alexametrics
24.4 C
Pontianak
Tuesday, August 9, 2022

Idealisme Tak Pernah Mati

Memaknai Seabad Pers Kalbar

PONTIANAK – Berbagai acara dilaksanakan dalam rangka memperingati hari jadi pers di Kalimantan Barat yang sudah memasuki usia satu abad (100 tahun). Salah satunya adalah kegiatan seminar bertajuk “Refleksi Seabad Pers Kalbar 1919-2019”. Seminar ini dilangsungkan di Aula Magister Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Tanjungpura, Selasa (1/10).

Wakil Ketua Dewan Pers, Hendry Ch Bangun yang hadir menjadi narasumber mengemukakan pandangannya terkait industri pers Indonesia yang berkutat di antara idealisme dan gaya hidup. Menurutnya, jika dilihat dari catatan sejarah, pers di Indonesia tumbuh karena dasar perjuangan melawan kolonialisme dan juga menyebarkan idealisme serta keinginan bagi setiap orang yang bergelut di dunia pers.

“Contohnya berbagai media yang terbit di kota-kota besar di Indonesia, seperti Medan, Surabaya, Bandung, dan daerah lain. Umumnya dimaksudkan untuk membela kepentingan organisasi dan warga lokal. Meski di sisi lain ada media yang hanya fokus pada pedagang dan aspirasi kelompok saja,” ujar Hendry.

Baca Juga :  Dimulai dari Majalah Borneo Barat Bergerak

Dia juga mengulas sedikit terkait banyaknya perusahaan media atau pers yang ada di Indonesia. Banyaknya perusahaan pers tersebut dinilai menimbulkan satu spekulasi baru terkait idealisme pelaku pers. Apakah idealisme akan mati seiring dengan semakin banyaknya perusahaan pers yang bergerak dengan teknologi canggih? Hendry mengungkapkan bahwa idealisme dalam jurnalistik tidak akan pernah mati.

“Seperti koran yang masih bertahan setelah lahirnya radio dan televisi. Kini seiring berkembangnya teknologi, media online bermunculan yang tentunya berdampak besar terhadap perkembangan dunia pers saat ini. Kuncinya cuma satu, kolaborasi ruang redaksi,” jelasnya.

Menurut Hendry, peran media massa sampai saat ini teramat penting di tengah masyarakat. Meski begitu, ia juga tidak memungkiri bahwa media sosial saat ini mulai digemari masyarakat sebagai sarana sumber informasi.

“Bagaimanapun masyarakat jelas masih butuh media massa seperti radio, koran, maupun televisi sebagai penjernih informasi yang dikelola secara profesional dan akuntabel. Kenapa demikian? Karena hanya melalui media massa suatu berita dapat dikemas secara tuntas agar opini publik yang terbentuk sesuai dengan fakta yang akurat dan tentunya dapat dipertanggungjawabkan,” terangnya.

Baca Juga :  Nol Pengaduan Eksploitasi Pekerja Perempuan di Perkebunan Sawit

Di tempat yang sama, Rektor Untan yang diwakili Wakil Rektor 1, Aswandi mengatakan, peringatan seabad Pers Kalbar tentu memiliki arti historis tersendiri. Terlebih, keberadaan pers di Indonesia sudah lebih dulu ada jika dibandingkan dengan hari kemerdekaan bangsa Indonesia.

Melihat hal itu, Aswandi mengungkapkan keyakinannya bahwa pers memiliki banyak peran penting dalam mengukir sejarah perjalanan bangsa Indonesia. Mulai dari masa kolonialisme hingga kemerdekaan dan di era setelah kemerdekaan, pers tetap berperan vital terutama untuk berbagi informasi.

“Pers harus idealis pada kebenaran. Terlebih untuk mempertanggungjawabkan tulisan yang telah dibuatnya. Memang tidak semua kebenaran bisa dikeluarkan, namun yang pasti kebenaran pasti ada manfaatnya sehingga pembaca bisa merasakan sekaligus mendapatkan ilmu pengetahuan atau wawasan baru melalui tulisan yang pernah kita buat,” timpalnya. (sig)

Memaknai Seabad Pers Kalbar

PONTIANAK – Berbagai acara dilaksanakan dalam rangka memperingati hari jadi pers di Kalimantan Barat yang sudah memasuki usia satu abad (100 tahun). Salah satunya adalah kegiatan seminar bertajuk “Refleksi Seabad Pers Kalbar 1919-2019”. Seminar ini dilangsungkan di Aula Magister Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Tanjungpura, Selasa (1/10).

Wakil Ketua Dewan Pers, Hendry Ch Bangun yang hadir menjadi narasumber mengemukakan pandangannya terkait industri pers Indonesia yang berkutat di antara idealisme dan gaya hidup. Menurutnya, jika dilihat dari catatan sejarah, pers di Indonesia tumbuh karena dasar perjuangan melawan kolonialisme dan juga menyebarkan idealisme serta keinginan bagi setiap orang yang bergelut di dunia pers.

“Contohnya berbagai media yang terbit di kota-kota besar di Indonesia, seperti Medan, Surabaya, Bandung, dan daerah lain. Umumnya dimaksudkan untuk membela kepentingan organisasi dan warga lokal. Meski di sisi lain ada media yang hanya fokus pada pedagang dan aspirasi kelompok saja,” ujar Hendry.

Baca Juga :  LPJK 2020, Masalah IPM Sampai Rekomendasi DPRD Kalbar

Dia juga mengulas sedikit terkait banyaknya perusahaan media atau pers yang ada di Indonesia. Banyaknya perusahaan pers tersebut dinilai menimbulkan satu spekulasi baru terkait idealisme pelaku pers. Apakah idealisme akan mati seiring dengan semakin banyaknya perusahaan pers yang bergerak dengan teknologi canggih? Hendry mengungkapkan bahwa idealisme dalam jurnalistik tidak akan pernah mati.

“Seperti koran yang masih bertahan setelah lahirnya radio dan televisi. Kini seiring berkembangnya teknologi, media online bermunculan yang tentunya berdampak besar terhadap perkembangan dunia pers saat ini. Kuncinya cuma satu, kolaborasi ruang redaksi,” jelasnya.

Menurut Hendry, peran media massa sampai saat ini teramat penting di tengah masyarakat. Meski begitu, ia juga tidak memungkiri bahwa media sosial saat ini mulai digemari masyarakat sebagai sarana sumber informasi.

“Bagaimanapun masyarakat jelas masih butuh media massa seperti radio, koran, maupun televisi sebagai penjernih informasi yang dikelola secara profesional dan akuntabel. Kenapa demikian? Karena hanya melalui media massa suatu berita dapat dikemas secara tuntas agar opini publik yang terbentuk sesuai dengan fakta yang akurat dan tentunya dapat dipertanggungjawabkan,” terangnya.

Baca Juga :  Gubernur Sutarmidji Kukuhkan Kepala BPKP Kalbar Ayi Riyanto

Di tempat yang sama, Rektor Untan yang diwakili Wakil Rektor 1, Aswandi mengatakan, peringatan seabad Pers Kalbar tentu memiliki arti historis tersendiri. Terlebih, keberadaan pers di Indonesia sudah lebih dulu ada jika dibandingkan dengan hari kemerdekaan bangsa Indonesia.

Melihat hal itu, Aswandi mengungkapkan keyakinannya bahwa pers memiliki banyak peran penting dalam mengukir sejarah perjalanan bangsa Indonesia. Mulai dari masa kolonialisme hingga kemerdekaan dan di era setelah kemerdekaan, pers tetap berperan vital terutama untuk berbagi informasi.

“Pers harus idealis pada kebenaran. Terlebih untuk mempertanggungjawabkan tulisan yang telah dibuatnya. Memang tidak semua kebenaran bisa dikeluarkan, namun yang pasti kebenaran pasti ada manfaatnya sehingga pembaca bisa merasakan sekaligus mendapatkan ilmu pengetahuan atau wawasan baru melalui tulisan yang pernah kita buat,” timpalnya. (sig)

Most Read

Artikel Terbaru

/