alexametrics
32.8 C
Pontianak
Wednesday, August 10, 2022

Asap Berdampak pada Pasien Covid-19

PONTIANAK – Kepala Dinas Kesehatan Kalimantan Barat, Harisson mengimbau masyarakat untuk mengurangi aktivitas di luar, ketika kondisi kabut asap terjadi akibat kebakaran hutan dan lahan. Penyakit yang rentan diderita seseorang dalam kondisi ini menurutnya adalah infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan juga bisa memperparah pasien Covid-19.

“Kalau laproan dari kabupaten/kota belum meningkat (ISPA), tapi berisiko terjadi peningkatan ISPA, terutama pada balita atau pasien penderita asma yang mungkin akan sering kambuh dan terjadi juga peradangan paru-paru,” katanya, Selasa (2/3).

Masyarakat diharapkan lebih ketat dalam menggunakan masker. Karena memang selama ini penggunaannya juga penting dalam upaya pencegahan penularan Covid-19. “Dengan asap ini sebenarnya kalau sudah menggunakan (masker) akan terlindungi dan ventilasi rumah bisa agak ditutup supaya debu dan asap tidak masuk,” pesannya.

Selain itu kondisi udara yang tidak sehat, dinilai dapat memperparah pasien yang sudah terjangkit atau positif Covid-19. Karena pasien Covid-19 sangat membutuhkan udara atau oksigen yang banyak, sementara jika udara tidak sehat mereka malah bisa menghirup partikel debu dari asap karhutla.

“Itu akan memengaruhi ke paru-paru yang akan lebih sedikit mendapatkan oksigen karena banyaknya debu. Yang rentan itu balita, lansia, penderita asma, penderita paru kronis, dan kasus kofirmasi yang memiliki gejala bisa memperberat penyakit Covid-19 dengan adanya asap,” katanya.

Sementara itu, Provinsi Kalimantan Barat di tengah kepungan kebakaran hutan dan lahan berpotensi turun hujan. Hanya saja sebaran hotspot masih memapar beberapa kabupaten/kota. Jumlahnya berubah namun sebaran ke beberapa daerah justru meluas. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Supadio Pontianak merilis data dari olahan LAPAN tanggal 1 sampai 2 Maret pukul  07.00.

Baca Juga :  Petugas Perketat Pemeriksaan Kesehatan

“Meski berkurang terpantau sebanyak 74 titik api. Sebelumnya ada ratusan titik panas. Sebarannya menjadi 8 wilayah,” kata Sutikno, Forecaster BMKG Supadio Pontianak, Selasa (2/2).

Data olahan LAPAN menyebutkan, Kubu Raya terpantau 26 titik panas. Disusul Kabupaten Kayong Utara 12 titik panas, Kota Pontianak 11 titik panas dan Kabupaten Sambas 10 titik panas. Sementara wilayah lainnya seperti Mempawah, Ketapang, Landak, dan Kabupaten Sanggau terpantau 4 dan 2 hotspot saja.

Pengaruh Karhutla dan pekatnya kabup asap, juga membuat visibility (jarak pandang) menjadi pendek di Bandara Supadio Pontianak. Pada 28 Februari 2021, mulai pukul 01.00 sampai pukul 07.00, jarak pandang berkisar antara 250 sampai 500 meter. Bahkan pada pukul 06.00, jarak pandang menyentuh angka terpendek yakni hanya 50 meter saja. Berangsur membaik ketika memasuki siang hari. “Jarak pandang menjadi normal di atas 1.000 meter,” ujarnya.

Didera musim pengering, bukan berarti wilayah Kalimantan Barat tidak berpotensi hujan. Kepala Stasiun BMKG Nanang Buchori menyebutkan, curah hujan dasarian III Februari 2021 sebagian besar wilayah Kalbar curah hujan pada kategori rendah (kurang dari 50 mm/dasarian). Lama hari tanpa hujan di sebagian wilayah mencapai 20 sampai 30 hari.

Baca Juga :  RS Anugerah Bunda Khatulistiwa Miliki CT Scan

Jumlah akumulasi titik panas selama Februari 2021 di Kalbar sebanyak 2.201 titik, sebanyak 209 titik diantaranya kategori tingkat kepercayaan tinggi.
Untuk jarak pandang di Bandara Supadio juga terpengaruh adanya asap mulai tanggal 10 Februari 2021 hingga hari ini.

Pada 28 Februari 2021 telah terjadi hujan di sebagian wilayah Kalbar, antara lain di Kubu Raya, Kota Pontianak, Landak, Bengkayang, Sambas, Ketapang, Sanggau, Sintang, Melawi, dan Kapuas Hulu. Wilayah yang terjadi hujan tersebut belum luas atau belum merata, sehingga masih perlu diwaspadai potensi mudahnya terjadi kebakaran hutan dan lahan di Kalbar hingga 3 Maret 2021.

Diprakirakan hujan intensitas ringan hingga lebat akan terjadi di sebagian besar wilayah Kalbar mulai pada 3 Maret 2021. Potensi hujan tersebut diprakirakan masih akan berlangsung hingga pada 9 Maret 2021. Potensi kemudahan terjadinya kebakaran hutan dan lahan pada kategori aman mulai 4 maret 2021.

“Masyarakat diimbau tetap tidak melakukan kegiatan pembakaran hutan dan lahan. Waspadai potensi terjadinya cuaca ekstrem mulai 3 maret 2021, yaitu hujan intensitas lebat yang bisa disertai petir dan angin kencang berdurasi singkat,” jelasnya, “Waspadai juga potensi angin kencang yang biasa terjadi pada siang hingga sore atau menjelang malam. Waspadai potensi terjadinya genangan, banjir ataupun tanah longsor yang dipicu oleh hujan lebat ke depan.”(bar/den)

PONTIANAK – Kepala Dinas Kesehatan Kalimantan Barat, Harisson mengimbau masyarakat untuk mengurangi aktivitas di luar, ketika kondisi kabut asap terjadi akibat kebakaran hutan dan lahan. Penyakit yang rentan diderita seseorang dalam kondisi ini menurutnya adalah infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan juga bisa memperparah pasien Covid-19.

“Kalau laproan dari kabupaten/kota belum meningkat (ISPA), tapi berisiko terjadi peningkatan ISPA, terutama pada balita atau pasien penderita asma yang mungkin akan sering kambuh dan terjadi juga peradangan paru-paru,” katanya, Selasa (2/3).

Masyarakat diharapkan lebih ketat dalam menggunakan masker. Karena memang selama ini penggunaannya juga penting dalam upaya pencegahan penularan Covid-19. “Dengan asap ini sebenarnya kalau sudah menggunakan (masker) akan terlindungi dan ventilasi rumah bisa agak ditutup supaya debu dan asap tidak masuk,” pesannya.

Selain itu kondisi udara yang tidak sehat, dinilai dapat memperparah pasien yang sudah terjangkit atau positif Covid-19. Karena pasien Covid-19 sangat membutuhkan udara atau oksigen yang banyak, sementara jika udara tidak sehat mereka malah bisa menghirup partikel debu dari asap karhutla.

“Itu akan memengaruhi ke paru-paru yang akan lebih sedikit mendapatkan oksigen karena banyaknya debu. Yang rentan itu balita, lansia, penderita asma, penderita paru kronis, dan kasus kofirmasi yang memiliki gejala bisa memperberat penyakit Covid-19 dengan adanya asap,” katanya.

Sementara itu, Provinsi Kalimantan Barat di tengah kepungan kebakaran hutan dan lahan berpotensi turun hujan. Hanya saja sebaran hotspot masih memapar beberapa kabupaten/kota. Jumlahnya berubah namun sebaran ke beberapa daerah justru meluas. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Supadio Pontianak merilis data dari olahan LAPAN tanggal 1 sampai 2 Maret pukul  07.00.

Baca Juga :  Rela Berburu Demi Koleksi Diecast Custom

“Meski berkurang terpantau sebanyak 74 titik api. Sebelumnya ada ratusan titik panas. Sebarannya menjadi 8 wilayah,” kata Sutikno, Forecaster BMKG Supadio Pontianak, Selasa (2/2).

Data olahan LAPAN menyebutkan, Kubu Raya terpantau 26 titik panas. Disusul Kabupaten Kayong Utara 12 titik panas, Kota Pontianak 11 titik panas dan Kabupaten Sambas 10 titik panas. Sementara wilayah lainnya seperti Mempawah, Ketapang, Landak, dan Kabupaten Sanggau terpantau 4 dan 2 hotspot saja.

Pengaruh Karhutla dan pekatnya kabup asap, juga membuat visibility (jarak pandang) menjadi pendek di Bandara Supadio Pontianak. Pada 28 Februari 2021, mulai pukul 01.00 sampai pukul 07.00, jarak pandang berkisar antara 250 sampai 500 meter. Bahkan pada pukul 06.00, jarak pandang menyentuh angka terpendek yakni hanya 50 meter saja. Berangsur membaik ketika memasuki siang hari. “Jarak pandang menjadi normal di atas 1.000 meter,” ujarnya.

Didera musim pengering, bukan berarti wilayah Kalimantan Barat tidak berpotensi hujan. Kepala Stasiun BMKG Nanang Buchori menyebutkan, curah hujan dasarian III Februari 2021 sebagian besar wilayah Kalbar curah hujan pada kategori rendah (kurang dari 50 mm/dasarian). Lama hari tanpa hujan di sebagian wilayah mencapai 20 sampai 30 hari.

Baca Juga :  Terkonfirmasi 45 Orang

Jumlah akumulasi titik panas selama Februari 2021 di Kalbar sebanyak 2.201 titik, sebanyak 209 titik diantaranya kategori tingkat kepercayaan tinggi.
Untuk jarak pandang di Bandara Supadio juga terpengaruh adanya asap mulai tanggal 10 Februari 2021 hingga hari ini.

Pada 28 Februari 2021 telah terjadi hujan di sebagian wilayah Kalbar, antara lain di Kubu Raya, Kota Pontianak, Landak, Bengkayang, Sambas, Ketapang, Sanggau, Sintang, Melawi, dan Kapuas Hulu. Wilayah yang terjadi hujan tersebut belum luas atau belum merata, sehingga masih perlu diwaspadai potensi mudahnya terjadi kebakaran hutan dan lahan di Kalbar hingga 3 Maret 2021.

Diprakirakan hujan intensitas ringan hingga lebat akan terjadi di sebagian besar wilayah Kalbar mulai pada 3 Maret 2021. Potensi hujan tersebut diprakirakan masih akan berlangsung hingga pada 9 Maret 2021. Potensi kemudahan terjadinya kebakaran hutan dan lahan pada kategori aman mulai 4 maret 2021.

“Masyarakat diimbau tetap tidak melakukan kegiatan pembakaran hutan dan lahan. Waspadai potensi terjadinya cuaca ekstrem mulai 3 maret 2021, yaitu hujan intensitas lebat yang bisa disertai petir dan angin kencang berdurasi singkat,” jelasnya, “Waspadai juga potensi angin kencang yang biasa terjadi pada siang hingga sore atau menjelang malam. Waspadai potensi terjadinya genangan, banjir ataupun tanah longsor yang dipicu oleh hujan lebat ke depan.”(bar/den)

Most Read

Artikel Terbaru

/