alexametrics
31 C
Pontianak
Thursday, June 30, 2022

Maman Suherman Ditangkap di Jakarta, Empat Tahun Buron

PONTIANAK – Tim Tabur (Tangkap buronan) Kejaksaan Tinggi Kalimantan Barat menangkap seorang buronan atas nama Maman Suherman, terpidana tindak pidana kehutanan di kawasan Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Melintang, Sambas. Yang bersangkutan merupakan Direktur PT. Kaliau Mas Perkasa (KMP) yang bergerak di bidang perkebunan sawit.

Dengan mengenakan baju batik, Maman Suherman digiring dan dihadirkan dalam ruang konfrensi pers Kejaksaan Tinggi Kalimantan Barat. Maman Suherman menjadi buronan sejak empat tahun lalu.

Ia dijatuhi pidana penjara selama tiga tahun dan denda sebesar Rp750.000.000, subsidair kurungan selama tiga bulan, berdasarkan putusan Mahkamah Agung tanggal 21 Juni 2017, dimana yang bersangkutan dinyatakan terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana mengerjakan kawasan hutan secara tidak sah.

“Terpidana MS (Maman Suherman_Red) terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana mengerjakan kawasan hutan secara tidak sah di TWA Gunung Melintang, Kabupaten Sambas seluas 1.003 hektare,” kata Kepala Kejaksaan Tinggi Kalimantan Barat, Masyhudi dalam keterangan pers bersama Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), di Kejaksaan Tinggi Kalbar, Kamis (30/9) siang.

Dikatakan Masyhudi, sejak putusan kasasi tersebut, yang bersangkutan melarikan diri, tidak memenuhi kewajibannya sebagai tersangka.

Sementara untuk kasus yang menyerat Maman Suherman, berawal dari temuan petugas BKSDA Kalimantan Barat, tentang adanya aktivitas perkebunan sawit di kawasan TWA Gunung Melintang, Kabupaten Sambas, pada 2011.

Dari temuan tersebut, setidaknya 706 hektar diantaranya masuk dalam kawasan TWA Gunung Melintang. Sedangkan 297 hektare lainnya, tidak masuk dalam kawasan. “Sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku, kawasan TWA tidak dapat dilakukan usaha perkebunan atau diberikan izin untuk usaha perkebunan,” tegas Masyhudi.

Baca Juga :  DPR: Negara Kalah dengan Buronan

Maman Suherman ditangkap di tempat persembunyiannya di bilangan Jakarta Selatan oleh tim Tabur Kejaksaan Tinggi Kalimantan Barat bersama tim Tabur Kejagung, pada 27 September 2021.

“Dalam pelarian, yang bersangkutan berpindah-pindah tempat. Dan Alhamdulillah, bisa kami ditangkap dan dibawa ke Pontianak,” lanjutnya.

Berkaitan dengan hasil putusan Mahkamah Agung, terpidana Maman Suherman akan dijeblokan ke rumah tahanan untuk menjalani proses hukum. Selain itu, lanjut Masyhudi, pihaknya akan mengembalikan kawasan hutan TWA Gunung Melintang yang sebelumnya digunakan secara tidak sah oleh terpidana Maman Suherman, ke Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

“Ada 1.003 hektare kawasan hutan yang tadinya digunakan secara tidak sah, akan kami kembalikan ke KLHK supaya difungsikan kembali sesuai ketentuan,” lanjutnya.

Sementara itu, Dirjen Gakkum KLHK Rasio Ridho Sani mengatakan, pihaknya mengapresiasi kinerja Kejaksaan Tinggi Kalbar yang telah penangkapan buronan pelaku tindak kejahatan perusakan hutan.

“Kami sangat mengapresiasi. Ini menunjukan komitmen pemerintah untuk menghentikan kejahatan yang merugikan negara ini,” kata Rasio yang hadir dalam konfresi pers di kantor Kejaksaan Tinggi Kalbar, Kamis (30/9).

Dikatakan Rasio, pengerusakan kawasan hutan yang dilakukan terpidana Maman Suherman merupakan kejahatan serius dan harus ditindak serta dihukum seberat-beratnya.

Baca Juga :  Pilkada Disepakati 9 Desember 2020, Tony: Penundaan Harus Diimplementasikan Secara Sempurna

Dengan tertangkapnya buronan ini, kata Rasio, pihaknya akan melakukan pengembangan dan pendalaman kasusnya. Apakah ada pihak lain yang turut terlibat dalam kasus tersebut. “Meski kasusnya tahun 2011, kami tetap akan dalami dan kembangkan ini. Tentu bukti-bukti forensik masih ada di sana,” lanjutnya.

Terkait dengan penegakkan hukum kehutanan, kata Rasio, pihaknya telah melakukan penegakan hukum, khususnya pidana, sebanyak 1.100 kasus di seluruh Indonesia. Tak terkecuali di Kalimantan Barat.

“1.100 kasus ini, adalah kasus yang kami tangani sendiri dan sudah P.21. Belum termasuk operasi-operasi pengamanan kawasan hutan, yang jumlahnya lebih dari 1.600 kasus,” bebernya. “Khusus di Kalbar, saya belum pedang datanya, tapi saya peyakin, sangat banyak,” sambungnya.

Disinggung soal kerugian negara yang ditimbulkan akibat kerusakan hutan di TWA Gunung Melintang, Rasio mengaku belum menghitung secara rinci. Hanya saja, dalam kasus lain, seperti kebakaran hutan yang baru putus di Kalimantan Tengah,  seluas 3000 hektare, biaya ganti rugi dan biaya pemulihan mencapai Rp1 triliun.

“Kalau ingin mengembalikan ini menjadi kawasan hutan. 1.000 hektar kurang lebih Rp15 milyar. Itu biaya penanaman saja, belum biaya perawatan. Jadi kerugiannya sangat besar. Belum lagi kerugian lingkungan yang ditimbulkan. Bisa mencapai Rp300 miliar,” bebernya.

Sementara itu Kepala Dinas Kehutanan Kalimantan Barat Adi Yani mengatakan, untuk rehabilitasi kawasan, seperti TWA Gunung Melintang, merupakan kewenangan kementerian. Sedangkan di luar itu, adalah kewenangan pemerintah daerah. (arf)

PONTIANAK – Tim Tabur (Tangkap buronan) Kejaksaan Tinggi Kalimantan Barat menangkap seorang buronan atas nama Maman Suherman, terpidana tindak pidana kehutanan di kawasan Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Melintang, Sambas. Yang bersangkutan merupakan Direktur PT. Kaliau Mas Perkasa (KMP) yang bergerak di bidang perkebunan sawit.

Dengan mengenakan baju batik, Maman Suherman digiring dan dihadirkan dalam ruang konfrensi pers Kejaksaan Tinggi Kalimantan Barat. Maman Suherman menjadi buronan sejak empat tahun lalu.

Ia dijatuhi pidana penjara selama tiga tahun dan denda sebesar Rp750.000.000, subsidair kurungan selama tiga bulan, berdasarkan putusan Mahkamah Agung tanggal 21 Juni 2017, dimana yang bersangkutan dinyatakan terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana mengerjakan kawasan hutan secara tidak sah.

“Terpidana MS (Maman Suherman_Red) terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana mengerjakan kawasan hutan secara tidak sah di TWA Gunung Melintang, Kabupaten Sambas seluas 1.003 hektare,” kata Kepala Kejaksaan Tinggi Kalimantan Barat, Masyhudi dalam keterangan pers bersama Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), di Kejaksaan Tinggi Kalbar, Kamis (30/9) siang.

Dikatakan Masyhudi, sejak putusan kasasi tersebut, yang bersangkutan melarikan diri, tidak memenuhi kewajibannya sebagai tersangka.

Sementara untuk kasus yang menyerat Maman Suherman, berawal dari temuan petugas BKSDA Kalimantan Barat, tentang adanya aktivitas perkebunan sawit di kawasan TWA Gunung Melintang, Kabupaten Sambas, pada 2011.

Dari temuan tersebut, setidaknya 706 hektar diantaranya masuk dalam kawasan TWA Gunung Melintang. Sedangkan 297 hektare lainnya, tidak masuk dalam kawasan. “Sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku, kawasan TWA tidak dapat dilakukan usaha perkebunan atau diberikan izin untuk usaha perkebunan,” tegas Masyhudi.

Baca Juga :  Kejati Kalbar Masih Buru 12 Buronan

Maman Suherman ditangkap di tempat persembunyiannya di bilangan Jakarta Selatan oleh tim Tabur Kejaksaan Tinggi Kalimantan Barat bersama tim Tabur Kejagung, pada 27 September 2021.

“Dalam pelarian, yang bersangkutan berpindah-pindah tempat. Dan Alhamdulillah, bisa kami ditangkap dan dibawa ke Pontianak,” lanjutnya.

Berkaitan dengan hasil putusan Mahkamah Agung, terpidana Maman Suherman akan dijeblokan ke rumah tahanan untuk menjalani proses hukum. Selain itu, lanjut Masyhudi, pihaknya akan mengembalikan kawasan hutan TWA Gunung Melintang yang sebelumnya digunakan secara tidak sah oleh terpidana Maman Suherman, ke Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

“Ada 1.003 hektare kawasan hutan yang tadinya digunakan secara tidak sah, akan kami kembalikan ke KLHK supaya difungsikan kembali sesuai ketentuan,” lanjutnya.

Sementara itu, Dirjen Gakkum KLHK Rasio Ridho Sani mengatakan, pihaknya mengapresiasi kinerja Kejaksaan Tinggi Kalbar yang telah penangkapan buronan pelaku tindak kejahatan perusakan hutan.

“Kami sangat mengapresiasi. Ini menunjukan komitmen pemerintah untuk menghentikan kejahatan yang merugikan negara ini,” kata Rasio yang hadir dalam konfresi pers di kantor Kejaksaan Tinggi Kalbar, Kamis (30/9).

Dikatakan Rasio, pengerusakan kawasan hutan yang dilakukan terpidana Maman Suherman merupakan kejahatan serius dan harus ditindak serta dihukum seberat-beratnya.

Baca Juga :  Terus Bangun Komunikasi dan Serap Aspirasi di Ponpes Kubu Raya

Dengan tertangkapnya buronan ini, kata Rasio, pihaknya akan melakukan pengembangan dan pendalaman kasusnya. Apakah ada pihak lain yang turut terlibat dalam kasus tersebut. “Meski kasusnya tahun 2011, kami tetap akan dalami dan kembangkan ini. Tentu bukti-bukti forensik masih ada di sana,” lanjutnya.

Terkait dengan penegakkan hukum kehutanan, kata Rasio, pihaknya telah melakukan penegakan hukum, khususnya pidana, sebanyak 1.100 kasus di seluruh Indonesia. Tak terkecuali di Kalimantan Barat.

“1.100 kasus ini, adalah kasus yang kami tangani sendiri dan sudah P.21. Belum termasuk operasi-operasi pengamanan kawasan hutan, yang jumlahnya lebih dari 1.600 kasus,” bebernya. “Khusus di Kalbar, saya belum pedang datanya, tapi saya peyakin, sangat banyak,” sambungnya.

Disinggung soal kerugian negara yang ditimbulkan akibat kerusakan hutan di TWA Gunung Melintang, Rasio mengaku belum menghitung secara rinci. Hanya saja, dalam kasus lain, seperti kebakaran hutan yang baru putus di Kalimantan Tengah,  seluas 3000 hektare, biaya ganti rugi dan biaya pemulihan mencapai Rp1 triliun.

“Kalau ingin mengembalikan ini menjadi kawasan hutan. 1.000 hektar kurang lebih Rp15 milyar. Itu biaya penanaman saja, belum biaya perawatan. Jadi kerugiannya sangat besar. Belum lagi kerugian lingkungan yang ditimbulkan. Bisa mencapai Rp300 miliar,” bebernya.

Sementara itu Kepala Dinas Kehutanan Kalimantan Barat Adi Yani mengatakan, untuk rehabilitasi kawasan, seperti TWA Gunung Melintang, merupakan kewenangan kementerian. Sedangkan di luar itu, adalah kewenangan pemerintah daerah. (arf)

Most Read

Artikel Terbaru

/