alexametrics
25 C
Pontianak
Tuesday, June 28, 2022

Murah Meriah Sepeda Bekas di Pasar Tengah

Booming sepeda turut berdampak pada meroketnya harga sepeda baru. Namun bagi yang miliki dompet cekak, jangan khawatir. Penjualan sepeda bekas di bilangan Pasar Tengah dapat menjadi solusinya

MIRZA AHMAD MUIN, Pontianak

SELAMA puluhan tahun, lorong Blok Ciujung Utara, kompleks area Pasar Tengah, telah dihuni penjual sepeda bekas. Selama itu pula, turun temurun pedagang sepeda bekas menggantungkan hidup mereka buat keperluan dapurnya.

Salah satu penjual sepeda bekas, hari itu terlihat sibuk merestorasi sepeda yang rusak. Jika telah selesai diperbaiki, rencana akan dijualnya kembali. “Kalau rusak seperti ini, mungkin setengah hari baru bisa selesai diperbaiki. Yang lama ini, memasang gigi sepeda, karena agak ribet,” ujar salah satu penjual sepeda bekas, kepada Pontianak Post.

Sawari, penjual sepeda bekas lainnya menimpali, zaman booming sepeda kemarin, penjualan sepeda bekas di sini relatif stabil. Tak naik atau pun turun. Soalnya, para pedagang di sini agak sulit meninggikan harga jual sepeda bekas. Karena pembeli, menurut dia, rerata masyarakat menengah dan ke bawah.

Sepeda yang ia jual bermacam jenis. Tergantung stok yang ia miliki. Untuk harga jual sepeda bekas di tempatnya, dipatok mulai Rp350 ribu sampai Rp900 ribu. Seperti jenis sepeda anak-anak ia jual Rp350 ribu. Untuk jenis sepeda BMX dipatoknya mulai Rp400 ribu. Sedangkan sepeda dewasa paling mahal dibanderolnya Rp900 ribu. “Tergantung jenis, kondisi, dan merek,” kata dia.

Baca Juga :  Cegah Covid-19 Gelombang Tiga, Dewan Kalbar Dukung Kebijakan Pusat

Jumlah pedagang sepeda bekas di sini, diakui dia, juga tidak banyak. Mungkin bersamanya, hanya bersisa sepuluh pedagang. Ia sendiri, berdagang sudah sejak tahun 80-an. Usaha yang dilakoninya ini adalah turunan, dari kakek, paman, bapak, dan terakhir diwariskan ke dirinya. “Sudah tiga generasi. Kakek sendiri sudah jualan sejak tahun 60-an,” ujarnya.

Ia menjelaskan, penjualan sepeda di sini relatif stabil. Dikatakan tidak ada pembeli, kadang jika sedang rizki, bisa sampai delapan unit sepeda bekas dijualnya dalam sehari. Namun kadang dia hanya mampu menjual satu atau dua unit. Malah jika nasib tak berpihak, tak ada satu sepeda pun laku terjual.

Namun dalam hidup, ia banyak mensyukuri apa yang telah diberikan Tuhan. Baginya, asalkan kebutuhan hidup dirinya dan keluarga terpenuhi, itu sudah lebih dari cukup.

Baca Juga :  Pro Kontra Khitan untuk Anak Perempuan, Tidak Diharuskan, namun Dianjurkan

Ia melanjutkan, pembeli sepedanya, kebanyakan dari luar daerah. Bahkan, ada yang dari Pulau Natuna. Sekali beli kadang, menurut dia, bisa sampai empat unit sepeda bekas.

Ia juga memiliki pelanggan tetap. Kata dia, dari anak si pembeli masih kecil hingga dewasa, beli sepeda tetap kepadanya. Sistemnya, menurut dia, bisa tukar tambah dari sepeda yang dipakai, dijual kepadanya, kemudian sepeda selanjutnya dibeli lagi di sini.

Di tempatnya, juga melayani servis sepeda bekas. Untuk harga baru akan diketahui setelah melihat kerusakan sepedanya.

Ia pun mengakui, akibat Covid-19 turut mempengaruhi penjualan sepeda di sini. Namun, prediksi dia, jika anak sekolah diperbolehkan belajar tatap muka, penjualan sepeda bekas kemungkinan bakalan meningkat lagi. Menurutnya, sepeda masih dibutuhkan. Utamanya bagi orang tua yang tak sempat mengantarkan anaknya ke sekolah, namun tak memiliki cukup uang untuk membeli sepeda baru. Sepeda bekas bisa menjadi solusinya.(*)

Booming sepeda turut berdampak pada meroketnya harga sepeda baru. Namun bagi yang miliki dompet cekak, jangan khawatir. Penjualan sepeda bekas di bilangan Pasar Tengah dapat menjadi solusinya

MIRZA AHMAD MUIN, Pontianak

SELAMA puluhan tahun, lorong Blok Ciujung Utara, kompleks area Pasar Tengah, telah dihuni penjual sepeda bekas. Selama itu pula, turun temurun pedagang sepeda bekas menggantungkan hidup mereka buat keperluan dapurnya.

Salah satu penjual sepeda bekas, hari itu terlihat sibuk merestorasi sepeda yang rusak. Jika telah selesai diperbaiki, rencana akan dijualnya kembali. “Kalau rusak seperti ini, mungkin setengah hari baru bisa selesai diperbaiki. Yang lama ini, memasang gigi sepeda, karena agak ribet,” ujar salah satu penjual sepeda bekas, kepada Pontianak Post.

Sawari, penjual sepeda bekas lainnya menimpali, zaman booming sepeda kemarin, penjualan sepeda bekas di sini relatif stabil. Tak naik atau pun turun. Soalnya, para pedagang di sini agak sulit meninggikan harga jual sepeda bekas. Karena pembeli, menurut dia, rerata masyarakat menengah dan ke bawah.

Sepeda yang ia jual bermacam jenis. Tergantung stok yang ia miliki. Untuk harga jual sepeda bekas di tempatnya, dipatok mulai Rp350 ribu sampai Rp900 ribu. Seperti jenis sepeda anak-anak ia jual Rp350 ribu. Untuk jenis sepeda BMX dipatoknya mulai Rp400 ribu. Sedangkan sepeda dewasa paling mahal dibanderolnya Rp900 ribu. “Tergantung jenis, kondisi, dan merek,” kata dia.

Baca Juga :  Yunaz Ali Akbar Bersepeda sembari Meminjamkan Buku

Jumlah pedagang sepeda bekas di sini, diakui dia, juga tidak banyak. Mungkin bersamanya, hanya bersisa sepuluh pedagang. Ia sendiri, berdagang sudah sejak tahun 80-an. Usaha yang dilakoninya ini adalah turunan, dari kakek, paman, bapak, dan terakhir diwariskan ke dirinya. “Sudah tiga generasi. Kakek sendiri sudah jualan sejak tahun 60-an,” ujarnya.

Ia menjelaskan, penjualan sepeda di sini relatif stabil. Dikatakan tidak ada pembeli, kadang jika sedang rizki, bisa sampai delapan unit sepeda bekas dijualnya dalam sehari. Namun kadang dia hanya mampu menjual satu atau dua unit. Malah jika nasib tak berpihak, tak ada satu sepeda pun laku terjual.

Namun dalam hidup, ia banyak mensyukuri apa yang telah diberikan Tuhan. Baginya, asalkan kebutuhan hidup dirinya dan keluarga terpenuhi, itu sudah lebih dari cukup.

Baca Juga :  Wali Kota Kesal Lihat Pesepeda Tak Taat Protokol Covid-19

Ia melanjutkan, pembeli sepedanya, kebanyakan dari luar daerah. Bahkan, ada yang dari Pulau Natuna. Sekali beli kadang, menurut dia, bisa sampai empat unit sepeda bekas.

Ia juga memiliki pelanggan tetap. Kata dia, dari anak si pembeli masih kecil hingga dewasa, beli sepeda tetap kepadanya. Sistemnya, menurut dia, bisa tukar tambah dari sepeda yang dipakai, dijual kepadanya, kemudian sepeda selanjutnya dibeli lagi di sini.

Di tempatnya, juga melayani servis sepeda bekas. Untuk harga baru akan diketahui setelah melihat kerusakan sepedanya.

Ia pun mengakui, akibat Covid-19 turut mempengaruhi penjualan sepeda di sini. Namun, prediksi dia, jika anak sekolah diperbolehkan belajar tatap muka, penjualan sepeda bekas kemungkinan bakalan meningkat lagi. Menurutnya, sepeda masih dibutuhkan. Utamanya bagi orang tua yang tak sempat mengantarkan anaknya ke sekolah, namun tak memiliki cukup uang untuk membeli sepeda baru. Sepeda bekas bisa menjadi solusinya.(*)

Most Read

Artikel Terbaru

/