alexametrics
31.7 C
Pontianak
Monday, August 8, 2022

Vaksin Tidak Boleh Gagal

Kami pada dasarnya percaya dengan ilmu kesehatan secara scientifik dan dijelaskan ilmiah lewat beragam metode ujicoba diwajibkan. Secara klinis kami juga siap divaksin. Tidak boleh gagal, meski hanya satu persen saja. Ini menyangkut kesehatan dan nyawa

Irwanda Jamil

PONTIANAK – Masyarakat Kalimantan Barat akan menerima vaksin Covid-19 untuk mencegah penularan dan mematikan perkembangan virus yang dipercaya dari Wuhan, China ini. Beberapa tenaga kesehatan ditunjuk sebagai ujung tombak menjadi perdana penerima vaksin. Ikatan Dokter Indonesia Pusat bahkan mendorong tenaga kesehatan, termasuk para dokter menjadi contoh dari program vaksinasi Covid-19.

Irwanda Jamil, seorang dokter kesehatan yang bekerja di Rumah Sakit Pemerintah di Kalbar menyebutkan berdasarkan data prioritas memang tenaga kesehatan (nakes) sebanyak 1,3 juta jiwa di Indonesia menjadi paling pertama divaksin (disuntik).

“Kami pada dasarnya percaya dengan ilmu kesehatan secara scientifik dan dijelaskan ilmiah lewat beragam metode ujicoba diwajibkan. Secara klinis kami juga siap divaksin,” ucapnya, Kamis(7/1).

Menurut dia, dari IDI Pusat dan Kalbar saja sudah menegaskan bahwa tenaga dokter di Kalimantan Barat sudah siap untuk divaksin. “Kalau memang kawan-kawan nakes lain masih ragu, memang ini perlu menjadi PR pemerintah menjelaskan secara terbuka bagaimana keberhasilan vaksin pada ujicoba tahap tiga nanti. Apalagi nantinya yang disuntik bukan hanya satu vaksin saja, misalnya Sinovac. Ada beberapa vaksin Covid-19 diberikan ke masyarakat,” ujarnya.

Baca Juga :  Kampung Tenun Beri Penghidupan Masyarakat Setempat

Dia menyebutkan bahwa tenaga dokter seperti dirinya, juga tidak mau, misalnya, dijadikan sebagai percobaan. Makanya, Irwanda lebih memilih hasil ujicoba vaksin keluar 100 persen aman bagi penerima siapapun. “Tidak boleh gagal, meski hanya satu persen saja. Ini menyangkut kesehatan dan nyawa,” ucap dia.

Irwanda menyebutkan vaksin seperti imunisasi, harus diakui ada kendala, tapi sifatnya ringan saja. Misalnya, habis diimunisasi terkadang mengalami nyeri ringan atau paling berat demam. Biasanya disebabkan munculnya beragam reaksi immnunitas (kekebalan).

“Nah, kalau ada kabar disuntik vaksin Covid-19 sampai meninggal dan kejang, itu hoax namanya. IDI saja sudah meminta tenaga kesehatan dokter sebagai garda terdepan. Saya pribadi saja sudah didata dinkes untuk disuntik perdana nantinya,” tukas dia.

Sebelumnya, pemerintah Indonesia sudah mengumumkan akan ada enam jenis vaksin yang akan digunakan ke masyarakat. Surat Keputusan Menteri Kesehatan tentang Penetapan Jenis Vaksin Untuk Pelaksanan Vaksinasi Covid-19 sudah dijelaskan terperinci. Misalnya, vaksin diproduksi enam lembaga berbeda. Dari PT Biofarma, AstraZeneca, Sinopharm, Moderna, Pfizer-BioNtech, dan Sinovac Biotech. Hanya kabarnya vaksin Covid-19 baru akan bisa dipakai setelah mendapatkan otorisasi penggunaan pada masa darurat dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Baca Juga :  Langkah Antisipasi Sertifikat Vaksin Palsu

Tenaga kesehatan seperti Amelia, yang bekerja sebagai perawat di rumah sakit rujukan Covid-19 di Kalimantan Barat mengaku sedikit khawatir menjadi yang pertama memperoleh vaksinasi. Sementara dari segi jaminan keamanan terkait efek samping belum diperoleh informasinya secara menyeluruh.

“Intinya aman, saya siap yang pertama. Namun kalau jadi bahan percobaan ya takut juga sih, walaupun hari-hari saya berada di rumah sakit. Apalagi, saya pribadi punya komorbid (penyakit penyerta) yang memang tidak terlalu berbahaya. Nah khawatir dan takut sayanya,” kata dia via telepon kemarin.

Sebagai garda terdepan penanganan Covid-19, sudah lama dia tidak pulang ke rumah. Harapannya dengan vaksin Covid-19 aman dan diakui dunia, maka tubuhnya dapat menerima. “Jadi ketika melayani pasien terpapar Covid-19, saya aman dan tidak terjangkiti. Itu sih doa saya seandainya, kami (nakes) menjadi pertama penerima vaksin di tubuh,” ujarnya.

Tenaga kesehatan lain, Hendra ragu untuk ¬†menjadi yang pertama disuntik vaksin Covid-19. “Kan ini ujicoba coba tahap pertama. Orang pertama memang diprioritaskan kepada nakes dulu. Kalau ada yang pertama bukan nakes, kemudian berhasil, saya siap tidak akan ragu,” katanya.(den)

Kami pada dasarnya percaya dengan ilmu kesehatan secara scientifik dan dijelaskan ilmiah lewat beragam metode ujicoba diwajibkan. Secara klinis kami juga siap divaksin. Tidak boleh gagal, meski hanya satu persen saja. Ini menyangkut kesehatan dan nyawa

Irwanda Jamil

PONTIANAK – Masyarakat Kalimantan Barat akan menerima vaksin Covid-19 untuk mencegah penularan dan mematikan perkembangan virus yang dipercaya dari Wuhan, China ini. Beberapa tenaga kesehatan ditunjuk sebagai ujung tombak menjadi perdana penerima vaksin. Ikatan Dokter Indonesia Pusat bahkan mendorong tenaga kesehatan, termasuk para dokter menjadi contoh dari program vaksinasi Covid-19.

Irwanda Jamil, seorang dokter kesehatan yang bekerja di Rumah Sakit Pemerintah di Kalbar menyebutkan berdasarkan data prioritas memang tenaga kesehatan (nakes) sebanyak 1,3 juta jiwa di Indonesia menjadi paling pertama divaksin (disuntik).

“Kami pada dasarnya percaya dengan ilmu kesehatan secara scientifik dan dijelaskan ilmiah lewat beragam metode ujicoba diwajibkan. Secara klinis kami juga siap divaksin,” ucapnya, Kamis(7/1).

Menurut dia, dari IDI Pusat dan Kalbar saja sudah menegaskan bahwa tenaga dokter di Kalimantan Barat sudah siap untuk divaksin. “Kalau memang kawan-kawan nakes lain masih ragu, memang ini perlu menjadi PR pemerintah menjelaskan secara terbuka bagaimana keberhasilan vaksin pada ujicoba tahap tiga nanti. Apalagi nantinya yang disuntik bukan hanya satu vaksin saja, misalnya Sinovac. Ada beberapa vaksin Covid-19 diberikan ke masyarakat,” ujarnya.

Baca Juga :  DPPKH Kalbar Kampanyekan Food Loss dan Food Waste

Dia menyebutkan bahwa tenaga dokter seperti dirinya, juga tidak mau, misalnya, dijadikan sebagai percobaan. Makanya, Irwanda lebih memilih hasil ujicoba vaksin keluar 100 persen aman bagi penerima siapapun. “Tidak boleh gagal, meski hanya satu persen saja. Ini menyangkut kesehatan dan nyawa,” ucap dia.

Irwanda menyebutkan vaksin seperti imunisasi, harus diakui ada kendala, tapi sifatnya ringan saja. Misalnya, habis diimunisasi terkadang mengalami nyeri ringan atau paling berat demam. Biasanya disebabkan munculnya beragam reaksi immnunitas (kekebalan).

“Nah, kalau ada kabar disuntik vaksin Covid-19 sampai meninggal dan kejang, itu hoax namanya. IDI saja sudah meminta tenaga kesehatan dokter sebagai garda terdepan. Saya pribadi saja sudah didata dinkes untuk disuntik perdana nantinya,” tukas dia.

Sebelumnya, pemerintah Indonesia sudah mengumumkan akan ada enam jenis vaksin yang akan digunakan ke masyarakat. Surat Keputusan Menteri Kesehatan tentang Penetapan Jenis Vaksin Untuk Pelaksanan Vaksinasi Covid-19 sudah dijelaskan terperinci. Misalnya, vaksin diproduksi enam lembaga berbeda. Dari PT Biofarma, AstraZeneca, Sinopharm, Moderna, Pfizer-BioNtech, dan Sinovac Biotech. Hanya kabarnya vaksin Covid-19 baru akan bisa dipakai setelah mendapatkan otorisasi penggunaan pada masa darurat dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Baca Juga :  Jangan Ragu Ikut Vaksinasi Covid-19

Tenaga kesehatan seperti Amelia, yang bekerja sebagai perawat di rumah sakit rujukan Covid-19 di Kalimantan Barat mengaku sedikit khawatir menjadi yang pertama memperoleh vaksinasi. Sementara dari segi jaminan keamanan terkait efek samping belum diperoleh informasinya secara menyeluruh.

“Intinya aman, saya siap yang pertama. Namun kalau jadi bahan percobaan ya takut juga sih, walaupun hari-hari saya berada di rumah sakit. Apalagi, saya pribadi punya komorbid (penyakit penyerta) yang memang tidak terlalu berbahaya. Nah khawatir dan takut sayanya,” kata dia via telepon kemarin.

Sebagai garda terdepan penanganan Covid-19, sudah lama dia tidak pulang ke rumah. Harapannya dengan vaksin Covid-19 aman dan diakui dunia, maka tubuhnya dapat menerima. “Jadi ketika melayani pasien terpapar Covid-19, saya aman dan tidak terjangkiti. Itu sih doa saya seandainya, kami (nakes) menjadi pertama penerima vaksin di tubuh,” ujarnya.

Tenaga kesehatan lain, Hendra ragu untuk ¬†menjadi yang pertama disuntik vaksin Covid-19. “Kan ini ujicoba coba tahap pertama. Orang pertama memang diprioritaskan kepada nakes dulu. Kalau ada yang pertama bukan nakes, kemudian berhasil, saya siap tidak akan ragu,” katanya.(den)

Most Read

Artikel Terbaru

/