alexametrics
31 C
Pontianak
Sunday, June 26, 2022

Ali Nasrun, Tokoh Muhammadiyah dan Untan Tutup Usia

PONTIANAK – Universitas Tanjungpura dan Kalimantan Barat secara umum kembali kehilangan putra terbaiknya, yaitu Ali Nasrun.

Dosen di Fakultas Ekonomi dan Bisnis ini tutup usia, Jumat (5/2) pagi di RSUD dr Soedarso dan dimakamkan di komplek pemakaman Jl Abdurrahman Saleh, berdampingan dengan makam kedua orangtuanya.

Almarhum wafat pada usia 64 tahun setelah berjuang keras melawan kanker ganas yang menyerang tenggorokannya. Sosok ramah yang dikenal aktif di sejumlah organisasi sosial dan kemasyarakatan ini meninggalkan banyak kenangan dari orang-orang yang mengenalnya.

Prof Dr Eddy Suratman sesama kolega di FEB Untan bercerita banyak tentang sosok beliau. Almarhum di kampus dikenal teguh memegang prinsipnya. Namun dia juga dikenal sebagai orang yang mampu menempatkan diri, kendati dosen senior ini sangat dihormati sebagai oleh semua civitas kampus.

“Waktu saya mahasiswa ekonomi Untan, beliau adalah kaprodi saya. Beliau juga yang menjadi dosen pembimbing skripsi saya. Puluhan tahun kemudian, beliau malah menjadi mahasiswa saya di S-3 Ekonomi Untan. Dan kebalikannya saya juga yang menjadi pembimbing disertasinya. Tetapi beliau sama sekali tidak sungkan dan aktif sekali di kelas,” ucapnya. “Ini teladan bagi dosen muda. Karena beliau itu tahun depan sudah pensiun. Jadi program doktornya itu bukan untuk mengejar karir, tetapi ilmu,” ujarnya,” sambungnya.

Baca Juga :  Dorong Percepatan Pembangunan

Ali Nasrun juga populer sebagai orang yang konsisten dan komitmen dalam kedisiplinan. Sejak masih menjadi dosen muda, dia selalu tepat waktu dan tidak ada kompromi soal ini. Dia akan datang paling awal di kelas. Bila ada mahasiswa yang datang terlambat, maka tidak boleh masuk kelas. Namun sebaliknya dia juga menjadi dosen pertama yang mengeluarkan nilai untuk mahasiswa.

Di FEB, Ali Nasrun pernah menjabat sebagai dekan. Ketika Eddy menjadi dekan, kendati mereka berdua terkenal berhubungan dekat, namun Ali mulai menjaga jarak dengan juniornya ini. “Selama saya menjadi dekan, tidak pernah beliau memberi saran atau mengkritik program saya. Beliau juga menjaga jarak. Saya menjadi heran. Baru setelah saya berhenti menjadi dekan, beliau bilang kalau dia tidak ingin apa yang saya jalankan terganggu. Karena setiap dekan punya gaya dan kebijakannya masing-masing,” katanya.

Baca Juga :  Bang Doel; NU Mengimplementasikan Islam Rahmatan Lil Alamin

Soal penyakitnya, Eddy sendiri kaget dengan kanker yang diderita almarhum. Pasalnya Ali Nasrun dikenal sebagai orang yang selalu sehat dan bugar. “Beliau ini dari lahir tidak pernah masuk rumah sakit, kecuali untuk mengantar orang berobat. Namun dua pekan lalu, beliau bercerita ada keluhan di tenggorokannya, tetapi belum tahu apa. Ternyata ada kanker dan ini pertama dan terakhir kalinya beliau menjadi pasien,” paparnya.

Eddy juga kagum dengan semangat Ali Nasrun dalam memajukan pendidikan di Kalimantan Barat. Almarhum adalah senior di organisasi Muhammadiyah. Dia juga adalah salah seorang pendiri Universitas Muhammadiyah Pontianak dan masih aktif sebagai pengurus harian di kampus itu. Aktivitas sosial lainnya juga begitu banyak, tanpa mengabaikan tugasnya sebagai dosen di kampus.

Menurut Eddy, tidak hanya FEB dan Untan saja yang kehilangan sosok almarhum. Melainkan juga Kalimantan Barat, mengingat kiprah Ali Nasrun yang banyak terlibat dalam kegiatan pendidikan, sosial dan kemasyarakatan di provinsi ini. “Kepergian beliau menjadi kehilangan besar bagi kami. Sungguh teladan bagi kita semua,” pungkasnya. (ars)

PONTIANAK – Universitas Tanjungpura dan Kalimantan Barat secara umum kembali kehilangan putra terbaiknya, yaitu Ali Nasrun.

Dosen di Fakultas Ekonomi dan Bisnis ini tutup usia, Jumat (5/2) pagi di RSUD dr Soedarso dan dimakamkan di komplek pemakaman Jl Abdurrahman Saleh, berdampingan dengan makam kedua orangtuanya.

Almarhum wafat pada usia 64 tahun setelah berjuang keras melawan kanker ganas yang menyerang tenggorokannya. Sosok ramah yang dikenal aktif di sejumlah organisasi sosial dan kemasyarakatan ini meninggalkan banyak kenangan dari orang-orang yang mengenalnya.

Prof Dr Eddy Suratman sesama kolega di FEB Untan bercerita banyak tentang sosok beliau. Almarhum di kampus dikenal teguh memegang prinsipnya. Namun dia juga dikenal sebagai orang yang mampu menempatkan diri, kendati dosen senior ini sangat dihormati sebagai oleh semua civitas kampus.

“Waktu saya mahasiswa ekonomi Untan, beliau adalah kaprodi saya. Beliau juga yang menjadi dosen pembimbing skripsi saya. Puluhan tahun kemudian, beliau malah menjadi mahasiswa saya di S-3 Ekonomi Untan. Dan kebalikannya saya juga yang menjadi pembimbing disertasinya. Tetapi beliau sama sekali tidak sungkan dan aktif sekali di kelas,” ucapnya. “Ini teladan bagi dosen muda. Karena beliau itu tahun depan sudah pensiun. Jadi program doktornya itu bukan untuk mengejar karir, tetapi ilmu,” ujarnya,” sambungnya.

Baca Juga :  Bang Doel; NU Mengimplementasikan Islam Rahmatan Lil Alamin

Ali Nasrun juga populer sebagai orang yang konsisten dan komitmen dalam kedisiplinan. Sejak masih menjadi dosen muda, dia selalu tepat waktu dan tidak ada kompromi soal ini. Dia akan datang paling awal di kelas. Bila ada mahasiswa yang datang terlambat, maka tidak boleh masuk kelas. Namun sebaliknya dia juga menjadi dosen pertama yang mengeluarkan nilai untuk mahasiswa.

Di FEB, Ali Nasrun pernah menjabat sebagai dekan. Ketika Eddy menjadi dekan, kendati mereka berdua terkenal berhubungan dekat, namun Ali mulai menjaga jarak dengan juniornya ini. “Selama saya menjadi dekan, tidak pernah beliau memberi saran atau mengkritik program saya. Beliau juga menjaga jarak. Saya menjadi heran. Baru setelah saya berhenti menjadi dekan, beliau bilang kalau dia tidak ingin apa yang saya jalankan terganggu. Karena setiap dekan punya gaya dan kebijakannya masing-masing,” katanya.

Baca Juga :  Digitalisasikan Karya Tulis Melalui Laman Harta Biak

Soal penyakitnya, Eddy sendiri kaget dengan kanker yang diderita almarhum. Pasalnya Ali Nasrun dikenal sebagai orang yang selalu sehat dan bugar. “Beliau ini dari lahir tidak pernah masuk rumah sakit, kecuali untuk mengantar orang berobat. Namun dua pekan lalu, beliau bercerita ada keluhan di tenggorokannya, tetapi belum tahu apa. Ternyata ada kanker dan ini pertama dan terakhir kalinya beliau menjadi pasien,” paparnya.

Eddy juga kagum dengan semangat Ali Nasrun dalam memajukan pendidikan di Kalimantan Barat. Almarhum adalah senior di organisasi Muhammadiyah. Dia juga adalah salah seorang pendiri Universitas Muhammadiyah Pontianak dan masih aktif sebagai pengurus harian di kampus itu. Aktivitas sosial lainnya juga begitu banyak, tanpa mengabaikan tugasnya sebagai dosen di kampus.

Menurut Eddy, tidak hanya FEB dan Untan saja yang kehilangan sosok almarhum. Melainkan juga Kalimantan Barat, mengingat kiprah Ali Nasrun yang banyak terlibat dalam kegiatan pendidikan, sosial dan kemasyarakatan di provinsi ini. “Kepergian beliau menjadi kehilangan besar bagi kami. Sungguh teladan bagi kita semua,” pungkasnya. (ars)

Most Read

Artikel Terbaru

/