alexametrics
30 C
Pontianak
Sunday, June 26, 2022

 20 Pasien Covid Meninggal, Pemkot Siapkan Layanan Rawat Jalan Khusus OTG

PONTIANAK – Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Barat, Harisson mengatakan hingga 31 Oktober 2020, tercatat 20 orang meninggal akibat kasus konfirmasi Covid-19 di Kalbar. Kondisi ini dinilai perlu menjadi perhatian serius bagi semua pihak.

“Sampai dengan hari ini, sebanyak 20 orang meninggal akibat Covid-19 dan ini harus menjadi perhatian serius bagi kita karena semakin banyak masyarakat yang terkonfirmasi dan dapat menyebabkan kematian,” kata dia di Pontianak, Sabtu (31/10).

Ia menjelaskan 20 kasus konfirmasi meninggal tersebut di antaranya di Kota Pontianak 15 orang, Kabupaten Landak dua orang, dan Mempawah, Sintang, Kapuas Hulu, masing-masing satu orang.

Hingga kemarin, total tercatat 1.653 kasus konfirmasi Covid-19 di provinsi ini. Sebanyak 1.335 orang di antaranya sudah dinyatakan sembuh. “Untuk kasus konfirmasi sembuh di Kalbar sebesar 80,76 persen,” tuturnya.

Ia juga menyebutkan adanya lima kasus konfirmasi Covid-19 baru di mana semuanya saat ini sedang dirawat di rumah sakit. “Sebanyak lima kasus konfirmasi baru ini berada di Kota Pontianak satu orang, Kabupaten Kubu Raya dua orang, dan Landak dua orang,” katanya.

Selain itu, kemarin juga terdapat empat kasus konfirmasi Covid-19 yang baru dinyatakan sembuh. Di Kabupaten Sintang tiga orang dan di Sambas satu orang.

Rawat Jalan Pasien Covid-19

Baca Juga :  Bupati: Gunakan Dana Desa Untuk Pencegahan Covid-19

Sementara itu, Dinas Kesehatan Kota Pontianak saat ini menyediakan pelayanan rawat jalan khusus pasien Covid-19. “Kami menyadari pasien Covid-19 yang OTG  (orang tanpa gejala) dan yang melakukan isolasi mandiri juga memerlukan konsultasi dengan dokter dan obat-obatan,” kata Kadinkes Kota Pontianak, Sidiq Handanu di Pontianak, Sabtu.

Dia menjelaskan, pelayanan rawat jalan tersebut disiapkan di Puskesmas Karya Mulia milik Pemkot Pontianak di Jalan Ampera. “Yang jelas garda terdepan dalam hal ini adalah masyarakat itu sendiri, sementara petugas kesehatan adalah garda terakhir sehingga dalam hal ini adalah peran serta masyarakat dalam mencegah dan memutus mata rantai penyebaran Covid-19,” ujarnya.

Dalam kesempatan ini, Sidiq kembali mengimbau masyarakat agar tetap mematuhi protokol kesehatan, seperti menggunakan masker, menjaga jarak dan rajin mencuci tangan menggunakan sabun.

Sebelumnya, Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono meminta kepada manajemen RSUD Sultan Syarif Mohamad Alkadrie (SSMA) Kota Pontianak untuk melakukan langkah-langkah khusus mengantisipasi lonjakan pasien Covid-19.

Dia menjelaskan, saat ini RSUD Kota Pontianak sudah menyediakan 53 tempat tidur bagi pasien Covid-19. Untuk ruang ICU, ada delapan tempat tidur yang dilengkapi ventilator guna menangani pasien terkonfirmasi positif Covid-19.

“Akan tetapi dengan gelombang kedua bisa saja tidak mencukupi jika jumlah pasien melonjak, sehingga harus dilakukan langkah-langkah antisipasi,” ungkap Edi.
Penanganan terhadap pasien terkonfirmasi positif Covid-19 menurutnya harus dilakukan tersendiri, mulai dari pasien datang, kemudian masuk IGD hingga dirawat inap.

Baca Juga :  Epson Luncurkan A3 EcoTank Monokrom Printer dan seri WorkForce Pemindai Bisnis Terbaru

“Dokter dan perawat yang menangani juga harus menggunakan Alat Pelindung Diri (APD), termasuk pemusnahan APD itu sendiri di incinerator kita yang ada (RSUD Pontianak),” ujarnya.

Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Soedarso Pontianak pun telah mendirikan tenda berukuran besar persis di depan gedung Instalasi Gawat Darurat (IGD) pekan lalu. Tenda bertuliskan BNPB tersebut difungsikan sebagai triase pasien yang hendak ke IGD agar pelaksanaan protokol kesehatan tetap terlaksana dengan baik.

Direktur RSUD Soedarso Yuliastuti Saripawan menjelaskan, triase merupakan proses penentuan atau seleksi pasien yang diprioritaskan untuk mendapat penanganan terlebih dahulu di ruang IGD Rumah Sakit (RS). Penggunaannya pun hanya ketika kondisi di IGD ramai, sehingga antar pasien bisa saling menjaga jarak di tempat yang lebih luas.

Hal ini sebagai langkah antisipasi atau pencegahan penularan Covid-19 antar pasien yang datang ke IGD. “Jadi itu hanya untuk triase, menegakkan protokol kesehatan.  Kalau misalnya (pasien) banyak  dipakai, kalau tidak, tidak perlu. Apalagi ruangan IGD kan kecil,” ungkapnya kepada Pontianak Post, Jumat (23/10) malam.  (ant/*)

 

PONTIANAK – Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Barat, Harisson mengatakan hingga 31 Oktober 2020, tercatat 20 orang meninggal akibat kasus konfirmasi Covid-19 di Kalbar. Kondisi ini dinilai perlu menjadi perhatian serius bagi semua pihak.

“Sampai dengan hari ini, sebanyak 20 orang meninggal akibat Covid-19 dan ini harus menjadi perhatian serius bagi kita karena semakin banyak masyarakat yang terkonfirmasi dan dapat menyebabkan kematian,” kata dia di Pontianak, Sabtu (31/10).

Ia menjelaskan 20 kasus konfirmasi meninggal tersebut di antaranya di Kota Pontianak 15 orang, Kabupaten Landak dua orang, dan Mempawah, Sintang, Kapuas Hulu, masing-masing satu orang.

Hingga kemarin, total tercatat 1.653 kasus konfirmasi Covid-19 di provinsi ini. Sebanyak 1.335 orang di antaranya sudah dinyatakan sembuh. “Untuk kasus konfirmasi sembuh di Kalbar sebesar 80,76 persen,” tuturnya.

Ia juga menyebutkan adanya lima kasus konfirmasi Covid-19 baru di mana semuanya saat ini sedang dirawat di rumah sakit. “Sebanyak lima kasus konfirmasi baru ini berada di Kota Pontianak satu orang, Kabupaten Kubu Raya dua orang, dan Landak dua orang,” katanya.

Selain itu, kemarin juga terdapat empat kasus konfirmasi Covid-19 yang baru dinyatakan sembuh. Di Kabupaten Sintang tiga orang dan di Sambas satu orang.

Rawat Jalan Pasien Covid-19

Baca Juga :  Inklusivitas Akses Literasi Mendorong Kewirausahaan

Sementara itu, Dinas Kesehatan Kota Pontianak saat ini menyediakan pelayanan rawat jalan khusus pasien Covid-19. “Kami menyadari pasien Covid-19 yang OTG  (orang tanpa gejala) dan yang melakukan isolasi mandiri juga memerlukan konsultasi dengan dokter dan obat-obatan,” kata Kadinkes Kota Pontianak, Sidiq Handanu di Pontianak, Sabtu.

Dia menjelaskan, pelayanan rawat jalan tersebut disiapkan di Puskesmas Karya Mulia milik Pemkot Pontianak di Jalan Ampera. “Yang jelas garda terdepan dalam hal ini adalah masyarakat itu sendiri, sementara petugas kesehatan adalah garda terakhir sehingga dalam hal ini adalah peran serta masyarakat dalam mencegah dan memutus mata rantai penyebaran Covid-19,” ujarnya.

Dalam kesempatan ini, Sidiq kembali mengimbau masyarakat agar tetap mematuhi protokol kesehatan, seperti menggunakan masker, menjaga jarak dan rajin mencuci tangan menggunakan sabun.

Sebelumnya, Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono meminta kepada manajemen RSUD Sultan Syarif Mohamad Alkadrie (SSMA) Kota Pontianak untuk melakukan langkah-langkah khusus mengantisipasi lonjakan pasien Covid-19.

Dia menjelaskan, saat ini RSUD Kota Pontianak sudah menyediakan 53 tempat tidur bagi pasien Covid-19. Untuk ruang ICU, ada delapan tempat tidur yang dilengkapi ventilator guna menangani pasien terkonfirmasi positif Covid-19.

“Akan tetapi dengan gelombang kedua bisa saja tidak mencukupi jika jumlah pasien melonjak, sehingga harus dilakukan langkah-langkah antisipasi,” ungkap Edi.
Penanganan terhadap pasien terkonfirmasi positif Covid-19 menurutnya harus dilakukan tersendiri, mulai dari pasien datang, kemudian masuk IGD hingga dirawat inap.

Baca Juga :  Ekonomi Kalbar Lesu Darah

“Dokter dan perawat yang menangani juga harus menggunakan Alat Pelindung Diri (APD), termasuk pemusnahan APD itu sendiri di incinerator kita yang ada (RSUD Pontianak),” ujarnya.

Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Soedarso Pontianak pun telah mendirikan tenda berukuran besar persis di depan gedung Instalasi Gawat Darurat (IGD) pekan lalu. Tenda bertuliskan BNPB tersebut difungsikan sebagai triase pasien yang hendak ke IGD agar pelaksanaan protokol kesehatan tetap terlaksana dengan baik.

Direktur RSUD Soedarso Yuliastuti Saripawan menjelaskan, triase merupakan proses penentuan atau seleksi pasien yang diprioritaskan untuk mendapat penanganan terlebih dahulu di ruang IGD Rumah Sakit (RS). Penggunaannya pun hanya ketika kondisi di IGD ramai, sehingga antar pasien bisa saling menjaga jarak di tempat yang lebih luas.

Hal ini sebagai langkah antisipasi atau pencegahan penularan Covid-19 antar pasien yang datang ke IGD. “Jadi itu hanya untuk triase, menegakkan protokol kesehatan.  Kalau misalnya (pasien) banyak  dipakai, kalau tidak, tidak perlu. Apalagi ruangan IGD kan kecil,” ungkapnya kepada Pontianak Post, Jumat (23/10) malam.  (ant/*)

 

Most Read

Artikel Terbaru

/