alexametrics
31 C
Pontianak
Sunday, May 29, 2022

Penjual Sisik Trenggiling Dihukum Setahun Penjara dan Denda Rp50 Juta

PONTIANAK – Pengadilan Negeri Sanggau menjatuhkan vonis satu tahun dan denda Rp50 juta terhadap SK (38) dan BW (33), Selasa (8/2), Keduanya merupakan terdakwa kasus perdagangan satwa liar berupa sisik trenggiling.

Hakim Ketua Pengadilan Negeri Sanggau Eliyas Eko Setyo mengatakan, terdakwa secara sah dan meyakinkan melanggar Pasal 40 ayat 2 juncto Pasal 21 ayat 2 huruf d Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya.

“Memutuskan terdakwa divonis bersalah atas aktivitas perdagangan sisik trenggiling di daerah Nanga Taman, Kabupaten Sekadau. Terdakwa divonis dengan putusan penjara selama satu tahun dengan denda Rp 50 juta atau subsider satu bulan kurungan,” kata Eliyas saat membacakan putusannya, kemarin.

Vonis hakim tersebut senada dengan tuntutan jaksa penuntut umum Kejaksaan Negeri Sekadau, yakni penjara satu tahun. Setelah persidangan, hakim menawarkan kepada terdakwa untuk mengajukan banding. Namun, kedua terdakwa dan jaksa penuntut umum menyatakan dapat menerima hasil putusan tersebut.

Baca Juga :  Gugatan Joni Isnaini Cs Kandas

Sebelumnya, Direktorat Jenderal Penegakan Hukum Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menangkap SK (38) dan BW (33) di Kecamatan Nanga Taman, Kabupaten Sekadau, Senin 18 Oktober 2021.

Kepala Balai Gakkum KLHK Wilayah Kalimantan Eduward Hutapea mengatakan, keduanya ditangkap atas dugaan memperjualbelikan 14 kilogram sisik trenggiling.

Eduward menerangkan, penangkapan bermula dari informasi adanya perdagangan sisik trenggiling yang dilanjutkan dengan langkah penyelidikan.

“Setelah informasi cukup, tim menyergap dua pelaku di Jalan Raya Sekadau sekitar pukul 10.45 WIB,” terang Eduward.

Setelah penyergapan, terungkap kedua pelaku membungkus 14 kilogram sisik trenggiling ke dalam karung plastik putih dan membawanya menggunakan sepeda motor.

“Selain 14 kilogram sisik trenggiling, tim juga mengamankan satu sepeda motor dan dua ponsel sebagai barang bukti,” jelas Eduward.

Direktur Pencegahan dan Pengamanan Hutan KLHK Sustyo Iriyono menambahkan, hasil kajian valuasi ekonomi satwa dilindungi, setiap satu kilogram sisik trenggiling membutuhkan 10 ekor trenggiling hidup. Jadi, 14 kilogram sisik yang disita tersebut diduga berasal dari 140 ekor trenggiling hidup yang dibunuh dan dikuliti.

Baca Juga :  Kondisi Udara Pontianak Berbahaya

“Bisa dipastikan sisik trenggiling itu untuk pasar luar negeri,” kata Sustyo.

Trenggiling merupakan spesies nokturnal yang dapat ditemukan di daerah tropis dan subtropis. Trenggiling atau dalam bahasa Inggris disebut pangolin ini kerap dijual secara ilegal karena masyarakatnya percaya ada keterkaitan antara hewan yang gemar menggulung tubuhnya ini dengan manusia.

Sisik dari trenggiling dianggap mujarab dan sering dijadikan obat tradisional bagi masyarakat China. Sementara dagingnya yang konon dianggap bernutrisi dan lezat kerap dimasak dalam hidangan sup.

Tidak hanya warga Asia yang menyukai daging trenggiling. Hewan ini juga akrab di kalangan masyarakat Nigeria, Afrika.

Di Indonesia, Trenggiling merupakan hewan yang dilindungi berdasarkan Undang-Undang Nomor 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Hewan ini juga terancam punah. (arf)

PONTIANAK – Pengadilan Negeri Sanggau menjatuhkan vonis satu tahun dan denda Rp50 juta terhadap SK (38) dan BW (33), Selasa (8/2), Keduanya merupakan terdakwa kasus perdagangan satwa liar berupa sisik trenggiling.

Hakim Ketua Pengadilan Negeri Sanggau Eliyas Eko Setyo mengatakan, terdakwa secara sah dan meyakinkan melanggar Pasal 40 ayat 2 juncto Pasal 21 ayat 2 huruf d Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya.

“Memutuskan terdakwa divonis bersalah atas aktivitas perdagangan sisik trenggiling di daerah Nanga Taman, Kabupaten Sekadau. Terdakwa divonis dengan putusan penjara selama satu tahun dengan denda Rp 50 juta atau subsider satu bulan kurungan,” kata Eliyas saat membacakan putusannya, kemarin.

Vonis hakim tersebut senada dengan tuntutan jaksa penuntut umum Kejaksaan Negeri Sekadau, yakni penjara satu tahun. Setelah persidangan, hakim menawarkan kepada terdakwa untuk mengajukan banding. Namun, kedua terdakwa dan jaksa penuntut umum menyatakan dapat menerima hasil putusan tersebut.

Baca Juga :  Kegiatan Pramuka Ciptakan Calon Pemimpin Hebat

Sebelumnya, Direktorat Jenderal Penegakan Hukum Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menangkap SK (38) dan BW (33) di Kecamatan Nanga Taman, Kabupaten Sekadau, Senin 18 Oktober 2021.

Kepala Balai Gakkum KLHK Wilayah Kalimantan Eduward Hutapea mengatakan, keduanya ditangkap atas dugaan memperjualbelikan 14 kilogram sisik trenggiling.

Eduward menerangkan, penangkapan bermula dari informasi adanya perdagangan sisik trenggiling yang dilanjutkan dengan langkah penyelidikan.

“Setelah informasi cukup, tim menyergap dua pelaku di Jalan Raya Sekadau sekitar pukul 10.45 WIB,” terang Eduward.

Setelah penyergapan, terungkap kedua pelaku membungkus 14 kilogram sisik trenggiling ke dalam karung plastik putih dan membawanya menggunakan sepeda motor.

“Selain 14 kilogram sisik trenggiling, tim juga mengamankan satu sepeda motor dan dua ponsel sebagai barang bukti,” jelas Eduward.

Direktur Pencegahan dan Pengamanan Hutan KLHK Sustyo Iriyono menambahkan, hasil kajian valuasi ekonomi satwa dilindungi, setiap satu kilogram sisik trenggiling membutuhkan 10 ekor trenggiling hidup. Jadi, 14 kilogram sisik yang disita tersebut diduga berasal dari 140 ekor trenggiling hidup yang dibunuh dan dikuliti.

Baca Juga :  IPC Pontianak Bagikan Sembako ke Mitra TKBM

“Bisa dipastikan sisik trenggiling itu untuk pasar luar negeri,” kata Sustyo.

Trenggiling merupakan spesies nokturnal yang dapat ditemukan di daerah tropis dan subtropis. Trenggiling atau dalam bahasa Inggris disebut pangolin ini kerap dijual secara ilegal karena masyarakatnya percaya ada keterkaitan antara hewan yang gemar menggulung tubuhnya ini dengan manusia.

Sisik dari trenggiling dianggap mujarab dan sering dijadikan obat tradisional bagi masyarakat China. Sementara dagingnya yang konon dianggap bernutrisi dan lezat kerap dimasak dalam hidangan sup.

Tidak hanya warga Asia yang menyukai daging trenggiling. Hewan ini juga akrab di kalangan masyarakat Nigeria, Afrika.

Di Indonesia, Trenggiling merupakan hewan yang dilindungi berdasarkan Undang-Undang Nomor 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Hewan ini juga terancam punah. (arf)

Most Read

Artikel Terbaru

/