alexametrics
31.7 C
Pontianak
Wednesday, August 10, 2022

Malaysia Lockdown, Pekerja Migran Masuk Lewat Jalur Tikus

Sebanyak enam orang calon Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Kabupaten Sambas diamankan petugas Pamtas Indonesia-Malaysia, saat hendak masuk ke Malaysia secara illegal. Saat ini, keenam calon pekerja migran tersebut ditampung di Shelter Badan Perlindungan Perkerja Migran Indonesia (BP2MI) Pontianak.

Keenam orang calon pekerja migran itu di antaranya, Is, Mi, Jah, Luk, Ba dan He.  Ditemui di tempat penampungan, Is mengaku, dirinya dan kelima rekannya tersebut diajak oleh salah satu temannya yang sudah dulu bekerja di Malaysia. Ia dan rekannya akan dipekerjakan sebagai buruh di perusahaan perkebunan sawit di Sarawak, Malaysia.

Atas ajakan itu, mereka pun menumpang mobil dari kampung halamannya di Teluk Keramat, Kabupaten Sambas menuju Entikong, Kabupaten Sanggau. Setelah tiba di Balai Karangan, mereka akan dijemput oleh seseorang utusan dari perusahaan perkebunan sawit yang akan mempekerjakannya.

“Setelah sampai di Balai Karangan, kami akan dijemput. Tapi kami tidak tahu siapa yang menjemput. Tidak kenal,” kata Is.  Saat akan melintasi pos pemeriksaan TNI, keenam calon pekerja illegal ini dihadang dan diamankan oleh TNI karena tidak memiliki dokumen.   “Kami ditangkap dan dibawa kemari,” lanjutnya. Saat ini, keenam calon pekerja migran ini hanya bisa pasrah, merenungi nasibnya. Tujuan bekerja di Malaysia pun kandas.

Baca Juga :  Tanjung, Peserta KDI Asal Pontianak Bawakan Lagu Jawa di Panggung Eliminasi

Sementara itu, Kepala Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) Pontianak, Kombes Pol Erwin Rachmat mengatakan, kasus serupa sudah terjadi beberapa kali di Kalimantan Barat.  “Mereka diajak oleh temannya yang sudah bekerja disana. Dalam hal ini, orang tersebut diminta oleh perusahaan untuk merektrut karyawan baru dan masuk kembali secara illegal,” kata Erwin.

Menurutnya, pengiriman tenaga kerja secara illegal masih berpotensi. Meskipun Malaysia tengah lockdown, namun di sisi lain ada masyatakat yang ingin masuk ke Malaysia kerja secara illegal. “Potensinya masih ada. Sejak Januari 2021 hingga sekarang saja sudah ada tiga kasus. Dengan jumlah 20 orang,” kata Erwin.

Menurutnya, belum lama ini, BP2MI dan sejumlah instansi melakukan partroli gabungan menyisir jalur tikus yang berpotensi sebagai jalur keluar masuk PMI Ilegal.  “Saya menyaksikan sendiri, jalur tikus perbatasan hanya dibatasi oleh pagar dan bisa diterobos siapa saja. Jaraknya hanya sekitar 2 kilometer,” paparnya.

Baca Juga :  Pekerja Migran Dipulangkan Pakai Kapal Laut

Sebelumnya, BP2MI Pontianak juga menerima penyerahan sebanyak enam calon pekerja migran Indonesia asal Nusa Tenggara Barat (NTB) yang akan masuk ke Malaysia secara illegal.  Mereka adalah Sul, A, Gu, Sa, Mar dan An.  Mereka berangkat dari kampung halamannya sejak 26 Desember 2020. Mereka ditampung Pontianak selama sepekan oleh agen yang menjanjikan pekerjaan.

Setelah selama satu minggu berada di Pontianak, mereka lalu dipindahkan ke rumah penampungan di Balai Karangan, Kabupaten Sanggau. Di penampungan yang tidak jauh dari perbatasan negara itu, mereka tanpa kerja selama tiga pekan. Mereka juga menceritakan, sesampainya di Malaysia dijanjikan bekerja sebagai pemanen sawi dengan upah RM 50 (Ringgit Malaysia) per ton dan pemotong daun. Satu batang (dahan) sawit, dijanjikan upah RM1, 20 sen.

Untuk itu, mereka harus berutang sebesar Rp7 juta kepada agen.  “Kami sudah berkoordinasi dengan BP2MI di NTB. Untuk melakukan upaya paksa atau penegakan hukum terhadap orang atau calo yang menerima uang dari calon tenaga kerja itu,” pungkas Erwin. (arf)

Sebanyak enam orang calon Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Kabupaten Sambas diamankan petugas Pamtas Indonesia-Malaysia, saat hendak masuk ke Malaysia secara illegal. Saat ini, keenam calon pekerja migran tersebut ditampung di Shelter Badan Perlindungan Perkerja Migran Indonesia (BP2MI) Pontianak.

Keenam orang calon pekerja migran itu di antaranya, Is, Mi, Jah, Luk, Ba dan He.  Ditemui di tempat penampungan, Is mengaku, dirinya dan kelima rekannya tersebut diajak oleh salah satu temannya yang sudah dulu bekerja di Malaysia. Ia dan rekannya akan dipekerjakan sebagai buruh di perusahaan perkebunan sawit di Sarawak, Malaysia.

Atas ajakan itu, mereka pun menumpang mobil dari kampung halamannya di Teluk Keramat, Kabupaten Sambas menuju Entikong, Kabupaten Sanggau. Setelah tiba di Balai Karangan, mereka akan dijemput oleh seseorang utusan dari perusahaan perkebunan sawit yang akan mempekerjakannya.

“Setelah sampai di Balai Karangan, kami akan dijemput. Tapi kami tidak tahu siapa yang menjemput. Tidak kenal,” kata Is.  Saat akan melintasi pos pemeriksaan TNI, keenam calon pekerja illegal ini dihadang dan diamankan oleh TNI karena tidak memiliki dokumen.   “Kami ditangkap dan dibawa kemari,” lanjutnya. Saat ini, keenam calon pekerja migran ini hanya bisa pasrah, merenungi nasibnya. Tujuan bekerja di Malaysia pun kandas.

Baca Juga :  Penuhi Kebutuhan Remitansi Pekerja Migran, BRI Andalkan BRIFast Remittance

Sementara itu, Kepala Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) Pontianak, Kombes Pol Erwin Rachmat mengatakan, kasus serupa sudah terjadi beberapa kali di Kalimantan Barat.  “Mereka diajak oleh temannya yang sudah bekerja disana. Dalam hal ini, orang tersebut diminta oleh perusahaan untuk merektrut karyawan baru dan masuk kembali secara illegal,” kata Erwin.

Menurutnya, pengiriman tenaga kerja secara illegal masih berpotensi. Meskipun Malaysia tengah lockdown, namun di sisi lain ada masyatakat yang ingin masuk ke Malaysia kerja secara illegal. “Potensinya masih ada. Sejak Januari 2021 hingga sekarang saja sudah ada tiga kasus. Dengan jumlah 20 orang,” kata Erwin.

Menurutnya, belum lama ini, BP2MI dan sejumlah instansi melakukan partroli gabungan menyisir jalur tikus yang berpotensi sebagai jalur keluar masuk PMI Ilegal.  “Saya menyaksikan sendiri, jalur tikus perbatasan hanya dibatasi oleh pagar dan bisa diterobos siapa saja. Jaraknya hanya sekitar 2 kilometer,” paparnya.

Baca Juga :  Mad Nawir Terkejut Saat Reses; Banyak Warga Putus BPJS Kesehatan

Sebelumnya, BP2MI Pontianak juga menerima penyerahan sebanyak enam calon pekerja migran Indonesia asal Nusa Tenggara Barat (NTB) yang akan masuk ke Malaysia secara illegal.  Mereka adalah Sul, A, Gu, Sa, Mar dan An.  Mereka berangkat dari kampung halamannya sejak 26 Desember 2020. Mereka ditampung Pontianak selama sepekan oleh agen yang menjanjikan pekerjaan.

Setelah selama satu minggu berada di Pontianak, mereka lalu dipindahkan ke rumah penampungan di Balai Karangan, Kabupaten Sanggau. Di penampungan yang tidak jauh dari perbatasan negara itu, mereka tanpa kerja selama tiga pekan. Mereka juga menceritakan, sesampainya di Malaysia dijanjikan bekerja sebagai pemanen sawi dengan upah RM 50 (Ringgit Malaysia) per ton dan pemotong daun. Satu batang (dahan) sawit, dijanjikan upah RM1, 20 sen.

Untuk itu, mereka harus berutang sebesar Rp7 juta kepada agen.  “Kami sudah berkoordinasi dengan BP2MI di NTB. Untuk melakukan upaya paksa atau penegakan hukum terhadap orang atau calo yang menerima uang dari calon tenaga kerja itu,” pungkas Erwin. (arf)

Most Read

Artikel Terbaru

/