alexametrics
26.7 C
Pontianak
Wednesday, May 25, 2022

Pengalaman Windy Prihastari Merawat Anak Pengidap Talasemia

Setiap 8 Mei diperingati sebagai hari talasemia se-dunia. Di peringatan tahun ini, Pontianak Post mewawancarai salah satu orang tua yang anaknya mengidap talasemia sejak balita. Dia adalah Windy Prihastari yang juga Ketua Perhimpunan Orangtua Penderita Thalassemia Indonesia (POPTI) Kalimantan Barat (Kalbar). Seperti apa kisahnya?

IDIL AQSA AKBARY, Pontianak 

WINDY sebelumnya tak pernah menyangka bahwa putri sulungnya Denisa Assyifa mengidap talasemia. Diagnosis itu baru diketahui ketika sang putri menginjak usia tiga tahun, Denisa sempat mengalami demam, seperti anak-anak pada umumnya, Windy mengira anaknya hanya demam biasa. Ketika itu dugaan awal adalah demam berdarah dengue (DBD).

Namun setelah diperiksa, ada tiga diagnosis yang dikeluarkan dokter. Pertama talasemia, kedua leukemia dan yang terakhir cacingan. Mendengar diagnosis itu, Windy lantas mengatakan kepada dokter bahwa khusus penyakit talasemia, pengetahuannya masih sangat awam. Dokter kemudian menyarankan transfusi darah untuk anaknya, baru kemudian dicek kembali satu sampai dua bulan berikut.

“Cek sebulan dua bulan kan tidak ketahuan tuh, saya bawa ke (RS) Normah (Kuching), di sana lah terdiagnosanya bahwa dia (Denisa) talasemia,” ungkap Windy.

Setelah mengetahui anaknya mengidap talasemia, Windy yang awam pengetahuan tentang penyakit tersebut mulai belajar lebih dalam. Ia pun akhirnya mulai mencari info sebanyak-banyaknya tentang penyakit kelainan darah tersebut, misalnya dari internet.

Anaknya juga sempat dibawa ke Jakarata karena harus ada diagnosis dari Lembaga Eijkman. Diagnosis tersebut digunakan sebagai acuan agar bisa melanjutkan pengobatan di Kalbar. Menurut Windy, anak pertamanya itu mulai menjalani transfusi darah rutin setiap satu bulan sekali sejak usai lima tahun.

Peran orang tua dinilai cukup penting dalam membesarkan anak yang menderita talasemia. Selain orang tua, kemauan anaknya sendiri juga tak kalah penting. Windy bersyukur Denisa termasuk anak yang pintar. Saat harus rutin menjalani transfusi, sang putri hanya butuh satu tahun untuk beradaptasi.

Di tahun pertama anaknya masih menangis atau merengek takut ketika ditusuk jarum suntik untuk proses transfusi darah. Setahun berselang, justru Denisa yang menyerahkan tangannya ketika proses itu dilakukan. Windy pun mulai lega.

Tapi perjuangan itu belum berakhir, karena transfusi harus dilakukan terus menerus. Sampai Denisa memasuki usia sekolah dasar, Windy harus pandai-pandai membagi waktu untuk mengantar anaknya menjalani transfusi. Sebagai ASN, ia cukup sibuk dengan pekerjaan sehari-hari di kantor. Sementara anaknya juga harus terus mendapat pendidikan di sekolah dengan baik.

Satu kali proses transfusi darah memerlukan waktu sekitar empat jam. Karena itu, Windy selalu terbuka dengan atasan atau rekan kerjanya di kantor soal kondisi sang anak. Begitu juga pihak sekolah, selalu diberi tahu mengenai Denisa yang mengidap talasemia.

“Biasanya saya kerja dulu, selesaikan kerjaan semaksimal mungkin. Jam 10.00 saya izin. Dan saya bilang Denisa (setelah transfusi) harus balik lagi ke sekolah dan saya balik ke kantor. Sampai akhirnya dia sudah terbiasa,” ceritanya.

Belasan tahun ia menjalani hal tersebut. Satu hal yang ditanamkan Windy kepada anaknya adalah, agar selalu percaya diri atau tidak minder. Ia selalu memberi pengertian bahwa penyakit tersebut adalah takdir dari sang pencipta yang harus diterima dan dijalani dengan ikhlas.

“Sampai setelah mengerti, dia pun tidak minder. Saya selalu ajak saat sosialisasi (tentang talasemia). Kawan-kawannya juga sayang sama dia. Saat SMP dia bahkan jadi ketua kelas, ikut marching band. Saya tidak pernah menuntut, tapi Alhamdulillah dia tidak tertinggal (sekolah), masuk (ranking) 10 besar,” papar Windy.

Ia yang menjabat sebagai Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata Kalbar juga mengatakan, dalam merawat anak pengidap talasemia, pertama yang harus ikhlas dan kuat adalah orang tuanya. Baru kemudian sang anak bisa mengikuti setelah diberikan pemahaman dan pengertian secara terus menerus.

Baca Juga :  SMAN 1 Pontianak Gelar Simulasi Tatap Muka

Saat ini Denisa sudah berusia 17 tahun dan duduk di bangku kelas XI SMA. Denisa sudah mandiri. Setiap bulan ia sudah bisa pergi sendiri ke rumah sakit untuk menjalani trnsfusi darah. Kemandirian itu tumbuh berkat didikan serta ketulusan sang ibu yang merawatnya selama ini.

“Karena saya selalu bilang, saya tidak bisa menemani dia selamanya kan. Dia harus mandiri dan alhamdulillah anaknya mandiri dan dia (Denisa) katanya mau jadi dokter. Mudah-mudahan tercapai, karena dari kecil dia suka sekali main dokter-dokteran,” ucap Windy.

Belasan tahun merawat anak pengidap talasemia membuat pengetahuan Windy tentang penyakit tersebut terus bertambah. Salah satu yang ia pelajari adalah bahwa ternyata penyakit talasemia masih bisa disembuhkan. Untuk mendapat informasi yang benar-benar lengkap ia pun terbang ke Kuala Lumpur untuk bertemu profesor ahli penyakit tersebut.

“Saya ke Kuala Lumpur yang terdekat, karena ada juga di Italia dan Singapura. Saya ke Kuala Lumpur bertemu dengan profesornya, ketemu ngobrol karena di situ harganya (penyembuhan) lumayan lebih rendah dari pada di negara lain,” terangnya.

Meski secara harga paling rendah dari negara lain, tetap bagi Windy yang hanya bekerja sebagai ASN, biaya operasi untuk penyembuhan masih sangat-sangat tinggi. Tapi paling tidak ia harus tahu cara-caranya terlebih dahulu. Masalah biaya bakal dipikirkan belakangan.

Dari sana ia mendapat informasi bahwa ada dua cara penyembuhan penyakit talasemia ini. Pertama dengan metode transplantasi sumsum tulang belakang atau bone marrow transplant (BMT). Bisa menggunkan sumsum tulang belakang dari adik atau sepupu si pengidap talasemia yang didonorkan. Lalu yang kedua menggunakan transplantasi terhadap sel punca, dari darah tali pusar yang diambil dari adik si pengidap talasemia ketika baru dilahirkan.

Dengan bekal ilmu yang cukup, Windy akhirnya berani untuk kembali mengandung anak kedua. Belajar dari anak pertama ia tidak ingin anak keduanya juga mengidap talasemia. Untuk itu, sejak usia kandungan dua minggu sudah dilaksanakan penyaringan untuk memastikan ada tidaknya gen talasemia terhadap anak yang dikandung.

Windy bersyukur anak keduanya tersebut bebas dari talasemia. Selain itu Denisa juga otomatis punya harapan bisa disembuhkan dengan cara BMT menggunakan sumsum tulang belakang adiknya. Namun disayangkan saat dilaksanakan HLA tissue typing, yaitu pemeriksaan untuk mengetahui apakah sumsum tulang pendonor akan cocok pada calon penerima, ternyata antara Denisa dengan adiknya tidak cocok. Yang artinya tidak bisa dilakukan BMT.

Kebetulan saat melahirkan anak kedua itu Windy belum tahu soal cara penyembuhan kedua dengan sel punca. Hal itu baru diketahui belakangan dari profesor yang ia temui setelah akan melahirkan anak ketiganya. Saat hamil anak ketiga di usia kandungan dua minggu Windy kembali diperiksa dan ternyata sumsum tulang belakang anak ketiga cocok dengan Denisa.

Kuncinya adalah harus ada kecocokan. Dari sana ia akhirnya lebih memilih penyembuhan dengan sel punca. Dari informasi ia dapat, risiko metode ini lebih minim dibanding BMT. “Jadi sel darah merah tali pusar yang ada di bayi ketika ibu melahirkan itu akan disimpan di bank sel punca darah. Saya putuskan anak ketiga (pendonor). Jadi begitu melahirkan, sel darahnya langsung dibawa dan disimpan di bank sel punca,” jelasnya.

Menyimpan sel punca itu juga tidak bisa di sembarang tempat. Kala itu di Indonesia belum memiliki bank sel punca darah. Windy terpaksa menyimpannya di Singapura yang sudah memiliki teknologi penyimpanan dan lokasinya paling dekat dari Indonesia. Sel punca itu bakal disimpan sampai waktunya siap digunakan untuk proses operasi.

Baca Juga :  Laboratorium SIMI Untan Berkontribusi Tangani Covid-19

Akan tetapi, yang menjadi persoalan selanjutnya adalah biaya operasi sel punca untuk pengidap talasemia yang sangat mahal. Waktu itu untuk bisa melakukan operasi perlu biaya sebesar Rp2 miliar. “Saya kan pegawai negeri tidak mungkin bisa dapat segitu, Rp2 miliar pada waktu itu. Sedangkan saya hanya (mampu) bisa sampai ke penyimpanan saja kan,” katanya.

Sedangkan untuk penyimpanan sel punca di Singapura sendiri dikenakan tarif Rp4 juta per tahun. Sampai saat ini setelah sembilan tahun usia anak ketiganya, Windy masih menyimpan asa itu. Sel punca masih disimpan dan masih bisa digunakan sampai sekira 11 tahun lagi. Sebab sel tersebut kabarnya hanya bisa bertahan selama 20 tahun.

“Saya sewanya (penyimpanan) setiap tahun. Saya berpikir karena saya optimis. Saya pikir begini, kemampuan saya hanya sampai menyimpankan, jadi sisanya diserahkan ke Allah SWT, bagaimana nanti entah dia (Denisa) sembuh dengan cara lain, itu sudah ketetapan Allah, kami sudah maksimal,” terangnya.

Meski Denisa kini sudah mandiri dan hidup normal ditandai dengan sudah mengalami menstruasi, Windy masih berharap sang anak bisa terlepas dari transfusi setiap bulannya. Ia percaya dunia kedokteran akan terus maju dan mungkin bisa ditemukan metode penyembuhan yang lebih murah.

Ia pun sempat mendapat jawaban dari penantian itu. Beberapa tahun lalu ia dipanggil oleh para peneliti di Universitas Airlangga. Windy ternyata menjadi satu-satunya orang tua yang anaknya mengidap talasemia dan menyimpan sel punca untuk operasi penyembuhan. Pihak peneliti siap menggratiskan proses operasinya asal Windy setuju Denisa menjadi orang pertama yang menjalani operasi tersebut di Indonesia.

Setelah melalui pertimbangan yang matang, tawaran itu akhirnya ia tolak. Windy belum berani anaknya menjadi yang pertama dalam uji coba operasi tersebut. “Saya tanya apakah sudah ada yang pernah (operasi) untuk talasemia, para profesor (di Unair) itu bilang belum pernah. Katanya hanya leukemia saja. Saya bilang, oh beda kalau leukemia dengan talasemia dan saya belum berani,” imbuhnya.

Kini sudah sembilan tahun ia menyimpan harapan untuk kesembuhan sang anak. Ia tetap yakin bakal datang waktu yang tepat, baik dengan jalan operasi menggunakan sel punca ataupun dengan cara penyembuhan yang lain.

Untuk itu, selaku Ketua POPTI Kalbar Windy tak henti-hentinya menyemangati para orang tua yang anaknya menderita talasemia agar mau menyimpan sel punca seperti dirinya. Minimal untuk mampu menyimpan saja. Ia yakin dunia kedokteran bakal terus berkembang dan sel punca itu bisa digunakan ketika dibutuhkan.

“Ketika bertemu orang tua yang anaknya mengidap talasemia dan mampu melakukan penyimpanan (sel punca), saya selalu support. Saya motivasi untuk menyimpan, tapi sampai sekarang belum ada yang mau,” tutupnya.

Seperti diketahui, talasemia adalah kelainan darah bawaan yang ditandai oleh kurangnya protein pembawa oksigen (hemoglobin) dan jumlah sel darah merah dalam tubuh yang kurang dari normal. Gangguan ini mengakibatkan kerusakan sel darah merah berlebihan dan anemia. Anemia merupakan suatu kondisi di mana tubuh tidak memiliki cukup sel darah merah. Gejala talasemia dapat berupa kelainan bentuk tulang, pertumbuhan dan perkembangan yang tertunda. kelelahan kronis. kulit bewarna kuning atau pucat. Tidak semua orang mengalami gejala talasemia yang terlihat. Tanda-tanda gangguan juga cenderung muncul di masa kanak-kanak atau remaja.*

Setiap 8 Mei diperingati sebagai hari talasemia se-dunia. Di peringatan tahun ini, Pontianak Post mewawancarai salah satu orang tua yang anaknya mengidap talasemia sejak balita. Dia adalah Windy Prihastari yang juga Ketua Perhimpunan Orangtua Penderita Thalassemia Indonesia (POPTI) Kalimantan Barat (Kalbar). Seperti apa kisahnya?

IDIL AQSA AKBARY, Pontianak 

WINDY sebelumnya tak pernah menyangka bahwa putri sulungnya Denisa Assyifa mengidap talasemia. Diagnosis itu baru diketahui ketika sang putri menginjak usia tiga tahun, Denisa sempat mengalami demam, seperti anak-anak pada umumnya, Windy mengira anaknya hanya demam biasa. Ketika itu dugaan awal adalah demam berdarah dengue (DBD).

Namun setelah diperiksa, ada tiga diagnosis yang dikeluarkan dokter. Pertama talasemia, kedua leukemia dan yang terakhir cacingan. Mendengar diagnosis itu, Windy lantas mengatakan kepada dokter bahwa khusus penyakit talasemia, pengetahuannya masih sangat awam. Dokter kemudian menyarankan transfusi darah untuk anaknya, baru kemudian dicek kembali satu sampai dua bulan berikut.

“Cek sebulan dua bulan kan tidak ketahuan tuh, saya bawa ke (RS) Normah (Kuching), di sana lah terdiagnosanya bahwa dia (Denisa) talasemia,” ungkap Windy.

Setelah mengetahui anaknya mengidap talasemia, Windy yang awam pengetahuan tentang penyakit tersebut mulai belajar lebih dalam. Ia pun akhirnya mulai mencari info sebanyak-banyaknya tentang penyakit kelainan darah tersebut, misalnya dari internet.

Anaknya juga sempat dibawa ke Jakarata karena harus ada diagnosis dari Lembaga Eijkman. Diagnosis tersebut digunakan sebagai acuan agar bisa melanjutkan pengobatan di Kalbar. Menurut Windy, anak pertamanya itu mulai menjalani transfusi darah rutin setiap satu bulan sekali sejak usai lima tahun.

Peran orang tua dinilai cukup penting dalam membesarkan anak yang menderita talasemia. Selain orang tua, kemauan anaknya sendiri juga tak kalah penting. Windy bersyukur Denisa termasuk anak yang pintar. Saat harus rutin menjalani transfusi, sang putri hanya butuh satu tahun untuk beradaptasi.

Di tahun pertama anaknya masih menangis atau merengek takut ketika ditusuk jarum suntik untuk proses transfusi darah. Setahun berselang, justru Denisa yang menyerahkan tangannya ketika proses itu dilakukan. Windy pun mulai lega.

Tapi perjuangan itu belum berakhir, karena transfusi harus dilakukan terus menerus. Sampai Denisa memasuki usia sekolah dasar, Windy harus pandai-pandai membagi waktu untuk mengantar anaknya menjalani transfusi. Sebagai ASN, ia cukup sibuk dengan pekerjaan sehari-hari di kantor. Sementara anaknya juga harus terus mendapat pendidikan di sekolah dengan baik.

Satu kali proses transfusi darah memerlukan waktu sekitar empat jam. Karena itu, Windy selalu terbuka dengan atasan atau rekan kerjanya di kantor soal kondisi sang anak. Begitu juga pihak sekolah, selalu diberi tahu mengenai Denisa yang mengidap talasemia.

“Biasanya saya kerja dulu, selesaikan kerjaan semaksimal mungkin. Jam 10.00 saya izin. Dan saya bilang Denisa (setelah transfusi) harus balik lagi ke sekolah dan saya balik ke kantor. Sampai akhirnya dia sudah terbiasa,” ceritanya.

Belasan tahun ia menjalani hal tersebut. Satu hal yang ditanamkan Windy kepada anaknya adalah, agar selalu percaya diri atau tidak minder. Ia selalu memberi pengertian bahwa penyakit tersebut adalah takdir dari sang pencipta yang harus diterima dan dijalani dengan ikhlas.

“Sampai setelah mengerti, dia pun tidak minder. Saya selalu ajak saat sosialisasi (tentang talasemia). Kawan-kawannya juga sayang sama dia. Saat SMP dia bahkan jadi ketua kelas, ikut marching band. Saya tidak pernah menuntut, tapi Alhamdulillah dia tidak tertinggal (sekolah), masuk (ranking) 10 besar,” papar Windy.

Ia yang menjabat sebagai Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata Kalbar juga mengatakan, dalam merawat anak pengidap talasemia, pertama yang harus ikhlas dan kuat adalah orang tuanya. Baru kemudian sang anak bisa mengikuti setelah diberikan pemahaman dan pengertian secara terus menerus.

Baca Juga :  Laboratorium SIMI Untan Berkontribusi Tangani Covid-19

Saat ini Denisa sudah berusia 17 tahun dan duduk di bangku kelas XI SMA. Denisa sudah mandiri. Setiap bulan ia sudah bisa pergi sendiri ke rumah sakit untuk menjalani trnsfusi darah. Kemandirian itu tumbuh berkat didikan serta ketulusan sang ibu yang merawatnya selama ini.

“Karena saya selalu bilang, saya tidak bisa menemani dia selamanya kan. Dia harus mandiri dan alhamdulillah anaknya mandiri dan dia (Denisa) katanya mau jadi dokter. Mudah-mudahan tercapai, karena dari kecil dia suka sekali main dokter-dokteran,” ucap Windy.

Belasan tahun merawat anak pengidap talasemia membuat pengetahuan Windy tentang penyakit tersebut terus bertambah. Salah satu yang ia pelajari adalah bahwa ternyata penyakit talasemia masih bisa disembuhkan. Untuk mendapat informasi yang benar-benar lengkap ia pun terbang ke Kuala Lumpur untuk bertemu profesor ahli penyakit tersebut.

“Saya ke Kuala Lumpur yang terdekat, karena ada juga di Italia dan Singapura. Saya ke Kuala Lumpur bertemu dengan profesornya, ketemu ngobrol karena di situ harganya (penyembuhan) lumayan lebih rendah dari pada di negara lain,” terangnya.

Meski secara harga paling rendah dari negara lain, tetap bagi Windy yang hanya bekerja sebagai ASN, biaya operasi untuk penyembuhan masih sangat-sangat tinggi. Tapi paling tidak ia harus tahu cara-caranya terlebih dahulu. Masalah biaya bakal dipikirkan belakangan.

Dari sana ia mendapat informasi bahwa ada dua cara penyembuhan penyakit talasemia ini. Pertama dengan metode transplantasi sumsum tulang belakang atau bone marrow transplant (BMT). Bisa menggunkan sumsum tulang belakang dari adik atau sepupu si pengidap talasemia yang didonorkan. Lalu yang kedua menggunakan transplantasi terhadap sel punca, dari darah tali pusar yang diambil dari adik si pengidap talasemia ketika baru dilahirkan.

Dengan bekal ilmu yang cukup, Windy akhirnya berani untuk kembali mengandung anak kedua. Belajar dari anak pertama ia tidak ingin anak keduanya juga mengidap talasemia. Untuk itu, sejak usia kandungan dua minggu sudah dilaksanakan penyaringan untuk memastikan ada tidaknya gen talasemia terhadap anak yang dikandung.

Windy bersyukur anak keduanya tersebut bebas dari talasemia. Selain itu Denisa juga otomatis punya harapan bisa disembuhkan dengan cara BMT menggunakan sumsum tulang belakang adiknya. Namun disayangkan saat dilaksanakan HLA tissue typing, yaitu pemeriksaan untuk mengetahui apakah sumsum tulang pendonor akan cocok pada calon penerima, ternyata antara Denisa dengan adiknya tidak cocok. Yang artinya tidak bisa dilakukan BMT.

Kebetulan saat melahirkan anak kedua itu Windy belum tahu soal cara penyembuhan kedua dengan sel punca. Hal itu baru diketahui belakangan dari profesor yang ia temui setelah akan melahirkan anak ketiganya. Saat hamil anak ketiga di usia kandungan dua minggu Windy kembali diperiksa dan ternyata sumsum tulang belakang anak ketiga cocok dengan Denisa.

Kuncinya adalah harus ada kecocokan. Dari sana ia akhirnya lebih memilih penyembuhan dengan sel punca. Dari informasi ia dapat, risiko metode ini lebih minim dibanding BMT. “Jadi sel darah merah tali pusar yang ada di bayi ketika ibu melahirkan itu akan disimpan di bank sel punca darah. Saya putuskan anak ketiga (pendonor). Jadi begitu melahirkan, sel darahnya langsung dibawa dan disimpan di bank sel punca,” jelasnya.

Menyimpan sel punca itu juga tidak bisa di sembarang tempat. Kala itu di Indonesia belum memiliki bank sel punca darah. Windy terpaksa menyimpannya di Singapura yang sudah memiliki teknologi penyimpanan dan lokasinya paling dekat dari Indonesia. Sel punca itu bakal disimpan sampai waktunya siap digunakan untuk proses operasi.

Baca Juga :  Di Tengah Pandemi, Kampung Donor Darah Lahir dari Didis Permai

Akan tetapi, yang menjadi persoalan selanjutnya adalah biaya operasi sel punca untuk pengidap talasemia yang sangat mahal. Waktu itu untuk bisa melakukan operasi perlu biaya sebesar Rp2 miliar. “Saya kan pegawai negeri tidak mungkin bisa dapat segitu, Rp2 miliar pada waktu itu. Sedangkan saya hanya (mampu) bisa sampai ke penyimpanan saja kan,” katanya.

Sedangkan untuk penyimpanan sel punca di Singapura sendiri dikenakan tarif Rp4 juta per tahun. Sampai saat ini setelah sembilan tahun usia anak ketiganya, Windy masih menyimpan asa itu. Sel punca masih disimpan dan masih bisa digunakan sampai sekira 11 tahun lagi. Sebab sel tersebut kabarnya hanya bisa bertahan selama 20 tahun.

“Saya sewanya (penyimpanan) setiap tahun. Saya berpikir karena saya optimis. Saya pikir begini, kemampuan saya hanya sampai menyimpankan, jadi sisanya diserahkan ke Allah SWT, bagaimana nanti entah dia (Denisa) sembuh dengan cara lain, itu sudah ketetapan Allah, kami sudah maksimal,” terangnya.

Meski Denisa kini sudah mandiri dan hidup normal ditandai dengan sudah mengalami menstruasi, Windy masih berharap sang anak bisa terlepas dari transfusi setiap bulannya. Ia percaya dunia kedokteran akan terus maju dan mungkin bisa ditemukan metode penyembuhan yang lebih murah.

Ia pun sempat mendapat jawaban dari penantian itu. Beberapa tahun lalu ia dipanggil oleh para peneliti di Universitas Airlangga. Windy ternyata menjadi satu-satunya orang tua yang anaknya mengidap talasemia dan menyimpan sel punca untuk operasi penyembuhan. Pihak peneliti siap menggratiskan proses operasinya asal Windy setuju Denisa menjadi orang pertama yang menjalani operasi tersebut di Indonesia.

Setelah melalui pertimbangan yang matang, tawaran itu akhirnya ia tolak. Windy belum berani anaknya menjadi yang pertama dalam uji coba operasi tersebut. “Saya tanya apakah sudah ada yang pernah (operasi) untuk talasemia, para profesor (di Unair) itu bilang belum pernah. Katanya hanya leukemia saja. Saya bilang, oh beda kalau leukemia dengan talasemia dan saya belum berani,” imbuhnya.

Kini sudah sembilan tahun ia menyimpan harapan untuk kesembuhan sang anak. Ia tetap yakin bakal datang waktu yang tepat, baik dengan jalan operasi menggunakan sel punca ataupun dengan cara penyembuhan yang lain.

Untuk itu, selaku Ketua POPTI Kalbar Windy tak henti-hentinya menyemangati para orang tua yang anaknya menderita talasemia agar mau menyimpan sel punca seperti dirinya. Minimal untuk mampu menyimpan saja. Ia yakin dunia kedokteran bakal terus berkembang dan sel punca itu bisa digunakan ketika dibutuhkan.

“Ketika bertemu orang tua yang anaknya mengidap talasemia dan mampu melakukan penyimpanan (sel punca), saya selalu support. Saya motivasi untuk menyimpan, tapi sampai sekarang belum ada yang mau,” tutupnya.

Seperti diketahui, talasemia adalah kelainan darah bawaan yang ditandai oleh kurangnya protein pembawa oksigen (hemoglobin) dan jumlah sel darah merah dalam tubuh yang kurang dari normal. Gangguan ini mengakibatkan kerusakan sel darah merah berlebihan dan anemia. Anemia merupakan suatu kondisi di mana tubuh tidak memiliki cukup sel darah merah. Gejala talasemia dapat berupa kelainan bentuk tulang, pertumbuhan dan perkembangan yang tertunda. kelelahan kronis. kulit bewarna kuning atau pucat. Tidak semua orang mengalami gejala talasemia yang terlihat. Tanda-tanda gangguan juga cenderung muncul di masa kanak-kanak atau remaja.*

Most Read

Artikel Terbaru

/