alexametrics
25.6 C
Pontianak
Thursday, May 19, 2022

SMAN 1 Pontianak Gelar Simulasi Tatap Muka

Midji Akan Pantau Langsung dan Evaluasi

PONTIANAK – Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 1 Kota Pontianak telah memulai simulasi proses belajar mengajar secara tatap muka mulai, Senin (31/8). Pelajar yang masuk sekolah khusus kelas XII, dibagi menjadi tiga sesi dengan jumlah maksimal per kelas 18-19 orang.

Kepala SMAN 1 Pontianak Dwi Agustina mengungkapkan, proses simulasi pembelajaran secara tatap muka berpedoman pada protokol kesehatan yang ketat. Mulai dari wajib menggunakan masker, selalu menjaga jarak dan rajin mencuci tangan. Dari pintu masuk sekolah para pelajar juga sudah dilakukan pemeriksaan suhu tubuh dengan thermo gun. Dan yang paling penting pelajar yang datang ke sekolah telah mendapat persetujuan dari orang tua masing-masing.

“Jadi kami simulasi pembelajaran siswa kelas XII, yang kita ketahui diminta untuk uji coba tatap muka,” ungkap Dwi kepada awak media. Dwi menjelaskan total pelajar kelas XII di SMAN 1 Pontianak ada 423 orang. Dari jumlah tersebut dibagi dua dengan absen ganjil genap. Untuk hari Senin pelajar dengan absen ganjil yang masuk dan Selasa pelajar dengan absen genap, begitu seterusnya secara bergiliran.

Untuk per harinya pun dibagi lagi menjadi tiga sesi, tiap sesi hanya belajar selama dua jam. Dengan jumlah maksimal 18-19 orang. Di dalam kelas mereka juga harus duduk dengan satu meja per satu orang. “Sesi pertama masuk pada pukul 07.00 sampai 09.00, sesi II dari 08.00-10.00, sesi III 09.00-11.00 WIB. “Dalam satu hari (belajar) dua mata pelajaran, masing-masing satu jam. Bagi yang tidak masuk (tatap muka) mengikuti pembelajaran live streaming (daring),” jelasnya.

Baca Juga :  Marcus Smart Terbebas dari Covid-19

Simulasi ini menurutnya berjalan sambil menunggu evaluasi secara berkelanjutan. Dalam proses ini tiap sekolah juga melibatkan berbagai pihak mulai dari TNI, Polri sampai Dinas Kesehatan. “Mudahan kegiatan pembelajaran bisa efektif karena anak-anak sangat senang bisa belajar di sekolah lagi,” harapnya.

Dwi mengatakan beberapa fasilitas penunjang yang disiapkan sekolah antara lain, thermo gun, wastafel dan sabun cuci tangan, hand sanitizer serta dibagikan face shield. Sementara untuk masker pelajar wajib membawa dari rumah masing-masing. “Tingkat SMA (simulasi) baru di SMA 1 dan sifatnya masih ujicoba. Seandainya nanti ditemukan hal yang tidak diinginkan bisa saja diistirahatkan pembelajaran di sekolah, namun tetap dilanjutkan daring,” paparnya.

Selama proses simulasi ini seluruh prosesnya diawasi ketat. Setelah jam pulang, anak-anak diminta segera kembali ke rumah masing-masing. Sekolah juga tidak membuka kantin atau tempat jajan, anak-anak diminta membawa bekal makanan sendiri dari rumah.

Salah satu pelajar Kelas XII IPS 2 Aditya Zaki mengaku senang bisa kembali belajar tatap muka di sekolah. Selama belajar jarak jauh atau daring menurutnya pembelajaran yang didapat kurang dimengerti. Ketiak belajar langsung tatap muka akan lebih mudah diingat. “Enaknya belajar di sekolah. Hanya lumayan pengap pakai masker, pembelajaran lancar hanya suara guru agak mendam pakai masker. Secara umum tidak ada kendala,” ungkapnya.

Meski demikian Aditya merasakan banyak hal yang berbeda dibanding sekolah sebelum pandemi dulu. Saat ini sekolah terasa lebih sepi dan tidak bisa berinteraksi secara bebas dengan teman sekelas lainnya. Apalagi setiap bangku hanya boleh diduduki oleh satu pelajar saja. “Orang tua setuju saya masuk sekolah. Pesan orang tua jaga jarak saja sama pakai hand sanitizer,” tutupnya.

Baca Juga :  Pasien Meninggal Capai 635 Orang

Terpisah Gubernur Kalbar Sutarmidji rencananya akan memantau langsung proses simulai sekolah tatap muka. Ia berharap semua daerah yang tidak berada di zona merah sudah memulai simulasi ini minimal di satu sekolah terlebih dahulu.

Dari simulasi ini akan dievaluasi seperti apa kedisiplinan guru dan pelajar. Dalam satu atau dua minggu ke depan mereka yang mengikuti proses belajar mengajar tatap muka di sekolah bakal kembali dilakukan pemeriksaan Rapid Test.

“Setelah satu minggu dua minggu kami Rapid Test lagi, kalau aman mungkin kelas XI masuk. Lihat ada tidak keterjangkitan, jika tidak artinya protap berjalan. Modelnya seperti itu saja,” kata Midji sapaan akrabnya. Orang nomor satu di Kalbar itu menyerahkan model pembagian waktu belajar kepada sekolah masing-masing. Ia hanya meminta mata pelajaran yang dilaksanakan adalah mata pelajaran yang digunakan untuk tes perguruan tinggi. “Sekolah itu harus bisa berinovasi untuk keamanan anak selama proses belajar mengajar,” pesannya.

Ia mencontohkan semisal di kelas XII ada 300 anak, bagaimana per 100 orang masuknya dijeda per 30 menit. Mulai dari jam 07.00 WIB sebanyak 100 pelajar, jam 07.30 WIB sebanyak 100 pelajar dan Jam 08.00 WIB sebanyak 100 belajar. Dan begitu pula jam pulang sekolah. Dengan demikian pelajar tidak menumpuk terlalu ramai. “Kalau 30 menit misalnya terlalu longgar bisa per 15 menit. Yang mnegatur sekolah karena sekolah yang menyelenggarakan, kami akan lihat dan evaluasi,” pungkasnya. (bar)

Midji Akan Pantau Langsung dan Evaluasi

PONTIANAK – Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 1 Kota Pontianak telah memulai simulasi proses belajar mengajar secara tatap muka mulai, Senin (31/8). Pelajar yang masuk sekolah khusus kelas XII, dibagi menjadi tiga sesi dengan jumlah maksimal per kelas 18-19 orang.

Kepala SMAN 1 Pontianak Dwi Agustina mengungkapkan, proses simulasi pembelajaran secara tatap muka berpedoman pada protokol kesehatan yang ketat. Mulai dari wajib menggunakan masker, selalu menjaga jarak dan rajin mencuci tangan. Dari pintu masuk sekolah para pelajar juga sudah dilakukan pemeriksaan suhu tubuh dengan thermo gun. Dan yang paling penting pelajar yang datang ke sekolah telah mendapat persetujuan dari orang tua masing-masing.

“Jadi kami simulasi pembelajaran siswa kelas XII, yang kita ketahui diminta untuk uji coba tatap muka,” ungkap Dwi kepada awak media. Dwi menjelaskan total pelajar kelas XII di SMAN 1 Pontianak ada 423 orang. Dari jumlah tersebut dibagi dua dengan absen ganjil genap. Untuk hari Senin pelajar dengan absen ganjil yang masuk dan Selasa pelajar dengan absen genap, begitu seterusnya secara bergiliran.

Untuk per harinya pun dibagi lagi menjadi tiga sesi, tiap sesi hanya belajar selama dua jam. Dengan jumlah maksimal 18-19 orang. Di dalam kelas mereka juga harus duduk dengan satu meja per satu orang. “Sesi pertama masuk pada pukul 07.00 sampai 09.00, sesi II dari 08.00-10.00, sesi III 09.00-11.00 WIB. “Dalam satu hari (belajar) dua mata pelajaran, masing-masing satu jam. Bagi yang tidak masuk (tatap muka) mengikuti pembelajaran live streaming (daring),” jelasnya.

Baca Juga :  2021, Upah Tak Naik

Simulasi ini menurutnya berjalan sambil menunggu evaluasi secara berkelanjutan. Dalam proses ini tiap sekolah juga melibatkan berbagai pihak mulai dari TNI, Polri sampai Dinas Kesehatan. “Mudahan kegiatan pembelajaran bisa efektif karena anak-anak sangat senang bisa belajar di sekolah lagi,” harapnya.

Dwi mengatakan beberapa fasilitas penunjang yang disiapkan sekolah antara lain, thermo gun, wastafel dan sabun cuci tangan, hand sanitizer serta dibagikan face shield. Sementara untuk masker pelajar wajib membawa dari rumah masing-masing. “Tingkat SMA (simulasi) baru di SMA 1 dan sifatnya masih ujicoba. Seandainya nanti ditemukan hal yang tidak diinginkan bisa saja diistirahatkan pembelajaran di sekolah, namun tetap dilanjutkan daring,” paparnya.

Selama proses simulasi ini seluruh prosesnya diawasi ketat. Setelah jam pulang, anak-anak diminta segera kembali ke rumah masing-masing. Sekolah juga tidak membuka kantin atau tempat jajan, anak-anak diminta membawa bekal makanan sendiri dari rumah.

Salah satu pelajar Kelas XII IPS 2 Aditya Zaki mengaku senang bisa kembali belajar tatap muka di sekolah. Selama belajar jarak jauh atau daring menurutnya pembelajaran yang didapat kurang dimengerti. Ketiak belajar langsung tatap muka akan lebih mudah diingat. “Enaknya belajar di sekolah. Hanya lumayan pengap pakai masker, pembelajaran lancar hanya suara guru agak mendam pakai masker. Secara umum tidak ada kendala,” ungkapnya.

Meski demikian Aditya merasakan banyak hal yang berbeda dibanding sekolah sebelum pandemi dulu. Saat ini sekolah terasa lebih sepi dan tidak bisa berinteraksi secara bebas dengan teman sekelas lainnya. Apalagi setiap bangku hanya boleh diduduki oleh satu pelajar saja. “Orang tua setuju saya masuk sekolah. Pesan orang tua jaga jarak saja sama pakai hand sanitizer,” tutupnya.

Baca Juga :  Rumah Sakit Hampir Penuh

Terpisah Gubernur Kalbar Sutarmidji rencananya akan memantau langsung proses simulai sekolah tatap muka. Ia berharap semua daerah yang tidak berada di zona merah sudah memulai simulasi ini minimal di satu sekolah terlebih dahulu.

Dari simulasi ini akan dievaluasi seperti apa kedisiplinan guru dan pelajar. Dalam satu atau dua minggu ke depan mereka yang mengikuti proses belajar mengajar tatap muka di sekolah bakal kembali dilakukan pemeriksaan Rapid Test.

“Setelah satu minggu dua minggu kami Rapid Test lagi, kalau aman mungkin kelas XI masuk. Lihat ada tidak keterjangkitan, jika tidak artinya protap berjalan. Modelnya seperti itu saja,” kata Midji sapaan akrabnya. Orang nomor satu di Kalbar itu menyerahkan model pembagian waktu belajar kepada sekolah masing-masing. Ia hanya meminta mata pelajaran yang dilaksanakan adalah mata pelajaran yang digunakan untuk tes perguruan tinggi. “Sekolah itu harus bisa berinovasi untuk keamanan anak selama proses belajar mengajar,” pesannya.

Ia mencontohkan semisal di kelas XII ada 300 anak, bagaimana per 100 orang masuknya dijeda per 30 menit. Mulai dari jam 07.00 WIB sebanyak 100 pelajar, jam 07.30 WIB sebanyak 100 pelajar dan Jam 08.00 WIB sebanyak 100 belajar. Dan begitu pula jam pulang sekolah. Dengan demikian pelajar tidak menumpuk terlalu ramai. “Kalau 30 menit misalnya terlalu longgar bisa per 15 menit. Yang mnegatur sekolah karena sekolah yang menyelenggarakan, kami akan lihat dan evaluasi,” pungkasnya. (bar)

Most Read

Artikel Terbaru

/