alexametrics
25.6 C
Pontianak
Thursday, May 19, 2022

Sampaikan Pesan Damai, Tolak Paham Radikal

Gerakan Masyarakat Kalbar Cinta Damai menolak paham organisasi masyarakat radikal, dan mengutuk keras aksi-aksi terorisme yang dapat memecah belah persatuan dan kesatuan NKRI, khususnya di  Kalbar. Hal ini disampaikan pada kegiatan konferensi pers, Kamis (3/12).  Rival Agma, Koordinator gerakan ini mengatakan, Indonesia merupakan rumah bersama. Maka sudah semestinya menjaga kerukunan umat beragama, dan menjaga toleransi beragama.

Yohanes Yulius, Akademisi Untan Pontianak hadir dalam kegiatan ini mengatakan sudah menjadi tanggung jawab bersama bagi warga negara menjaga kondusivitas di tengah kemajemukan agar bisa hidup lebih tenang dan damai. “Harapannya gerakan-gerakan yang dapat mengganggu rasa aman dan rasa tenang bagi masyarakat bangsa Indonesia yang berkaitan dengan gerakan radikal, terorisme dan intoleran bisa diredam, diminimalisir untuk dapat menciptakan rasa persaudaraan dan persatuan,” harapnya. Capaian yang ingin direalisasikan bagaimana bangsa dan masyarakat Indonesia bisa mendapatkan kesejahteraan dari dampak kondisi yang kondusif, aman dan tentram.

Baca Juga :  Syekh Ali Jaber Wafat, Pembawa Kesejukkan yang Gemar Gubal Gaharu Kalbar

Faisal, Akademisi IKIP PGRI Pontianak menjelaskan bahwa pesan damai ini diharapkan dapat berkontribusi besar bagi Indonesia, khususnya di Kalbar. Sebab, lanjut dia Indonesia dibangun dengan rasa kebersamaan yang kental dan kuat. “Kemajemukan itu diikat dengan kesatuan dan persatuan,” ulasnya.

Filemon Adi Sukardi dari PGI Kalbar mengatakan keradikalan mengorbankan banyak orang yang tidak bersalah. Maka diperlukan sikap memaafkan namun tetap tegas untuk diatasi untuk kedamaian hidup bermasyarakat dan beragama. “Sebagai warga, kita ingin Kalbar rukun dan aman. Damai dan selanjutnya damai kehidupan kita sungguh berbahagia,” ulasnya.

Jarkasih, akademisi IAIN Pontianak menjelaskan bahwa radikalisme muncul dari sikap yang menginginkan perubahan cepat dengan cara yang tidak benar. Kemudian mencari alasan kuat untuk menjadi pembenaran, salah satunya agama. Padahal agama mana pun kata dia, mengajarkan untuk hidup rukun dan damai. “Radikal itu bisa ideologinya bisa juga gaya hidupnya,” tambah dia.

Baca Juga :  Pulang Dinas Luar Kota, Seluruh Dewan Kalbar Dites Swab

Banyak faktor penyebabnya, satu di antaranya karena rasa ketidakpuasan. ” Radikal itu membuat orang merasa dirinya paling benar. Sehingga yang lain salah. Yang timbul rasa sombong. Di luar dirinya seolah menjadi ancaman. Muncul rasa curiga dan keberadaan orang lain menjadi terancam,” paparnya. Akibatnya, lanjut dia memunculkan intoleransi, dan gerakan terorisme. Maka dibutuhkan komitmen bersama untuk menjaga keutuhan negara ini. Adi Aprianto, mengatakan para pemuda harus menjadi pelopor perdamaian. Bagaimana keragaman yang dimiliki Indonesia menjadi kekayaan yang mesti dipelihara dengan kerukunan dan ketenangan. (mrd)

Gerakan Masyarakat Kalbar Cinta Damai menolak paham organisasi masyarakat radikal, dan mengutuk keras aksi-aksi terorisme yang dapat memecah belah persatuan dan kesatuan NKRI, khususnya di  Kalbar. Hal ini disampaikan pada kegiatan konferensi pers, Kamis (3/12).  Rival Agma, Koordinator gerakan ini mengatakan, Indonesia merupakan rumah bersama. Maka sudah semestinya menjaga kerukunan umat beragama, dan menjaga toleransi beragama.

Yohanes Yulius, Akademisi Untan Pontianak hadir dalam kegiatan ini mengatakan sudah menjadi tanggung jawab bersama bagi warga negara menjaga kondusivitas di tengah kemajemukan agar bisa hidup lebih tenang dan damai. “Harapannya gerakan-gerakan yang dapat mengganggu rasa aman dan rasa tenang bagi masyarakat bangsa Indonesia yang berkaitan dengan gerakan radikal, terorisme dan intoleran bisa diredam, diminimalisir untuk dapat menciptakan rasa persaudaraan dan persatuan,” harapnya. Capaian yang ingin direalisasikan bagaimana bangsa dan masyarakat Indonesia bisa mendapatkan kesejahteraan dari dampak kondisi yang kondusif, aman dan tentram.

Baca Juga :  Uskup Agustinus: Simbol Keagamaan Kalimantan Patung Yesus Panglima Burung 

Faisal, Akademisi IKIP PGRI Pontianak menjelaskan bahwa pesan damai ini diharapkan dapat berkontribusi besar bagi Indonesia, khususnya di Kalbar. Sebab, lanjut dia Indonesia dibangun dengan rasa kebersamaan yang kental dan kuat. “Kemajemukan itu diikat dengan kesatuan dan persatuan,” ulasnya.

Filemon Adi Sukardi dari PGI Kalbar mengatakan keradikalan mengorbankan banyak orang yang tidak bersalah. Maka diperlukan sikap memaafkan namun tetap tegas untuk diatasi untuk kedamaian hidup bermasyarakat dan beragama. “Sebagai warga, kita ingin Kalbar rukun dan aman. Damai dan selanjutnya damai kehidupan kita sungguh berbahagia,” ulasnya.

Jarkasih, akademisi IAIN Pontianak menjelaskan bahwa radikalisme muncul dari sikap yang menginginkan perubahan cepat dengan cara yang tidak benar. Kemudian mencari alasan kuat untuk menjadi pembenaran, salah satunya agama. Padahal agama mana pun kata dia, mengajarkan untuk hidup rukun dan damai. “Radikal itu bisa ideologinya bisa juga gaya hidupnya,” tambah dia.

Baca Juga :  Golkar Kalbar Plt-kan Enam Pimpinan Tingkat DPD II

Banyak faktor penyebabnya, satu di antaranya karena rasa ketidakpuasan. ” Radikal itu membuat orang merasa dirinya paling benar. Sehingga yang lain salah. Yang timbul rasa sombong. Di luar dirinya seolah menjadi ancaman. Muncul rasa curiga dan keberadaan orang lain menjadi terancam,” paparnya. Akibatnya, lanjut dia memunculkan intoleransi, dan gerakan terorisme. Maka dibutuhkan komitmen bersama untuk menjaga keutuhan negara ini. Adi Aprianto, mengatakan para pemuda harus menjadi pelopor perdamaian. Bagaimana keragaman yang dimiliki Indonesia menjadi kekayaan yang mesti dipelihara dengan kerukunan dan ketenangan. (mrd)

Most Read

Artikel Terbaru

/