alexametrics
30.6 C
Pontianak
Sunday, August 14, 2022

Merawat Ingatan dengan Merestorasi Sepeda Peninggalan

Ketika Sepeda Engkol Kembali Booming di Kota Pontianak

Booming musim sepeda engkol membuat penjualan di toko-toko sepeda mengalami peningkatan. Namun, beberapa peminat sepeda tidak sedikit yang memilih buat merestorasi sepeda bekas agar bagus kembali. Restorasi sepeda diambil, karena lebih melihat sejarah dari sebuah sepeda itu

MIRZA AHMAD MUIN, Pontianak

SEPEDA ontel berwarna hijau metalik buatan Tiongkok yang dipakai Edi adalah sepeda temurun dari ibunya. Umur sepeda itu lebih tua darinya. Seingat dia, sepeda itu sudah ada di rumah sejak ia kecil.

Dia bercerita bagaimana almarhumah ibunya dulu kerap memboncenginya menggunakan sepeda itu, ketika membeli minyak tanah di pangkalan minyak tak jauh dari rumahnya di Jalan Martadinata, Kecamatan Pontianak Barat. ASN di salah satu instansi di Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat itu sangat menyayangi sepeda tersebut. Ada banyak kenangan yang melekat saat bersama sang ibu di sana.

Baca Juga :  Inden Dua Tahun untuk Sepeda Handmade pun Rela

Semenjak ibunya tiada, sepeda ini pun disimpan di gudang. Kondisinya tak seperti ini. Rusak parah. Demi merawat ingatan, ia pun merestorasi sepeda tersebut kembali ke kondisi semula.

Restorasi sepeda dilakukan Edi beberapa bulan ini, saat booming sepeda di Kota Pontianak. “Awalnya saya sempat mau ikut-ikutan beli sepeda lipat. Karena kemarin memang sedang musim. Tapi setelah dipikir-pikir, saya lebih memilih memperbaiki sepeda lama yang ada di gudang,” ujar Edi kepada Pontianak Post, Minggu (3/1).

Restorasi dipilih Edi karena lebih memilih cerita dari tiap sepeda. Menurutnya, setiap sepeda pasti memiliki cerita tersendiri bagi setiap pemilik. Setiap ia melihat sepeda ini, ia pun langsung terkenang dengan almarhumah sang ibu.

Baca Juga :  Umrah Bersama PT Al Mahdar; Rutin Sampaikan Laporan, Kakanwil Kalbar Beri Apresiasi

Untuk merestorasi sepeda ini agar tampak baru, biaya yang dikeluarkan tidak begitu besar. Jika dihitung, diungkapkan dia, sekitar Rp1,5 juta. Uang sebesar itu digunakan dia untuk membeli suku cadang sepeda yang telah rusak. Sisanya dimanfaatkan dia untuk mencat kembali kendaraan tersebut.

Rencana Edi, dalam waktu dekat ia kembali merestorasi satu sepeda yang tersimpan di gudang. Ia akan mengembalikan bentukan sepedanya dulu sama seperti saat pertama kali dibeli. Baginya sepeda tersebut miliki kenangan. Saat ia masih duduk SD dan beranjak ke SMP, kemana-mana selalu menggunakan sepeda. (*)

Ketika Sepeda Engkol Kembali Booming di Kota Pontianak

Booming musim sepeda engkol membuat penjualan di toko-toko sepeda mengalami peningkatan. Namun, beberapa peminat sepeda tidak sedikit yang memilih buat merestorasi sepeda bekas agar bagus kembali. Restorasi sepeda diambil, karena lebih melihat sejarah dari sebuah sepeda itu

MIRZA AHMAD MUIN, Pontianak

SEPEDA ontel berwarna hijau metalik buatan Tiongkok yang dipakai Edi adalah sepeda temurun dari ibunya. Umur sepeda itu lebih tua darinya. Seingat dia, sepeda itu sudah ada di rumah sejak ia kecil.

Dia bercerita bagaimana almarhumah ibunya dulu kerap memboncenginya menggunakan sepeda itu, ketika membeli minyak tanah di pangkalan minyak tak jauh dari rumahnya di Jalan Martadinata, Kecamatan Pontianak Barat. ASN di salah satu instansi di Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat itu sangat menyayangi sepeda tersebut. Ada banyak kenangan yang melekat saat bersama sang ibu di sana.

Baca Juga :  Inden Dua Tahun untuk Sepeda Handmade pun Rela

Semenjak ibunya tiada, sepeda ini pun disimpan di gudang. Kondisinya tak seperti ini. Rusak parah. Demi merawat ingatan, ia pun merestorasi sepeda tersebut kembali ke kondisi semula.

Restorasi sepeda dilakukan Edi beberapa bulan ini, saat booming sepeda di Kota Pontianak. “Awalnya saya sempat mau ikut-ikutan beli sepeda lipat. Karena kemarin memang sedang musim. Tapi setelah dipikir-pikir, saya lebih memilih memperbaiki sepeda lama yang ada di gudang,” ujar Edi kepada Pontianak Post, Minggu (3/1).

Restorasi dipilih Edi karena lebih memilih cerita dari tiap sepeda. Menurutnya, setiap sepeda pasti memiliki cerita tersendiri bagi setiap pemilik. Setiap ia melihat sepeda ini, ia pun langsung terkenang dengan almarhumah sang ibu.

Baca Juga :  Sintang Alami Inflasi Tertinggi Se-Indonesia

Untuk merestorasi sepeda ini agar tampak baru, biaya yang dikeluarkan tidak begitu besar. Jika dihitung, diungkapkan dia, sekitar Rp1,5 juta. Uang sebesar itu digunakan dia untuk membeli suku cadang sepeda yang telah rusak. Sisanya dimanfaatkan dia untuk mencat kembali kendaraan tersebut.

Rencana Edi, dalam waktu dekat ia kembali merestorasi satu sepeda yang tersimpan di gudang. Ia akan mengembalikan bentukan sepedanya dulu sama seperti saat pertama kali dibeli. Baginya sepeda tersebut miliki kenangan. Saat ia masih duduk SD dan beranjak ke SMP, kemana-mana selalu menggunakan sepeda. (*)

Most Read

Artikel Terbaru

/