alexametrics
25 C
Pontianak
Friday, August 19, 2022

Ekonom Kalbar Terjungkal

BI Prediksi Pertumbuhan Ekonomi Minus Satu Persen di Akhir Tahun

PONTIANAK – Perekonomian Kalimantan Barat (Kalbar) terjungkal pada triwulan-I 2020. Badan Pusat Statistik (BPS) melansir pertumbuhan ekonomi Kalbar pada triwulan-I 2020 hanya mencapai 2,49 persen secara year-on-year (yoy) dan terkontraksi sebesar 2,34 persen dibandingkan triwulan IV-2019 quarter-to-quarter (qtq). Angka tersebut juga lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi nasional, yakni sebesar 2,97 persen (yoy).

Kontraksi pertumbuhan ekonomi Kalbar pada triwulan-I 2020 tidak bisa dilepaskan dari dampak negatif pandemi covid-19 yang melanda dunia.  Konsumsi rumah tangga yang menyumbang lebih dari separuh produk domestik regional bruto (PDRB), misalnya, pada triwulan-I 2020, hanya tumbuh 3,45 persen (yoy). Komponen investasi fisik atau Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) hanya tumbuh 4,61 persen, padahal sumbangan terhadap PDRB 30,47 persen. Konsumsi pemerintah pun tak memberikan dorongan yang banyak, hanya tumbuh 0,12 persen saja.

Bank Indonesia memperkirakan penurunan konsumsi di provinsi ini hilang setengahnya. Padahal sektor konsumsi adalah faktor penunjang utama ekonomi Kalbar.

“Konsumsi kita turun sampai 50 persen pada masa pandemi ini. Karena memang pengeluaran masyarakat kurang sekali. Selain memang pendapatan yang menurun. Juga karena tutupnya sejumlah usaha sektor huburan wisata dan hiburan, ketakutan untuk berbelanja, serta kebijakan physical distancing,” ujar Kepala Kantor Perwakilan BI Kalbar, Agus Chusaini kepada Pontianak Post.

Selain itu penurunan konsumsi terbesar ada pada produk sekunder dan tersier. Bahkan belanja kebutuhan pokok seperti sandang dan papan pun turut menurun. “Banyak orang sekarang fokus untuk memenuhi kebutuhan pangannya. Seperti sekarang ini, seharusnya belanja pakaian, kendaraan dan elektronik meningkat di Ramadan. Tetapi justru kurang,” papar dia.

Baca Juga :  Entaskan Stunting Melalui Program UPPKA

Namun kata dia, ketakutan untuk bepergian dan belanja di luar lebih mempengaruhi penurunan konsumsi pada kelas menengah atas. Hal ini seharusnya menjadi momen perubahan pola berjualan para pedagang, dari konvensional ke online.

Penurunan konsumsi dan produksi sendiri sama dengan anjloknya pertumbuhan ekonomi. BI memperkirakan, bila pandemi masih seperti saat ini, maka pertumbuhan Kalbar bisa mencapai minus satu persen. Paling mentok tumbuh sebesar tiga persen. Sementara angka inflasi tidak berbeda jauh dengan angka tahun lalu, antara dua sampai tiga persen.

Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Pontianak, Andreas Acui Simanjaya mengatakan, secara umum  perekonomian di Kalbar memang merosot karena imbas dari pandemi corona.

Dia menilai, rendahnya komponen konsumsi rumah tangga lebih disebabkan karena penghasilan yang menurun dan tidak ada kepastian kapan kondisi seperti ini berakhir. Di sisi lain, daya beli masyarakat  masih stagnasi kendati sudah ada stimulus dari pemerintah. Dia menilai, salah satu hal yang harus dicermati adalah bahwa program stimulus dari pemerintah pusat tidak sepenuhnya dijalankan dengan baik oleh pihak perusahaan.

“Misalnya  kebijakan penundaan membayar  angsuran  rumah dan kendaraan ternyata tidak dilaksanakan dengan baik oleh perbankan dan perusahaan  pembiayaan. Mereka tetap melakukan tagihan kepada konsumennya dan jika pun ada konsumen disuruh membuat kontrak baru dengan biaya admin dan sistem kredit ulang,” jelas Acui.

Acui memprediksi, pertumbuhan ekonomi pada triwulan-II 2020, cenderung bertahan dan kemungkinan bisa membaik sebab sudah ada penyesuaian dari masyarakat maupun pemerintah dalam menyikapi pandemi covid-19.

Namun begitu, perekonomian Kalbar pada triwulan-II 2020 juga masih akan dalam bayang-bayang pengaruh pandemi covid-19. Apalagi jika daya beli tidak membaik, kontraksi pertumbuhan ekonomi diperkirakan masih berlanjut. Pengamat Ekonomi dari Universitas Tanjungpura, Ali Nasrun mendorong pemerintah untuk segera merealisasikan berbagai upaya dalam mengatasi persoalan sosial dan ekonomi akibat wabah corona. Salah satunya, kata dia, bantuan sosial yang ditujukan kepada masyarakat, terutama yang merasakan dampak negatif pandemi covid-19.

Baca Juga :  Kebut Pembangunan di Pontianak Utara

Hal ini juga menjadi salah satu upaya yang dapat ditempuh untuk meningkatkan daya beli masyarakat. Di tengah kondisi yang serba sulit ini, dia menilai, yang paling ditunggu dari masyarakat miskin terdampak covid-19 adalah bantuan dari pemerintah, baik itu bantuan pangan atau uang tunai. “Seharusnya bantuan ini sudah memang harus direalisasikan dan warga miskin harusnya sudah dapat merasakan manfaatnya,” kata dia.

Seperti diketahui, pemerintah sendiri telah memiliki sejumlah program jaring pengaman sosial dalam rangka penanganan covid-19. Jaringa pengaman sosial itu, antara lain Program Keluarga Harapan (PKH), Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT), Bantuan Sosial Tunai (BST), Bantuan Langsung Tunai Desa (BLTD), serta jaring pengaman sosial lainnya.

Di samping itu, angka pengangguran di Kalbar juga cukup mengkhawatirkan. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT), yang dihitung dari rasio dalam persen antara jumlah pengangguran terhadap angkatan kerja, pada Februari 2020, tercatat sebesar 4,56 persen. Angka ini naik 0,42 persen terhadap keadaan Februari 2019 sebesar 4,14 persen.

Hingga Februari 2020, jumlah pengangguran di Kalbar menurut data BPS Kalbar mencapai 117.404  orang. Jumlah ini mengalami kenaikan dari jumlah pengangguran tahun lalu di periode yang sama yakni sebesar 106.590 orang. Adapun TPT Kalimantan Barat pada Februari 2020 sebesar 4,56 persen atau naik 0,42 persen terhadap keadaan Februari 2019 sebesar 4,14 persen. (sti)

BI Prediksi Pertumbuhan Ekonomi Minus Satu Persen di Akhir Tahun

PONTIANAK – Perekonomian Kalimantan Barat (Kalbar) terjungkal pada triwulan-I 2020. Badan Pusat Statistik (BPS) melansir pertumbuhan ekonomi Kalbar pada triwulan-I 2020 hanya mencapai 2,49 persen secara year-on-year (yoy) dan terkontraksi sebesar 2,34 persen dibandingkan triwulan IV-2019 quarter-to-quarter (qtq). Angka tersebut juga lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi nasional, yakni sebesar 2,97 persen (yoy).

Kontraksi pertumbuhan ekonomi Kalbar pada triwulan-I 2020 tidak bisa dilepaskan dari dampak negatif pandemi covid-19 yang melanda dunia.  Konsumsi rumah tangga yang menyumbang lebih dari separuh produk domestik regional bruto (PDRB), misalnya, pada triwulan-I 2020, hanya tumbuh 3,45 persen (yoy). Komponen investasi fisik atau Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) hanya tumbuh 4,61 persen, padahal sumbangan terhadap PDRB 30,47 persen. Konsumsi pemerintah pun tak memberikan dorongan yang banyak, hanya tumbuh 0,12 persen saja.

Bank Indonesia memperkirakan penurunan konsumsi di provinsi ini hilang setengahnya. Padahal sektor konsumsi adalah faktor penunjang utama ekonomi Kalbar.

“Konsumsi kita turun sampai 50 persen pada masa pandemi ini. Karena memang pengeluaran masyarakat kurang sekali. Selain memang pendapatan yang menurun. Juga karena tutupnya sejumlah usaha sektor huburan wisata dan hiburan, ketakutan untuk berbelanja, serta kebijakan physical distancing,” ujar Kepala Kantor Perwakilan BI Kalbar, Agus Chusaini kepada Pontianak Post.

Selain itu penurunan konsumsi terbesar ada pada produk sekunder dan tersier. Bahkan belanja kebutuhan pokok seperti sandang dan papan pun turut menurun. “Banyak orang sekarang fokus untuk memenuhi kebutuhan pangannya. Seperti sekarang ini, seharusnya belanja pakaian, kendaraan dan elektronik meningkat di Ramadan. Tetapi justru kurang,” papar dia.

Baca Juga :  Entaskan Stunting Melalui Program UPPKA

Namun kata dia, ketakutan untuk bepergian dan belanja di luar lebih mempengaruhi penurunan konsumsi pada kelas menengah atas. Hal ini seharusnya menjadi momen perubahan pola berjualan para pedagang, dari konvensional ke online.

Penurunan konsumsi dan produksi sendiri sama dengan anjloknya pertumbuhan ekonomi. BI memperkirakan, bila pandemi masih seperti saat ini, maka pertumbuhan Kalbar bisa mencapai minus satu persen. Paling mentok tumbuh sebesar tiga persen. Sementara angka inflasi tidak berbeda jauh dengan angka tahun lalu, antara dua sampai tiga persen.

Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Pontianak, Andreas Acui Simanjaya mengatakan, secara umum  perekonomian di Kalbar memang merosot karena imbas dari pandemi corona.

Dia menilai, rendahnya komponen konsumsi rumah tangga lebih disebabkan karena penghasilan yang menurun dan tidak ada kepastian kapan kondisi seperti ini berakhir. Di sisi lain, daya beli masyarakat  masih stagnasi kendati sudah ada stimulus dari pemerintah. Dia menilai, salah satu hal yang harus dicermati adalah bahwa program stimulus dari pemerintah pusat tidak sepenuhnya dijalankan dengan baik oleh pihak perusahaan.

“Misalnya  kebijakan penundaan membayar  angsuran  rumah dan kendaraan ternyata tidak dilaksanakan dengan baik oleh perbankan dan perusahaan  pembiayaan. Mereka tetap melakukan tagihan kepada konsumennya dan jika pun ada konsumen disuruh membuat kontrak baru dengan biaya admin dan sistem kredit ulang,” jelas Acui.

Acui memprediksi, pertumbuhan ekonomi pada triwulan-II 2020, cenderung bertahan dan kemungkinan bisa membaik sebab sudah ada penyesuaian dari masyarakat maupun pemerintah dalam menyikapi pandemi covid-19.

Namun begitu, perekonomian Kalbar pada triwulan-II 2020 juga masih akan dalam bayang-bayang pengaruh pandemi covid-19. Apalagi jika daya beli tidak membaik, kontraksi pertumbuhan ekonomi diperkirakan masih berlanjut. Pengamat Ekonomi dari Universitas Tanjungpura, Ali Nasrun mendorong pemerintah untuk segera merealisasikan berbagai upaya dalam mengatasi persoalan sosial dan ekonomi akibat wabah corona. Salah satunya, kata dia, bantuan sosial yang ditujukan kepada masyarakat, terutama yang merasakan dampak negatif pandemi covid-19.

Baca Juga :  KPU Kalbar  Ingatkan Prokes Pilkada Di Tengah Covid-19

Hal ini juga menjadi salah satu upaya yang dapat ditempuh untuk meningkatkan daya beli masyarakat. Di tengah kondisi yang serba sulit ini, dia menilai, yang paling ditunggu dari masyarakat miskin terdampak covid-19 adalah bantuan dari pemerintah, baik itu bantuan pangan atau uang tunai. “Seharusnya bantuan ini sudah memang harus direalisasikan dan warga miskin harusnya sudah dapat merasakan manfaatnya,” kata dia.

Seperti diketahui, pemerintah sendiri telah memiliki sejumlah program jaring pengaman sosial dalam rangka penanganan covid-19. Jaringa pengaman sosial itu, antara lain Program Keluarga Harapan (PKH), Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT), Bantuan Sosial Tunai (BST), Bantuan Langsung Tunai Desa (BLTD), serta jaring pengaman sosial lainnya.

Di samping itu, angka pengangguran di Kalbar juga cukup mengkhawatirkan. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT), yang dihitung dari rasio dalam persen antara jumlah pengangguran terhadap angkatan kerja, pada Februari 2020, tercatat sebesar 4,56 persen. Angka ini naik 0,42 persen terhadap keadaan Februari 2019 sebesar 4,14 persen.

Hingga Februari 2020, jumlah pengangguran di Kalbar menurut data BPS Kalbar mencapai 117.404  orang. Jumlah ini mengalami kenaikan dari jumlah pengangguran tahun lalu di periode yang sama yakni sebesar 106.590 orang. Adapun TPT Kalimantan Barat pada Februari 2020 sebesar 4,56 persen atau naik 0,42 persen terhadap keadaan Februari 2019 sebesar 4,14 persen. (sti)

Most Read

Artikel Terbaru

/