alexametrics
31 C
Pontianak
Saturday, June 25, 2022

Miris, Polisi Tangguhkan Penahanan Tersangka Pencabulan

PONTIANAK – Seorang anak perempuan berusia 16 tahun kembali menjadi korban pencabulan. Mirisnya, pelaku, Dheni Yudi yang telah ditangkap dan ditetapkan tersangka, oleh polisi penahanannya ditangguhkan.

Kabar penangguhan penahanan tersangka itu diketahui oleh orangtua korban dari temannya. Kabar itu kemudian dicek kebenarannya oleh pengecara korban. Dari keterangan penyedik, terungkap jika kabar penangguhan itu benar adanya.

Pengacara korban, Nanang Suharso, mengatakan, untuk memastikan kabar tersebut, pihaknya sudah berkoordinasi dengan penyidik Polresta Pontianak yang menangani kasus tersebut. Dari penjelasan penyidik, jika memang benar penahanan tersangka telah ditangguhkan.

“Saya koordinasi dengan penyidik melalui chat whatsapp. Penyidik bilang penahanan tersangka memang ditangguhkan,” kata Nanang, Jumat (2/10).

Nanang menjelaskan, masih dari hasil koordinasi itu, diketahui permohonan penangguhan penahanan itu diajukan oleh keluarga pelaku.

“Hari ini Jumat 2 Oktober pelaku sudah tidak ditahan,” ucapnya.

Baca Juga :  Syarif Ishak: Lulus Ujian, Covid-19 Akan Pergi dari Indonesia

Nanang menyayangkan, adanya penangguhan penahanan terhadap tersangka. Pasalnya pihak keluarga tidak pernah menyetujui.

Menurut Nanang, penangguhan penahanan itu tidak tepat diberikan kepada tersangka. Karena yang bersangkut sudah melakukan pencabulan sebanyak dua kali terhadap dua korban yang berbeda.

“Kami minta kepada kepolisian untuk menahan kembali tersangka,” tegasnya.

Orangtua korban, mengaku tidak terima dengan penangguhan penahanan tersebut. Pasalnya penangguhan itu terkesan tidak mengedepankan rasa keadilan.

“Saya sejujurnya sangat kaget ketika mendengar kabar penangguhan ini,” kata orangtua korban.

Dia menuturkan, anaknya telah disetubuhi pelaku dan tentunya pelaku harus bertangungjawan atas perbuatan yang telah dilakukannya.

Sementara itu, anggota Komisi Perlindungan dan Pengawasan Anak Daerah (KPPAD) Kalimantan Barat, Alik R Rosyad membenarkan, jika dua hari yang lalu pihaknya telah menerima pengaduan kasus kejahatan seksual dengan korban anak perempuan berusia 16 tahun.

Dia menjelaskan, sesuai dengan tugas dan fungsi lemabaga, maka setelah menerima pengaduan itu terhadap korban dilakukan pendampingan trauma healing.

Baca Juga :  60 Tahun Kiprah Yamaha di Balapan Grand Prix Dunia

Selain itu, lanjut Alik, pihaknya sudah berkoordinasi dengan pengecara korban dan memang benar ada informasi jika tersangka pencabulan telah ditangguhkan penahanannya oleh penyidik.

Alik menyatakan, tentu penangguhan penahanan ini menjadi kewenangan penyidik sepenuhnya. Karena sifatnya subjektivitas dengan alasan-alasannya.

“Tetapi untuk kami penangguhan penahanan ini agak janggal. Karena seperti yang diketahui ancaman hukuman kejahatan seksual terhadap anak adalah minimal lima tahun dan maksimal 15 tahun penjara,” kata Alik.

Dalam banyak kasus yang ditangani, dia menambahkan, sangat jarang dan belum pernah didengar ada tersangka kejahatan seksual terhadap anak yang ditangguhkan penahanannya.

“Tetapi kembali lagi, pengangguhan ini haknya penyidik,” pungkasnya.

Sementara itu hingga berita ini diterbitkan, Pontianak Post masih menunggu keterangan dari pihak kepolisian. (adg)

PONTIANAK – Seorang anak perempuan berusia 16 tahun kembali menjadi korban pencabulan. Mirisnya, pelaku, Dheni Yudi yang telah ditangkap dan ditetapkan tersangka, oleh polisi penahanannya ditangguhkan.

Kabar penangguhan penahanan tersangka itu diketahui oleh orangtua korban dari temannya. Kabar itu kemudian dicek kebenarannya oleh pengecara korban. Dari keterangan penyedik, terungkap jika kabar penangguhan itu benar adanya.

Pengacara korban, Nanang Suharso, mengatakan, untuk memastikan kabar tersebut, pihaknya sudah berkoordinasi dengan penyidik Polresta Pontianak yang menangani kasus tersebut. Dari penjelasan penyidik, jika memang benar penahanan tersangka telah ditangguhkan.

“Saya koordinasi dengan penyidik melalui chat whatsapp. Penyidik bilang penahanan tersangka memang ditangguhkan,” kata Nanang, Jumat (2/10).

Nanang menjelaskan, masih dari hasil koordinasi itu, diketahui permohonan penangguhan penahanan itu diajukan oleh keluarga pelaku.

“Hari ini Jumat 2 Oktober pelaku sudah tidak ditahan,” ucapnya.

Baca Juga :  Lestarikan Budaya, Naga Sinar Surya Tak Pernah Absen Meriahkan Cap Go Meh

Nanang menyayangkan, adanya penangguhan penahanan terhadap tersangka. Pasalnya pihak keluarga tidak pernah menyetujui.

Menurut Nanang, penangguhan penahanan itu tidak tepat diberikan kepada tersangka. Karena yang bersangkut sudah melakukan pencabulan sebanyak dua kali terhadap dua korban yang berbeda.

“Kami minta kepada kepolisian untuk menahan kembali tersangka,” tegasnya.

Orangtua korban, mengaku tidak terima dengan penangguhan penahanan tersebut. Pasalnya penangguhan itu terkesan tidak mengedepankan rasa keadilan.

“Saya sejujurnya sangat kaget ketika mendengar kabar penangguhan ini,” kata orangtua korban.

Dia menuturkan, anaknya telah disetubuhi pelaku dan tentunya pelaku harus bertangungjawan atas perbuatan yang telah dilakukannya.

Sementara itu, anggota Komisi Perlindungan dan Pengawasan Anak Daerah (KPPAD) Kalimantan Barat, Alik R Rosyad membenarkan, jika dua hari yang lalu pihaknya telah menerima pengaduan kasus kejahatan seksual dengan korban anak perempuan berusia 16 tahun.

Dia menjelaskan, sesuai dengan tugas dan fungsi lemabaga, maka setelah menerima pengaduan itu terhadap korban dilakukan pendampingan trauma healing.

Baca Juga :  Kasus Pencabulan Paling Menonjol

Selain itu, lanjut Alik, pihaknya sudah berkoordinasi dengan pengecara korban dan memang benar ada informasi jika tersangka pencabulan telah ditangguhkan penahanannya oleh penyidik.

Alik menyatakan, tentu penangguhan penahanan ini menjadi kewenangan penyidik sepenuhnya. Karena sifatnya subjektivitas dengan alasan-alasannya.

“Tetapi untuk kami penangguhan penahanan ini agak janggal. Karena seperti yang diketahui ancaman hukuman kejahatan seksual terhadap anak adalah minimal lima tahun dan maksimal 15 tahun penjara,” kata Alik.

Dalam banyak kasus yang ditangani, dia menambahkan, sangat jarang dan belum pernah didengar ada tersangka kejahatan seksual terhadap anak yang ditangguhkan penahanannya.

“Tetapi kembali lagi, pengangguhan ini haknya penyidik,” pungkasnya.

Sementara itu hingga berita ini diterbitkan, Pontianak Post masih menunggu keterangan dari pihak kepolisian. (adg)

Most Read

Artikel Terbaru

/