alexametrics
26.7 C
Pontianak
Friday, August 19, 2022

Pelayan Publik Segera Divaksin

PONTIANAK – Satuan Tugas (Satgas) Covid-19 Kalimantan Barat (Kalbar) melaksanakan vaksinasi Covid-19 dengan sasaran para guru, Rabu (3/3). Selama tujuh jam pelaksanaannya ada sekitar 800 guru yang mendapat suntikan vaksin.

Program vaksinasi Covid-19 kini telah memasuki tahap dua. Dengan sasaran kelompok masyarakat yang memiliki interaksi dan mobilitas tinggi sehingga dianggap rentan terpapar virus. Salah satunya adalah para guru yang masuk dalam bagian pelayanan publik.

Kepala Dinas Kesehatan Kalbar Harisson mengungkapkan, pihaknya bekerja sama dengan Dinas Kesehatan Kota Pontianak melaksanakan vaksinasi untuk para guru SMA/SMK dan SLB ini. Para guru yang divaksin sebelumnya sudah didaftarkan terlebih dahulu oleh Dinas Pendidikan Kalbar.

Dalam satu hari pelaksanaan vaksinasi massal kemarin, ada sebanyak 800 orang guru yang divaksin. Pelaksanaannya mulai pukul 08.00 sampai 16.00. Dilakukan secara bertahap dengan dibagi per jam. “Itu supaya tidak terjadi penumpukan, kami juga menjalankan protokol kesehatan supaya tidak terjadi kerumunan,” terangnya.

Dalam kesempatan itu disiapkan delapan kelompok petugas yang melaksanakan vaksinasi. Prosesnya, dalam satu jam setiap kelompok petugas, bisa menyelesaikan sekitar 15 orang yang divaksin.

Selain guru dan pelayan publik lainnya, vaksinasi tahap kedua ini, khusus di Kota Pontianak juga menyasar para lansia. Pertimbangan sasaran vaksinasi ini dijelaskan Harisson memang berdasarkan kelompok risiko. Risiko yang paling tinggi pertama adalah tenaga kesehatan (nakes), kemudian yang kedua lansia, baru selanjutnya pelayan publik.

Khusus lansia di Pontianak ditargetkan sasarannya ada 1.703 orang. “Ini kami lakukan di Puskesmas sesuai domisili lansia tersebut supaya mereka tidak terlalu jauh dalam mengaksesnya,” ujarnya.

Sementara untuk pelaksanaan vaksinasi secara massal, setelah guru, hari ini kembali ditargetkan sebanyak 700 orang. Sasarannya adalah aparatur sipil negara (ASN) dari berbagai instansi yang berhubungan dengan pelayanan publik.

Baca Juga :  Natal Oikumene Tahun 2019 di Kejati Kalbar

Secara umum Harisson melihat proses vaksinasi di Kalbar berjalan lancar. Untuk tahap pertama dengan sasaran nakes misalnya, termin pertama sudah selesai dilaksanakan dengan capaian 100 persen. Sementara termin kedua masih berproses dengan capaian saat ini sudah 78 persen. “Dalam beberapa hari ini akan selesai untuk nakes,” katanya.

Kepala Dinas Pendidikan Kalbar, Sugeng Hariadi mengimbau agar seluruh guru SMA/SMK/SLB yang sudah terdaftar untuk mengikuti program vaksinasi hadir sesuai jadwalnya. Vaksinasi guru di Kota Pontianak menurutnya akan berlangsung selama dua hari dengan target pada hari pertama vaksinasi menyasar 800 guru dan hari kedua menyasar sebanyak 806 guru.

Sugeng sangat menyambut baik pelaksanaan vaksinasi untuk tenaga guru dengan tujuan untuk menyukseskan program vaksinasi yang dijalankan pemerintah. “Saya minta guru-guru bisa ikut mensukseskan kegiatan vaksinasi mulai dari ASN maupun tenaga kontrak sampai staf di sekolah, diharapkan bisa hadir semua,” katanya.

Dengan telah dilakukannya vaksinasi terhadap guru, diharapkan akan muncul kekebalan terhadap Covid-19 di masyarakat. Selanjutnya para guru bisa lebih tenang sangat mengajar di sekolah. “Walaupun sudah divaksin tetap harus menerapkan protokol kesehatan,” pesannya.

Sementara itu, Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) wilayah Kalimantan Barat (Kalbar), Rifka mengingatkan para orangtua harus bisa menilai kesiapan sekolahnya saat digelarnya pembelajaran di tengah pandemi Covid-19. Terutama, kata dia, kriteria epidemiologis dimana sekolah itu berada. Kriteria epidemiologi yang dimaksud bukan hanya sebatas status zona hijau, kuning atau merah di sekolah anak.

Namun juga melihat angka kasus infeksi Covid-19 di daerah tersebut. Jika jumlah kasusnya sedikit maka lihat lagi risiko kematian kasus Covid-19 di wilayah tersebut. “Termasuk melihat bagaimana tracing, testing, dan treatment (3T) di daerah tersebut apakah sudah dijalankan,” kata dia.

Baca Juga :  Mengenal Perpustakaan Jalanan Seponti

Rifka menambahkan kebijakan pembukaan sekolah di masing-masing daerah harus meminta pertimbangan dinas kesehatan dan organisasi profesi kesehatan setempat dengan memperhatikan angka kejadian dan angka kematian Covid-19 di daerah tersebut masih meningkat atau tidak.

Selain itu yang perlu diperhatikan adalah kondisi anak. Sebelum mengirimkan anak ke sekolah, pastikan anak sudah mampu membekali dirinya untuk tidak tertular Covid-19. “Biasanya anak dengan usia lebih kecil sangat sulit patuh terhadap protokol kesehatan,” kata dia.

Ia menambahkan untuk belajar di sekolah harus bergilir agar memenuhi protokol dalam upaya menjaga keselamatan. “Harusnya memang idealnya, kalau pemerintah bilang terserah orangtua, berarti pemerintah juga harus menyedihkan sarana untuk memilih,” tambah dia.

Rifka melanjutkan hal lain yang perlu dilakukan ialah pemenuhan kebutuhan kesehatan dasar anak seperti nutrisi lengkap seimbang, imunisasi lengkap sesuai usia, kasih sayang, stimulasi perkembangan, keseimbangan aktivitas fisik dan tidur, dan perlindungan dari berbagai risiko gangguan keselamatan dan tumbuh kembang yang dimulai dari lingkungan rumah dan keluarga.

Lalu ditambahkannya, kapasitas contact tracing dan tatalaksana kasus Covid-19 perlu terus diupayakan. Revitalisasi Program UKS untuk menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan sehat maka diperlukan revitalisasi dan penyesuaian program Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) yang berfokus pada pencegahan infeksi, pengenalan tanda dan gejala sakit yang memerlukan rujukan, serta penetapan alur rujukan yang memadai.

“Termasuk melibatkan pihak eksternal untuk memantau penerapan protokol kesehatan di sekolah,” pungkasnya. (bar/mse)

PONTIANAK – Satuan Tugas (Satgas) Covid-19 Kalimantan Barat (Kalbar) melaksanakan vaksinasi Covid-19 dengan sasaran para guru, Rabu (3/3). Selama tujuh jam pelaksanaannya ada sekitar 800 guru yang mendapat suntikan vaksin.

Program vaksinasi Covid-19 kini telah memasuki tahap dua. Dengan sasaran kelompok masyarakat yang memiliki interaksi dan mobilitas tinggi sehingga dianggap rentan terpapar virus. Salah satunya adalah para guru yang masuk dalam bagian pelayanan publik.

Kepala Dinas Kesehatan Kalbar Harisson mengungkapkan, pihaknya bekerja sama dengan Dinas Kesehatan Kota Pontianak melaksanakan vaksinasi untuk para guru SMA/SMK dan SLB ini. Para guru yang divaksin sebelumnya sudah didaftarkan terlebih dahulu oleh Dinas Pendidikan Kalbar.

Dalam satu hari pelaksanaan vaksinasi massal kemarin, ada sebanyak 800 orang guru yang divaksin. Pelaksanaannya mulai pukul 08.00 sampai 16.00. Dilakukan secara bertahap dengan dibagi per jam. “Itu supaya tidak terjadi penumpukan, kami juga menjalankan protokol kesehatan supaya tidak terjadi kerumunan,” terangnya.

Dalam kesempatan itu disiapkan delapan kelompok petugas yang melaksanakan vaksinasi. Prosesnya, dalam satu jam setiap kelompok petugas, bisa menyelesaikan sekitar 15 orang yang divaksin.

Selain guru dan pelayan publik lainnya, vaksinasi tahap kedua ini, khusus di Kota Pontianak juga menyasar para lansia. Pertimbangan sasaran vaksinasi ini dijelaskan Harisson memang berdasarkan kelompok risiko. Risiko yang paling tinggi pertama adalah tenaga kesehatan (nakes), kemudian yang kedua lansia, baru selanjutnya pelayan publik.

Khusus lansia di Pontianak ditargetkan sasarannya ada 1.703 orang. “Ini kami lakukan di Puskesmas sesuai domisili lansia tersebut supaya mereka tidak terlalu jauh dalam mengaksesnya,” ujarnya.

Sementara untuk pelaksanaan vaksinasi secara massal, setelah guru, hari ini kembali ditargetkan sebanyak 700 orang. Sasarannya adalah aparatur sipil negara (ASN) dari berbagai instansi yang berhubungan dengan pelayanan publik.

Baca Juga :  Rizal Ramli: Pemerintah Tidak Serius Akui Hak Adat

Secara umum Harisson melihat proses vaksinasi di Kalbar berjalan lancar. Untuk tahap pertama dengan sasaran nakes misalnya, termin pertama sudah selesai dilaksanakan dengan capaian 100 persen. Sementara termin kedua masih berproses dengan capaian saat ini sudah 78 persen. “Dalam beberapa hari ini akan selesai untuk nakes,” katanya.

Kepala Dinas Pendidikan Kalbar, Sugeng Hariadi mengimbau agar seluruh guru SMA/SMK/SLB yang sudah terdaftar untuk mengikuti program vaksinasi hadir sesuai jadwalnya. Vaksinasi guru di Kota Pontianak menurutnya akan berlangsung selama dua hari dengan target pada hari pertama vaksinasi menyasar 800 guru dan hari kedua menyasar sebanyak 806 guru.

Sugeng sangat menyambut baik pelaksanaan vaksinasi untuk tenaga guru dengan tujuan untuk menyukseskan program vaksinasi yang dijalankan pemerintah. “Saya minta guru-guru bisa ikut mensukseskan kegiatan vaksinasi mulai dari ASN maupun tenaga kontrak sampai staf di sekolah, diharapkan bisa hadir semua,” katanya.

Dengan telah dilakukannya vaksinasi terhadap guru, diharapkan akan muncul kekebalan terhadap Covid-19 di masyarakat. Selanjutnya para guru bisa lebih tenang sangat mengajar di sekolah. “Walaupun sudah divaksin tetap harus menerapkan protokol kesehatan,” pesannya.

Sementara itu, Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) wilayah Kalimantan Barat (Kalbar), Rifka mengingatkan para orangtua harus bisa menilai kesiapan sekolahnya saat digelarnya pembelajaran di tengah pandemi Covid-19. Terutama, kata dia, kriteria epidemiologis dimana sekolah itu berada. Kriteria epidemiologi yang dimaksud bukan hanya sebatas status zona hijau, kuning atau merah di sekolah anak.

Namun juga melihat angka kasus infeksi Covid-19 di daerah tersebut. Jika jumlah kasusnya sedikit maka lihat lagi risiko kematian kasus Covid-19 di wilayah tersebut. “Termasuk melihat bagaimana tracing, testing, dan treatment (3T) di daerah tersebut apakah sudah dijalankan,” kata dia.

Baca Juga :  Polda Kalbar Tetapkan Enam Orang Tersangka pembakar lahan

Rifka menambahkan kebijakan pembukaan sekolah di masing-masing daerah harus meminta pertimbangan dinas kesehatan dan organisasi profesi kesehatan setempat dengan memperhatikan angka kejadian dan angka kematian Covid-19 di daerah tersebut masih meningkat atau tidak.

Selain itu yang perlu diperhatikan adalah kondisi anak. Sebelum mengirimkan anak ke sekolah, pastikan anak sudah mampu membekali dirinya untuk tidak tertular Covid-19. “Biasanya anak dengan usia lebih kecil sangat sulit patuh terhadap protokol kesehatan,” kata dia.

Ia menambahkan untuk belajar di sekolah harus bergilir agar memenuhi protokol dalam upaya menjaga keselamatan. “Harusnya memang idealnya, kalau pemerintah bilang terserah orangtua, berarti pemerintah juga harus menyedihkan sarana untuk memilih,” tambah dia.

Rifka melanjutkan hal lain yang perlu dilakukan ialah pemenuhan kebutuhan kesehatan dasar anak seperti nutrisi lengkap seimbang, imunisasi lengkap sesuai usia, kasih sayang, stimulasi perkembangan, keseimbangan aktivitas fisik dan tidur, dan perlindungan dari berbagai risiko gangguan keselamatan dan tumbuh kembang yang dimulai dari lingkungan rumah dan keluarga.

Lalu ditambahkannya, kapasitas contact tracing dan tatalaksana kasus Covid-19 perlu terus diupayakan. Revitalisasi Program UKS untuk menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan sehat maka diperlukan revitalisasi dan penyesuaian program Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) yang berfokus pada pencegahan infeksi, pengenalan tanda dan gejala sakit yang memerlukan rujukan, serta penetapan alur rujukan yang memadai.

“Termasuk melibatkan pihak eksternal untuk memantau penerapan protokol kesehatan di sekolah,” pungkasnya. (bar/mse)

Most Read

Artikel Terbaru

/