alexametrics
24 C
Pontianak
Tuesday, June 28, 2022

Midji Sempat Terpapar Virus, Dikelilingi 25 Orang Positif Covid-19

PONTIANAK – Gubernur Kalimantan Barat (Kalbar) Sutarmidji berbagi pengalaman mengenai 25 orang terdekatnya yang sempat dinyatakan kasus konfirmasi (positif) Covid-19. Bahkan ia sendiri sebenarnya sempat terpapar virus tapi jumlahnya sangat kecil, sehingga tidak melebihi ambang untuk bisa ditetapkan kasus positif.

“Pengalaman saya, saya dikelilingi oleh 25 orang yang positif dan Alhamdulillah bisa (negatif), Allah SWT memberikan perlindungan kepada saya, sehingga ada kandungan virus sedikit tapi negatif saya. Sekarang sudah tidak (ada virus) lagi,” ungkapnya, Jumat (2/10).

Midji menceritakan, sebanyak 25 orang terdekatnya yang sebelumnya dinyatakan positif Covid-19 terdiri dari staf TU, beberapa ajudan, sopir, pengamanan atau pengawal dan lainnya. Ia bersyukur hanya dalam waktu tujuh hari semuanya sudah dinyatakan negatif Covid-19.

Akan tetapi sesuai aturan Kemenkes pasien asimtomatik atau tanpa gejala minimal harus isolasi secara mandiri selama 10 hari, baru kemudian bisa dinyatakan sembuh dan itu sudah dijalankan. Saat ini ke-25 orang terdekatnya itu sudah bisa menjalankan aktivitas kembali. Kesembuhan yang cukup cepat itu menurutnya juga disebabkan kandungan virus di dalam tubuh tidak banyak. “Itu karena kandungan virus (Covid-19) mereka paling tinggi hanya 468 copies virus,” ceritanya.

Dengan adanya pengalaman ini, ia mengaku tetap ketat dalam menaati protokol kesehatan. Sebagai gubernur ia tak memungkiri jika harus tetap menjalankan banyak aktivitas. Untuk itu ke depan, setiap tujuh sampai 10 hari ia akan terus melakukan tes usap (swab), walaupun kondisinya tidak ada gejala.

Baca Juga :  Sembako Imigrasi Sasar Warga Terdampak Covid-19

Saat beraktivitas ia tetap selalu memakai masker, bahkan menggunakan sarung tangan dan selalu menjaga jarak. Tak hanya memantau kesehatan dirinya pribadi dan keluarga, pasien-pasien positif yang dirawat di RS juga ikuti perkembangannya satu per satu. “Pasien saya amati kandungan virusnya dan lain sebagainya. Yang berat saya telepon, terapi dengan obat-obatan dan makanan yang dianjurkan,” katanya.

Saat ini kondisi di Kalbar memang terus terjadi peningkatan kasus konfirmasi Covid-19. Totalnya sejak awal pasien positif pertama ditemukan pada Maret lalu kini sudah seribu lebih. Namun demikian tingkat kesembuhan juga terus meningkat yang saat ini ada di angka sekitar 83 persen. “Sekarang cenderung ada peningkatan (kasus) yang sangat signifikan, tapi yang sembuh juga lumayan banyak. Saya minta peningkatan ini tetap bisa ditekan,” harapnya.

Peningkatan kasus juga menurutnya disebabkan faktor peningkatan jumlah pemeriksaan. Dimana masing-masing daerah mulai disiplin mengirim sampel tes usap ke Pemprov Kalbar. Dengan kondisi laboratorium PCR Rumah Sakit (RS) Untan yang bisa memeriksa antara 800-900 sampel per hari, dianggap masih kurang. Maka dari itu ia mendorong pembangunan lab PCR di beberapa daerah.

Baca Juga :  Sarawak Siapkan Pengiriman Oksigen ke Pontianak

“Bahkan kami kewalahan karena daerah sudah mulai disiplin mengirim sampel swab. Dan alhamdulillah semuanya bisa ditangani, tapi kewalahan juga, bahkan ada yang sampai empat hari baru keluar hasilnya,” paparnya.

Pelaksanaan tes usap sebanyak mungkin dinilai paling efektif untuk mengendalikan penyebaran Covid-19. Karena semakin cepat terditeksi dan kandungan virus yang ada di tubuh seseorang masih rendah, maka akan cepat pula disembuhkannya.

“Kandungan virus masih sedikit, kadang empat sampai tujuh hari isolasi sudah negatif. Tapi masih tetap isolasi sampai 10 hari. Kalau tidak ditangani atau ketahuan sudah lama, kandungan virus bisa jadi cepat, dari ribuan bisa jadi jutaan karena perkembangan virusnya dan itu pasti sudah ada gejala,” jelasnya.

Maka dari itu sebisa mungkin pasien konfirmasi tanpa gejala haru cepat ditangani, agar tidak menjadi bergejala. Jika sudah bergejala dan memiliki penyakit bawaan, tentu penanganannya akan semakin sulit. Misalnya mereka yang mengidap diabetes, jantung, ginjal, paru-paru dan lain sebaginya, harus diobati dengan cara yang berbeda.

“Orang-orang yang punya penyakit komorbid atau bawaan itu harus hati-hati. Saya sarankan kalau sudah demam, flu, pastikan pergi minta di-swab di Labkes Provinsi Kalbar. Agar cepat diketahui terpapar Covid-19 atau tidak,” pungkasnya. (bar)

PONTIANAK – Gubernur Kalimantan Barat (Kalbar) Sutarmidji berbagi pengalaman mengenai 25 orang terdekatnya yang sempat dinyatakan kasus konfirmasi (positif) Covid-19. Bahkan ia sendiri sebenarnya sempat terpapar virus tapi jumlahnya sangat kecil, sehingga tidak melebihi ambang untuk bisa ditetapkan kasus positif.

“Pengalaman saya, saya dikelilingi oleh 25 orang yang positif dan Alhamdulillah bisa (negatif), Allah SWT memberikan perlindungan kepada saya, sehingga ada kandungan virus sedikit tapi negatif saya. Sekarang sudah tidak (ada virus) lagi,” ungkapnya, Jumat (2/10).

Midji menceritakan, sebanyak 25 orang terdekatnya yang sebelumnya dinyatakan positif Covid-19 terdiri dari staf TU, beberapa ajudan, sopir, pengamanan atau pengawal dan lainnya. Ia bersyukur hanya dalam waktu tujuh hari semuanya sudah dinyatakan negatif Covid-19.

Akan tetapi sesuai aturan Kemenkes pasien asimtomatik atau tanpa gejala minimal harus isolasi secara mandiri selama 10 hari, baru kemudian bisa dinyatakan sembuh dan itu sudah dijalankan. Saat ini ke-25 orang terdekatnya itu sudah bisa menjalankan aktivitas kembali. Kesembuhan yang cukup cepat itu menurutnya juga disebabkan kandungan virus di dalam tubuh tidak banyak. “Itu karena kandungan virus (Covid-19) mereka paling tinggi hanya 468 copies virus,” ceritanya.

Dengan adanya pengalaman ini, ia mengaku tetap ketat dalam menaati protokol kesehatan. Sebagai gubernur ia tak memungkiri jika harus tetap menjalankan banyak aktivitas. Untuk itu ke depan, setiap tujuh sampai 10 hari ia akan terus melakukan tes usap (swab), walaupun kondisinya tidak ada gejala.

Baca Juga :  Mari Ramaikan Kalbar Berselawat Malam Ini

Saat beraktivitas ia tetap selalu memakai masker, bahkan menggunakan sarung tangan dan selalu menjaga jarak. Tak hanya memantau kesehatan dirinya pribadi dan keluarga, pasien-pasien positif yang dirawat di RS juga ikuti perkembangannya satu per satu. “Pasien saya amati kandungan virusnya dan lain sebagainya. Yang berat saya telepon, terapi dengan obat-obatan dan makanan yang dianjurkan,” katanya.

Saat ini kondisi di Kalbar memang terus terjadi peningkatan kasus konfirmasi Covid-19. Totalnya sejak awal pasien positif pertama ditemukan pada Maret lalu kini sudah seribu lebih. Namun demikian tingkat kesembuhan juga terus meningkat yang saat ini ada di angka sekitar 83 persen. “Sekarang cenderung ada peningkatan (kasus) yang sangat signifikan, tapi yang sembuh juga lumayan banyak. Saya minta peningkatan ini tetap bisa ditekan,” harapnya.

Peningkatan kasus juga menurutnya disebabkan faktor peningkatan jumlah pemeriksaan. Dimana masing-masing daerah mulai disiplin mengirim sampel tes usap ke Pemprov Kalbar. Dengan kondisi laboratorium PCR Rumah Sakit (RS) Untan yang bisa memeriksa antara 800-900 sampel per hari, dianggap masih kurang. Maka dari itu ia mendorong pembangunan lab PCR di beberapa daerah.

Baca Juga :  Pelaku Penusukan di Kafe Mama Tewas

“Bahkan kami kewalahan karena daerah sudah mulai disiplin mengirim sampel swab. Dan alhamdulillah semuanya bisa ditangani, tapi kewalahan juga, bahkan ada yang sampai empat hari baru keluar hasilnya,” paparnya.

Pelaksanaan tes usap sebanyak mungkin dinilai paling efektif untuk mengendalikan penyebaran Covid-19. Karena semakin cepat terditeksi dan kandungan virus yang ada di tubuh seseorang masih rendah, maka akan cepat pula disembuhkannya.

“Kandungan virus masih sedikit, kadang empat sampai tujuh hari isolasi sudah negatif. Tapi masih tetap isolasi sampai 10 hari. Kalau tidak ditangani atau ketahuan sudah lama, kandungan virus bisa jadi cepat, dari ribuan bisa jadi jutaan karena perkembangan virusnya dan itu pasti sudah ada gejala,” jelasnya.

Maka dari itu sebisa mungkin pasien konfirmasi tanpa gejala haru cepat ditangani, agar tidak menjadi bergejala. Jika sudah bergejala dan memiliki penyakit bawaan, tentu penanganannya akan semakin sulit. Misalnya mereka yang mengidap diabetes, jantung, ginjal, paru-paru dan lain sebaginya, harus diobati dengan cara yang berbeda.

“Orang-orang yang punya penyakit komorbid atau bawaan itu harus hati-hati. Saya sarankan kalau sudah demam, flu, pastikan pergi minta di-swab di Labkes Provinsi Kalbar. Agar cepat diketahui terpapar Covid-19 atau tidak,” pungkasnya. (bar)

Most Read

Artikel Terbaru

/