang dan sekitarnya. Aktivitas warga terganggu, bahkan sebagian memilih mengungsi ke rumah kerabat demi menghindari paparan asap.

“Beberapa warga mengungsi karena asap semakin pekat dan mengancam kesehatan, terutama anak-anak dan lansia,” jelas Setyadi.

Dampak terberat dirasakan warga yang mengalami gangguan pernapasan. Sebelumnya, tiga warga dilaporkan dilarikan ke Puskesmas akibat mengalami infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).

Salah satu di antaranya adalah Hj. Pusani (65), warga Jalan Raya Galang RT 04 RW 02, Desa Galang, Kecamatan Sungai Pinyuh. Korban mulai mengalami sesak napas pada Senin (9/2) dini hari.

Sekitar pukul 01.00 WIB, korban dibawa ke Puskesmas Rawat Inap Sungai Pinyuh untuk mendapatkan penanganan medis. Karena kondisinya membutuhkan perawatan lanjutan, korban kemudian dirujuk ke RSUD Sudarso Pontianak.

Namun setelah menjalani perawatan intensif, korban dinyatakan meninggal dunia pada Senin (9/2) sekitar pukul 16.00 WIB.

Kepala Puskesmas Rawat Inap Sungai Pinyuh, Afrizal, SKM, menjelaskan bahwa selain terpapar asap karhutla, korban memiliki riwayat penyakit bawaan berupa asma dan batuk yang memperparah kondisi pernapasannya.

“Korban memiliki komorbid asma dan batuk. Paparan asap memperburuk kondisi pernapasan hingga tidak tertolong,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa peristiwa ini menunjukkan dampak serius kebakaran hutan dan lahan terhadap kesehatan masyarakat.

“Peristiwa ini menambah daftar dampak serius kebakaran hutan dan lahan yang tidak hanya merusak lingkungan, tetapi juga mengancam keselamatan masyarakat, khususnya kelompok rentan yang memiliki riwayat penyakit pernapasan,” tuturnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Damkar BPBD Mempawah, Desvan, mengatakan kebakaran di Desa Galang menjadi salah satu yang paling sulit ditangani dalam beberapa waktu terakhir.

“Angin kencang, cuaca kering, dan titik api yang berada jauh di tengah hutan menjadi hambatan besar. Sumber air juga jauh dari lokasi kebakaran,” kata Desvan.

Meski menghadapi keterbatasan, petugas terus berupaya melakukan penanganan maksimal agar api tidak meluas ke permukiman penduduk.

“Kami terus melakukan penanganan dan penanggulangan semaksimal mungkin agar api tidak meluas ke pemukiman,” ujarnya.

Desvan mengimbau masyarakat agar segera melaporkan jika menemukan titik api baru yang mengarah ke kawasan permukiman.

“Jika ada api yang mendekati rumah warga, segera laporkan ke petugas supaya bisa ditangani cepat sebelum membesar,” katanya.

Dukungan tambahan datang dari Palang Merah Indonesia (PMI) Kalimantan Barat. Ketua Penanggulangan Bencana PMI Kalbar, Asrul Putra Nanda, mengatakan pihaknya mengerahkan tim sejak Sabtu malam dari Pontianak ke Mempawah.

“Kami menurunkan tim sejak tadi malam. Mereka melakukan pemadaman hingga subuh dan sampai sekarang masih berada di lokasi,” ujar Asrul.

Selain personel lapangan, PMI juga mengerahkan drone untuk pemantauan udara, ambulans evakuasi, serta personel tambahan untuk mendukung operasi pemadaman.

Menurut Asrul, kondisi lapangan sangat berat akibat asap tebal dan sulitnya akses menuju titik api.

“Kendala utama adalah jarak sumber air, jarak pandang yang terbatas akibat asap, dan sulitnya akses ke titik api. Tapi tim gabungan tetap berupaya maksimal,” katanya.

Tim gabungan yang terlibat dalam operasi ini terdiri dari BPBD Kabupaten Mempawah, TNI, Polri, PMI Kalbar, PMI Mempawah, Damkar gabungan, relawan pemadam kebakaran, serta Masyarakat Peduli Api (MPA).

Pada Senin malam sekitar pukul 19.30 WIB, jajaran Polsek Sungai Pinyuh mendatangi rumah duka di Desa Galang untuk menyampaikan belasungkawa secara langsung kepada keluarga korban. Takziah dipimpin Kapolsek Sungai Pinyuh AKP Setyadi, S.Ak., M.Ak., didampingi Panit Intelkam IPDA Ika Yulianto, Bhabinkamtibmas Desa Galang Aipda Danuri, Aipda Hasbi Yuwono, serta Bripka Yohanes H.U.

“Kami keluarga besar Polsek Sungai Pinyuh turut berbelasungkawa yang sedalam-dalamnya atas meninggalnya almarhumah Hj. Pusani. Semoga almarhumah husnul khatimah dan keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan,” ujar Setyadi.

Ia juga mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak kesehatan akibat kabut asap.

“Kami mengimbau warga untuk mengurangi aktivitas di luar rumah saat asap pekat dan selalu menggunakan masker, terutama bagi yang memiliki riwayat penyakit pernapasan,” pesannya.

Terkait penyebab kebakaran, pihak kepolisian belum dapat memastikan sumber api. Penyelidikan masih dilakukan untuk mengetahui apakah kebakaran dipicu faktor alam atau akibat aktivitas manusia.

“Penyebab kebakaran masih dalam penyelidikan. Apakah karena kelalaian atau ada unsur kesengajaan membuka lahan dengan cara dibakar,” tegas Setyadi.

Hingga berita ini diturunkan, proses pemadaman masih terus berlangsung. Petugas tetap siaga untuk mencegah meluasnya kebakaran ke wilayah lain, terutama kawasan permukiman penduduk.

Kematian satu warga akibat ISPA menandai eskalasi serius dari kebakaran lahan di Desa Galang. Peristiwa ini tidak hanya merusak lingkungan, tetapi juga menunjukkan bahwa kabut asap telah berubah menjadi ancaman langsung bagi keselamatan manusia di Kabupaten Mempawah.

 

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
#ispa #meninggal #desa galang #Sungai Pinyuh #sesak napas