alexametrics
31 C
Pontianak
Tuesday, June 28, 2022

Memanfaatkan Lahan Sempit untuk Ditanami Cabai, Kini Tindakan Coba-coba Itu Bercuan Pedas

Ide bertani dengan memanfaatkan lahan sempit awalnya dilakukan Dede coba-coba. Siapa sangka, tanaman cabe nya berbuah banyak. Kini selain dapat memenuhi kebutuhan cabe di dapur, hasil tanaman cabenya juga dijual. Pemanfaatan lahan sempit ini sekarang juga menular pada ibu-ibu tempat ia tinggal

MIRZA AHMAD MUIN, Pontianak

LAHAN sempit di samping rumah milik Dede, di Komplek Zaudati Residence I, Kecamatan Pontianak Timur disulap sebagai tempat ia bertani. Cabe mulai ditanam sejak Oktober tahun lalu. Alasan ia menanam cabai simpel. Agar tidak lagi membeli cabai di warung.

Dari coba-coba dan  memanfaatkan sisa lahan pekarangan, kini Dede dapat memenuhi kebutuhan cabai di dapur, bahkan berlebih dan dapat ia jual. Melihat hasil positif itu, iapun mengajak ibu-ibu setempat untuk ikut jejaknya. Yaitu memanfaatkan lahan sempit dengan menanam tanaman produktif.

“Respon ibu-ibu komplek melihat hasil panen tanaman cabai yang saya tanam di lahan sempit positif. Sekarang sembilan orang ibu-ibu komplek ikut serta memanfaatkan lahan sempit untuk ditanami cabai,” ujar Ketua Pesona Kalbar Hijau (PKH), Dede kepada Pontianak Post, Selasa (5/1).

Baca Juga :  Ketuk Palu RPJMD di Tengah Pagebluk Covid-19

Dede melanjutkan, karena lahan sempit. Media tanam cabai yang dipilih menggunakan polybag. Semula tidak sebanyak ini. Tak sampai sepuluh polybag. Sekarang, jumlahnya sudah  mencapai 50 an polybag. Tanaman ini kini dikelola oleh ibu-ibu setempat. Hasil panen pun dijual.

Menurut Dede, lahan sempit jika dimaksimalkan untuk lahan pertanian dapat menghasilkan uang. Seperti hasil panen cabai ini, mulai tanam Oktober hingga sekarang, total menghasilkan Rp900 ribu hanya dari jualan cabai.

Telah berdampak positif bagi masyarakat, kini niat melakukan penanaman produktif pun mulai menjalar ke semua  masyarakat komplek tempat ia tinggal. Ia berencana membentuk kelompok tani Kota Pontianak dengan memanfaatkan lahan sempit.

Sekitar Rp900 ribu hasil jual cabai yang dikelola ibu-ibu ini, lanjut dia, akan digunakan buat menambah pembelian bibit dan polybag. Targetnya hingga seribu bibit. Lokasi tanam akan dimanfaatkan di semua lahan warga komplek.

Baca Juga :  95 Persen Ruang Terbuka Tertanam Pohon Pada 2022

Pemeliharaan cabai nanti akan dilakukan masing-masing warga. Untuk hasil panen cabai akan diambil PKH namun ada hitungan untung buat masyarakat yang telah memelihara dan menjaga cabai tersebut hingga panen.

Jika sesuai rencana. Iapun menarget  membuat satu produk turunan cabai. “Bisa saja sambal cabai, atau lainnya dengan produk berbahan dasar cabai. Pengelolannya nanti oleh ibu-ibu komplek,” ujar Dede.

Pemasaran cabai dirasa dia juga tidak susah. Ketika cabai dipanen, langsung dibeli masyarakat. Harganya dimulai dari Rp5.000 dengan kemasan percup.

Selain komoditi cabai. Rencana ke depan akan menanam tanaman produktif lainnya. Seperti jahe dan seledri. Konsepnya sama, memanfaatkan lahan sempit.(*)

Ide bertani dengan memanfaatkan lahan sempit awalnya dilakukan Dede coba-coba. Siapa sangka, tanaman cabe nya berbuah banyak. Kini selain dapat memenuhi kebutuhan cabe di dapur, hasil tanaman cabenya juga dijual. Pemanfaatan lahan sempit ini sekarang juga menular pada ibu-ibu tempat ia tinggal

MIRZA AHMAD MUIN, Pontianak

LAHAN sempit di samping rumah milik Dede, di Komplek Zaudati Residence I, Kecamatan Pontianak Timur disulap sebagai tempat ia bertani. Cabe mulai ditanam sejak Oktober tahun lalu. Alasan ia menanam cabai simpel. Agar tidak lagi membeli cabai di warung.

Dari coba-coba dan  memanfaatkan sisa lahan pekarangan, kini Dede dapat memenuhi kebutuhan cabai di dapur, bahkan berlebih dan dapat ia jual. Melihat hasil positif itu, iapun mengajak ibu-ibu setempat untuk ikut jejaknya. Yaitu memanfaatkan lahan sempit dengan menanam tanaman produktif.

“Respon ibu-ibu komplek melihat hasil panen tanaman cabai yang saya tanam di lahan sempit positif. Sekarang sembilan orang ibu-ibu komplek ikut serta memanfaatkan lahan sempit untuk ditanami cabai,” ujar Ketua Pesona Kalbar Hijau (PKH), Dede kepada Pontianak Post, Selasa (5/1).

Baca Juga :  Dorong Lahir Karya Inovatif, Ajak Warga Bikin Karya Ilmiah

Dede melanjutkan, karena lahan sempit. Media tanam cabai yang dipilih menggunakan polybag. Semula tidak sebanyak ini. Tak sampai sepuluh polybag. Sekarang, jumlahnya sudah  mencapai 50 an polybag. Tanaman ini kini dikelola oleh ibu-ibu setempat. Hasil panen pun dijual.

Menurut Dede, lahan sempit jika dimaksimalkan untuk lahan pertanian dapat menghasilkan uang. Seperti hasil panen cabai ini, mulai tanam Oktober hingga sekarang, total menghasilkan Rp900 ribu hanya dari jualan cabai.

Telah berdampak positif bagi masyarakat, kini niat melakukan penanaman produktif pun mulai menjalar ke semua  masyarakat komplek tempat ia tinggal. Ia berencana membentuk kelompok tani Kota Pontianak dengan memanfaatkan lahan sempit.

Sekitar Rp900 ribu hasil jual cabai yang dikelola ibu-ibu ini, lanjut dia, akan digunakan buat menambah pembelian bibit dan polybag. Targetnya hingga seribu bibit. Lokasi tanam akan dimanfaatkan di semua lahan warga komplek.

Baca Juga :  Salat Id Mujahidin Ditiadakan

Pemeliharaan cabai nanti akan dilakukan masing-masing warga. Untuk hasil panen cabai akan diambil PKH namun ada hitungan untung buat masyarakat yang telah memelihara dan menjaga cabai tersebut hingga panen.

Jika sesuai rencana. Iapun menarget  membuat satu produk turunan cabai. “Bisa saja sambal cabai, atau lainnya dengan produk berbahan dasar cabai. Pengelolannya nanti oleh ibu-ibu komplek,” ujar Dede.

Pemasaran cabai dirasa dia juga tidak susah. Ketika cabai dipanen, langsung dibeli masyarakat. Harganya dimulai dari Rp5.000 dengan kemasan percup.

Selain komoditi cabai. Rencana ke depan akan menanam tanaman produktif lainnya. Seperti jahe dan seledri. Konsepnya sama, memanfaatkan lahan sempit.(*)

Most Read

Artikel Terbaru

/