alexametrics
23.2 C
Pontianak
Thursday, August 18, 2022

Bank Pemerintah Dibobol Staf Magang Rp2,5 M, OJK Minta Perketat Sistem Keamanan

PONTIANAK – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Kalimantan Barat mendorong perbankan untuk memperketat pengamanan internalnya. Hal ini menyusul terjadinya kasus penggelapan yang dilakukan oknum pengawai BNI Cabang Sambas. Tindak pidana ini telah membuat nasabah dirugikan hingga Rp2,5 miliar.

OJK  akan memberikan teguran kepada perbankan tersebut sesuai ketentuan yang berlaku. Bank pelat merah itu juga didorong melakukan evaluasi terhadap kelemahan sistem keamanan dan manajemen internal.  Pihaknya juga akan melakukan evaluasi terhadap temuan itu, dan akan memberikan sanksi mengacu aturan yang berlaku. Selama ini, pengawasan juga terus dilakukan secara berkala kepada perbankan.

“Terlebih perbankan merupakan industri dengan regulasi yang sangat ketat,” kata Kepala OJK  Kalbar, Moch Riezky F Purnomo.

Lembaga ini pun terus mendorong perbankan konsisten menerapkan strategi anti fraud yang diatur dalam POJK nomor 39/pojk.03/2019 tentang penerapan strategi anti fraud bagi bank umum, yang terdiri dari empat pilar yakni, pencegahan, deteksi, investigasi, pelaporan, sanksi, serta pemantauan, evaluasi, tindak lanjut.

Pihaknya juga berharap, peran aktif manajemen juga menjadi bagian penting dalam penerapan strategi anti fraud. Manajemen diharapkan terus melakukan evaluasi, serta  langkah-langkah perbaikan. “OJK juga mengimbau masyarakat untuk waspada, tidak mudah percaya terhadap oknum pegawai bank, serta melakukan transaksi sesuai dengan prosedur yang ditetapkan sehingga menghindari peluang terjadinya aksi fraud,” tukas dia.

Baca Juga :  Anggota DPRD Sambas Tempuh Jalur Hukum

Ironisnya, kejahatan perbankan ini dilakukan oleh seorang pagawai magang lokal berinisial KA. Kapolres Sambas, AKBP Robertus B Herry AP memaparkan, kejadian dilakukan sejak Agustus 2020, di mana karena jabatannya memiliki kuasa untuk membuka brankas maupun mesin ATM. Saat itu, KA mengambil uang yang akan dimasukkan ke mesin ATM yakni sekitar Rp300 juta,” katanya.

Selanjutnya, berdasarkan hasil pemeriksaan dan keterangan, KA juga mengambil uang dari mobil layanan gerak sekitar Rp340 juta. Terbanyak adalah ketika KA diduga mengambil uang di brankas BNI Sambas sebesar Rp1,2 miliar.

“Terakhir, sesuai pengakuan sementara, KA juga tak menyetorkan uang ke BNI Sambas atas pembayaran uang mahasiswa di Politeknik Negeri Sambas. Modusnya, uang dari kampus tersebut, peng- entry-annya dilakukan KA namun duitnya tak disetorkan ke BNI, yakni sekitar Rp400 juta,” katanya.

Jumlah ini, sebutnya, ini dari pengakuan sementara. Saat ini masih terus dikembangkan oleh kepolisian. Termasuk apakah ada peran orang lain yang membantu KA dalam setiap melakukan aksi pencurian dan penggelapan uang. “Kami masih terus dalami, termasuk apakah ada keterlibatan pihak atau orang lain dalam kasus ini. Termasuk apakah kasus ini bisa dibawa ke ranah TPPU. Sesuai pengakuan KA, dia mengambil sejumlah uang tersebut selama kurang lebih 6-8 bulan, yang selanjutnya digunakan untuk trading emas,” katanya.

Baca Juga :  Direktur IPDN Kalbar Berkunjung ke Gubernur Sutarmidji 

Sementara itu, KA ketika dimintai keterangan mengaku sudah bekerja menjadi pegawai magang di BNI Cabang Sambas tiga tahun kurang dua bulan. Namun dia mengaku, jika aksinya dilakukan sekitar 6-8 bulan yang lalu. “Kalau jumlahnya sekitar Rp2,4 miliar, dan semua saya gunakan untuk investasi trading di aplikasi Binomo. Tak ada untuk beli mobil, rumah atau lainnya. Semua untuk investasi trading Binomo,” ungkapnya.

Ditanya mengenai sepak terjangnya yang dilakukan, awalnya sendiri. Namun beberapa bulan terakhir dilakukan dengan salah satu orang. Namun KA tidak mau menyebut siapa orang yang dimaksud. (ars)

PONTIANAK – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Kalimantan Barat mendorong perbankan untuk memperketat pengamanan internalnya. Hal ini menyusul terjadinya kasus penggelapan yang dilakukan oknum pengawai BNI Cabang Sambas. Tindak pidana ini telah membuat nasabah dirugikan hingga Rp2,5 miliar.

OJK  akan memberikan teguran kepada perbankan tersebut sesuai ketentuan yang berlaku. Bank pelat merah itu juga didorong melakukan evaluasi terhadap kelemahan sistem keamanan dan manajemen internal.  Pihaknya juga akan melakukan evaluasi terhadap temuan itu, dan akan memberikan sanksi mengacu aturan yang berlaku. Selama ini, pengawasan juga terus dilakukan secara berkala kepada perbankan.

“Terlebih perbankan merupakan industri dengan regulasi yang sangat ketat,” kata Kepala OJK  Kalbar, Moch Riezky F Purnomo.

Lembaga ini pun terus mendorong perbankan konsisten menerapkan strategi anti fraud yang diatur dalam POJK nomor 39/pojk.03/2019 tentang penerapan strategi anti fraud bagi bank umum, yang terdiri dari empat pilar yakni, pencegahan, deteksi, investigasi, pelaporan, sanksi, serta pemantauan, evaluasi, tindak lanjut.

Pihaknya juga berharap, peran aktif manajemen juga menjadi bagian penting dalam penerapan strategi anti fraud. Manajemen diharapkan terus melakukan evaluasi, serta  langkah-langkah perbaikan. “OJK juga mengimbau masyarakat untuk waspada, tidak mudah percaya terhadap oknum pegawai bank, serta melakukan transaksi sesuai dengan prosedur yang ditetapkan sehingga menghindari peluang terjadinya aksi fraud,” tukas dia.

Baca Juga :  Hari Pertama PPKM Darurat Sejumlah Warkop Pilih Tutup

Ironisnya, kejahatan perbankan ini dilakukan oleh seorang pagawai magang lokal berinisial KA. Kapolres Sambas, AKBP Robertus B Herry AP memaparkan, kejadian dilakukan sejak Agustus 2020, di mana karena jabatannya memiliki kuasa untuk membuka brankas maupun mesin ATM. Saat itu, KA mengambil uang yang akan dimasukkan ke mesin ATM yakni sekitar Rp300 juta,” katanya.

Selanjutnya, berdasarkan hasil pemeriksaan dan keterangan, KA juga mengambil uang dari mobil layanan gerak sekitar Rp340 juta. Terbanyak adalah ketika KA diduga mengambil uang di brankas BNI Sambas sebesar Rp1,2 miliar.

“Terakhir, sesuai pengakuan sementara, KA juga tak menyetorkan uang ke BNI Sambas atas pembayaran uang mahasiswa di Politeknik Negeri Sambas. Modusnya, uang dari kampus tersebut, peng- entry-annya dilakukan KA namun duitnya tak disetorkan ke BNI, yakni sekitar Rp400 juta,” katanya.

Jumlah ini, sebutnya, ini dari pengakuan sementara. Saat ini masih terus dikembangkan oleh kepolisian. Termasuk apakah ada peran orang lain yang membantu KA dalam setiap melakukan aksi pencurian dan penggelapan uang. “Kami masih terus dalami, termasuk apakah ada keterlibatan pihak atau orang lain dalam kasus ini. Termasuk apakah kasus ini bisa dibawa ke ranah TPPU. Sesuai pengakuan KA, dia mengambil sejumlah uang tersebut selama kurang lebih 6-8 bulan, yang selanjutnya digunakan untuk trading emas,” katanya.

Baca Juga :  Budidaya Jeruk Teknik Moraga Kian Bergeliat

Sementara itu, KA ketika dimintai keterangan mengaku sudah bekerja menjadi pegawai magang di BNI Cabang Sambas tiga tahun kurang dua bulan. Namun dia mengaku, jika aksinya dilakukan sekitar 6-8 bulan yang lalu. “Kalau jumlahnya sekitar Rp2,4 miliar, dan semua saya gunakan untuk investasi trading di aplikasi Binomo. Tak ada untuk beli mobil, rumah atau lainnya. Semua untuk investasi trading Binomo,” ungkapnya.

Ditanya mengenai sepak terjangnya yang dilakukan, awalnya sendiri. Namun beberapa bulan terakhir dilakukan dengan salah satu orang. Namun KA tidak mau menyebut siapa orang yang dimaksud. (ars)

Most Read

Artikel Terbaru

/