alexametrics
23 C
Pontianak
Wednesday, June 29, 2022

Komunitas Enggang Khatulistiwa Semangat Promosikan Kampung Berpotensi Wisata

Kampung wisata di Pontianak berpotensi menarik perhatian wisatawan lokal maupun mancanegara. Komunitas Enggang Khatulistiwa bersemangat ikut mempromosikannya melalui media sosial dan tulisan.

MARSITA RIANDINI, Pontianak

AKHIR Desember 2019, mereka pertama kali berkunjung ke Kampung Caping Mendawai di Jalan Imam Bonjol. Di sana, melihat dan  mewawancarai, serta menuliskan hasil liputan tentang obyek wisata  menarik yang ada di sana tujuannya untuk dibukukan dan akan diluncurkan pada HUT ke-249 Kota Pontianak pada 23 Oktober 2020.

Kunjungan selanjutnya  Kampung Tenun Khatulistiwa di Gang Sambas Jaya Batulayang, dan Kampung Tambelan di Kelurahan Tambelan Sampit, Pontianak Timur.  Hasil dari kunjungan tersebut dibuat dalam bentuk tulisan yang menceritakan pengalaman para anggota.

Rencananya Februari ini, kampung-kampung berpotensi wisata yang akan turut dikunjungi dan dipromosikan oleh Komunitas EKHA adalah Kampung Bansir dan Kampung Beting. Sedang Maret nanti mereka berencana mengunjungi Kampung Kamboja dan Kampung Bangka.

Baca Juga :  Lindungi Pegawai dan Maksimalkan Pelayanan, PLN Jalankan Vaksinasi Covid-19

“Saat ini, Pemerintah Kota Pontianak sedang gencar membangun kampung-kampung di tepian Sungai Kapuas untuk dikembangkan menjadi kampung wisata. Kami membantu mempromosikan kampung-kampung tersebut ke masyarakat luas,”kata Vivi Al Hinduan, ketua sekaligus pendiri Enggang Khatulistiwa.

Selain bertujuan untuk dibukukan, hasil kunjungan EKHA juga dipromosikan lewat media sosial Facebook dengan Fanpage EKHA News dan Instagram@newsekha. Komunitas Enggang Khatulistiwa dibentuk ulang tepat pada HUT Kota Pontianak ke-248 23 Oktober 2019 lalu. Sebelumnya, bernama Kelas Menulis Enggang Khatulistiwa yang mayoritas anggotanya mahasiswa dan para pekerja.

“Kenapa dinamakan kelas menulis? karena waktu itu kami menawarkan empat kelas bagi para anggota, lengkap dengan mentornya masing-masing, yakni kelas puisi, kelas cerpen, kelas novel, dan kelas nonfiksi,” ujar dia.

Baca Juga :  Tolak RUU HIP, Ribuan Massa Datangi Gedung DPRD Kalbar

Namun, karena kesibukan masing-masing, setelah berhasil menerbitkan buku perdana mereka secara gratis tanpa dipungut biaya percetakan di ajang bergengsi Kalbar Book Fair 2017 silam, Kelas Menulis Enggang Khatulistiwa pun dibubarkan.

Setelah lama vakum, Vivi akhirnya membentuk kembali EKHA (Enggang Khatulistiwa) dengan konsep yang sangat berbeda dari sebelumnya. Kini, EKHA beranggotakan hanya sembilan peserta dan semuanya perempuan.

“Sebagian sudah menikah dan sebagian belum. Kami setiap dua minggu sekali turun langsung ke kampung-kampung yang berpotensi dikembangkan menjadi kampung wisata di Pontianak,” ucap dia. (*)

Kampung wisata di Pontianak berpotensi menarik perhatian wisatawan lokal maupun mancanegara. Komunitas Enggang Khatulistiwa bersemangat ikut mempromosikannya melalui media sosial dan tulisan.

MARSITA RIANDINI, Pontianak

AKHIR Desember 2019, mereka pertama kali berkunjung ke Kampung Caping Mendawai di Jalan Imam Bonjol. Di sana, melihat dan  mewawancarai, serta menuliskan hasil liputan tentang obyek wisata  menarik yang ada di sana tujuannya untuk dibukukan dan akan diluncurkan pada HUT ke-249 Kota Pontianak pada 23 Oktober 2020.

Kunjungan selanjutnya  Kampung Tenun Khatulistiwa di Gang Sambas Jaya Batulayang, dan Kampung Tambelan di Kelurahan Tambelan Sampit, Pontianak Timur.  Hasil dari kunjungan tersebut dibuat dalam bentuk tulisan yang menceritakan pengalaman para anggota.

Rencananya Februari ini, kampung-kampung berpotensi wisata yang akan turut dikunjungi dan dipromosikan oleh Komunitas EKHA adalah Kampung Bansir dan Kampung Beting. Sedang Maret nanti mereka berencana mengunjungi Kampung Kamboja dan Kampung Bangka.

Baca Juga :  Tetap Menyusui Meski Positif Covid-19

“Saat ini, Pemerintah Kota Pontianak sedang gencar membangun kampung-kampung di tepian Sungai Kapuas untuk dikembangkan menjadi kampung wisata. Kami membantu mempromosikan kampung-kampung tersebut ke masyarakat luas,”kata Vivi Al Hinduan, ketua sekaligus pendiri Enggang Khatulistiwa.

Selain bertujuan untuk dibukukan, hasil kunjungan EKHA juga dipromosikan lewat media sosial Facebook dengan Fanpage EKHA News dan Instagram@newsekha. Komunitas Enggang Khatulistiwa dibentuk ulang tepat pada HUT Kota Pontianak ke-248 23 Oktober 2019 lalu. Sebelumnya, bernama Kelas Menulis Enggang Khatulistiwa yang mayoritas anggotanya mahasiswa dan para pekerja.

“Kenapa dinamakan kelas menulis? karena waktu itu kami menawarkan empat kelas bagi para anggota, lengkap dengan mentornya masing-masing, yakni kelas puisi, kelas cerpen, kelas novel, dan kelas nonfiksi,” ujar dia.

Baca Juga :  Potensi Magnet Wisata  

Namun, karena kesibukan masing-masing, setelah berhasil menerbitkan buku perdana mereka secara gratis tanpa dipungut biaya percetakan di ajang bergengsi Kalbar Book Fair 2017 silam, Kelas Menulis Enggang Khatulistiwa pun dibubarkan.

Setelah lama vakum, Vivi akhirnya membentuk kembali EKHA (Enggang Khatulistiwa) dengan konsep yang sangat berbeda dari sebelumnya. Kini, EKHA beranggotakan hanya sembilan peserta dan semuanya perempuan.

“Sebagian sudah menikah dan sebagian belum. Kami setiap dua minggu sekali turun langsung ke kampung-kampung yang berpotensi dikembangkan menjadi kampung wisata di Pontianak,” ucap dia. (*)

Most Read

Artikel Terbaru

/