alexametrics
27 C
Pontianak
Tuesday, June 28, 2022

Warga Gang Suryadi Tak Lagi Terpinggirkan

Sebelum disemat Kampung KB Cahaya Baru pada 2017, wilayah paling ujung tenggara Pontianak ini tak tersentuh pembangunan. Jalan masih tanah dan air bersih belum masuk. Bagaimana cerita warga Gang Suryadi sebelum akses pembangunan belum masuk?

INGATAN M Nazi, Ketua RT Gang Suryadi, Kelurahan Bansir Darat Kecamatan Pontianak Tenggara seketika menuju ke tahun 2001. Saat awal, ia menempati rumah ini, bersama kurang lebih 28 kepala keluarga lainnya, yang hijrah dari Sambas ke Pontianak.

Kala itu, sepetak tanah yang ia beli seharga Rp1,8 juta kondisinya tak seperti sekarang. Akses jalan masih tanah. Kalau hujan, tergenang hampir setengah lutut kaki orang dewasa. Sangat sulit dilalui. Apalagi posisi tempat ia tinggal berada di ujung Jalan Parit Haji Husin II. Kurang lebih 700 meter jalan kaki, baru sampai di kediamannya, Gang Suryadi.

Di tahun-tahun itu, akses jalan benar-benar sulit. Cukup sering ia membantu warga ke rumah sakit. Utamanya saat warga bersalin atau sakit perut di tengah malam. Mau tak mau warga harus bergotong royong. Sebab penerangan tak ada. Belum lagi di kiri dan kanan masih hutan. Apalagi jika tengah hujan. Rentan jatuh melalui akses jalan ini.

Baca Juga :  Penumpang Feri Naik Tajam, Imbas Macet Jembatan Kapuas I

Untuk membangun rumah juga bukan hal mudah saat itu. Kayu-kayu mesti dipikul dari depan jalan besar. Pasir mesti dibawa menggunakan karung. Warga setempat kompak. Saling bahu membahu membantu, membuat semua pekerjaan ini terasa ringan.

Begitu pula dengan air bersih. Selama bertahun-tahun warga belum mengecap. Air sumur di tanah gambut jadi sumber air buat mandi dan cuci. Sedangkan keperluan untuk makan minum, menggunakan air hujan.

Namun, sejak Kampung KB masuk tahun 2017. Secara perlahan, fasilitas kebutuhan dasar yang masyarakat inginkan perlahan terkabul. Mulai dari akses jalan, kata dia, yang dulunya hanya beralas tanah. Kini sudah dicor semen. Meski aksesnya hanya bisa satu motor. Setidaknya, kata dia, perubahan mulai dirasa oleh warga sini.

Akses kendaraan motor sudah bisa dilalui. Kalau hujan, warga juga tidak bersusah payah mencapai rumah. Mengenai akses jalan ini, ia kembali mengenang saat pembangunannya. Bantuan bersak-sak semen dan pasir oleh Pemkot Pontianak dikerjakan swadaya bersama masyarakat setempat.

Baca Juga :  Melihat Pelayanan KB MKJP di Ekor Borneo

“Jalan ini dikerjakan oleh masyarakat setempat. Tua muda, bapak-bapak dan ibu-ibu bersama mengerjakan jalan ini. Sehingga dalam pengerjaan jalan, tak begitu berat,” kenangnya.

Begitu pula dengan aliran listrik. Di sini kalau malam benderang. Tak lagi menggunakan pelita buat mencari cahaya. Setahun terakhir, kata dia, air bersih masuk. Sehingga persoalan air bersih teratasi.

Adanya Kampung KB, kata dia, betul-betul terasa bagi warga setempat. Selain tiga kebutuhan dasar ini. Secara perlahan warga setempat juga semakin paham dengan berbagai macam persoalan keluarga dan kependudukan. “Baru-baru ini beberapa warga juga ikut nikah isbat. Jadi pernikahan mereka tercatat oleh negara. Ketika administrasi kependudukan diperlukan kami tidak susah lagi,” ujarnya.

Begitu pula dengan jumlah anak. Cukup dua. Usia pernikahan juga menjadi perhatian. “Dulu warga di sini banyak nikah muda. Sekarang Alhamdulillah, masyarakat sudah pada tahu tentang perencanaan pernikahan. Berapa usia laki dan perempuan yang ideal nikah. Sampai dampak dari nikah mudah telah diketahui oleh masyarakat,” tandasnya.(iza)

Sebelum disemat Kampung KB Cahaya Baru pada 2017, wilayah paling ujung tenggara Pontianak ini tak tersentuh pembangunan. Jalan masih tanah dan air bersih belum masuk. Bagaimana cerita warga Gang Suryadi sebelum akses pembangunan belum masuk?

INGATAN M Nazi, Ketua RT Gang Suryadi, Kelurahan Bansir Darat Kecamatan Pontianak Tenggara seketika menuju ke tahun 2001. Saat awal, ia menempati rumah ini, bersama kurang lebih 28 kepala keluarga lainnya, yang hijrah dari Sambas ke Pontianak.

Kala itu, sepetak tanah yang ia beli seharga Rp1,8 juta kondisinya tak seperti sekarang. Akses jalan masih tanah. Kalau hujan, tergenang hampir setengah lutut kaki orang dewasa. Sangat sulit dilalui. Apalagi posisi tempat ia tinggal berada di ujung Jalan Parit Haji Husin II. Kurang lebih 700 meter jalan kaki, baru sampai di kediamannya, Gang Suryadi.

Di tahun-tahun itu, akses jalan benar-benar sulit. Cukup sering ia membantu warga ke rumah sakit. Utamanya saat warga bersalin atau sakit perut di tengah malam. Mau tak mau warga harus bergotong royong. Sebab penerangan tak ada. Belum lagi di kiri dan kanan masih hutan. Apalagi jika tengah hujan. Rentan jatuh melalui akses jalan ini.

Baca Juga :  Team eSport Kalbar Terancam Gagal Berlaga di Final

Untuk membangun rumah juga bukan hal mudah saat itu. Kayu-kayu mesti dipikul dari depan jalan besar. Pasir mesti dibawa menggunakan karung. Warga setempat kompak. Saling bahu membahu membantu, membuat semua pekerjaan ini terasa ringan.

Begitu pula dengan air bersih. Selama bertahun-tahun warga belum mengecap. Air sumur di tanah gambut jadi sumber air buat mandi dan cuci. Sedangkan keperluan untuk makan minum, menggunakan air hujan.

Namun, sejak Kampung KB masuk tahun 2017. Secara perlahan, fasilitas kebutuhan dasar yang masyarakat inginkan perlahan terkabul. Mulai dari akses jalan, kata dia, yang dulunya hanya beralas tanah. Kini sudah dicor semen. Meski aksesnya hanya bisa satu motor. Setidaknya, kata dia, perubahan mulai dirasa oleh warga sini.

Akses kendaraan motor sudah bisa dilalui. Kalau hujan, warga juga tidak bersusah payah mencapai rumah. Mengenai akses jalan ini, ia kembali mengenang saat pembangunannya. Bantuan bersak-sak semen dan pasir oleh Pemkot Pontianak dikerjakan swadaya bersama masyarakat setempat.

Baca Juga :  Pemkot Terima Rp983 M DIPA Pontianak 2020

“Jalan ini dikerjakan oleh masyarakat setempat. Tua muda, bapak-bapak dan ibu-ibu bersama mengerjakan jalan ini. Sehingga dalam pengerjaan jalan, tak begitu berat,” kenangnya.

Begitu pula dengan aliran listrik. Di sini kalau malam benderang. Tak lagi menggunakan pelita buat mencari cahaya. Setahun terakhir, kata dia, air bersih masuk. Sehingga persoalan air bersih teratasi.

Adanya Kampung KB, kata dia, betul-betul terasa bagi warga setempat. Selain tiga kebutuhan dasar ini. Secara perlahan warga setempat juga semakin paham dengan berbagai macam persoalan keluarga dan kependudukan. “Baru-baru ini beberapa warga juga ikut nikah isbat. Jadi pernikahan mereka tercatat oleh negara. Ketika administrasi kependudukan diperlukan kami tidak susah lagi,” ujarnya.

Begitu pula dengan jumlah anak. Cukup dua. Usia pernikahan juga menjadi perhatian. “Dulu warga di sini banyak nikah muda. Sekarang Alhamdulillah, masyarakat sudah pada tahu tentang perencanaan pernikahan. Berapa usia laki dan perempuan yang ideal nikah. Sampai dampak dari nikah mudah telah diketahui oleh masyarakat,” tandasnya.(iza)

Most Read

Artikel Terbaru

/