alexametrics
26 C
Pontianak
Saturday, June 25, 2022

Refleksi Perayaan Waisak di Tengah Pandemi

Memetik Hikmah Pandemi Covid-19

PONTIANAK – Tahun ini sungguh menjadi tahun yang berbeda dalam momen Hari Tri Suci Waisak 2564 BE, yang jatuh pada Kamis 7 Mei 2020, besok.  Tidak ada ritual ibadah yang digelar secara bersama-sama oleh Umat Buddha seperti tahun-tahun yang sudah lewat. Tahun ini, mereka diimbau untuk beribadah di rumah masing-masing.

Namun begitu, hal ini tidak semestinya mengurangi makna momen suci bagi Umat Buddha tersebut. Ketua DPD Perwakilan Umat Buddha Indonesia (Walubi) Kalimantan Barat, Pandita Rolink Kurniadi Darmara mengatakan, di situasi yang tidak kondusif seperti saat ini, makna perayaan Hari Tri Suci Waisak tahun ini bagi Umat Buddha tetap sama, yaitu memperingati tiga peristiwa suci dalam kehidupan Buddha Sidharta Gautama, yakni kelahiran, mencapai penerangan agung sempurna, dan parinibhanna/moskya.

“Terkait situasi pandemi covid-19 ini, kami terus mengaungkan agar Umat Buddha jangan kehilangan asa dan harus tetap optimis menatap hidup ke depan. Sebab dalam ajaran Buddha sendiri, salah satunya  yang mengatakan, di balik bencana besar terdapat kebaikan besar. Oleh karenanya, kami Umat Buddha percaya bahwa dengan pandemi ini akan ada perubahan dalam kehidupan manusia dan makhluk hidup di bumi ini,” jelas dia, Selasa (5/5).

Memang ada perbedaan yang sangat jauh dengan perayaan yang rutin digelar setiap tahunnya. Perbedaannya, menurut dia, adalah ditiadakannya tradisi melaksanakan rangkaian kegiatan menyambut Hari Tri Suci Waisak, seperti kegiatan ibadah atau ritual yang merupakan acara pokok dari perayaan hari suci tersebut yang biasanya dilaksanakan secara bersama-sama, baik itu di Vihara, Kuil, Cetya, dan lain sebagainya. Adapun prosesi ibadah di rumah ibadah, seperti melaksanakan ritual atau Puja Bakti tetap digelar namun hanya dilakukan oleh Sangha atau Pandita yang merupakan pimpinan dari tempat ibadah tersebut, tanpa dihadiri oleh Umat Buddha.

Baca Juga :  Evaluasi Penanganan Covid-19, Lindungi Keselamatan Masyarakat

“Ibadah atau ritual tetap dilaksanakan oleh umat di rumah masing-masing. Hal ini sesuai dengan arahan dari Pemerintah dalam hal ini Dirjen Bimas Buddha Kementerian Agama RI,” kata dia.

Sebagai gantinya, lanjut dia, untuk kepentingan rapat, ceramah, hingga ritual dalam rangka memperingati hari tersebut, pihaknya memanfaatkan fasilitas virtual berupa streaming secara daring, termasuk ritual atau puja bakti pada hari Tri Suci Waisak yang akan disiarkan langsung dari pusat dan Ummat Buddha dapat mengikutinya di rumah.

Kondisi seperti ini terjadi karena adanya pandemi covid-19 yang melanda dunia, termasuk di Kalimantan Barat. Dia menilai, pandemi covid-19 sudah dirasakan dampaknya secara ekonomi, serta di banyak sektor lainnya. Namun bagaimanapun, tutur dia, sebagai umat manusia harus menerima dan menghadapi ujian yang diberikan tersebut. Barangkali ada hikmah dibalik bencana pandemi ini, misalnya hadir peradaban baru dalam kehidupan manusia yang lebih humanis yang ditandai dengan menguatkan rasa persaudaraan tanpa melihat latar belakang perbedaan suku, agama, ras, dan golongan. Kondisi ini juga akan menguatkan sifat gotong-royong, saling tolong-menolong, kepedulian yang tinggi, dan keadaan baik lainnya.

“Saya berharap serta mengajak umat Buddha di Kalimantan Barat dalam momen perayaan Hari Tri Suci Waisak 2564 BE / Tahun 2020 ini agar dengan tulus dan sungguh-sungguh berdoa agar pandemi covid-19 ini dapat segera teratasi, serta harus berikhtiar mematuhi dan mentaati setiap protokol kesehatan yang ditetapkan oleh pemerintah dalam upaya menanggulangi pandemi ini,” pungkas dia.

Baca Juga :  Program Ketahanan Pangan di Tengah Pandemi

Ketua Persatuan Umat Buddha Indonesia (Permabudhi) Kalimantan Barat, Pdt. Dr. Ali Fuchih Siauw, mengatakan, Perayaan Waisak tahun ini diperingati di rumah masing-masing dengan cara mendengarkan Khotbah/Pesan Waisak Nasional pada tanggal 7 Mei 2020 Jam 17.00 yang disampaikan secara daring melalui kanal yang sudah tersedia, baik facebook, instagram, dan lain sebagianya. Kemudian, dilanjutkan ibadah atau puja bakti Waisak dan meditasi perenungan Tri Suci Waisak yang juga digelar di rumah masing-masing. “Komunikasi antar umat dilakukan dengan menggunakan sosmed dan videocall,” kata dia.

Menurut dia, perbedaan di tahun ini sangat kental terasa. Selain ritual ibadah, momen ini, lanjut dia, biasanya diisi dengan saling bertandang ke rumah sanak keluarga dan teman, untuk mengucapkan selamat Waisak. Namun hal ini tidak dapat dilakukan karena terkendala kondisi. Dia berharap, Umat Buddha menyadari kondisi pandemi covid-19, yang dituntut untuk menjaga kesehatan secara mandiri dan turut membantu pemutusan rantai penyebaran wabah tersebut. Caranya, kata dia, dengan menggunakan masker saat bepergian, selalu ingat untuk mencuci tangan, menjaga jarak, menjaga kesehatan tubuh, serta tidak lupa untuk berdoa dengan membacakan ayat-ayat suci agar virus sebagai salah satu mahluk hidup dapat mereda dan wabah pandemi segera berakhir.

“Harapan dalam perayaan Waisak tahun ini adalah tumbuhnya kepedulian terhadap sesama dan semua mahluk baik yang tampak maupun yang tidak tampak. Saling menjadi diri, tidak menyakiti orang lain, membantu kepada yang perlu dibantu, mendoakan agar masyarakat Bangsa Indonesia selalu memiliki toleransi, mencapai kesejahteraan jasmani dan rohani, dan selalu memperoleh kebahagiaan bersama dalam NKRI,” tutup dia. (sti)

Memetik Hikmah Pandemi Covid-19

PONTIANAK – Tahun ini sungguh menjadi tahun yang berbeda dalam momen Hari Tri Suci Waisak 2564 BE, yang jatuh pada Kamis 7 Mei 2020, besok.  Tidak ada ritual ibadah yang digelar secara bersama-sama oleh Umat Buddha seperti tahun-tahun yang sudah lewat. Tahun ini, mereka diimbau untuk beribadah di rumah masing-masing.

Namun begitu, hal ini tidak semestinya mengurangi makna momen suci bagi Umat Buddha tersebut. Ketua DPD Perwakilan Umat Buddha Indonesia (Walubi) Kalimantan Barat, Pandita Rolink Kurniadi Darmara mengatakan, di situasi yang tidak kondusif seperti saat ini, makna perayaan Hari Tri Suci Waisak tahun ini bagi Umat Buddha tetap sama, yaitu memperingati tiga peristiwa suci dalam kehidupan Buddha Sidharta Gautama, yakni kelahiran, mencapai penerangan agung sempurna, dan parinibhanna/moskya.

“Terkait situasi pandemi covid-19 ini, kami terus mengaungkan agar Umat Buddha jangan kehilangan asa dan harus tetap optimis menatap hidup ke depan. Sebab dalam ajaran Buddha sendiri, salah satunya  yang mengatakan, di balik bencana besar terdapat kebaikan besar. Oleh karenanya, kami Umat Buddha percaya bahwa dengan pandemi ini akan ada perubahan dalam kehidupan manusia dan makhluk hidup di bumi ini,” jelas dia, Selasa (5/5).

Memang ada perbedaan yang sangat jauh dengan perayaan yang rutin digelar setiap tahunnya. Perbedaannya, menurut dia, adalah ditiadakannya tradisi melaksanakan rangkaian kegiatan menyambut Hari Tri Suci Waisak, seperti kegiatan ibadah atau ritual yang merupakan acara pokok dari perayaan hari suci tersebut yang biasanya dilaksanakan secara bersama-sama, baik itu di Vihara, Kuil, Cetya, dan lain sebagainya. Adapun prosesi ibadah di rumah ibadah, seperti melaksanakan ritual atau Puja Bakti tetap digelar namun hanya dilakukan oleh Sangha atau Pandita yang merupakan pimpinan dari tempat ibadah tersebut, tanpa dihadiri oleh Umat Buddha.

Baca Juga :  Menko Airlangga: Indonesia Punya Modal Kuat Hadapi The Perfect Storm

“Ibadah atau ritual tetap dilaksanakan oleh umat di rumah masing-masing. Hal ini sesuai dengan arahan dari Pemerintah dalam hal ini Dirjen Bimas Buddha Kementerian Agama RI,” kata dia.

Sebagai gantinya, lanjut dia, untuk kepentingan rapat, ceramah, hingga ritual dalam rangka memperingati hari tersebut, pihaknya memanfaatkan fasilitas virtual berupa streaming secara daring, termasuk ritual atau puja bakti pada hari Tri Suci Waisak yang akan disiarkan langsung dari pusat dan Ummat Buddha dapat mengikutinya di rumah.

Kondisi seperti ini terjadi karena adanya pandemi covid-19 yang melanda dunia, termasuk di Kalimantan Barat. Dia menilai, pandemi covid-19 sudah dirasakan dampaknya secara ekonomi, serta di banyak sektor lainnya. Namun bagaimanapun, tutur dia, sebagai umat manusia harus menerima dan menghadapi ujian yang diberikan tersebut. Barangkali ada hikmah dibalik bencana pandemi ini, misalnya hadir peradaban baru dalam kehidupan manusia yang lebih humanis yang ditandai dengan menguatkan rasa persaudaraan tanpa melihat latar belakang perbedaan suku, agama, ras, dan golongan. Kondisi ini juga akan menguatkan sifat gotong-royong, saling tolong-menolong, kepedulian yang tinggi, dan keadaan baik lainnya.

“Saya berharap serta mengajak umat Buddha di Kalimantan Barat dalam momen perayaan Hari Tri Suci Waisak 2564 BE / Tahun 2020 ini agar dengan tulus dan sungguh-sungguh berdoa agar pandemi covid-19 ini dapat segera teratasi, serta harus berikhtiar mematuhi dan mentaati setiap protokol kesehatan yang ditetapkan oleh pemerintah dalam upaya menanggulangi pandemi ini,” pungkas dia.

Baca Juga :  Nol Pengaduan Eksploitasi Pekerja Perempuan di Perkebunan Sawit

Ketua Persatuan Umat Buddha Indonesia (Permabudhi) Kalimantan Barat, Pdt. Dr. Ali Fuchih Siauw, mengatakan, Perayaan Waisak tahun ini diperingati di rumah masing-masing dengan cara mendengarkan Khotbah/Pesan Waisak Nasional pada tanggal 7 Mei 2020 Jam 17.00 yang disampaikan secara daring melalui kanal yang sudah tersedia, baik facebook, instagram, dan lain sebagianya. Kemudian, dilanjutkan ibadah atau puja bakti Waisak dan meditasi perenungan Tri Suci Waisak yang juga digelar di rumah masing-masing. “Komunikasi antar umat dilakukan dengan menggunakan sosmed dan videocall,” kata dia.

Menurut dia, perbedaan di tahun ini sangat kental terasa. Selain ritual ibadah, momen ini, lanjut dia, biasanya diisi dengan saling bertandang ke rumah sanak keluarga dan teman, untuk mengucapkan selamat Waisak. Namun hal ini tidak dapat dilakukan karena terkendala kondisi. Dia berharap, Umat Buddha menyadari kondisi pandemi covid-19, yang dituntut untuk menjaga kesehatan secara mandiri dan turut membantu pemutusan rantai penyebaran wabah tersebut. Caranya, kata dia, dengan menggunakan masker saat bepergian, selalu ingat untuk mencuci tangan, menjaga jarak, menjaga kesehatan tubuh, serta tidak lupa untuk berdoa dengan membacakan ayat-ayat suci agar virus sebagai salah satu mahluk hidup dapat mereda dan wabah pandemi segera berakhir.

“Harapan dalam perayaan Waisak tahun ini adalah tumbuhnya kepedulian terhadap sesama dan semua mahluk baik yang tampak maupun yang tidak tampak. Saling menjadi diri, tidak menyakiti orang lain, membantu kepada yang perlu dibantu, mendoakan agar masyarakat Bangsa Indonesia selalu memiliki toleransi, mencapai kesejahteraan jasmani dan rohani, dan selalu memperoleh kebahagiaan bersama dalam NKRI,” tutup dia. (sti)

Most Read

Artikel Terbaru

/