alexametrics
30 C
Pontianak
Sunday, June 26, 2022

Penyelundupan Rotan Mentah Digagalkan

PONTIANAK – Sebanyak 207 ton rotan ilegal diamankan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai dalam Operasi Patroli Laut, Selasa (16/11) malam, di perairan utara Pulau Subi, Kepulauan Natuna. Ratusan ton rotan mentah itu diangkut memggunakan KLM Musfita dan rencananya dibawa menuju Malaysia melewati perairan Mempawah, Kalimantan Barat.

“Kapal yang membawa rotan mentah ini diamankan oleh Kapal Patroli Bea dan Cukai BC 30004 yang saat itu sedang melakukan patroli rutin di perairan perbatasan Indonesia-Malaysia,” kata Kepala Seksi Penindakan dan Pengawasan Ditjen Bea dan Cukai Kalimantan Bagian Barat, Setiawan dalam keterangan pers, Rabu (1/12) pagi.

Dikatakan Setiawan, Rotan mentah merupakan barang dilarang ekspor bidang kehutanan sesuai Peraturan Menteri Perdagangan RI Nomor 18 Tahun 2021 tentang Barang Dilarang Ekspor dan Barang Dilarang Impor.

Baca Juga :  Generasi Kedua Honda BR-V dengan Fitur dan Teknologi Canggih

“Rotan mentah merupakan barang ekspor dan impor. Namun sering diselundupkan dengan modus antarpulau,” lanjutnya.

Selain kapal beserta muatan rotan mentah dan seluruh awak kapal, petugas bea dan cukai juga mengamankan bendera Malaysia, yang ditemukan di dalam kapal.

“Bendara ini tidak dikibarkan. Tetapi kami temukan di dalam kapal,” terang Setiawan.

Saat ini petugas bea dan cukai juga telah menetapkan dua orang tersangka, yakni SA selaku Nakhoda kapal dan SU, Kepala Kamar Mesin (KKM).

Keduanya dijerat dengan UU Kepabeanan di bidang ekspor sesuai pasal  102A huruf (a) dan/atau Pasal 102A huruf (e) Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2006 Tentang Kepabeanan dengan ancaman pidana penjara paling singkat 1 tahun dan pidana penjara paling lama 10 tahun dan pidana denda paling sedikit Rp50 juta dan paling banyak Rp5 miliar.

Baca Juga :  TNI Gagalkan Penyelundupan Burung di Jalur Tikus

Kedua tersangka saat ini diamankan di kantor Bea dan Cukai Kalimantan Bagian Barat untuk proses lebih lanjut. “Kami juga tengah mengembangkan siapa orang dibalik penyelundupan rotan ini. Karena untuk menetapkan seseorang menjadi tersangka, setidaknya butuh dua alat bukti. Sekarang kami masih dalami,” bebernya.

Untuk itu pihanya juga bersinergi dengan  Kepolisian Republik Indonesia, dan TNI Angkatan Laut untuk melakukan pengawasan perairan Indonesia,  melindungi masyarakat Indonesia dari penyelundupan dan perdagangan illegal dan mengamankan hak-hak negara. Termasuk pengawasan bersama pelayaran dan perdagangan antar pulau sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Perdagangan RI Nomor 92 Tahun 2020 tentang Perdagangan antar pulau. (arf)

PONTIANAK – Sebanyak 207 ton rotan ilegal diamankan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai dalam Operasi Patroli Laut, Selasa (16/11) malam, di perairan utara Pulau Subi, Kepulauan Natuna. Ratusan ton rotan mentah itu diangkut memggunakan KLM Musfita dan rencananya dibawa menuju Malaysia melewati perairan Mempawah, Kalimantan Barat.

“Kapal yang membawa rotan mentah ini diamankan oleh Kapal Patroli Bea dan Cukai BC 30004 yang saat itu sedang melakukan patroli rutin di perairan perbatasan Indonesia-Malaysia,” kata Kepala Seksi Penindakan dan Pengawasan Ditjen Bea dan Cukai Kalimantan Bagian Barat, Setiawan dalam keterangan pers, Rabu (1/12) pagi.

Dikatakan Setiawan, Rotan mentah merupakan barang dilarang ekspor bidang kehutanan sesuai Peraturan Menteri Perdagangan RI Nomor 18 Tahun 2021 tentang Barang Dilarang Ekspor dan Barang Dilarang Impor.

Baca Juga :  Suarakan Isu Kesehatan Mental

“Rotan mentah merupakan barang ekspor dan impor. Namun sering diselundupkan dengan modus antarpulau,” lanjutnya.

Selain kapal beserta muatan rotan mentah dan seluruh awak kapal, petugas bea dan cukai juga mengamankan bendera Malaysia, yang ditemukan di dalam kapal.

“Bendara ini tidak dikibarkan. Tetapi kami temukan di dalam kapal,” terang Setiawan.

Saat ini petugas bea dan cukai juga telah menetapkan dua orang tersangka, yakni SA selaku Nakhoda kapal dan SU, Kepala Kamar Mesin (KKM).

Keduanya dijerat dengan UU Kepabeanan di bidang ekspor sesuai pasal  102A huruf (a) dan/atau Pasal 102A huruf (e) Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2006 Tentang Kepabeanan dengan ancaman pidana penjara paling singkat 1 tahun dan pidana penjara paling lama 10 tahun dan pidana denda paling sedikit Rp50 juta dan paling banyak Rp5 miliar.

Baca Juga :  TNI Amankan 1,1 Kg Sabu di Perbatasan

Kedua tersangka saat ini diamankan di kantor Bea dan Cukai Kalimantan Bagian Barat untuk proses lebih lanjut. “Kami juga tengah mengembangkan siapa orang dibalik penyelundupan rotan ini. Karena untuk menetapkan seseorang menjadi tersangka, setidaknya butuh dua alat bukti. Sekarang kami masih dalami,” bebernya.

Untuk itu pihanya juga bersinergi dengan  Kepolisian Republik Indonesia, dan TNI Angkatan Laut untuk melakukan pengawasan perairan Indonesia,  melindungi masyarakat Indonesia dari penyelundupan dan perdagangan illegal dan mengamankan hak-hak negara. Termasuk pengawasan bersama pelayaran dan perdagangan antar pulau sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Perdagangan RI Nomor 92 Tahun 2020 tentang Perdagangan antar pulau. (arf)

Most Read

Artikel Terbaru

/