alexametrics
28 C
Pontianak
Thursday, May 26, 2022

Pastikan Oksigen Tersedia

Kebutuhan VGL per Hari

  • RSU St. Antonius                   : 300 tabung
  • RS Anton Soedjarwo             : 150 tabung
  • RSAB Khatulistiwa                : 50 tabung
  • RS Mitra Medika                    : 200 tabung
  • RSUD Sultan SM Alkadrie   : 200 tabung

PONTIANAK – Pihak RSUD Sultan Syarif Mohamad Alkadrie memastikan ketersediaan oksigen VGL (vessel gas liquid) atau oksigen cair di rumah sakit milik Pemerintah Kota Pontianak itu tercukupi. Meski demikian pihak rumah sakit berharap ketersediaan oksigen di distributor juga dijaga.

“Alhamdulillah tidak ada masalah. Stok aman dan sudah tersedia,” kata Dirut RSUD Sultan Syarif Mohamad Alkadrie, dr Rifka di Pontianak, Senin (5/7).

Untuk satu tabung oksigen vessel gas liquid atau oksigen cair ukuran besar setara dengan 300 tabung oksigen padat. Kebutuhan oksigen di RSUD Sultan Syarif Mohamad Alkadrie dalam satu hari 300 tabung. Sementara untuk penanganan pasien Covid-19 membutuhkan tiga hingga empat tabung dalam satu hari per orang.

Rifka mengatakan masyarakat yang melakukan isolasi mandiri bisa menggunakan oksigen konsentrat yang berbentuk portable. Sebab oksigen juga dibutuhkan di rumah-rumah sakit. Terutama pada pasien-pasien terkonfirmasi positif yang saturasi oksigen di bawah angka sembilan puluh.

“Sebenarnya dilihat kebutuhan seperti apa pada pasien. Jika sudah sesak napas saturasi sudah turun sekali maka sangat membutuhkan sekali oksigen,” jelas Rifka.

Ia mengingatkan masyarakat untuk tidak kendor menerapkan protokol kesehatan. Sebab saat ini Kota Pontianak masih dalam status zona merah untuk kasus persebaran Covid-19. Pihaknya mencatat sekitar 53 pasien yang di rawat di rumah sakit. Sementara khusus di ICU ada empat pasien terkonfirmasi Covid-19 yang mendapat penanganan medis dari petugas.

Rifka mengatakan jumlah pasien yang dirawat di RSUD Sultan Syarif Mohamad Alkadrie meningkat jika dibandingkan di bulan yang sama pada tahun lalu. Terhitung sejak Januari hingga 5 Juli 2021 ada sekitar 856 pasien Covid-19 yang dirawat di rumah sakit.

“Cenderung meningkat. Peningkatan itu mulai Mei 2021 sebanyak 200 pasien. Kemudian Juli 356 pasien,” terang Rifka.

Mengantisipasi itu pihak rumah sakit sudah menyiapkan 60 tempat tidur untuk penanganan pasien Covid-19. Dari jumlah itu Bed Occupancy Rate (BOR) atau persentase tingkat penggunaan tempat tidur bagi pasien Covid-19 sudah mencapai angka 73 persen hingga 80 persen.

Baca Juga :  Warga Rela Antre Berjam-jam

“Untuk ICU sudah 100 persen. Empat tempat tidur yang disiapkan sudah terisi penuh,” kata dia.

Rifka melanjutkan pihaknya terus memantau perkembangan kasus Covid-19. Pihaknya siap melakukan penambahan ketersediaan tempat tidur jika trend kasus Covid-19 yang mendapat perawatan di rumah sakit juga bertambah.

“Kami lihat tren jika harus menambah akan kami tambah. Tapi untuk saat ini cukup. Meskipun ada antrian di UGD tapi pasien bisa masuk ke ruangan karena dari kunjungan dokter ke pasien di ruangan ada yang sudah boleh pulang sehingga pasien UGD bisa mendapatkan ruangan,” jelas Rifka.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Pontianak, Sidiq Handandu meminta masyarakat tidak panik dan kemudian membeli oksigen lalu menyimpannya. “Tidak perlu berbondong-bondong membeli oksigen untuk di rumah,” pinta Sidiq di Pontianak, Senin (5/7) pagi.

Sidiq mengatakan kebutuhan oksigen tidak hanya untuk penangan pasien Covid-19. Namun banyak juga penyakit-penyakit lainnya yang mendapat penanganan medis di rumah sakit membutuhkan oksigen.

Ia mencontohkan pada pasien yang akan menjalani operasi maka dibutuhkan oksigen. Begitu juga untuk pasien dengan penyakit jantung ataupun penderita kanker stadium lanjut yang sama-sama membutuhkan oksigen.

“Kalau semuanya panik karena Covid dan semuanya beli oksigen semuanya, maka semuanya bisa menjadi korban,” jelas Sidiq.

Selain itu menurut Sidiq penderita Covid-19 yang benar-benar membutuhkan oksigen ketika saturasi oksigennya di bawah angka 90. Dalam kondisi seperti itu, kondisi yang dialami penderita Covid-19 adalah pneumonia.

“Jika sudah seperti itu dirawat di rumah juga tak bisa maka harus ke rumah sakit sehingga dibutuhkan oksigen karena bagian dari terapi,” sambung Sidiq.

Adapun kebutuhan oksiden di masing-masing rumah sakit dalam satu hari antara lain Rumah Sakit Umum Santo Antoniusc 300 tabung, RS Bhayangkara Anton Soedjarwo 150 tabung, Rumah Sakit Anugerah Bunda Khatulistiwa 50 tabung, Rumah Sakit Mitra Medika 200 tabung dan RSUD Sultan Syarif Mohamad Alkadrie 200 tabung.

Anggota DPRD Kota Pontianak Mujiono mengatakan pemerintah daerah mesti memberikan skala prioritas untuk ketersediaan oksigen di rumah sakit dalam penanganan pasien Covid-19. Oksigen merupakan kebutuhan utama bagi pasien yang darurat.

Mujiono meminta suplier dan dinas kesehatan maupun rumah sakit bekerjasama untuk agar kebutuhan oksigen bagi penanganan pasien Covid-19 terpenuhi. Pihaknya tidak ingin terjadi kedaruratan dalam kasus Covid-19. Antara lain tidak tersedianya oksigen sementara jumlah pasien Covid-19 bertambah.

Baca Juga :  Zar'in ; Patuhi Aturan Pemerintah Dalam Penanganan Covid-19

“Ini yang harus diantisipasi. Kalau tidak disiapkan, selain kasus positif meningkat maka kasus meninggal juga meningkat sehingga harus diantisipasi,” jelas dia.

Mujiono menyarankan Pemerintah Kota Pontianak untuk memanggil penyedia oksigen untuk mengetahui secara detail ketersediaan oksigen. Selain memastikan ketersediaan juga untuk mengingatkan agar tetap mengontrol harga oksigen.

“Mendorong suplier dan pemasok, jangan dalam kondisi masyarakat yang terdampak secara ekonomi kemudian menaikkan harga oksigen. Ini tidak manusiawi. Dalam kondisi yang sama-sama sangat sulit sehingga semestinya menjadi perhatian para suplier juga,” katanya.

Data terbaru mengenai kategori risiko kenaikan kasus Covid-19 se-Kalimantan Barat (Kalbar) menunjukkan penambahan daerah yang masuk zona risiko tinggi atau zona merah. Jika minggu lalu hanya Kota Pontianak yang berada di zona merah, minggu ini Kota Singkawang ikut berada di zona merah.

Kepala Dinas Kesehatan Kalbar, Harisson mengungkapkan, untuk Kota Pontianak minggu ini masih berada di zona merah dengan skor 1,47. Sementara Kota Singkawang juga berada di zona merah dengan skor 1,79. Sementara ada dua daerah berada di zona risiko rendah atau kuning yakni Kabupaten Ketapang dan Kayong Utara. Sedangkan 10 daerah sisanya berada di zona risiko sedang atau zona orange.

“Salah satu faktor yang meyebabkan Singkawang menjadi zona merah karena tingginya angka BOR (bed occupancy rate) tempat tidur Covid-19 di Rumah Sakit di Singkawang,” ungkap Harisson, Selasa (6/7).

Melihat data BOR yang ada di Kota Singkawang dalam seminggu terakhir angkanya memang sangat tinggi. Pada 28 Juni 2021 misalnya dari 87 jumlah tempat tidur yang tersedia sebanyak 85 terisi atau BOR di angka 97,70 persen. Kemudian di tanggal 29 Juni BOR Kota Singkawang di angka 95,35 persen, 30 Juni di angka 97,67 persen.

Lalu pada 1 Juli dengan penambahan tempat tidur, dari 131 tempat tidur yang tersedia terisi sebanyak 97 tempat tidur atau menurun menjadi 74,05 persen dan data pada 2 Juli BOR Kota Singkawang di angka 81,68 persen yakni dengan 131 tempat tidur terisi sebanyak 107 tempat tidur.

Sedangkan untuk data BOR se-Kalbar, disebutkan Harisson dari 1.062 tempat tidur yang ada, sudah terisi sebanyak 685 tempat tidur. Atau angka BOR Kalbar di 64,50 persen.(mse/bar)

Kebutuhan VGL per Hari

  • RSU St. Antonius                   : 300 tabung
  • RS Anton Soedjarwo             : 150 tabung
  • RSAB Khatulistiwa                : 50 tabung
  • RS Mitra Medika                    : 200 tabung
  • RSUD Sultan SM Alkadrie   : 200 tabung

PONTIANAK – Pihak RSUD Sultan Syarif Mohamad Alkadrie memastikan ketersediaan oksigen VGL (vessel gas liquid) atau oksigen cair di rumah sakit milik Pemerintah Kota Pontianak itu tercukupi. Meski demikian pihak rumah sakit berharap ketersediaan oksigen di distributor juga dijaga.

“Alhamdulillah tidak ada masalah. Stok aman dan sudah tersedia,” kata Dirut RSUD Sultan Syarif Mohamad Alkadrie, dr Rifka di Pontianak, Senin (5/7).

Untuk satu tabung oksigen vessel gas liquid atau oksigen cair ukuran besar setara dengan 300 tabung oksigen padat. Kebutuhan oksigen di RSUD Sultan Syarif Mohamad Alkadrie dalam satu hari 300 tabung. Sementara untuk penanganan pasien Covid-19 membutuhkan tiga hingga empat tabung dalam satu hari per orang.

Rifka mengatakan masyarakat yang melakukan isolasi mandiri bisa menggunakan oksigen konsentrat yang berbentuk portable. Sebab oksigen juga dibutuhkan di rumah-rumah sakit. Terutama pada pasien-pasien terkonfirmasi positif yang saturasi oksigen di bawah angka sembilan puluh.

“Sebenarnya dilihat kebutuhan seperti apa pada pasien. Jika sudah sesak napas saturasi sudah turun sekali maka sangat membutuhkan sekali oksigen,” jelas Rifka.

Ia mengingatkan masyarakat untuk tidak kendor menerapkan protokol kesehatan. Sebab saat ini Kota Pontianak masih dalam status zona merah untuk kasus persebaran Covid-19. Pihaknya mencatat sekitar 53 pasien yang di rawat di rumah sakit. Sementara khusus di ICU ada empat pasien terkonfirmasi Covid-19 yang mendapat penanganan medis dari petugas.

Rifka mengatakan jumlah pasien yang dirawat di RSUD Sultan Syarif Mohamad Alkadrie meningkat jika dibandingkan di bulan yang sama pada tahun lalu. Terhitung sejak Januari hingga 5 Juli 2021 ada sekitar 856 pasien Covid-19 yang dirawat di rumah sakit.

“Cenderung meningkat. Peningkatan itu mulai Mei 2021 sebanyak 200 pasien. Kemudian Juli 356 pasien,” terang Rifka.

Mengantisipasi itu pihak rumah sakit sudah menyiapkan 60 tempat tidur untuk penanganan pasien Covid-19. Dari jumlah itu Bed Occupancy Rate (BOR) atau persentase tingkat penggunaan tempat tidur bagi pasien Covid-19 sudah mencapai angka 73 persen hingga 80 persen.

Baca Juga :  Bupati Sidak Stok Oksigen

“Untuk ICU sudah 100 persen. Empat tempat tidur yang disiapkan sudah terisi penuh,” kata dia.

Rifka melanjutkan pihaknya terus memantau perkembangan kasus Covid-19. Pihaknya siap melakukan penambahan ketersediaan tempat tidur jika trend kasus Covid-19 yang mendapat perawatan di rumah sakit juga bertambah.

“Kami lihat tren jika harus menambah akan kami tambah. Tapi untuk saat ini cukup. Meskipun ada antrian di UGD tapi pasien bisa masuk ke ruangan karena dari kunjungan dokter ke pasien di ruangan ada yang sudah boleh pulang sehingga pasien UGD bisa mendapatkan ruangan,” jelas Rifka.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Pontianak, Sidiq Handandu meminta masyarakat tidak panik dan kemudian membeli oksigen lalu menyimpannya. “Tidak perlu berbondong-bondong membeli oksigen untuk di rumah,” pinta Sidiq di Pontianak, Senin (5/7) pagi.

Sidiq mengatakan kebutuhan oksigen tidak hanya untuk penangan pasien Covid-19. Namun banyak juga penyakit-penyakit lainnya yang mendapat penanganan medis di rumah sakit membutuhkan oksigen.

Ia mencontohkan pada pasien yang akan menjalani operasi maka dibutuhkan oksigen. Begitu juga untuk pasien dengan penyakit jantung ataupun penderita kanker stadium lanjut yang sama-sama membutuhkan oksigen.

“Kalau semuanya panik karena Covid dan semuanya beli oksigen semuanya, maka semuanya bisa menjadi korban,” jelas Sidiq.

Selain itu menurut Sidiq penderita Covid-19 yang benar-benar membutuhkan oksigen ketika saturasi oksigennya di bawah angka 90. Dalam kondisi seperti itu, kondisi yang dialami penderita Covid-19 adalah pneumonia.

“Jika sudah seperti itu dirawat di rumah juga tak bisa maka harus ke rumah sakit sehingga dibutuhkan oksigen karena bagian dari terapi,” sambung Sidiq.

Adapun kebutuhan oksiden di masing-masing rumah sakit dalam satu hari antara lain Rumah Sakit Umum Santo Antoniusc 300 tabung, RS Bhayangkara Anton Soedjarwo 150 tabung, Rumah Sakit Anugerah Bunda Khatulistiwa 50 tabung, Rumah Sakit Mitra Medika 200 tabung dan RSUD Sultan Syarif Mohamad Alkadrie 200 tabung.

Anggota DPRD Kota Pontianak Mujiono mengatakan pemerintah daerah mesti memberikan skala prioritas untuk ketersediaan oksigen di rumah sakit dalam penanganan pasien Covid-19. Oksigen merupakan kebutuhan utama bagi pasien yang darurat.

Mujiono meminta suplier dan dinas kesehatan maupun rumah sakit bekerjasama untuk agar kebutuhan oksigen bagi penanganan pasien Covid-19 terpenuhi. Pihaknya tidak ingin terjadi kedaruratan dalam kasus Covid-19. Antara lain tidak tersedianya oksigen sementara jumlah pasien Covid-19 bertambah.

Baca Juga :  Moshicin Oksigen Gratis, IAA Pengobatan 1000 Pasien

“Ini yang harus diantisipasi. Kalau tidak disiapkan, selain kasus positif meningkat maka kasus meninggal juga meningkat sehingga harus diantisipasi,” jelas dia.

Mujiono menyarankan Pemerintah Kota Pontianak untuk memanggil penyedia oksigen untuk mengetahui secara detail ketersediaan oksigen. Selain memastikan ketersediaan juga untuk mengingatkan agar tetap mengontrol harga oksigen.

“Mendorong suplier dan pemasok, jangan dalam kondisi masyarakat yang terdampak secara ekonomi kemudian menaikkan harga oksigen. Ini tidak manusiawi. Dalam kondisi yang sama-sama sangat sulit sehingga semestinya menjadi perhatian para suplier juga,” katanya.

Data terbaru mengenai kategori risiko kenaikan kasus Covid-19 se-Kalimantan Barat (Kalbar) menunjukkan penambahan daerah yang masuk zona risiko tinggi atau zona merah. Jika minggu lalu hanya Kota Pontianak yang berada di zona merah, minggu ini Kota Singkawang ikut berada di zona merah.

Kepala Dinas Kesehatan Kalbar, Harisson mengungkapkan, untuk Kota Pontianak minggu ini masih berada di zona merah dengan skor 1,47. Sementara Kota Singkawang juga berada di zona merah dengan skor 1,79. Sementara ada dua daerah berada di zona risiko rendah atau kuning yakni Kabupaten Ketapang dan Kayong Utara. Sedangkan 10 daerah sisanya berada di zona risiko sedang atau zona orange.

“Salah satu faktor yang meyebabkan Singkawang menjadi zona merah karena tingginya angka BOR (bed occupancy rate) tempat tidur Covid-19 di Rumah Sakit di Singkawang,” ungkap Harisson, Selasa (6/7).

Melihat data BOR yang ada di Kota Singkawang dalam seminggu terakhir angkanya memang sangat tinggi. Pada 28 Juni 2021 misalnya dari 87 jumlah tempat tidur yang tersedia sebanyak 85 terisi atau BOR di angka 97,70 persen. Kemudian di tanggal 29 Juni BOR Kota Singkawang di angka 95,35 persen, 30 Juni di angka 97,67 persen.

Lalu pada 1 Juli dengan penambahan tempat tidur, dari 131 tempat tidur yang tersedia terisi sebanyak 97 tempat tidur atau menurun menjadi 74,05 persen dan data pada 2 Juli BOR Kota Singkawang di angka 81,68 persen yakni dengan 131 tempat tidur terisi sebanyak 107 tempat tidur.

Sedangkan untuk data BOR se-Kalbar, disebutkan Harisson dari 1.062 tempat tidur yang ada, sudah terisi sebanyak 685 tempat tidur. Atau angka BOR Kalbar di 64,50 persen.(mse/bar)

Most Read

Kalbar Target Vaksin 3,4 Juta Jiwa

Cegah Laka di Wilayah Perairan

Mir Raih Kemenangan Perdana di Moto GP

Massa Minta Tes Usap Digratiskan

Artikel Terbaru

/