alexametrics
31.7 C
Pontianak
Monday, August 8, 2022

Enam Bulan Menanti Keadilan, Penabrak Sang Anak Belum Diproses Hukum

PONTIANAK – Sudah lebih enam bulan lamanya, Henny Suryani (56)  menanti keadilan untuk Agung Adma Supriyadi (31), anaknya yang menjadi korban kecelakaan maut di Jalan Gusti Hamzah (Pancasila), 15 Desember 2019 lalu.

Malam itu pukul 22.45, Agung yang mengendarai sepeda motor Satria melintas dari arah Jalan Putri Candramidi mengalami kecelakaan. Motor yang dikendarainya bertabrakan dengan Ad (15), yang mengendarai motor trail dari arah berlawanan.

Agung terkapar bersimbah darah di jalan, tepatnya di depan sebuah masjid. Ia pun dilarikan ke rumah sakit, namun nyawanya tidak tertolong.

Sementara Ad, selamat, meskipun sempat terpental beberapa meter hingga menyeberang badan jalan. Pemuda 15 tahun itu juga dilarikan ke rumah sakit.

Kepada Pontianak Post, Henny menceritakan kegelisahannya. Menanti keadilan untuk anaknya itu. Menurut Henny, hingga saat ini, orang yang menyebabkan hilangnya nyawa anaknya tidak pernah diproses hukum.

“Hari ini sudah enam bulan saya menanti keadilan. Orang yang menyebabkan anak saya meninggal, tidak dihukum,” kata Heny kepada Pontianak Post.

Menurutnya, pascainsiden maut yang merenggut nyawa anaknya itu, aparat kepolisian sudah melakukan oleh tempat kejadian perkara (TKP) dan melakukan mediasi antara dua belah pihak. Namun, bagi Henny, itu saja tidak cukup. Karena orang yang menyebabkan kematian anaknya tidak dihukum.

“Saya yakin, anak itu membawa motor dengan kecepatan tinggi. Bahkan, dia sampai terpental jauh. Dan yang bikin saya sedih, dia masih di bawah umur. 15 tahun. Umur seusia itu harusnya masih di bawah perhatian orangtua dan belum boleh mengendarai sepeda motor. Lha ini kenapa dia bisa malam-malam keluar pakai motor,” kata warga Jalan Danau Sentarum, Pontianak itu.

Baca Juga :  Sebut Delapan Masyarakat Hukum Adat

Dikatakan Henny, alasan aparat kepolisian tidak melakukan proses hukum, karena yang bersangkutan masih di bawah umur.

“Tapi kan ada penjara anak, jika itu memang mau diproses hukum. Tapi kalau saya melihat, kelakuan anak ini tidak mencerminkan anak seusianya. Ugal-ugalan di jalan raya,” sambungnya.

Henny semakin bersedih saat sang cucu (anak dari Agung) menanyakan keberadaan ayahnya, yang sejak itu tidak pernah kembali lagi ke rumah. Agung meninggalkan istri dan seorang anak berusia enam tahun.

“Kasian cucu saya. Harus kehilangan ayahnya. Dia selalu nyari-nyari ayahnya,” katanya.

Saat dikonfirmasi Pontianak Post, Kepala Satuan Lalu Lintas (Kasat Lantas) Polresta Pontianak AKP Priscilla Oktaviana mengatakan, pihaknya berencana akan kembali menggelar kasus ini, agar terang kasusnya.

“Rencana akan kami gelar kembali, setelah gelar baru akan terang kasusnya,” kata Priscilla.

Sementara itu, bila merujuk pada pasal 310 ayat (4) Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (UU LLAJ) disebutkan ancaman pidana bagi orang yang mengakibatkan kecelakaan dengan korban meninggal dunia sebagai berikut:

Setiap orang yang mengemudikan kendaraan bermotor yang karena kelalaiannya mengakibatkan kecelakaan lalu lintas dengan korban luka berat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 229 ayat (4), dipidana dengan pidana penjara paling lama lima tahun dan atau denda paling banyak Rp10 juta.

Dalam hal kecelakaan mengakibatkan orang lain meninggal dunia, dipidana dengan pidana penjara paling lama enam tahun dan atau denda paling banyak Rp12 juta. Ancaman pidana tersebut berlaku bagi mereka yang sudah dewasa.

Baca Juga :  Golkar Kalbar Plt-kan Enam Pimpinan Tingkat DPD II

Sedangkan ancaman pidana penjara bagi anak yang melakukan tindak pidana adalah paling lama setengah dari maksimum ancaman pidana penjara bagi orang dewasa. Dengan demikian, anak yang mengemudikan kendaraan bermotor karena kelalaiannya hingga mengakibatkan orang lain meninggal dunia, dipidana dengan pidana penjara setengah dari ancaman pidana bagi orang dewasa (enam tahun), yakni paling lama tiga tahun penjara.

Lalu, bagaimana dengan orang tua, apakah orangtua bisa dipidana jika membiarkan anaknya mengemudi kendaraan? Tanggung Jawab pidana tak bisa dialihkan. Asas hukum pidana secara tegas mengatur bahwa tanggung jawab pidana itu tak bisa dialihkan kepada orang lain. Termasuk, jika pengalihan itu diberikan kepada keluarga si pelaku tindak pidana.

Sebagaimana diuraikan dalam Pasal 55 ayat (1) Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) ditegaskan bahwa pelaku tindak pidana yang bisa dikenakan pidana adalah: Mereka yang melakukan, yang menyuruh melakukan, dan yang turut serta melakukan perbuatan; dan atau mereka yang dengan memberi atau menjanjikan sesuatu, dengan menyalahgunakan kekuasaan atau martabat, dengan kekerasan, ancaman atau penyesatan, atau dengan memberi kesempatan, sarana atau keterangan, sengaja menganjurkan orang lain supaya melakukan perbuatan.

Jadi, tindak pidana mengemudikan kendaraan bermotor yang karena kelalaiannya mengakibatkan kecelakaan lalu lintas yang dilakukan oleh anak tidak bisa dialihkan pertanggungjawaban pidananya kepada orang tuanya. Hal ini didasari prinsip tanggung jawab pidana dalam KUHP.

Namun, orangtua dapat dimintai pertanggungjawaban membayar ganti rugi atas perbuatan anaknya. Hal ini diatur dalam Pasal 1367 ayat (1) dan ayat (2) Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. (arf)

 

PONTIANAK – Sudah lebih enam bulan lamanya, Henny Suryani (56)  menanti keadilan untuk Agung Adma Supriyadi (31), anaknya yang menjadi korban kecelakaan maut di Jalan Gusti Hamzah (Pancasila), 15 Desember 2019 lalu.

Malam itu pukul 22.45, Agung yang mengendarai sepeda motor Satria melintas dari arah Jalan Putri Candramidi mengalami kecelakaan. Motor yang dikendarainya bertabrakan dengan Ad (15), yang mengendarai motor trail dari arah berlawanan.

Agung terkapar bersimbah darah di jalan, tepatnya di depan sebuah masjid. Ia pun dilarikan ke rumah sakit, namun nyawanya tidak tertolong.

Sementara Ad, selamat, meskipun sempat terpental beberapa meter hingga menyeberang badan jalan. Pemuda 15 tahun itu juga dilarikan ke rumah sakit.

Kepada Pontianak Post, Henny menceritakan kegelisahannya. Menanti keadilan untuk anaknya itu. Menurut Henny, hingga saat ini, orang yang menyebabkan hilangnya nyawa anaknya tidak pernah diproses hukum.

“Hari ini sudah enam bulan saya menanti keadilan. Orang yang menyebabkan anak saya meninggal, tidak dihukum,” kata Heny kepada Pontianak Post.

Menurutnya, pascainsiden maut yang merenggut nyawa anaknya itu, aparat kepolisian sudah melakukan oleh tempat kejadian perkara (TKP) dan melakukan mediasi antara dua belah pihak. Namun, bagi Henny, itu saja tidak cukup. Karena orang yang menyebabkan kematian anaknya tidak dihukum.

“Saya yakin, anak itu membawa motor dengan kecepatan tinggi. Bahkan, dia sampai terpental jauh. Dan yang bikin saya sedih, dia masih di bawah umur. 15 tahun. Umur seusia itu harusnya masih di bawah perhatian orangtua dan belum boleh mengendarai sepeda motor. Lha ini kenapa dia bisa malam-malam keluar pakai motor,” kata warga Jalan Danau Sentarum, Pontianak itu.

Baca Juga :  Lagi Kecelakaan Tunggal di Tikungan Benteng Mempawah

Dikatakan Henny, alasan aparat kepolisian tidak melakukan proses hukum, karena yang bersangkutan masih di bawah umur.

“Tapi kan ada penjara anak, jika itu memang mau diproses hukum. Tapi kalau saya melihat, kelakuan anak ini tidak mencerminkan anak seusianya. Ugal-ugalan di jalan raya,” sambungnya.

Henny semakin bersedih saat sang cucu (anak dari Agung) menanyakan keberadaan ayahnya, yang sejak itu tidak pernah kembali lagi ke rumah. Agung meninggalkan istri dan seorang anak berusia enam tahun.

“Kasian cucu saya. Harus kehilangan ayahnya. Dia selalu nyari-nyari ayahnya,” katanya.

Saat dikonfirmasi Pontianak Post, Kepala Satuan Lalu Lintas (Kasat Lantas) Polresta Pontianak AKP Priscilla Oktaviana mengatakan, pihaknya berencana akan kembali menggelar kasus ini, agar terang kasusnya.

“Rencana akan kami gelar kembali, setelah gelar baru akan terang kasusnya,” kata Priscilla.

Sementara itu, bila merujuk pada pasal 310 ayat (4) Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (UU LLAJ) disebutkan ancaman pidana bagi orang yang mengakibatkan kecelakaan dengan korban meninggal dunia sebagai berikut:

Setiap orang yang mengemudikan kendaraan bermotor yang karena kelalaiannya mengakibatkan kecelakaan lalu lintas dengan korban luka berat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 229 ayat (4), dipidana dengan pidana penjara paling lama lima tahun dan atau denda paling banyak Rp10 juta.

Dalam hal kecelakaan mengakibatkan orang lain meninggal dunia, dipidana dengan pidana penjara paling lama enam tahun dan atau denda paling banyak Rp12 juta. Ancaman pidana tersebut berlaku bagi mereka yang sudah dewasa.

Baca Juga :  Ratusan Alumni Meriahkan Hari Pulang Kampus Fahutan

Sedangkan ancaman pidana penjara bagi anak yang melakukan tindak pidana adalah paling lama setengah dari maksimum ancaman pidana penjara bagi orang dewasa. Dengan demikian, anak yang mengemudikan kendaraan bermotor karena kelalaiannya hingga mengakibatkan orang lain meninggal dunia, dipidana dengan pidana penjara setengah dari ancaman pidana bagi orang dewasa (enam tahun), yakni paling lama tiga tahun penjara.

Lalu, bagaimana dengan orang tua, apakah orangtua bisa dipidana jika membiarkan anaknya mengemudi kendaraan? Tanggung Jawab pidana tak bisa dialihkan. Asas hukum pidana secara tegas mengatur bahwa tanggung jawab pidana itu tak bisa dialihkan kepada orang lain. Termasuk, jika pengalihan itu diberikan kepada keluarga si pelaku tindak pidana.

Sebagaimana diuraikan dalam Pasal 55 ayat (1) Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) ditegaskan bahwa pelaku tindak pidana yang bisa dikenakan pidana adalah: Mereka yang melakukan, yang menyuruh melakukan, dan yang turut serta melakukan perbuatan; dan atau mereka yang dengan memberi atau menjanjikan sesuatu, dengan menyalahgunakan kekuasaan atau martabat, dengan kekerasan, ancaman atau penyesatan, atau dengan memberi kesempatan, sarana atau keterangan, sengaja menganjurkan orang lain supaya melakukan perbuatan.

Jadi, tindak pidana mengemudikan kendaraan bermotor yang karena kelalaiannya mengakibatkan kecelakaan lalu lintas yang dilakukan oleh anak tidak bisa dialihkan pertanggungjawaban pidananya kepada orang tuanya. Hal ini didasari prinsip tanggung jawab pidana dalam KUHP.

Namun, orangtua dapat dimintai pertanggungjawaban membayar ganti rugi atas perbuatan anaknya. Hal ini diatur dalam Pasal 1367 ayat (1) dan ayat (2) Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. (arf)

 

Most Read

Artikel Terbaru

/