alexametrics
33 C
Pontianak
Thursday, July 7, 2022

Ramai-Ramai Beralih ke Masker Kain

Dorong Konveksi Produksi Massal 

PONTIANAK – Kelangkaan masker bedah sekali pakai untuk mencegah infeksi virus corona membuat masyarakat mulai beralih ke masker kain. Meski bukan masker ideal untuk mencegah wabah Covid-19, masker kain masih jauh lebih baik daripada tidak bermasker. Ibarat kata, tak ada rotan, akar pun jadi.

Sejumlah penelitian sebenarnya telah menyebut bahwa masker kain bisa digunakan untuk mencegah penyebaran virus, meski perlindungannya tidak seoptimal masker bedah. Apalagi saat ini pemerintah sudah mewajibkan penggunaan penutup hidung dan mulut tersebut.

Sebuah jurnal berjudul ‘Testing the Efficacy of Homemade Masks: Would They Protect in an Influenza Pandemic?’, yang diterbitkan di jurnal Disaster Medicine dan Public Health Preparedness pada 2013, pernah merilis tentang efektivitas penggunaan masker kain. Secara umum, hasil penelitiannya menyebutkan masker kain dapat mengurangi jumlah mikroorganisme yang keluar.

“Masker (kain) secara signifikan bisa mengurangi jumlah mikroorganisme yang keluar, walaupun masker bedah tiga kali lebih efektif untuk menghalangi transmisi atau penularan dari pada masker homemade (buatan tangan, red),” tulis jurnal tersebut.

Dalam kesimpulannya, jurnal itu menyebutkan, masker kain hanya dianggap sebagai upaya terakhir mencegah penularan dari orang yang terinfeksi. Masker pelindung dapat mengurangi kemungkinan infeksi, tetapi itu tidak akan menghilangkan risiko terjangkit, terutama dari penyakit dengan rute penularan yang beragam.

Jadi, masker apapun, tak peduli bagaimana efisiennya dalam penyaringan, akan kurang berpengaruh jika tidak dibarengi dengan upaya pencegahan lain, seperti isolasi kasus yang terinfeksi, imunisasi, etika pernapasan yang baik, dan memperhatikan kebersihan tangan secara teratur.

“Masker buatan rumah, harusnya digunakan sebagai jalan terakhir untuk mencegah penularan virus melalui droplet (air liur/batuk/muntahan, red) dari seseorang yang terinfeksi. Namun, masker kain lebih baik penggunaaannya dari pada tidak ada perlindungan sama sekali,” tulis jurnal itu.

Baca Juga :  Edi Kamtono Harap Raker Apeksi Hasilkan Solusi Tata Kelola Pemerintahan

Sementara itu, peralihan penggunaan dari masker bedah ke masker kain kini sudah menjadi tren. Kondisi ini membuat sejumlah konveksi mengalihkan produksinya. Di Kalimantan Barat, ada beberapa konveksi yang mulai memproduksi masker kain dalam jumlah besar.

Salah satunya adalah LPK Pangsuma, konveksi yang berlokasi di Ngabang, Kabupaten Landak. Sang pemilik usaha, Kris Wurianto mengungkapkan, inisiatif membuat masker dengan bahan yang sudah ada ini berawal dari kesulitannya mencari masker, serta harganya yang tinggi.

“Secara iseng tadinya melihat masker langka. Dari keprihatinan pribadi, akhirnya lahir ide ini,” ujarnya.  Usaha yang baru digelutinya sejak 30 Maret itu kini menggandeng enam penjahit. Setiap penjahit mampu memproduksi 200 masker dalam sehari. Pembuatan satu masker membutuhkan waktu 5 – 10 menit, mulai dari pemotongan, penjahitan dan pembungkusan. Satu masker dipatok seharga Rp10 ribu.

Menurutnya, satu masker dapat digunakan hingga lima sampai enam kali cuci. Masker yang ia buat berbahan dasar katun yang dijahit dengan dua lapisan. Di kedua sisinya dikenakan karet, yang juga tersedia bagi pengguna jilbab. Di tengahnya, diberikan rongga kosong agar dapat diselipkan tisu sebagai penyaring ekstra.

Banjir pesanan pun melanda. Pemerintah Kabupaten Landak telah memesan hingga lima ribu masker kepadanya. Masker tersebut rencananya akan dibagi-bagikan ke masyarakat Landak. Ia mengatakan, Bupati Landak, dr Karolin Margret Natasa, secara langsung menghubunginya setelah postingan sang anak mendapat sambutan baik di media sosial Facebook.

“Begitu Ibu Bupati menghubungi lewat Whatsapp, ia langsung memberikan tutorial cara membuat masker. Begitu saya lihat, wah inilah yang sudah saya buat. Langsung saya berikan foto contohnya. Beliau langsung ngomong, ‘Ini maksud saya, yang saya mau Pak’. Kemudian beliau datang ke sini,” ceritanya.

Ada pula konveksi yang berada di Kubu Raya. Mereka adalah koperasi konveksi ibu-ibu di Kubu Raya, yang  baru-baru ini berinisiatif membuat masker berbahan kain. Masker ini bahkan akan dibagikan secara gratis bagi masyarakat. Ketua Koperasi Ambangah Sejahtera Abadi, Desa Sungai Ambangah, Pungky Wahyuningrum mengatakan, langkah ini dilakukan sebagai upaya untuk memenuhi kebutuhan masker, khususnya di kabupaten itu.

Baca Juga :  30 Kader AMPG Pontianak Bantu Kegiatan Belajar Di Tengah Covid-19

Masker produksi kaum ibu dan remaja putri ini, menurutnya telah diuji kelaikannya oleh dinas kesehatan setempat. Jadi, sudah dipastikan aman dan nyaman digunakan masyarakat. Berdasarkan laporan yang diterima, kata Pungky, dalam kurun seminggu, sebanyak 6.800 masker kain selesai dijahit oleh tujuh dari sepuluh koperasi konveksi yang ada di kabupaten ini.

“Khusus untuk Koperasi Ambangah Sejahtera Abadi sendiri, dalam satu minggu terakhir kami telah menyelesaikan seribu masker dan membagikannya ke masyarakat,” sebutnya.

Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Kota Pontianak, Andreas Acui Simanjaya, mendorong para pengusaha konveksi untuk memproduksi masker kain. Apalagi pemerintah telah menganjurkan penggunaan masker bagi semua orang, sehingga perlu banyak stok masker. Jika diproduksi secara massal, dia yakin harga masker kain ini jauh lebih murah.

“Saya berpendapat alangkah indahnya jika perusahaan dan para penjahit yang ada di Kalbar ini berpartisipasi menjahit masker untuk keperluan warga Kalbar. Tentunya hasil produksi para penjahit ini dibeli bukan diminta bekerja gratis dengan harga yang wajar,” ungkapnya.

Tentu saja masker yang dibuat harus sesuai desain sebagaimana direkomendasikan pihak berwenang. Hal ini menjadi penting supaya masker yang diproduksi benar-benar mampu mencegah infeksi virus. “Bikin yang desainnya seperti ada saku untuk sisipkan lapisan tisu. Sebab masker kain tidak bisa menyaring virus,” katanya. Penggunaan masker kain ini diharapkan dapat menekan permintaan masker bedah sekali pakai yang lebih diprioritaskan bagi tenaga medis serta orang sakit. (sti/mif/ash)

 

Dorong Konveksi Produksi Massal 

PONTIANAK – Kelangkaan masker bedah sekali pakai untuk mencegah infeksi virus corona membuat masyarakat mulai beralih ke masker kain. Meski bukan masker ideal untuk mencegah wabah Covid-19, masker kain masih jauh lebih baik daripada tidak bermasker. Ibarat kata, tak ada rotan, akar pun jadi.

Sejumlah penelitian sebenarnya telah menyebut bahwa masker kain bisa digunakan untuk mencegah penyebaran virus, meski perlindungannya tidak seoptimal masker bedah. Apalagi saat ini pemerintah sudah mewajibkan penggunaan penutup hidung dan mulut tersebut.

Sebuah jurnal berjudul ‘Testing the Efficacy of Homemade Masks: Would They Protect in an Influenza Pandemic?’, yang diterbitkan di jurnal Disaster Medicine dan Public Health Preparedness pada 2013, pernah merilis tentang efektivitas penggunaan masker kain. Secara umum, hasil penelitiannya menyebutkan masker kain dapat mengurangi jumlah mikroorganisme yang keluar.

“Masker (kain) secara signifikan bisa mengurangi jumlah mikroorganisme yang keluar, walaupun masker bedah tiga kali lebih efektif untuk menghalangi transmisi atau penularan dari pada masker homemade (buatan tangan, red),” tulis jurnal tersebut.

Dalam kesimpulannya, jurnal itu menyebutkan, masker kain hanya dianggap sebagai upaya terakhir mencegah penularan dari orang yang terinfeksi. Masker pelindung dapat mengurangi kemungkinan infeksi, tetapi itu tidak akan menghilangkan risiko terjangkit, terutama dari penyakit dengan rute penularan yang beragam.

Jadi, masker apapun, tak peduli bagaimana efisiennya dalam penyaringan, akan kurang berpengaruh jika tidak dibarengi dengan upaya pencegahan lain, seperti isolasi kasus yang terinfeksi, imunisasi, etika pernapasan yang baik, dan memperhatikan kebersihan tangan secara teratur.

“Masker buatan rumah, harusnya digunakan sebagai jalan terakhir untuk mencegah penularan virus melalui droplet (air liur/batuk/muntahan, red) dari seseorang yang terinfeksi. Namun, masker kain lebih baik penggunaaannya dari pada tidak ada perlindungan sama sekali,” tulis jurnal itu.

Baca Juga :  Dorong Pengembangan Perekonomian Penyandang Disabilitas

Sementara itu, peralihan penggunaan dari masker bedah ke masker kain kini sudah menjadi tren. Kondisi ini membuat sejumlah konveksi mengalihkan produksinya. Di Kalimantan Barat, ada beberapa konveksi yang mulai memproduksi masker kain dalam jumlah besar.

Salah satunya adalah LPK Pangsuma, konveksi yang berlokasi di Ngabang, Kabupaten Landak. Sang pemilik usaha, Kris Wurianto mengungkapkan, inisiatif membuat masker dengan bahan yang sudah ada ini berawal dari kesulitannya mencari masker, serta harganya yang tinggi.

“Secara iseng tadinya melihat masker langka. Dari keprihatinan pribadi, akhirnya lahir ide ini,” ujarnya.  Usaha yang baru digelutinya sejak 30 Maret itu kini menggandeng enam penjahit. Setiap penjahit mampu memproduksi 200 masker dalam sehari. Pembuatan satu masker membutuhkan waktu 5 – 10 menit, mulai dari pemotongan, penjahitan dan pembungkusan. Satu masker dipatok seharga Rp10 ribu.

Menurutnya, satu masker dapat digunakan hingga lima sampai enam kali cuci. Masker yang ia buat berbahan dasar katun yang dijahit dengan dua lapisan. Di kedua sisinya dikenakan karet, yang juga tersedia bagi pengguna jilbab. Di tengahnya, diberikan rongga kosong agar dapat diselipkan tisu sebagai penyaring ekstra.

Banjir pesanan pun melanda. Pemerintah Kabupaten Landak telah memesan hingga lima ribu masker kepadanya. Masker tersebut rencananya akan dibagi-bagikan ke masyarakat Landak. Ia mengatakan, Bupati Landak, dr Karolin Margret Natasa, secara langsung menghubunginya setelah postingan sang anak mendapat sambutan baik di media sosial Facebook.

“Begitu Ibu Bupati menghubungi lewat Whatsapp, ia langsung memberikan tutorial cara membuat masker. Begitu saya lihat, wah inilah yang sudah saya buat. Langsung saya berikan foto contohnya. Beliau langsung ngomong, ‘Ini maksud saya, yang saya mau Pak’. Kemudian beliau datang ke sini,” ceritanya.

Ada pula konveksi yang berada di Kubu Raya. Mereka adalah koperasi konveksi ibu-ibu di Kubu Raya, yang  baru-baru ini berinisiatif membuat masker berbahan kain. Masker ini bahkan akan dibagikan secara gratis bagi masyarakat. Ketua Koperasi Ambangah Sejahtera Abadi, Desa Sungai Ambangah, Pungky Wahyuningrum mengatakan, langkah ini dilakukan sebagai upaya untuk memenuhi kebutuhan masker, khususnya di kabupaten itu.

Baca Juga :  Tiongkok Banjir Order Masker, Korsel Ekspor Alat Uji

Masker produksi kaum ibu dan remaja putri ini, menurutnya telah diuji kelaikannya oleh dinas kesehatan setempat. Jadi, sudah dipastikan aman dan nyaman digunakan masyarakat. Berdasarkan laporan yang diterima, kata Pungky, dalam kurun seminggu, sebanyak 6.800 masker kain selesai dijahit oleh tujuh dari sepuluh koperasi konveksi yang ada di kabupaten ini.

“Khusus untuk Koperasi Ambangah Sejahtera Abadi sendiri, dalam satu minggu terakhir kami telah menyelesaikan seribu masker dan membagikannya ke masyarakat,” sebutnya.

Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Kota Pontianak, Andreas Acui Simanjaya, mendorong para pengusaha konveksi untuk memproduksi masker kain. Apalagi pemerintah telah menganjurkan penggunaan masker bagi semua orang, sehingga perlu banyak stok masker. Jika diproduksi secara massal, dia yakin harga masker kain ini jauh lebih murah.

“Saya berpendapat alangkah indahnya jika perusahaan dan para penjahit yang ada di Kalbar ini berpartisipasi menjahit masker untuk keperluan warga Kalbar. Tentunya hasil produksi para penjahit ini dibeli bukan diminta bekerja gratis dengan harga yang wajar,” ungkapnya.

Tentu saja masker yang dibuat harus sesuai desain sebagaimana direkomendasikan pihak berwenang. Hal ini menjadi penting supaya masker yang diproduksi benar-benar mampu mencegah infeksi virus. “Bikin yang desainnya seperti ada saku untuk sisipkan lapisan tisu. Sebab masker kain tidak bisa menyaring virus,” katanya. Penggunaan masker kain ini diharapkan dapat menekan permintaan masker bedah sekali pakai yang lebih diprioritaskan bagi tenaga medis serta orang sakit. (sti/mif/ash)

 

Most Read

Artikel Terbaru

/