alexametrics
23 C
Pontianak
Wednesday, June 29, 2022

PLTU Kalbar Harus Jelaskan Manfaat Limbah Batu Bara

PONTIANAK- Perusahaan Pembangkit Tenaga Uap (PLTU) di Kalimantan Barat hendaknya harus menjelaskan secara dini tentang pemanfaatan debu dari limbah pembakaran Batubara yang dimanfaatkan dalam proses pembakaran untuk menghasilkan energi.

“Kita ketahui, saat ini PLTU di Kalbar tumbuh pesat, kendati ada masih banyak yang mangkrak, namun di sejumlah daerah PLTU ini sudah beroperasi dan kebanyakannya dalam proses finishing,” kata Ketua PWI Kalbar Gusti Yusri menjawab wartawan usai menghadiri Webinar, mengenai pemanfaatan FABA (sebutan lain untuk limbah batubara. Red).

Webinar nasional yang diselenggarakan PWI Jaya pada Jumat (9/4) ini menghadirkan para pakar dari berbagai perguruan tinggi, praktisi dan unsur pemerintah.
Menurutnya, limbah FABA ini sesungguhnya sangat bermanfaat untuk berbagai kehidupan terutama sektir manufacktur, untuk kebutuhan indus ndustryinbfrastruktur.

“Penelitiannya sudah sangat banyak, regulasi pemerintah juga sudah ada yaitu Peraturan Pemerintah No 22 tahun 2021. Karena itu tinggal implementasinya saja, Kata Gusti.
Dia mengingatkan, karena ini menyangkut limbah apa bila tidak dikelola dengan baik dan tepat dan terlambat dalam memberikan penjelasan dan edukasi kepada masyarakat, maka nantinya akan berkembang menjadi isu lingkungan dan tidak menguntungkan daerah dan dunia investasi, khsusnya yang memanfaatkan batubara sebgai pembakit.

Ketua Umum PWI Pusat Atal S Depari, mengungkapkan banyak masyarakat yang awam terhadap FABA dan pemanfaatannya, namun setelah didalami ini menjadi isu yang sangat menarik. “Ini issu sexy, apalagi trend pemanfaatan batubara semakin meningkat sejalan dengan pembangunan PLTU dimana-mana,” ujarnya

Baca Juga :  Kratom Jadi Unggulan Penelitian di 2021

Peneliti dari Institut Tecnologi Surabaya Dr Ing Januarti Jaya Ekaputri mengungkapkan selama ini limbah batu bara masuk dalam katagori limbah berbahaya, sementara di Jepang, China, Eropa dan kebanyakan negara di dunia limbah batu justru sangat bermanfaat sebagi bahan pengganti semen untuk keperluan infrastruktur, baik jalan maupun bangunan. Banyak sekali pemanfaatan FABA.

“Di Jepang pemanfaatan FABA (sebutan untuk limbah batu bara. Red) sudah sangat lama dimanfaatkan untuk kepentingan pembangunan infrastruktur, sementara di Indonesia ini dianggap limbah berbahaya. Sebaliknya, Mie Instan kita yang sangat digemari itu, di Jepang masih diragukan,” kata Peneliti Institut Teknologi Surabaya Dr. Eng. Januarti Jaya Ekaputri.

The Queen Of Limbah, demikian dia dijuluki karena ketekunannya dalam meneliti limbah mengatakan dibanyakan negara pemanfaatan FABA (Fly Ash Buttom Ash) sangat memasyarakat dan sudah berlangsung sangat lama. Sementara di Indonesia memperlakukannya sebagai Bahan Beracun Berbahaya (B-3).
Namun, kendati terlambat Indonesia bersyukur karena pemerintah melalui Peraturan Pemerintah No. 22 Tahun 2021 telah mengeluarkan limbah debu dari pembakaran batu bara ini dikeluarkan dari katagori limbah B-3. “PP ini sudah tepat dikeluarkan, karena FABA ini sangat bermanfaat baik sebagai bahan baku konstruksi maupun sebagai subtitusi,” kata Januarti, yang pada 2017 mendapat anugerah sebagai peneliti terbaik Indonesia.

Baca Juga :  Lima Sembuh, Tiga Meninggal

Dia juga mengungkapkan, penelitian terhadap tikus yang sengaja diberi makanan bercampur FABA, ternyata hasilnya tikus tidak mati dan tubunya justru bertambah beras secara signifikan. “Karena itu PP 22/21 sangat tepat.
Sementara Dr. Sri Andini praktisi mengungkapkan pemanfaatan FABA menjadi sangat strategis karena pada umumnya Pembangkit Listrik Tenaga Uap yang memanfaatkan batu bara, pada umumnya terdapat di daerah terpencil, sehingga pemanfaatan FABA untuk kepentingan konstruksi sangat bermanfaat.

“Katakanlah untuk bahan bata, sebagai campuran semen, aspal untuk infrastruktur,” katanya

Sri Andini, mengatakan jauh sebelum diterbitkannya PP 22/21 dia sudah mengambil inisiatif untuk melakukan penelitian tentang maanfaat FABA bagi kehidupan. Dan hasilnya memang luarbiasa. Dia mencontohkan, menanam tumbuhan dilahan FABA ternyata sangat subur. “ Bahkan saya pernah membuat kolam ikan dari FABA. Hasilknya ikan sehat dan gemuk-gemuk,” katanya.
Karena itu dia mengharapkan tidak ada lagi aturan-aturan yang mempersulit pemanfaatan FABA di Indonesia, termasuk peraturan di Daerah. “Ini PP 22/2021 sudah sangat baik, karena FABA ini manfaatnya sangat banyak dan ternyata ramah lingkungan,” ucapnya.

Ketua Masyarakat Komputasi Indonesia, Wiluyo Kusdwiharto mengungkapkan di negara maju pemanfaatan FABA dikebnyakan negara, kataklanlah Eropa, Jepang dan RRC sudah sangat maju antara lain untuk pekerasan jalan, bahkan sebagai bahan campurannya mencapai 70 persen. Selain itu juga digunakan untuk pupuk dan bata dan vaving blok.**

PONTIANAK- Perusahaan Pembangkit Tenaga Uap (PLTU) di Kalimantan Barat hendaknya harus menjelaskan secara dini tentang pemanfaatan debu dari limbah pembakaran Batubara yang dimanfaatkan dalam proses pembakaran untuk menghasilkan energi.

“Kita ketahui, saat ini PLTU di Kalbar tumbuh pesat, kendati ada masih banyak yang mangkrak, namun di sejumlah daerah PLTU ini sudah beroperasi dan kebanyakannya dalam proses finishing,” kata Ketua PWI Kalbar Gusti Yusri menjawab wartawan usai menghadiri Webinar, mengenai pemanfaatan FABA (sebutan lain untuk limbah batubara. Red).

Webinar nasional yang diselenggarakan PWI Jaya pada Jumat (9/4) ini menghadirkan para pakar dari berbagai perguruan tinggi, praktisi dan unsur pemerintah.
Menurutnya, limbah FABA ini sesungguhnya sangat bermanfaat untuk berbagai kehidupan terutama sektir manufacktur, untuk kebutuhan indus ndustryinbfrastruktur.

“Penelitiannya sudah sangat banyak, regulasi pemerintah juga sudah ada yaitu Peraturan Pemerintah No 22 tahun 2021. Karena itu tinggal implementasinya saja, Kata Gusti.
Dia mengingatkan, karena ini menyangkut limbah apa bila tidak dikelola dengan baik dan tepat dan terlambat dalam memberikan penjelasan dan edukasi kepada masyarakat, maka nantinya akan berkembang menjadi isu lingkungan dan tidak menguntungkan daerah dan dunia investasi, khsusnya yang memanfaatkan batubara sebgai pembakit.

Ketua Umum PWI Pusat Atal S Depari, mengungkapkan banyak masyarakat yang awam terhadap FABA dan pemanfaatannya, namun setelah didalami ini menjadi isu yang sangat menarik. “Ini issu sexy, apalagi trend pemanfaatan batubara semakin meningkat sejalan dengan pembangunan PLTU dimana-mana,” ujarnya

Baca Juga :  Hujan, Hotspot Turun Drastis

Peneliti dari Institut Tecnologi Surabaya Dr Ing Januarti Jaya Ekaputri mengungkapkan selama ini limbah batu bara masuk dalam katagori limbah berbahaya, sementara di Jepang, China, Eropa dan kebanyakan negara di dunia limbah batu justru sangat bermanfaat sebagi bahan pengganti semen untuk keperluan infrastruktur, baik jalan maupun bangunan. Banyak sekali pemanfaatan FABA.

“Di Jepang pemanfaatan FABA (sebutan untuk limbah batu bara. Red) sudah sangat lama dimanfaatkan untuk kepentingan pembangunan infrastruktur, sementara di Indonesia ini dianggap limbah berbahaya. Sebaliknya, Mie Instan kita yang sangat digemari itu, di Jepang masih diragukan,” kata Peneliti Institut Teknologi Surabaya Dr. Eng. Januarti Jaya Ekaputri.

The Queen Of Limbah, demikian dia dijuluki karena ketekunannya dalam meneliti limbah mengatakan dibanyakan negara pemanfaatan FABA (Fly Ash Buttom Ash) sangat memasyarakat dan sudah berlangsung sangat lama. Sementara di Indonesia memperlakukannya sebagai Bahan Beracun Berbahaya (B-3).
Namun, kendati terlambat Indonesia bersyukur karena pemerintah melalui Peraturan Pemerintah No. 22 Tahun 2021 telah mengeluarkan limbah debu dari pembakaran batu bara ini dikeluarkan dari katagori limbah B-3. “PP ini sudah tepat dikeluarkan, karena FABA ini sangat bermanfaat baik sebagai bahan baku konstruksi maupun sebagai subtitusi,” kata Januarti, yang pada 2017 mendapat anugerah sebagai peneliti terbaik Indonesia.

Baca Juga :  Kratom Jadi Unggulan Penelitian di 2021

Dia juga mengungkapkan, penelitian terhadap tikus yang sengaja diberi makanan bercampur FABA, ternyata hasilnya tikus tidak mati dan tubunya justru bertambah beras secara signifikan. “Karena itu PP 22/21 sangat tepat.
Sementara Dr. Sri Andini praktisi mengungkapkan pemanfaatan FABA menjadi sangat strategis karena pada umumnya Pembangkit Listrik Tenaga Uap yang memanfaatkan batu bara, pada umumnya terdapat di daerah terpencil, sehingga pemanfaatan FABA untuk kepentingan konstruksi sangat bermanfaat.

“Katakanlah untuk bahan bata, sebagai campuran semen, aspal untuk infrastruktur,” katanya

Sri Andini, mengatakan jauh sebelum diterbitkannya PP 22/21 dia sudah mengambil inisiatif untuk melakukan penelitian tentang maanfaat FABA bagi kehidupan. Dan hasilnya memang luarbiasa. Dia mencontohkan, menanam tumbuhan dilahan FABA ternyata sangat subur. “ Bahkan saya pernah membuat kolam ikan dari FABA. Hasilknya ikan sehat dan gemuk-gemuk,” katanya.
Karena itu dia mengharapkan tidak ada lagi aturan-aturan yang mempersulit pemanfaatan FABA di Indonesia, termasuk peraturan di Daerah. “Ini PP 22/2021 sudah sangat baik, karena FABA ini manfaatnya sangat banyak dan ternyata ramah lingkungan,” ucapnya.

Ketua Masyarakat Komputasi Indonesia, Wiluyo Kusdwiharto mengungkapkan di negara maju pemanfaatan FABA dikebnyakan negara, kataklanlah Eropa, Jepang dan RRC sudah sangat maju antara lain untuk pekerasan jalan, bahkan sebagai bahan campurannya mencapai 70 persen. Selain itu juga digunakan untuk pupuk dan bata dan vaving blok.**

Most Read

Artikel Terbaru

/