alexametrics
29 C
Pontianak
Sunday, May 29, 2022

Warga Keluhkan Keakuratan Hasil Pemeriksaan, Dua Lab Swasta Ditutup

Seluruh Daerah Zona Kuning, Pontianak Orange

PONTANAK – Dua laboratorium (lab) Polymerase Chain Reaction (PCR) untuk pemeriksaan Covid-19 millik swasta yang berada di Kota Pontianak dihentikan sementara. Kebijakan ini diambil oleh pemerintah menyusul adanya keluhan masyarakat terkait keakuratan pemeriksaan sehingga perlu dilakukan uji mutu.

“Hari ini (kemarin) Dinkes Kalbar dan Kota Pontianak memerintahkan dua laboratorium berhenti sementara. Kedua lab swasta ini, selama ini memang melakukan pemeriksaan swab (tes usap), tapi ada keluhan masyarakat,” ungkap Kepala Dinas Kesehatan Kalbar Harisson kepada awak media, Senin (30/11).

Keluhan yang dimaksud dijelaskan Harisson ada masyarakat yang dinyatakan terkonfirmasi (positif) Covid-19 dari pemeriksaan lab PCR di RS Untan, tetapi ketika diperiksakan di lab swasta tersebut hasilnya justru negatif. Sebaliknya ada yang dinyatakan negatif Covid-19 dari lab swasta tersebut, tapi kemudian mengalami kehilangan penciuman (ansomnia) dan dinyatakan kasus konfirmasi. Padahal yang bersangkutan sempat kontak erat dengan beberapa rekannya yang akhirnya juga dinyatakan positif Covid-19.

“Jadi berdasarkan keluhan itu kami memang meminta kedua lab itu melakukan uji mutu dulu, yang disebut pemantauan mutu eksternal,” katanya.

Adapun proses uji mutunya, kedua lab ini diminta mengirimkan 20 sampel yang menurut hasil pemeriksaan dinyatakan positif dan 10 sampel yang menurut hasil pemeriksaan negatif. Sebanyak 30 sampel itu kemudian akan dikirim ke Jakarta untuk dites kembali. “Nanti hasilnya dicocokkan berapa persen akurasinya. Kedua lab ini sudah mengirimkan spesimen uji mutu itu, tapi belum dapat hasilnya. Karena belum ada hasil, jadi kami setop sementara,” ujarnya.

Selain itu kedua lab ini juga diminta memperhatikan tata cara pembuangan limbah. “Mereka harus memperhatikan (limbah), karena dikhawatirkan mencemari lingkungan di sekitar laboratorium tersebut,” imbuhnya.

Baca Juga :  Menko Airlangga Tinjau Persiapan WSBK di KEK Mandalika

Terpisah Gubernur Kalbar Sutarmidji mengatakan, pihaknyan memang akan menertibkan lab PCR milik swasta yang ada di provinsi ini. Lab swasta menurutnya wajib melaporkan hasil pemeriksaan Covid-19 sampai pada jumlah kandungan virus yang diidap seseorang.

“Karena saya dengar ada orang dengan viral load (kandungan virus) tinggi, begitu ke swasta langsung negatif. Setelah dinyatakan negatif besoknya rapat, dua hari setelehnya hilang penciuman, akhirnya dua orang ini positif dan dua tidak kena karena ketat protokol kesehatannya,” ungkapnya.

Dengan tidak akuratnya pemeriksaan lab PCR milik swasta ini menurut Midji sapaan akrabnya dapat membahayakan banyak orang. Untuk itu lab tersebut diminta berhenti beroperasional untuk sementara sampai hasil uji mutu dari kementerian keluar.

“Swasta harus dipertegas, kalau begini bahaya, orang positif dibilang negatif, buktinya sudah ada. Seperti limbah medis juga bahaya, jangan sampai rapid test reaktif sampelnya dibuang saja sembarangan, kan bahaya,” pungkasnya.

Mayoritas Zona Kuning

Sementara itu dari data kategori risiko kenaikan kasus kabupaten/kota se-Kalbar per 29 November 2020, Harisson menjelaskan hampir semua daerah berada di zona kuning atau tingkat risiko rendah. Hanya ada satu daerah berada di zona orange atau tingkat risiko sedang yakni Kota Pontianak.

Kemudian untuk perkembangan kasus, sampai 29 November 2020, total kasus konfirmasi Covid-19 di Kalbar telah mencapai 2.405 orang. Sementara1.987 orang di antaranya atau 82,61 persen telah dinyatakan sembuh dan 22 orang meninggal dunia.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kota Pontianak, Kalimantan Barat, dr Sidiq Handanu mengimbau kepada para pemilik warung kopi (warkop) yang ada di kota itu agar ikut menegur pengunjungnya yang tidak menaati protokol kesehatan (prokes), seperti berkerumun dan tidak menggunakan masker.

Baca Juga :  Ritual Balala’ Masyarakat Adat Dayak Kanayatn Digelar

“Kami minta para pemilik warkop juga aktif dalam menerapkan protokol kesehatan, sehingga ikut menegur atau mengimbau kepada pengunjungnya agar tidak berkerumun dalam mencegah penyebaran COVID-19 di Kota Pontianak,” katanya di Pontianak, Senin.

Sebelumnya, di salah satu warkop di Jalan Reformasi, Sabtu (28/11) malam ditemukan sekitar 250 hingga 300 orang yang ada di dalam satu warkop itu,  tidak mematuhi protokol kesehatan.

“Mereka sama sekali tidak menjaga jarak sebagaimana yang ditentukan dalam aturan protokol kesehatan. Dalam hal itu pihak Satpol PP akan melakukan teguran dan tindakan terhadap warkop itu,” katanya.

Sebelumnya, Tim Satgas Covid-19 Kota Pontianak kembali melakukan penertiban dalam menegakkan disiplin protokol kesehatan dengan menyasar warung kopi dan kafe yang berada di Jalan Reformasi yang tidak menaati aturan.

“Dari 214 orang yang dilakukan tes cepat sebanyak 13 orang di antaranya menunjukkan hasil reaktif, sehingga mereka dilakukan tes usap, yang hasilnya akan diketahui, Selasa (1/12) esok,” kata Sidiq Handanu.

Ia menambahkan, saat ini Kota Pontianak masih zona oranye karena untuk mencapai kuning upayanya harus lebih giat lagi agar angkanya lebih turun dari kemarin.

Data Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol-PP) Kota Pontianak, mencatat sebanyak 200 warung kopi yang telah ditindak karena melanggar protokol kesehatan dalam mencegah penyebaran Covid-19 di kota itu.

Kemudian, untuk jumlah pelanggaran, baik perorangan maupun tempat usaha warung kopi tercatat sebanyak 580 kasus yang ditindak, sebanyak 200 diantaranya pelaku usaha warung kopi.

Bagi pelanggar protokol kesehatan perorangan bisa diberikan sanksi sosial atau denda sebesar Rp200 ribu, sementara bagi pelaku usaha didenda sebesar Rp1 juta atau hingga saat ini sudah tercatat sebesar Rp146 juta dari sanksi denda yang diterapkan tersebut.

(bar/ant)

Seluruh Daerah Zona Kuning, Pontianak Orange

PONTANAK – Dua laboratorium (lab) Polymerase Chain Reaction (PCR) untuk pemeriksaan Covid-19 millik swasta yang berada di Kota Pontianak dihentikan sementara. Kebijakan ini diambil oleh pemerintah menyusul adanya keluhan masyarakat terkait keakuratan pemeriksaan sehingga perlu dilakukan uji mutu.

“Hari ini (kemarin) Dinkes Kalbar dan Kota Pontianak memerintahkan dua laboratorium berhenti sementara. Kedua lab swasta ini, selama ini memang melakukan pemeriksaan swab (tes usap), tapi ada keluhan masyarakat,” ungkap Kepala Dinas Kesehatan Kalbar Harisson kepada awak media, Senin (30/11).

Keluhan yang dimaksud dijelaskan Harisson ada masyarakat yang dinyatakan terkonfirmasi (positif) Covid-19 dari pemeriksaan lab PCR di RS Untan, tetapi ketika diperiksakan di lab swasta tersebut hasilnya justru negatif. Sebaliknya ada yang dinyatakan negatif Covid-19 dari lab swasta tersebut, tapi kemudian mengalami kehilangan penciuman (ansomnia) dan dinyatakan kasus konfirmasi. Padahal yang bersangkutan sempat kontak erat dengan beberapa rekannya yang akhirnya juga dinyatakan positif Covid-19.

“Jadi berdasarkan keluhan itu kami memang meminta kedua lab itu melakukan uji mutu dulu, yang disebut pemantauan mutu eksternal,” katanya.

Adapun proses uji mutunya, kedua lab ini diminta mengirimkan 20 sampel yang menurut hasil pemeriksaan dinyatakan positif dan 10 sampel yang menurut hasil pemeriksaan negatif. Sebanyak 30 sampel itu kemudian akan dikirim ke Jakarta untuk dites kembali. “Nanti hasilnya dicocokkan berapa persen akurasinya. Kedua lab ini sudah mengirimkan spesimen uji mutu itu, tapi belum dapat hasilnya. Karena belum ada hasil, jadi kami setop sementara,” ujarnya.

Selain itu kedua lab ini juga diminta memperhatikan tata cara pembuangan limbah. “Mereka harus memperhatikan (limbah), karena dikhawatirkan mencemari lingkungan di sekitar laboratorium tersebut,” imbuhnya.

Baca Juga :  Pasien Covid-19 Membaik

Terpisah Gubernur Kalbar Sutarmidji mengatakan, pihaknyan memang akan menertibkan lab PCR milik swasta yang ada di provinsi ini. Lab swasta menurutnya wajib melaporkan hasil pemeriksaan Covid-19 sampai pada jumlah kandungan virus yang diidap seseorang.

“Karena saya dengar ada orang dengan viral load (kandungan virus) tinggi, begitu ke swasta langsung negatif. Setelah dinyatakan negatif besoknya rapat, dua hari setelehnya hilang penciuman, akhirnya dua orang ini positif dan dua tidak kena karena ketat protokol kesehatannya,” ungkapnya.

Dengan tidak akuratnya pemeriksaan lab PCR milik swasta ini menurut Midji sapaan akrabnya dapat membahayakan banyak orang. Untuk itu lab tersebut diminta berhenti beroperasional untuk sementara sampai hasil uji mutu dari kementerian keluar.

“Swasta harus dipertegas, kalau begini bahaya, orang positif dibilang negatif, buktinya sudah ada. Seperti limbah medis juga bahaya, jangan sampai rapid test reaktif sampelnya dibuang saja sembarangan, kan bahaya,” pungkasnya.

Mayoritas Zona Kuning

Sementara itu dari data kategori risiko kenaikan kasus kabupaten/kota se-Kalbar per 29 November 2020, Harisson menjelaskan hampir semua daerah berada di zona kuning atau tingkat risiko rendah. Hanya ada satu daerah berada di zona orange atau tingkat risiko sedang yakni Kota Pontianak.

Kemudian untuk perkembangan kasus, sampai 29 November 2020, total kasus konfirmasi Covid-19 di Kalbar telah mencapai 2.405 orang. Sementara1.987 orang di antaranya atau 82,61 persen telah dinyatakan sembuh dan 22 orang meninggal dunia.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kota Pontianak, Kalimantan Barat, dr Sidiq Handanu mengimbau kepada para pemilik warung kopi (warkop) yang ada di kota itu agar ikut menegur pengunjungnya yang tidak menaati protokol kesehatan (prokes), seperti berkerumun dan tidak menggunakan masker.

Baca Juga :  Nurul Oktaviani Berhasil Menyabet Juara III Duta GenRe Putri Tingkat Nasional

“Kami minta para pemilik warkop juga aktif dalam menerapkan protokol kesehatan, sehingga ikut menegur atau mengimbau kepada pengunjungnya agar tidak berkerumun dalam mencegah penyebaran COVID-19 di Kota Pontianak,” katanya di Pontianak, Senin.

Sebelumnya, di salah satu warkop di Jalan Reformasi, Sabtu (28/11) malam ditemukan sekitar 250 hingga 300 orang yang ada di dalam satu warkop itu,  tidak mematuhi protokol kesehatan.

“Mereka sama sekali tidak menjaga jarak sebagaimana yang ditentukan dalam aturan protokol kesehatan. Dalam hal itu pihak Satpol PP akan melakukan teguran dan tindakan terhadap warkop itu,” katanya.

Sebelumnya, Tim Satgas Covid-19 Kota Pontianak kembali melakukan penertiban dalam menegakkan disiplin protokol kesehatan dengan menyasar warung kopi dan kafe yang berada di Jalan Reformasi yang tidak menaati aturan.

“Dari 214 orang yang dilakukan tes cepat sebanyak 13 orang di antaranya menunjukkan hasil reaktif, sehingga mereka dilakukan tes usap, yang hasilnya akan diketahui, Selasa (1/12) esok,” kata Sidiq Handanu.

Ia menambahkan, saat ini Kota Pontianak masih zona oranye karena untuk mencapai kuning upayanya harus lebih giat lagi agar angkanya lebih turun dari kemarin.

Data Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol-PP) Kota Pontianak, mencatat sebanyak 200 warung kopi yang telah ditindak karena melanggar protokol kesehatan dalam mencegah penyebaran Covid-19 di kota itu.

Kemudian, untuk jumlah pelanggaran, baik perorangan maupun tempat usaha warung kopi tercatat sebanyak 580 kasus yang ditindak, sebanyak 200 diantaranya pelaku usaha warung kopi.

Bagi pelanggar protokol kesehatan perorangan bisa diberikan sanksi sosial atau denda sebesar Rp200 ribu, sementara bagi pelaku usaha didenda sebesar Rp1 juta atau hingga saat ini sudah tercatat sebesar Rp146 juta dari sanksi denda yang diterapkan tersebut.

(bar/ant)

Most Read

Artikel Terbaru

/