alexametrics
33.7 C
Pontianak
Wednesday, May 25, 2022

Pelaku Penyerangan Masjid Ahmadiyah Ditangkap

PONTIANAK – Kepolisian Daerah Kalimantan Barat melakukan penangkapan terhadap sepuluh orang yang diduga sebagai pelaku perusakan masjid jemaat Ahmadiyah di Kabupaten Sintang, Minggu (5/9).

“Sementara ini ada sepuluh orang yang sudah ditangkap,” ujar Kabid Humas Polda Kalbar Kombes Pol Donny Charles Go saat dihubungi Pontianak Post, kemarin.

Dikatakan Donny, kesepuluh orang tersebut ditangkap tanpa perlawanan. Sebagian di antaranya menyerahkan diri. “Mereka ada yang dijemput di rumahnya, ada juga yang menyerahkan diri. Intinya tanpa ada perlawanan,” kata Donny.

Saat ini, polisi masih melakukan pendalaman masing-masing peran dari pelaku tersebut.  Menurut Donny, pihaknya masih memiliki waktu 1×24 jam untuk menetapkan status mereka.  “Sekarang masih dilakukan pemeriksaan intensif. Masih ada waktu 1×24 jam untuk menetapkan statusnya. Jika terbukti, maka akan ditetapkan sebagai tersangka,” bebernya.

Diberitakan sebelumnya, ratusan orang merusak Masjid Ahmadiyah di Tempunak, Kabupaten Sintang. Situasi bisa diredam usai ratusan personel kepolisian turun tangan. Selain merusak masjid, massa juga membakar sebuah bangunan di samping masjid.

“Yang sempat terbakar adalah gudang material di samping masjid. Untuk masjid ada bagian yang rusak karena lemparan batu,” katanya.

Donny mengatakan aksi tersebut diduga dipicu warga yang kecewa karena Pemkab Sintang hanya menghentikan operasional masjid. Padahal, kata Donny, mereka menuntut agar masjid itu dibongkar.

“Mereka kecewa karena Pemkab Sintang hanya menghentikan operasional di tempat ibadah. Sedangkan massa menuntut agar tempat ibadah dibongkar,” tuturnya.

Sebelumnya, Ketua Indonesia Police Watch (IPW), Sugeng Teguh Santoso menilai Kapolres Sintang AKBP Ventie Bernard Musak gagal memberikan perlindungan dan keamanan pada warga Jemaat Ahmadiyah atas dirusaknya Masjid Miftahul Huda.

Baca Juga :  Pusri Pastikan Stok Pupuk Subsidi Aman

“Sebab, perusakan masjid dan pembakaran itu merupakan akumulasi dari tindakan-tindakan sebelumnya. Semestinya dapat diantisipasi Kapolres Sintang sehingga perusakan itu bisa dihindari serta kamtibmas tetap terpelihara,” katanya.

Kejadian tersebut, menurut Sugeng, telah mencoreng citra Polri sebagai aparat penegak hukum yang siap melindungi, mengayomi dan melayani masyarakat dan menjunjung HAM.

Ia meminta tindakan diskriminasi, persekusi, dan perusakan itu ditindaklanjuti dengan proses hukum. Keamanan dan perlindungan pada Jemaat Ahmadiyah pun hendaknya dapat dijamin.

Sugeng juga membeberkan kronologis pengerusakan dan pembakaran aset jamaat Ahmadiyah tersebut, Pada 3 September 2021, sekelompok orang yang mengatasnamakan diri Aliansi Umat Islam melakukan perusakan dan pembakaran masjid milik Jemaat Ahmadiyah di Balaigana Sintang, Kalimantan Barat.

Sekitar 100 orang lebih dari kelompok intoleran itu melakukan tindakan keji merusak dan melempari dengan botol plastik yang diisi bensin ke areal masjid. Tindakan kekerasan oleh kelompok intoleran itu, dipicu oleh sikap Pemkab Sintang yang pada tanggal 14 Agustus menyegel masjid Ahmadyah Sintang serta dilanjutkan pada tanggal 27 Agustus menerbitkan surat larangan kegiatan.

Menurutnya, rangkaian tindakan diskriminasi, persekusi, perusakan oleh kelompok intoleran di Sintang ini adalah pelanggaran hukum yang wajib ditindak tanpa pandang bulu dan terhadap warga Jemaat Ahmadyah harus diberikan perlindungan.

Larangan melakukan kekerasan, perusakan pada rumah ibadah warga Jemaat Ahmadyah itu sudah ditegaskan dalam Surat Keputusan Bersama (SKB) Menteri Agama, Jaksa Agung, dan Menteri Dalam Negeri Tahun 2008 tentang Peringatan dan Perintah Kepada Penganut, Anggota, Dan/Atau Anggota Pengurus Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) dan Warga Masyarakat.

Baca Juga :  Akun Facebook Palsu Mengatasnamakan Bupati Sekadau dengan Modus Penipuan

Oleh karena itu, pihaknya meminta Kapolda Kalbar Irjen Sigit Tri Harjanto mengambil alih dan mempertegas sikap untuk melindungi warga Sintang yang menjalankan keyakinan agamanya dan menjaga agar tidak terjadi tindakan kekerasan dan perusakan terhadap rumah ibadah Jemaat Ahmadyah.

Perusakan masjid Ahmadiyah terjadi pada Juma (3/9). Sejumlah orang yang menamai diri Aliansi Umat Islam Sintang menyerang Masjid Miftahul Huda yang dibangun Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) Sintang di Desa Balai Harapan, Kecamatan Tempunak. Massa melempari masjid tersebut hingga rusak berat.  Gudang di sebelah masjid juga dibakar.

Beberapa jam sebelumnya, beredar postingan Facebook terkait ajakan untuk mendatangi masjid tersebut. “Kepada seluruh umat Islam, mari ramaikan acara eksekusi tempat aliran sesat. Saksikan secara langsung lepas Jumat di Desa Balai Gana. Pastikan Anda menjadi salah satu orang yang menolak aliran sesat Ahmadiyah,” tulis pemilik akun tersebut.

Kepala Bidang Hubungan Masyarakat (Kabid Humas) Polda Kalbar, Kombes Pol Donny Charles Go mengatakan, akibat serangan itu bangunan masjid menjadi rusak dan gudang material di sebelah masjid terbakar.

“Yang sempat terbakar adalah gudang material di samping masjid. Untuk masjid ada bagian yang rusak karena lemparan batu,” jelasnya. Ia mengatakan ada sekitar 200 orang yang menggeruduk masjid tersebut. (arf)

PONTIANAK – Kepolisian Daerah Kalimantan Barat melakukan penangkapan terhadap sepuluh orang yang diduga sebagai pelaku perusakan masjid jemaat Ahmadiyah di Kabupaten Sintang, Minggu (5/9).

“Sementara ini ada sepuluh orang yang sudah ditangkap,” ujar Kabid Humas Polda Kalbar Kombes Pol Donny Charles Go saat dihubungi Pontianak Post, kemarin.

Dikatakan Donny, kesepuluh orang tersebut ditangkap tanpa perlawanan. Sebagian di antaranya menyerahkan diri. “Mereka ada yang dijemput di rumahnya, ada juga yang menyerahkan diri. Intinya tanpa ada perlawanan,” kata Donny.

Saat ini, polisi masih melakukan pendalaman masing-masing peran dari pelaku tersebut.  Menurut Donny, pihaknya masih memiliki waktu 1×24 jam untuk menetapkan status mereka.  “Sekarang masih dilakukan pemeriksaan intensif. Masih ada waktu 1×24 jam untuk menetapkan statusnya. Jika terbukti, maka akan ditetapkan sebagai tersangka,” bebernya.

Diberitakan sebelumnya, ratusan orang merusak Masjid Ahmadiyah di Tempunak, Kabupaten Sintang. Situasi bisa diredam usai ratusan personel kepolisian turun tangan. Selain merusak masjid, massa juga membakar sebuah bangunan di samping masjid.

“Yang sempat terbakar adalah gudang material di samping masjid. Untuk masjid ada bagian yang rusak karena lemparan batu,” katanya.

Donny mengatakan aksi tersebut diduga dipicu warga yang kecewa karena Pemkab Sintang hanya menghentikan operasional masjid. Padahal, kata Donny, mereka menuntut agar masjid itu dibongkar.

“Mereka kecewa karena Pemkab Sintang hanya menghentikan operasional di tempat ibadah. Sedangkan massa menuntut agar tempat ibadah dibongkar,” tuturnya.

Sebelumnya, Ketua Indonesia Police Watch (IPW), Sugeng Teguh Santoso menilai Kapolres Sintang AKBP Ventie Bernard Musak gagal memberikan perlindungan dan keamanan pada warga Jemaat Ahmadiyah atas dirusaknya Masjid Miftahul Huda.

Baca Juga :  Pusri Pastikan Stok Pupuk Subsidi Aman

“Sebab, perusakan masjid dan pembakaran itu merupakan akumulasi dari tindakan-tindakan sebelumnya. Semestinya dapat diantisipasi Kapolres Sintang sehingga perusakan itu bisa dihindari serta kamtibmas tetap terpelihara,” katanya.

Kejadian tersebut, menurut Sugeng, telah mencoreng citra Polri sebagai aparat penegak hukum yang siap melindungi, mengayomi dan melayani masyarakat dan menjunjung HAM.

Ia meminta tindakan diskriminasi, persekusi, dan perusakan itu ditindaklanjuti dengan proses hukum. Keamanan dan perlindungan pada Jemaat Ahmadiyah pun hendaknya dapat dijamin.

Sugeng juga membeberkan kronologis pengerusakan dan pembakaran aset jamaat Ahmadiyah tersebut, Pada 3 September 2021, sekelompok orang yang mengatasnamakan diri Aliansi Umat Islam melakukan perusakan dan pembakaran masjid milik Jemaat Ahmadiyah di Balaigana Sintang, Kalimantan Barat.

Sekitar 100 orang lebih dari kelompok intoleran itu melakukan tindakan keji merusak dan melempari dengan botol plastik yang diisi bensin ke areal masjid. Tindakan kekerasan oleh kelompok intoleran itu, dipicu oleh sikap Pemkab Sintang yang pada tanggal 14 Agustus menyegel masjid Ahmadyah Sintang serta dilanjutkan pada tanggal 27 Agustus menerbitkan surat larangan kegiatan.

Menurutnya, rangkaian tindakan diskriminasi, persekusi, perusakan oleh kelompok intoleran di Sintang ini adalah pelanggaran hukum yang wajib ditindak tanpa pandang bulu dan terhadap warga Jemaat Ahmadyah harus diberikan perlindungan.

Larangan melakukan kekerasan, perusakan pada rumah ibadah warga Jemaat Ahmadyah itu sudah ditegaskan dalam Surat Keputusan Bersama (SKB) Menteri Agama, Jaksa Agung, dan Menteri Dalam Negeri Tahun 2008 tentang Peringatan dan Perintah Kepada Penganut, Anggota, Dan/Atau Anggota Pengurus Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) dan Warga Masyarakat.

Baca Juga :  Reses ke Kuala Mandor B, Syarif Doel dan Syarif Amin Dengar Keluhan Masyarakat

Oleh karena itu, pihaknya meminta Kapolda Kalbar Irjen Sigit Tri Harjanto mengambil alih dan mempertegas sikap untuk melindungi warga Sintang yang menjalankan keyakinan agamanya dan menjaga agar tidak terjadi tindakan kekerasan dan perusakan terhadap rumah ibadah Jemaat Ahmadyah.

Perusakan masjid Ahmadiyah terjadi pada Juma (3/9). Sejumlah orang yang menamai diri Aliansi Umat Islam Sintang menyerang Masjid Miftahul Huda yang dibangun Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) Sintang di Desa Balai Harapan, Kecamatan Tempunak. Massa melempari masjid tersebut hingga rusak berat.  Gudang di sebelah masjid juga dibakar.

Beberapa jam sebelumnya, beredar postingan Facebook terkait ajakan untuk mendatangi masjid tersebut. “Kepada seluruh umat Islam, mari ramaikan acara eksekusi tempat aliran sesat. Saksikan secara langsung lepas Jumat di Desa Balai Gana. Pastikan Anda menjadi salah satu orang yang menolak aliran sesat Ahmadiyah,” tulis pemilik akun tersebut.

Kepala Bidang Hubungan Masyarakat (Kabid Humas) Polda Kalbar, Kombes Pol Donny Charles Go mengatakan, akibat serangan itu bangunan masjid menjadi rusak dan gudang material di sebelah masjid terbakar.

“Yang sempat terbakar adalah gudang material di samping masjid. Untuk masjid ada bagian yang rusak karena lemparan batu,” jelasnya. Ia mengatakan ada sekitar 200 orang yang menggeruduk masjid tersebut. (arf)

Most Read

Artikel Terbaru

/