alexametrics
26 C
Pontianak
Sunday, June 26, 2022

Produksi Kedelai Masih Rendah, Pengembangan Bergantung Bantuan Pemerintah

PONTIANAK – Produksi kedelai di Kalimantan Barat (Kalbar) masih rendah. Pengembangan komoditas ini masih menghadapi sejumlah tantangan yang cukup besar. Ketergantungan bantuan pemerintah sangat mempengaruhi angka produksi kedelai Kalbar.

Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura (Distan TPH) Kalbar, Dony Saiful Bahri mengatakan, berdasarkan Angka Ramalan (Aram) II Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2020, luas panen kedelai di Kalbar hanya 56 hektare. “Produktivitasnya sebesar 7,68 kuintal per hektare, dan produksi sebanyak 43 ton biji kering,” ungkap dia, Kamis (7/1).

Sementara kebutuhan kedelai di Kalbar pada tahun 2020 sebesar 41.485 ton biji kering. Angka ini dihitung dari jumlah penduduk Kalbar berdasarkan data Dukcapil 5.422.814 jiwa dikali konsumsi per kapita per tahun berdasarkan Susenas sebesar 7,65 kg kedelai.

Selain itu, realisasi produksi kedelai tahun 2020 juga menurun drastis apabila dibandingkan dengan produksi di tahun sebelumnya. Dia menyebut, produksi kedelai tahun 2020 menurun 91,89 persen dibandingkan Angka Tetap BPS tahun 2019 yaitu sebanyak 530 ton biji kering kedelai. Menurutnya, penurunan produksi kedelai tahun 2020 ini disebabkan menurunnya luas panen sebesar 90,85 persen dan menurunnya produktivitas sebesar 11,33 persen.

“Penurunan produksi kedelai di Kalbar pada tahun 2020 disebabkan minimnya dukungan kegiatan dari bantuan pemerintah, di mana bantuan pemerintah untuk Pengembangan Kedelai tahun 2020 di Kalbar hanya berupa Pengembangan Petani Produsen Benih Kedelai (P3BK) seluas 10 hektare dari APBN Tugas Pembantuan (TP) Provinsi, dan Pengembangan Sentra Kedelai seluas 15 hektare dari APBD Provinsi,” papar dia.

Baca Juga :  Harga Kedelai Belum Turun

Sebelumnya, lanjut dia, pengembangan kedelai monokultur dialokasikan seluas 1.000 hektare dari APBN TP, namun dipangkas akibat Pandemi Covid-19. Selain itu, pengembangan kedelai secara swadaya, menurutnya juga terkendala Pandemi Covid-19 sehingga sebagian petani merasa khawatir beraktivitas di lapangan.

“Bahkan terdapat daerah yang pada tahun 2019 ada pertanaman menjadi tidak ada pertanaman kedelai pada tahun 2020,” kata dia.

Menurutnya, pengembangan komoditas kedelai di Kalimantan Barat masih menghadapi sejumlah tantangan, di antaranya, ketertarikan petani yang minim, produktivitas yang rendah, kualitas, hingga keuntungan yang kecil.

Doni mengatakan, kedelai merupakan komoditas unggulan utama karena banyak dibutuhkan masyarakat untuk bahan baku pembuatan tempe, tahu, kecap, tauco, dan industri susu kedelai. Di Kalbar, tambah dia, kebanyakan kedelai didatangkan dari Amerika Serikat.”Karena itulah tidak heran harganya saat ini naik, karena kita masih bergantung dengan negara lain,” kata dia.

Sementara itu, perajin tempe di Kalbar berharap harga kedelai, sebagai bahan baku utama pembuatan tempe, kembali normal. Nasih Amin, perajin tempe di Kota Pontianak berharap, negara ini dapat memproduksi kedelai yang cukup untuk memenuhi kebutuhan lokal. “Supaya kita tidak bergantung dengan negara luar,” tutur dia.

Baca Juga :  Harga Kedelai Tinggi, Produsen Kurangi Ukuran Tempe

Seperti diketahui, saat ini harga kedelai tengah mengalami kenaikan. Menurut Amin, kenaikan harga kedelai hampir 30 persen dari harga normal, dari Rp7.000-7.500 menjadi Rp9.300 per kilogram.

Meski mengalami kenaikan, sejumlah pemasok biji kedelai masih cukup optimis mampu memenuhi kebutuhan industri tempe di Kalbar.“Stok aman. Suplai kedelai memadai,” ungkap Eko, pemasok biji kedelai di Kota Pontianak.

Terkait penyebab kenaikan harga kedelai, yaitu karena pasokan yang berkurang akibat permintaan yang tinggi dari negara China. Eko mengatakan, negara China membeli kedelai untuk diolah menjadi pakan ternak babi. Saat ini, kata dia, wabah African Swine Flu sudah mereda, yang sebelumnya sempat menghabiskan banyak populasi ternak babi di negara tirai bambu tersebut.

“Jumlah impor kedelai meningkat rata-rata 5 juta ton pertahun di China. Untuk impor Indonesia tahun 2020 ini sebanyak 2,7 juta ton kedelai,” papar dia.

Dirinya pun belum bisa memprediksi kapan tren kenaikan itu berakhir. Dia berharap harga kedelai kembali stabil dan pasokan tetap berjalan dengan lancar. “Kita sulit menjawab soal tren (harga) ini. Karena siklus panen nanti bulan Maret di Brazil. Tapi biasa yang dipakai buat tahu dan tempe di Indonesia hanya terbatas kedelai USA (Amerika Serikat) atau Kanada,” pungkas dia. (sti)

PONTIANAK – Produksi kedelai di Kalimantan Barat (Kalbar) masih rendah. Pengembangan komoditas ini masih menghadapi sejumlah tantangan yang cukup besar. Ketergantungan bantuan pemerintah sangat mempengaruhi angka produksi kedelai Kalbar.

Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura (Distan TPH) Kalbar, Dony Saiful Bahri mengatakan, berdasarkan Angka Ramalan (Aram) II Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2020, luas panen kedelai di Kalbar hanya 56 hektare. “Produktivitasnya sebesar 7,68 kuintal per hektare, dan produksi sebanyak 43 ton biji kering,” ungkap dia, Kamis (7/1).

Sementara kebutuhan kedelai di Kalbar pada tahun 2020 sebesar 41.485 ton biji kering. Angka ini dihitung dari jumlah penduduk Kalbar berdasarkan data Dukcapil 5.422.814 jiwa dikali konsumsi per kapita per tahun berdasarkan Susenas sebesar 7,65 kg kedelai.

Selain itu, realisasi produksi kedelai tahun 2020 juga menurun drastis apabila dibandingkan dengan produksi di tahun sebelumnya. Dia menyebut, produksi kedelai tahun 2020 menurun 91,89 persen dibandingkan Angka Tetap BPS tahun 2019 yaitu sebanyak 530 ton biji kering kedelai. Menurutnya, penurunan produksi kedelai tahun 2020 ini disebabkan menurunnya luas panen sebesar 90,85 persen dan menurunnya produktivitas sebesar 11,33 persen.

“Penurunan produksi kedelai di Kalbar pada tahun 2020 disebabkan minimnya dukungan kegiatan dari bantuan pemerintah, di mana bantuan pemerintah untuk Pengembangan Kedelai tahun 2020 di Kalbar hanya berupa Pengembangan Petani Produsen Benih Kedelai (P3BK) seluas 10 hektare dari APBN Tugas Pembantuan (TP) Provinsi, dan Pengembangan Sentra Kedelai seluas 15 hektare dari APBD Provinsi,” papar dia.

Baca Juga :  Pendiri Dompet Dhuafa Kunjungi Pontianak Post

Sebelumnya, lanjut dia, pengembangan kedelai monokultur dialokasikan seluas 1.000 hektare dari APBN TP, namun dipangkas akibat Pandemi Covid-19. Selain itu, pengembangan kedelai secara swadaya, menurutnya juga terkendala Pandemi Covid-19 sehingga sebagian petani merasa khawatir beraktivitas di lapangan.

“Bahkan terdapat daerah yang pada tahun 2019 ada pertanaman menjadi tidak ada pertanaman kedelai pada tahun 2020,” kata dia.

Menurutnya, pengembangan komoditas kedelai di Kalimantan Barat masih menghadapi sejumlah tantangan, di antaranya, ketertarikan petani yang minim, produktivitas yang rendah, kualitas, hingga keuntungan yang kecil.

Doni mengatakan, kedelai merupakan komoditas unggulan utama karena banyak dibutuhkan masyarakat untuk bahan baku pembuatan tempe, tahu, kecap, tauco, dan industri susu kedelai. Di Kalbar, tambah dia, kebanyakan kedelai didatangkan dari Amerika Serikat.”Karena itulah tidak heran harganya saat ini naik, karena kita masih bergantung dengan negara lain,” kata dia.

Sementara itu, perajin tempe di Kalbar berharap harga kedelai, sebagai bahan baku utama pembuatan tempe, kembali normal. Nasih Amin, perajin tempe di Kota Pontianak berharap, negara ini dapat memproduksi kedelai yang cukup untuk memenuhi kebutuhan lokal. “Supaya kita tidak bergantung dengan negara luar,” tutur dia.

Baca Juga :  Pemerintah Diminta Perhatikan Perajin Tempe

Seperti diketahui, saat ini harga kedelai tengah mengalami kenaikan. Menurut Amin, kenaikan harga kedelai hampir 30 persen dari harga normal, dari Rp7.000-7.500 menjadi Rp9.300 per kilogram.

Meski mengalami kenaikan, sejumlah pemasok biji kedelai masih cukup optimis mampu memenuhi kebutuhan industri tempe di Kalbar.“Stok aman. Suplai kedelai memadai,” ungkap Eko, pemasok biji kedelai di Kota Pontianak.

Terkait penyebab kenaikan harga kedelai, yaitu karena pasokan yang berkurang akibat permintaan yang tinggi dari negara China. Eko mengatakan, negara China membeli kedelai untuk diolah menjadi pakan ternak babi. Saat ini, kata dia, wabah African Swine Flu sudah mereda, yang sebelumnya sempat menghabiskan banyak populasi ternak babi di negara tirai bambu tersebut.

“Jumlah impor kedelai meningkat rata-rata 5 juta ton pertahun di China. Untuk impor Indonesia tahun 2020 ini sebanyak 2,7 juta ton kedelai,” papar dia.

Dirinya pun belum bisa memprediksi kapan tren kenaikan itu berakhir. Dia berharap harga kedelai kembali stabil dan pasokan tetap berjalan dengan lancar. “Kita sulit menjawab soal tren (harga) ini. Karena siklus panen nanti bulan Maret di Brazil. Tapi biasa yang dipakai buat tahu dan tempe di Indonesia hanya terbatas kedelai USA (Amerika Serikat) atau Kanada,” pungkas dia. (sti)

Most Read

Artikel Terbaru

/