alexametrics
27.8 C
Pontianak
Tuesday, July 5, 2022

Ruang Belajar Daring, Asah Kreativitas Guru

Sekolah di Rumah

Sudah dua pekan, Eni bergelut dengan video dan mulai merambah ke Youtube. Media ini sebagai salah satu cara pengganti pembelajaran di kelas. Sesuatu yang baru bagi dia, di tengah keterbatasan untuk mengajar secara langsung. Sebagai youtuber dadakan, memaksa Eni belajar cepat dan harus menarik siswa untuk belajar.

MARSITA RIANDINI, Pontianak

LIBUR panjang untuk mengantisipasi Covid-19 tak menyurutkan semangat para guru untuk mengajar. Memanfaatkan media daring, para guru mengajar dari jarak kejauhan. Ruang belajar yang tidak biasa ini, menuntut para guru harus kreatif.  Itu pula yang dirasakan Eni Desiyani, Guru SDIT Al Mumtaz  ini.

“Udah kayak apa ya, tentukan materinya, buat video sendiri, ngomong sendiri. Ngerekam sendiri, berkali-kali ulang. Di edit lagi. Pokoknya lumayan menguras tenaga dan pikiran,” jelasnya menceritakan proses pembuatan video.

Sebagai seorang guru bahasa Inggris dan Bahasa Arab, diutamakan menggunakan model pembelajaran langsung yang menekankan pada penggunaan media gambar, peragaan, video dan lainnya. Itu sebabnya, Eni memilih menggunakan video karena lebih memungkinkan untuk kondisi belajar jarak jauh.

“Karena ini pelajaran Bahasa Inggris dan Arab jadi perlu pembelajaran langsung. Kalau guru lain tentu punya metode pembelajaran sendiri ya. Ada juga yang modelnya tatap muka,” kata dia.

Baca Juga :  Gajahmada Ditutup Karyawan Dirumahkan

Dalam unggahan videonya, Eni menanyakan kabar peserta didiknya. Kemudian menjelaskan materi layaknya di kelas. Salah satunya tentang perpotition of place untuk kelas 3. Eni menjelaskan arti prepotition dan menunjukkan contohnya.

Tantangan lain yang ia hadapi, tidak selalu jaringan atau sinyal bagus. Belum lagi kekuatan handphone yang dimilikinya harus mampu menerima setiap setoran pekerjaan sekolah yang diberikan. Maka mengunggah video di youtube menjadi cara efektif untuk disampaikan ke siswa sebanyak empat kelas.

“Nah kalau sistem yang saya terapkan itu, saya buat video penghapalan kosakata dengan irama atau lagu tertentu. Kemudian siswa menyontohnya di rumah. Kalau sudah hafal, nanti di rekam oleh orang tua, dan mengirimkan ke HP saya,” jelasnya.

Belajar secara langsung dan lewat daring ini memiliki kelebihan dan kekurangan. Belajar secara langsung dapat melihat peserta didik. Waktu belajar mengajarnya juga disesuaikan dengan jam sekolah. Sedangkan saat ini, waktunya tidak menentu. Kelebihannya bisa sambilan mengerjakan pekerjaan rumah, dengan suasana yang lebih santai.

Baca Juga :  Kasus Korupsi Pajak Daerah, Jaksa Sita Tiga Bidang Tanah

Tidak semua orang tua bisa mendampingi anaknya setiap waktu. Ada yang perawat, dokter yang mesti berada di tempat kerja dalam kondisi seperti ini.  Eni memberikan tugas yang fleksibel. Tugas yang diberikan tidak harus disetorkan hari itu juga. Disesuaikan dengan kondisi orang tua dan anak.

Makanya dia memiliki grup whatsapp agar memudahkan koordinasi dengan para orang tua. “Full time nerima setoran, Tergantung orang tua nyetornya kapan. Bantu doa ya semoga HP saya kuat, karena setoran video ada empat kelas di bawa happy saja,” katanya setengah bercanda.

Eni mengakui, di minggu-minggu pertama belum terstruktur. Bahan-bahan pembelajaran masih dalam proses pembuatan. Apalagi dia belum terbiasa dengan mengedit video. Namun, setelah dicoba ternyata cukup seru dan menantang. Hanya saja, kata dia diperlukan kreativitas yang tinggi. Perlu mencari ide-ide lain agar siswa tidak merasa bosan untuk belajar.

“Minggu pertama masih memberikan tugas yang ada di buku, lalu membuat keterampilan-keterampilan. Bahkan kalau guru lain itu sudah mulai melakukan koreksi lewat HP juga. Kalau mata terus terusan mandangin HP juga nggak enak ya,” pungkasnya. (*)

 

Sekolah di Rumah

Sudah dua pekan, Eni bergelut dengan video dan mulai merambah ke Youtube. Media ini sebagai salah satu cara pengganti pembelajaran di kelas. Sesuatu yang baru bagi dia, di tengah keterbatasan untuk mengajar secara langsung. Sebagai youtuber dadakan, memaksa Eni belajar cepat dan harus menarik siswa untuk belajar.

MARSITA RIANDINI, Pontianak

LIBUR panjang untuk mengantisipasi Covid-19 tak menyurutkan semangat para guru untuk mengajar. Memanfaatkan media daring, para guru mengajar dari jarak kejauhan. Ruang belajar yang tidak biasa ini, menuntut para guru harus kreatif.  Itu pula yang dirasakan Eni Desiyani, Guru SDIT Al Mumtaz  ini.

“Udah kayak apa ya, tentukan materinya, buat video sendiri, ngomong sendiri. Ngerekam sendiri, berkali-kali ulang. Di edit lagi. Pokoknya lumayan menguras tenaga dan pikiran,” jelasnya menceritakan proses pembuatan video.

Sebagai seorang guru bahasa Inggris dan Bahasa Arab, diutamakan menggunakan model pembelajaran langsung yang menekankan pada penggunaan media gambar, peragaan, video dan lainnya. Itu sebabnya, Eni memilih menggunakan video karena lebih memungkinkan untuk kondisi belajar jarak jauh.

“Karena ini pelajaran Bahasa Inggris dan Arab jadi perlu pembelajaran langsung. Kalau guru lain tentu punya metode pembelajaran sendiri ya. Ada juga yang modelnya tatap muka,” kata dia.

Baca Juga :  Tinjau Penerapan Protokol Covid-19 Di Gereja di Menyuke, Ini Pesan Kapolda Kalbar

Dalam unggahan videonya, Eni menanyakan kabar peserta didiknya. Kemudian menjelaskan materi layaknya di kelas. Salah satunya tentang perpotition of place untuk kelas 3. Eni menjelaskan arti prepotition dan menunjukkan contohnya.

Tantangan lain yang ia hadapi, tidak selalu jaringan atau sinyal bagus. Belum lagi kekuatan handphone yang dimilikinya harus mampu menerima setiap setoran pekerjaan sekolah yang diberikan. Maka mengunggah video di youtube menjadi cara efektif untuk disampaikan ke siswa sebanyak empat kelas.

“Nah kalau sistem yang saya terapkan itu, saya buat video penghapalan kosakata dengan irama atau lagu tertentu. Kemudian siswa menyontohnya di rumah. Kalau sudah hafal, nanti di rekam oleh orang tua, dan mengirimkan ke HP saya,” jelasnya.

Belajar secara langsung dan lewat daring ini memiliki kelebihan dan kekurangan. Belajar secara langsung dapat melihat peserta didik. Waktu belajar mengajarnya juga disesuaikan dengan jam sekolah. Sedangkan saat ini, waktunya tidak menentu. Kelebihannya bisa sambilan mengerjakan pekerjaan rumah, dengan suasana yang lebih santai.

Baca Juga :  Tongkang Tabrak Rumah Warga

Tidak semua orang tua bisa mendampingi anaknya setiap waktu. Ada yang perawat, dokter yang mesti berada di tempat kerja dalam kondisi seperti ini.  Eni memberikan tugas yang fleksibel. Tugas yang diberikan tidak harus disetorkan hari itu juga. Disesuaikan dengan kondisi orang tua dan anak.

Makanya dia memiliki grup whatsapp agar memudahkan koordinasi dengan para orang tua. “Full time nerima setoran, Tergantung orang tua nyetornya kapan. Bantu doa ya semoga HP saya kuat, karena setoran video ada empat kelas di bawa happy saja,” katanya setengah bercanda.

Eni mengakui, di minggu-minggu pertama belum terstruktur. Bahan-bahan pembelajaran masih dalam proses pembuatan. Apalagi dia belum terbiasa dengan mengedit video. Namun, setelah dicoba ternyata cukup seru dan menantang. Hanya saja, kata dia diperlukan kreativitas yang tinggi. Perlu mencari ide-ide lain agar siswa tidak merasa bosan untuk belajar.

“Minggu pertama masih memberikan tugas yang ada di buku, lalu membuat keterampilan-keterampilan. Bahkan kalau guru lain itu sudah mulai melakukan koreksi lewat HP juga. Kalau mata terus terusan mandangin HP juga nggak enak ya,” pungkasnya. (*)

 

Most Read

Artikel Terbaru

/