alexametrics
30 C
Pontianak
Saturday, May 28, 2022

Penentuan Ramadan Kembali Berbeda, ICMI Kalbar Tawarkan Pencitraan Satelit

PONTIANAK – Penentuan awal dan akhir Ramadan tahun ini sepertinya akan kembali berbeda di antara sejumlah organisasi keagamaan. Ketua Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Kalimantan Barat Prof Dr Thamrin Usman DEA menilai tidak ada yang perlu dipermasalahkan dari perbedaan tersebut.

“Dua-duanya punya dasar kuat dalam Islam dan sains. Nahdlatul Ulama dengan rukyat untuk melihat hilal, dan Muhammadiyah dengan metode hisab yang mengkalkulasikan posisi astronomi bulan, matahari, dan bumi,” ujar dia.

Namun dia tidak menampik masih ada perdebatan mana yang lebih akurat. Metode hisab misalnya, dari jauh-jauh hari sudah bisa ditentukan kapan Ramadan dan Idulfitri akan dimulai. Namun ada keraguan bahwa kalkulasi astronomi harus dibuktikan pula dengan fakta di lapangan atau pandangan mata.

Baca Juga :  Gubernur Tetapkan Status PPKM Mikro di Seluruh Wilayah Kalbar

Sedangkan rukyat mengandalkan fakta atau pandangan mata di lapangan terhadap kemunculan bulan pertama kali, atau posisi 0,1 persen. Kendati dibantu teleskop atau teropong, metode ini juga bisa mendapat gangguan cuaca. Kelemahan manusiawi bisa terjadi di cara ini.

Menurut Thamrin, kedua metode tersebut sejatinya bisa lebih diperkuat bila menggunakan pencitraan satelit. “Dengan menggunakan satelit, kelemahan dalam metode rukyat bisa diatasi karena perubahan fase bulan yang dapat langsung dimonitoring¬† tanpa terpengaruh kondisi langit di bumi. Begitu juga dengan metode hisab, perhitungan astronomi dapat digambarkan langsung lewat satelit ini,” kata mantan Rektor Untan ini.

Pengamatan fase bulan dengan satelit sejatinya juga bisa menentukan posisi hilal sejak beberapa hari sebelumnya. Dari data satelit yang Thamrin dapatkan, kondisi bulan dilihat dari Pontianak untuk Jumat 1 April 2022 saat magrib, bulan baru (hilal) pada keadaan 0,1%.

Baca Juga :  Cegah Penularan Covid-19, Yayasan Mujahidin Hadirkan Pasar Juadah Online

“Dari data satelit di atas pada hari sabtu tgl 2 April 2022 pukul 12.52 WIB dan pukul 17.53 WIB (waktu magrib di Pontianak) posisi hilal di 1% (relatif kelihatan). Jika NU menggunakan keadaan minimal hilal di 1% maka pada hari Sabtu Malam akan memulai salat tarawih dan besoknya Minggu tgl 3 April 2022 akan mulai berpuasa Ramadan,” pungkasnya. (ars)

PONTIANAK – Penentuan awal dan akhir Ramadan tahun ini sepertinya akan kembali berbeda di antara sejumlah organisasi keagamaan. Ketua Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Kalimantan Barat Prof Dr Thamrin Usman DEA menilai tidak ada yang perlu dipermasalahkan dari perbedaan tersebut.

“Dua-duanya punya dasar kuat dalam Islam dan sains. Nahdlatul Ulama dengan rukyat untuk melihat hilal, dan Muhammadiyah dengan metode hisab yang mengkalkulasikan posisi astronomi bulan, matahari, dan bumi,” ujar dia.

Namun dia tidak menampik masih ada perdebatan mana yang lebih akurat. Metode hisab misalnya, dari jauh-jauh hari sudah bisa ditentukan kapan Ramadan dan Idulfitri akan dimulai. Namun ada keraguan bahwa kalkulasi astronomi harus dibuktikan pula dengan fakta di lapangan atau pandangan mata.

Baca Juga :  Subhan; Mudik Dilarang, Tempat Berkerumun Harusnya Dilarang Juga.

Sedangkan rukyat mengandalkan fakta atau pandangan mata di lapangan terhadap kemunculan bulan pertama kali, atau posisi 0,1 persen. Kendati dibantu teleskop atau teropong, metode ini juga bisa mendapat gangguan cuaca. Kelemahan manusiawi bisa terjadi di cara ini.

Menurut Thamrin, kedua metode tersebut sejatinya bisa lebih diperkuat bila menggunakan pencitraan satelit. “Dengan menggunakan satelit, kelemahan dalam metode rukyat bisa diatasi karena perubahan fase bulan yang dapat langsung dimonitoring¬† tanpa terpengaruh kondisi langit di bumi. Begitu juga dengan metode hisab, perhitungan astronomi dapat digambarkan langsung lewat satelit ini,” kata mantan Rektor Untan ini.

Pengamatan fase bulan dengan satelit sejatinya juga bisa menentukan posisi hilal sejak beberapa hari sebelumnya. Dari data satelit yang Thamrin dapatkan, kondisi bulan dilihat dari Pontianak untuk Jumat 1 April 2022 saat magrib, bulan baru (hilal) pada keadaan 0,1%.

Baca Juga :  Momentum Kembalikan Kejayaan Tilawatil Quran di Kalbar

“Dari data satelit di atas pada hari sabtu tgl 2 April 2022 pukul 12.52 WIB dan pukul 17.53 WIB (waktu magrib di Pontianak) posisi hilal di 1% (relatif kelihatan). Jika NU menggunakan keadaan minimal hilal di 1% maka pada hari Sabtu Malam akan memulai salat tarawih dan besoknya Minggu tgl 3 April 2022 akan mulai berpuasa Ramadan,” pungkasnya. (ars)

Most Read

Artikel Terbaru

/