alexametrics
25 C
Pontianak
Friday, August 19, 2022

Jadi Penyumbang Kemiskinan Terbesar Kedua di Kalbar

PONTIANAK – Pemerintah resmi menerapkan kebijakan kenaikan tarif cukai rokok sebesar 23% dan harga jual eceran (HJE) sebesar 35%. Berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 152 Tahun 2019 tentang tarif cukai hasil tembakau, keputusan tersebut mulai berlaku kemarin, tepatnya 1 Januari 2020.

Kenaikan tarif cukai rokok terbesar yakni ada pada jenis rokok Sigaret Putih Mesin sebesar 29,96%. Untuk cukai rokok jenis Sigaret Kretek Tangan Filter naik sebesar 25,42%, Sigaret Kretek Mesin (SKM) 23,49%, dan Sigaret Kretek Tangan 12,84%.

Naik signifikannya harga rokok berpotensi meningkatkan jumlah penduduk miskin di Kalimantan Barat. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik tahun 2019 lalu, rokok menjadi komoditas penyumbang terbesar kedua, setelah beras dalam Garis Kemiskinan (GK) sektor makanan. Baik untuk masyarakat perkotaan maupun perdesaan.

Baca Juga :  Dewan Minta Pemerintah Perhatikan Damkar Swasta

“Beras memberi sumbangan terbesar dalam komponen komoditi penyusun GK, sebesar 20,46 persen di perkotaan dan 29,29 persen di perdesaan. Rokok kretek filter memberikan sumbangan terbesar ke dua terhadap GK di perdesaan (12,73 persen) dan di perkotaan (14,50 persen). Posisi ke tiga komoditi dengan kontribusi terbesar di perkotaan dan perdesaan adalah Telur ayam ras di perkotaan (4,81 persen) dan di perdesaan (3,80 persen),” ujar Kepala BPS Kalbar, Pitono belum lama ini.

Dengan meningkatnya harga rokok, maka belanja masyarakat yang berada di Garis Kemiskinan dan di dekat Garis Kemiskinan akan meningkat. Hal itu akan menyebabkan rumah tangga berada sedikit di atas Garis Kemiskinan yang mengkonsumsi rokok akan terjerembab ke Garis Kemiskinan.

Baca Juga :  Melinting, Fenomena Baru Merokok di Pontianak

Garis Kemiskinan per Rumah Tangga Miskin adalah gambaran besarnya nilai rata-rata rupiah minimum yang harus dikonsumsi oleh rumah tangga agar tidak dikategorikan miskin. Nilai ini merupakan hasil perkalian GK per Kapita dengan rata-rata jumlah Anggota Rumah Tangga Miskin.

Pada 2019, secara rata-rata satu rumah tangga miskin di Kalimantan Barat memiliki 6,19 anggota rumah tangga. Sehingga garis kemiskinan rumah tangga miskin di Kalimantan Barat pada periode Maret 2019 adalah sebesar Rp2.714.655,-/Rumah Tangga Miskin per bulan. Garis Kemiskinan Rumah Tangga Miskin di Perkotaan lebih tinggi dari pada di Perdesaan. GK rumah tangga miskin perkotaan per Maret 2019 adalah sebesar Rp2.825.890,-/Rumah Tangga Miskin per bulan sedangkan di perdesaan sebesar Rp2.656.872,-/Rumah Tangga Miskin per bulan. (ars)

PONTIANAK – Pemerintah resmi menerapkan kebijakan kenaikan tarif cukai rokok sebesar 23% dan harga jual eceran (HJE) sebesar 35%. Berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 152 Tahun 2019 tentang tarif cukai hasil tembakau, keputusan tersebut mulai berlaku kemarin, tepatnya 1 Januari 2020.

Kenaikan tarif cukai rokok terbesar yakni ada pada jenis rokok Sigaret Putih Mesin sebesar 29,96%. Untuk cukai rokok jenis Sigaret Kretek Tangan Filter naik sebesar 25,42%, Sigaret Kretek Mesin (SKM) 23,49%, dan Sigaret Kretek Tangan 12,84%.

Naik signifikannya harga rokok berpotensi meningkatkan jumlah penduduk miskin di Kalimantan Barat. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik tahun 2019 lalu, rokok menjadi komoditas penyumbang terbesar kedua, setelah beras dalam Garis Kemiskinan (GK) sektor makanan. Baik untuk masyarakat perkotaan maupun perdesaan.

Baca Juga :  Siasat Iklan Rokok di Warung Kopi

“Beras memberi sumbangan terbesar dalam komponen komoditi penyusun GK, sebesar 20,46 persen di perkotaan dan 29,29 persen di perdesaan. Rokok kretek filter memberikan sumbangan terbesar ke dua terhadap GK di perdesaan (12,73 persen) dan di perkotaan (14,50 persen). Posisi ke tiga komoditi dengan kontribusi terbesar di perkotaan dan perdesaan adalah Telur ayam ras di perkotaan (4,81 persen) dan di perdesaan (3,80 persen),” ujar Kepala BPS Kalbar, Pitono belum lama ini.

Dengan meningkatnya harga rokok, maka belanja masyarakat yang berada di Garis Kemiskinan dan di dekat Garis Kemiskinan akan meningkat. Hal itu akan menyebabkan rumah tangga berada sedikit di atas Garis Kemiskinan yang mengkonsumsi rokok akan terjerembab ke Garis Kemiskinan.

Baca Juga :  2022, Cukai Rokok Naik, Industri dan Kaum Buruh Menjerit

Garis Kemiskinan per Rumah Tangga Miskin adalah gambaran besarnya nilai rata-rata rupiah minimum yang harus dikonsumsi oleh rumah tangga agar tidak dikategorikan miskin. Nilai ini merupakan hasil perkalian GK per Kapita dengan rata-rata jumlah Anggota Rumah Tangga Miskin.

Pada 2019, secara rata-rata satu rumah tangga miskin di Kalimantan Barat memiliki 6,19 anggota rumah tangga. Sehingga garis kemiskinan rumah tangga miskin di Kalimantan Barat pada periode Maret 2019 adalah sebesar Rp2.714.655,-/Rumah Tangga Miskin per bulan. Garis Kemiskinan Rumah Tangga Miskin di Perkotaan lebih tinggi dari pada di Perdesaan. GK rumah tangga miskin perkotaan per Maret 2019 adalah sebesar Rp2.825.890,-/Rumah Tangga Miskin per bulan sedangkan di perdesaan sebesar Rp2.656.872,-/Rumah Tangga Miskin per bulan. (ars)

Most Read

Artikel Terbaru

/