alexametrics
26.7 C
Pontianak
Saturday, May 21, 2022

Kasus Kematian Babi di Kalbar Terus Bertambah

PONTIANAK – Kasus kematian ternak babi di Kalimantan Barat akibat virus African Swine Fever (ASF), terus bertambah. Hingga 24 Februari 2022, setidaknya angka kematian telah mencapai 49. 328 ekor.

Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Kalimantan Barat, Muhammad Munsif mengatakan, untuk mencegah penyebaran virus dan bertambahnya jumlah kematian ternak babi di Kalbar, pihaknya telah melakukan berbagai upaya pengendalian dan penanggulangan.

Salah satunya dengan penyuntikan serum konvalesen yang dilakukan di beberapa lokasi, seperti di Kapuas Hulu, Sintang, Melawi, Landak, Mempawah, Landak, Kuburaya, Sekadau, Sanggau dan Bengkayang.

“Hingga hari ini setidaknya ada 14.648 ekor babi yang disuntik serum, namun hasilnya belum sesuai dengan harapan,” katanya.

Berdasarkan hasil penelitian, efektivitas serum konvalesen ini hanya 53%. Ini pun dilaksanakan pada babi dengan sistem pemeliharaan yang baik. Sementara sebagian besar peternak babi di Kalimantan Barat memelihara babi masih secara tradisional.

“Keberhasilan penyuntikan serum konvalesen ini  sangat tergantung dengan penerapan biosecurity yang ketat,” ujarnya.

Prinsip biosecurity adalah mencegah virus masuk, mencegah menyebarnya virus dan mencegah virus tumbuh dan berkembang sehingga wajib bagi para peternak untuk menyediakan kandang yang baik bagi babi dan melakukan pembersihan kandang atau disinfeksi, memperketat lalu lintas fomite (seperti kendaraan, dan orang). Untuk itu diperlukan pagar atau pintu masuk ke area kandang serta menjaga kontaminasi pakan dan babi liar.

Pemahaman tentang penerapan biosecurity ini telah dilakukan melalui Komunikasi Informasi dan Edukasi baik kepada petugas, aparat desa, masyarakat  maupun kepada peternak.

Menurut Munsif, upaya penanggulangan terus dilakukan, Pemerintah pusat melalui Direktorat Kesehatan Hewan Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian mendukung upaya Kalbar dalam penanggulangan penyakit ASF tersebut, mulai dari advokasi dan KIE kepada Pemerintah Daerah ToT untuk para Dokter Hewan dan Bimtek Pengendalian ASF bagi para penyuluh serta dukungan penyediaan serum konvalesen, vitamin, disinfektan dan peralatan lainnya,

Selain Direktorat Kesehatan Hewan, Munsif mengatakan bahwa Balai Veteriner Banjarbaru yang merupakan UPT. Pusat dan mewilayahi Pulau Kalimantan juga mendukung penguatan surveilans, investigasi dan pengujian laboratorium yang telah dilakukan oleh Dinas Perkebunan dan Peternakan. Bahkan beberapa kali investigasi dan pengujian dilakukan bersama-sama. Dalam waktu dekat ini, Balai Veteriner Banjarbaru akan melaksanakan surveilans di 14 kabupaten/Kota se-Kalbar dengan melibatkan tenaga kesehatan hewan.

Upaya pengendalian yang dilakukan tidak hanya secara teknis. Langkah strategis lain juga dilakukan dengan konsolidasi melalui rapat-rapat koordinasi baik dengan pusat, kabupaten/kota maupun pelaku usaha dan para peternak, bahkan dinas perkebunan dan peternakan telah membentuk Liaison Officer (LO).

Baca Juga :  Modifikator Motor Kalbar Borong Piala di Ajang Terbesar Nasional

“Masing-masing LO bertanggung jawab untuk dua kabupaten/kota yang diharapkan dapat memperoleh data ter-update sekaligus melakukan penanganan secara efektif,” kata Munsif.

Munsif juga mengatakan bahwa upaya-upaya yang telah dilakukan ini juga telah dilaporkan oleh gubernur kepada Menteri Pertanian. Pihaknya juga sekaligus mengajukan proposal untuk langkah pemulihan sehingga para peternak siap untuk kembali beternak babi. Hal yang tak kalah penting menurutnya adalah peran aktif dari pemerintah provinsi, kabupaten/kota masing-masing dalam penyedian anggaran operasional secara cost sharing.

Seperti diberitakan, kemunculan virus mematikan pada babi ini pertama kali diketahui pada September 2021 yang menyerang babi liar di Kapuas Hulu.  Penyakit ASF itu kemudian menyebar ke Sintang dan Melawi, dengan kematian sebanyak 460 ekor. Wabah itu kemudian meluas hingga 11 kabupaten/kota di Kalbar.

ASF merupakan penyakit menular yang mematikan pada babi yang disebabkan oleh virus.  Virus ASF termasuk DNA yang memiliki spesifikasi asfviridae. ASF bukan penyakit zoonosis yang mampu menular dari hewan ke manusia atau sebaliknya, Namun demikian, penyakit ini memiliki tingkat kematian hingga mencapai 100% dan hingga saat ini penyakit ASF belum ada obatnya dan belum ditemukan vaksinnya.

Ternak babi yang terserang ASF memiliki ciri-ciri terdapat tanda merah kebiruan pada kulit, diare, muntah, dan terjadi perdarahan pada seluruh organ diawali dengan limpa serta keluar darah dari lubang alami. Kejadian penyakit ASF selalu diawali dengan gejala tidak mau makan dan lemas.

Menurutnya, ciri-ciri penyakit ASF ini menyerupai CSF/Hog Cholera namun tingkat mortalitas mencapai 100%. Sementara untuk faktor penularan, di antaranya melalui kontak langsung atau terinfeksi dari babi yang terpapar virus ASF. Bisa juga lewat kontak tidak langsung melalui sweeling feeding, pakan, orang dan vektor seperti serangga. lalu lintas ternak babi melalui jalur legal/ilegal, lalu lintas produk babi melalui jalur legal/ilegal, lalu lintas fomite (seperti kendaraan, dan orang), kontaminasi pakan dan babi liar.

Investigasi Bangkai Babi di Anjongan

Di sisi lain, Dinas Perkebunan dan Peternakan bersama Balai Veteriner Banjarbaru telah melakukan investigasi atas penemuan puluhan karung yang berisi bangkai babi di sebuah parit yang terletak di Jalan Anjongan Dalam, Kabupaten Mempawah yang menyebabkan pencemaran lingkungan.

Menurut Munsif, investigasi tersebut bertujuan untuk mendiagnosa dan mengonfirmasi agen penyakit penyebab kematian babi, mengidentifikasi faktor risiko penyebaran penyakit yang ditimbulkan oleh bangkai tersebut dan mengidentifikasi sejauh mana penyebarannya serta memberikan rekomendasi pengendalian dan pencegahan penyakit.

Baca Juga :  Difteri Jadi Ancaman Serius, Pontianak dan Singkawang Kasus Terbanyak

Sebelum turun ke lapangan, tim investigasi juga telah berkoordinasi dengan kepolisian setempat. Dari kepolisian didapatkan data bahwa menanggapi laporan masyarakat, kepolisian telah melakukan tindakan dengan mengubur puluhan karung yang berisi babi pada tanggal 23 Februari 2022 tersebut dengan menggunakan ekskavator.

Dijelaskan Munsif, tim investigasi mengambil data informasi ke PPL dan pemilik tanah penguburan. Selain itu dilakukan juga pengambilan sampel swab lingkungan, sampel air, sampel organ babi dari bangkai yang tersisa di lokasi kejadian, melakukan pengambilan sampel swab lingkungan dan air parit di setiap 500 meter dari lokasi kejadian.

Dari penggalian informasi juga didapatkan data bahwa aliran air parit tempat pembuangan bangkai di Jalan Anjongan Dalam menuju daerah Antibar Kabupaten Mempawah.

Di daerah Desa Anjongan Dalam masyarakat juga memelihara babi, termasuk pemilik tanah penguburan. Yang bersangkutan juga mempunyai 10 ekor babi yang dipelihara di rumahnya.

Peternakan-peternak yang terletak di dekat aliran sungai dan peternakan yang berada di Desa Anjongan dalam sangat berisiko terdampak penularan penyakit akibat bangkai babi tersebut.

Tim investigasi juga memberikan KIE terhadap pemilik tanah dan juga memberikan disinfektan untuk kandang mereka. Tim pun mendatangi ke lokasi lain di mana ditemukan juga pembuangan puluhan karung bangkai babi yang terletak tepat disamping RPH Babi Sungai Pinyuh Kabupaten Mempawah.

Berdasarkan laporan dari warga, telah ditemukan puluhan bangkai babi sejak tiga hari sebelumnya.  Warga tidak tahu asal-usul bangkai tersebut. Bangkai telah menimbulkan bau yang tidak sedap dan meresahkan warga sekitar.

Tim juga melakukan pengambilan sampel organ dan swab organ bangkai babi tersebut. Selain itu juga mengambil sampel swab lingkungan di rumah potong babi dengan total sampel berjumlah 23 sampel.

“Dari hasil pemeriksaan laboratorium UPT. Pelayanan Kesehatan Hewan, Kesehatan Masyarakat Veteriner dan Klinik Hewan Provinsi Kalbar bahwa sampel yang diambil dari Rumah Potong Hewan (RPH) dinyatakan positif ASF. Sedangkan sampel dari lokasi pembuangan dilakukan pemeriksaan lanjutan di Balai Veteriner Banjarbaru,” bebernya.

Upaya pencegahan yang dilakukan adalah melakukan pembakaran sisa bangkai babi yang dibuang dan desinfeksi lokasi pembuangan bangkai serta dilakukan investigasi dan penyidikan lebih lanjut oleh Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Mempawah bersama Kepolisian Sektor Anjongan untuk menemukan pelaku pembuangan bangkai babi tersebut.  (arf)

PONTIANAK – Kasus kematian ternak babi di Kalimantan Barat akibat virus African Swine Fever (ASF), terus bertambah. Hingga 24 Februari 2022, setidaknya angka kematian telah mencapai 49. 328 ekor.

Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Kalimantan Barat, Muhammad Munsif mengatakan, untuk mencegah penyebaran virus dan bertambahnya jumlah kematian ternak babi di Kalbar, pihaknya telah melakukan berbagai upaya pengendalian dan penanggulangan.

Salah satunya dengan penyuntikan serum konvalesen yang dilakukan di beberapa lokasi, seperti di Kapuas Hulu, Sintang, Melawi, Landak, Mempawah, Landak, Kuburaya, Sekadau, Sanggau dan Bengkayang.

“Hingga hari ini setidaknya ada 14.648 ekor babi yang disuntik serum, namun hasilnya belum sesuai dengan harapan,” katanya.

Berdasarkan hasil penelitian, efektivitas serum konvalesen ini hanya 53%. Ini pun dilaksanakan pada babi dengan sistem pemeliharaan yang baik. Sementara sebagian besar peternak babi di Kalimantan Barat memelihara babi masih secara tradisional.

“Keberhasilan penyuntikan serum konvalesen ini  sangat tergantung dengan penerapan biosecurity yang ketat,” ujarnya.

Prinsip biosecurity adalah mencegah virus masuk, mencegah menyebarnya virus dan mencegah virus tumbuh dan berkembang sehingga wajib bagi para peternak untuk menyediakan kandang yang baik bagi babi dan melakukan pembersihan kandang atau disinfeksi, memperketat lalu lintas fomite (seperti kendaraan, dan orang). Untuk itu diperlukan pagar atau pintu masuk ke area kandang serta menjaga kontaminasi pakan dan babi liar.

Pemahaman tentang penerapan biosecurity ini telah dilakukan melalui Komunikasi Informasi dan Edukasi baik kepada petugas, aparat desa, masyarakat  maupun kepada peternak.

Menurut Munsif, upaya penanggulangan terus dilakukan, Pemerintah pusat melalui Direktorat Kesehatan Hewan Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian mendukung upaya Kalbar dalam penanggulangan penyakit ASF tersebut, mulai dari advokasi dan KIE kepada Pemerintah Daerah ToT untuk para Dokter Hewan dan Bimtek Pengendalian ASF bagi para penyuluh serta dukungan penyediaan serum konvalesen, vitamin, disinfektan dan peralatan lainnya,

Selain Direktorat Kesehatan Hewan, Munsif mengatakan bahwa Balai Veteriner Banjarbaru yang merupakan UPT. Pusat dan mewilayahi Pulau Kalimantan juga mendukung penguatan surveilans, investigasi dan pengujian laboratorium yang telah dilakukan oleh Dinas Perkebunan dan Peternakan. Bahkan beberapa kali investigasi dan pengujian dilakukan bersama-sama. Dalam waktu dekat ini, Balai Veteriner Banjarbaru akan melaksanakan surveilans di 14 kabupaten/Kota se-Kalbar dengan melibatkan tenaga kesehatan hewan.

Upaya pengendalian yang dilakukan tidak hanya secara teknis. Langkah strategis lain juga dilakukan dengan konsolidasi melalui rapat-rapat koordinasi baik dengan pusat, kabupaten/kota maupun pelaku usaha dan para peternak, bahkan dinas perkebunan dan peternakan telah membentuk Liaison Officer (LO).

Baca Juga :  Puncak Perayaan Kulminasi Matahari

“Masing-masing LO bertanggung jawab untuk dua kabupaten/kota yang diharapkan dapat memperoleh data ter-update sekaligus melakukan penanganan secara efektif,” kata Munsif.

Munsif juga mengatakan bahwa upaya-upaya yang telah dilakukan ini juga telah dilaporkan oleh gubernur kepada Menteri Pertanian. Pihaknya juga sekaligus mengajukan proposal untuk langkah pemulihan sehingga para peternak siap untuk kembali beternak babi. Hal yang tak kalah penting menurutnya adalah peran aktif dari pemerintah provinsi, kabupaten/kota masing-masing dalam penyedian anggaran operasional secara cost sharing.

Seperti diberitakan, kemunculan virus mematikan pada babi ini pertama kali diketahui pada September 2021 yang menyerang babi liar di Kapuas Hulu.  Penyakit ASF itu kemudian menyebar ke Sintang dan Melawi, dengan kematian sebanyak 460 ekor. Wabah itu kemudian meluas hingga 11 kabupaten/kota di Kalbar.

ASF merupakan penyakit menular yang mematikan pada babi yang disebabkan oleh virus.  Virus ASF termasuk DNA yang memiliki spesifikasi asfviridae. ASF bukan penyakit zoonosis yang mampu menular dari hewan ke manusia atau sebaliknya, Namun demikian, penyakit ini memiliki tingkat kematian hingga mencapai 100% dan hingga saat ini penyakit ASF belum ada obatnya dan belum ditemukan vaksinnya.

Ternak babi yang terserang ASF memiliki ciri-ciri terdapat tanda merah kebiruan pada kulit, diare, muntah, dan terjadi perdarahan pada seluruh organ diawali dengan limpa serta keluar darah dari lubang alami. Kejadian penyakit ASF selalu diawali dengan gejala tidak mau makan dan lemas.

Menurutnya, ciri-ciri penyakit ASF ini menyerupai CSF/Hog Cholera namun tingkat mortalitas mencapai 100%. Sementara untuk faktor penularan, di antaranya melalui kontak langsung atau terinfeksi dari babi yang terpapar virus ASF. Bisa juga lewat kontak tidak langsung melalui sweeling feeding, pakan, orang dan vektor seperti serangga. lalu lintas ternak babi melalui jalur legal/ilegal, lalu lintas produk babi melalui jalur legal/ilegal, lalu lintas fomite (seperti kendaraan, dan orang), kontaminasi pakan dan babi liar.

Investigasi Bangkai Babi di Anjongan

Di sisi lain, Dinas Perkebunan dan Peternakan bersama Balai Veteriner Banjarbaru telah melakukan investigasi atas penemuan puluhan karung yang berisi bangkai babi di sebuah parit yang terletak di Jalan Anjongan Dalam, Kabupaten Mempawah yang menyebabkan pencemaran lingkungan.

Menurut Munsif, investigasi tersebut bertujuan untuk mendiagnosa dan mengonfirmasi agen penyakit penyebab kematian babi, mengidentifikasi faktor risiko penyebaran penyakit yang ditimbulkan oleh bangkai tersebut dan mengidentifikasi sejauh mana penyebarannya serta memberikan rekomendasi pengendalian dan pencegahan penyakit.

Baca Juga :  Telisik Stunting dan Ketahanan Pangan Kalbar

Sebelum turun ke lapangan, tim investigasi juga telah berkoordinasi dengan kepolisian setempat. Dari kepolisian didapatkan data bahwa menanggapi laporan masyarakat, kepolisian telah melakukan tindakan dengan mengubur puluhan karung yang berisi babi pada tanggal 23 Februari 2022 tersebut dengan menggunakan ekskavator.

Dijelaskan Munsif, tim investigasi mengambil data informasi ke PPL dan pemilik tanah penguburan. Selain itu dilakukan juga pengambilan sampel swab lingkungan, sampel air, sampel organ babi dari bangkai yang tersisa di lokasi kejadian, melakukan pengambilan sampel swab lingkungan dan air parit di setiap 500 meter dari lokasi kejadian.

Dari penggalian informasi juga didapatkan data bahwa aliran air parit tempat pembuangan bangkai di Jalan Anjongan Dalam menuju daerah Antibar Kabupaten Mempawah.

Di daerah Desa Anjongan Dalam masyarakat juga memelihara babi, termasuk pemilik tanah penguburan. Yang bersangkutan juga mempunyai 10 ekor babi yang dipelihara di rumahnya.

Peternakan-peternak yang terletak di dekat aliran sungai dan peternakan yang berada di Desa Anjongan dalam sangat berisiko terdampak penularan penyakit akibat bangkai babi tersebut.

Tim investigasi juga memberikan KIE terhadap pemilik tanah dan juga memberikan disinfektan untuk kandang mereka. Tim pun mendatangi ke lokasi lain di mana ditemukan juga pembuangan puluhan karung bangkai babi yang terletak tepat disamping RPH Babi Sungai Pinyuh Kabupaten Mempawah.

Berdasarkan laporan dari warga, telah ditemukan puluhan bangkai babi sejak tiga hari sebelumnya.  Warga tidak tahu asal-usul bangkai tersebut. Bangkai telah menimbulkan bau yang tidak sedap dan meresahkan warga sekitar.

Tim juga melakukan pengambilan sampel organ dan swab organ bangkai babi tersebut. Selain itu juga mengambil sampel swab lingkungan di rumah potong babi dengan total sampel berjumlah 23 sampel.

“Dari hasil pemeriksaan laboratorium UPT. Pelayanan Kesehatan Hewan, Kesehatan Masyarakat Veteriner dan Klinik Hewan Provinsi Kalbar bahwa sampel yang diambil dari Rumah Potong Hewan (RPH) dinyatakan positif ASF. Sedangkan sampel dari lokasi pembuangan dilakukan pemeriksaan lanjutan di Balai Veteriner Banjarbaru,” bebernya.

Upaya pencegahan yang dilakukan adalah melakukan pembakaran sisa bangkai babi yang dibuang dan desinfeksi lokasi pembuangan bangkai serta dilakukan investigasi dan penyidikan lebih lanjut oleh Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Mempawah bersama Kepolisian Sektor Anjongan untuk menemukan pelaku pembuangan bangkai babi tersebut.  (arf)

Most Read

Artikel Terbaru

/