alexametrics
26.7 C
Pontianak
Saturday, May 21, 2022

Difteri Jadi Ancaman Serius, Pontianak dan Singkawang Kasus Terbanyak

Difteri ternyata masih menjadi ancaman. Di Kalimantan Barat, beberapa daerah ditetapkan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB) pada tahun 2021. Lantas, bagaimana penanganan wabah tersebut setelah berstatus KLB?

Siti Sulbiyah, Pontianak

Betapa terkejutnya Sarah (42) ketika mendengar kabar bahwa sang anak didiagnosa terkena difteri. Kabar yang membuatnya syok tersebut disampaikan oleh seorang dokter THT di salah satu rumah sakit swasta di Kota Pontianak.

“Saya syok karena sudah tahu difteri seperti apa. Difteri itu pernah menjadi pembunuh nomor satu anak,” katanya, kepada Pontianak Post, pertengahan April 2022 lalu.

Pengalaman itu dilaluinya pada September 2021. Saat itu, Syakir (8), putranya menunjukkan gejala mirip Covid-19, seperti sakit tenggorokan, batu-batuk, sampai sesak napas. Suara sang anak juga terdengar sangat lemah. “Saat itu lagi ramai Covid-19 varian Delta. Jadi curiganya ke sana,” ujarnya.

Sarah pun berinisiatif membawa anaknya ke rumah sakit. Di sana dilakukan tes PCR, namun hasilnya negatif. Kemudian Syakir menjalani rontgen thorax, namun hasilnya menunjukkan paru-parunya bersih dari virus corona.

Menurut Sarah, dua orang dokter yang memeriksa putranya di rumah sakit yang berbeda sama sekali tidak menaruh kecurigaan terhadap gejala-gejala difteri yang tampak. Namun, setelah diperiksa oleh dokter THT, barulah diketahui difteri yang menjadi penyebab keluhan sakit anaknya itu.

Syakir akhirnya harus mendapatkan perawatan intensif di rumah sakit. Menurut dokter yang menangani, gejala difteri sudah mulai terlihat di rongga mulutnya.

“Karena sudah abu-abu. Bagian dalam (rongga mulut) sudah abu-abu. Makanya sudah sesak napas. Kata dokternya,” ujarnya.

Buah hatinya mendapatkan perawatan di rumah sakit sekitar lima malam. Bagi Sarah, itu merupakan masa-masa terberat dalam hidupnya. Pada hari kedua dirawat, bakteri yang menginfeksi sedang berada dalam kondisi puncak. Syakir mengalami sesak napas hebat. Kebutuhan oksigennya meningkat hingga 15 liter per menit.

“Saya sempat punya prasangka kalau ini anak mungkin nggak bisa sampai besok siang,” tuturnya mengira Syakir tak akan selamat.

Sarah tidak menyangka anaknya terserang difteri karena yakin sudah diberi imunisasi lengkap hingga usia dua tahun. Syakir hanya belum diberi imunisasi booster.

“Kalau booster, saya agak kurang perhatian. Apalagi saat TK kita sampai kelas 1 SD sekolah daring. Tidak ada program imunisasi,” katanya.

Setelah melewati masa kritis, kondisi Syakir perlahan membaik. Beberapa alat medis yang digunakan mulai dilepas. Tepat pada hari keenam, ia diperbolehkan untuk pulang ke rumah.

Kini Syakir sudah sehat. Ia tumbuh sebagaimana layaknya anak di usianya. Namun, tidak semua anak yang terserang difteri bisa selamat seperti dia. Sebagian dari mereka justru harus meregang nyawa akibat infeksi bakteri corynebacterium diphteriae tersebut.

Kepala Bidang Pencegahan, Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P3PL) Dinas Kesehatan Kota Pontianak, Dadang Fitrajaya mengatakan, selama 2021 terdapat delapan kasus difteri di Kota Pontianak, tiga di antaranya meninggal dunia. Dia menilai, capaian imunisasi dasar lengkap yang rendah pada tahun tersebut menjadi salah satu pemicu tingginya kasus difteri.

“Difteri menyerang wilayah yang tingkat imunisasinya rendah. Di Kota Pontianak, capaian imunisasi kita di bawah 70 persen,” ungkapnya.

Untuk diketahui, penyakit difteri merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Corynebacterium Diphtheriae yang terutama menginfeksi tenggorokan dan saluran udara bagian atas, dan menghasilkan racun yang mempengaruhi organ lain. Penyakit ini menyebar melalui kontak fisik langsung, atau melalui pernapasan di udara yang mengandung sekresi dari penderita yang batuk atau bersin.

Kementerian Kesehatan RI tahun 2021 yang lalu mencatat kejadian luar biasa (KLB) penyakit difteri pada anak-anak terjadi di banyak daerah. KLB difteri paling banyak ternyata ditemukan di Kalimantan Barat (Kalbar), terutama di Kota Pontianak dan Singkawang.

Dinas Kesehatan Kalbar mencatat ada kenaikan kasus difteri pada 2021 dibandingkan dengan 2020. Pada 2021 terdapat 50 kasus difteri, atau naik 38 kasus dibandingkan dengan tahun 2020 yang hanya ada 12 kasus. Dari total tersebut, jumlah kematian akibat difteri sebanyak empat orang pada 2020 dan tujuh orang pada 2021.

Baca Juga :  Kapolres Singkawang Evakuasi Bayi Berusia 6 Hari dari Banjir

Tingginya kasus difteri di Kalbar berkorelasi dengan rendahnya tingkat imunisasi dasar lengkap anak, khususnya vaksin DPT. Vaksin ini diberikan kepada anak untuk mencegah tiga penyakit, yakni difteri, pertusis dan tetanus (DPT)

“Pandemi Covid-19 memang ada pengaruh terkait dengan pemberian imunisasi anak. Prosesnya agak terhambat karena tenaga kesehatan kita banyak mengurus covid-19. Tetapi pelaksanaan imunisasi saat itu tetap kami upayakan,” kata Kepala Dinas Kesehatan Kalbar, Hary Agung Tjahyadi.

 

Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Kalbar, capaian imunisasi dasar lengkap pada tahun 2020 dan 2021 di provinsi ini masing-masing sebesar 71,0 persen dan 73,8 persen. Capaian ini menurut Hary masih di bawah target 85 persen.

Kota Pontianak dan Singkawang menjadi wilayah di Kalbar dengan capaian imunisasi dasar lengkap paling rendah di tahun 2021. Di Kota Singkawang tercatat hanya 40,4 persen dan di Kota Pontianak 59,4 persen.

Meski begitu, sebelum pandemi Covid-19 melanda, kasus difteri masih ditemukan di Kalbar. Berdasarkan laporan Kementerian Kesehatan, kasus difteri di provinsi ini pada 2017 terdapat 10 kasus dengan satu kematian, 2018 terdapat 22 kasus tiga kematian, dan 2019 sebanyak 20 kasus dengan dua kematian.

Ahli Epidemiologi dari Poltekkes Pontianak, Malik Saepudin berpendapat faktor yang menyebabkan difteri kembali muncul dan mewabah di beberapa wilayah Indonesia termasuk Kalbar adalah menurunnya imunitas suatu kelompok yang diakibatkan dari beberapa hal. Salah satunya adalah program imunisasi yang tidak lengkap.

“Program imunisasi yang tak tercapai target sebagaimana dari data yang ada rata-rata di provinsi Kalbar masih di bawah 85 persen,” ungkapnya.

Faktor lain yang memengaruhi capaian imunisasi menurutnya adalah adanya gerakan antivaksin di masyarakat, tidak adanya pelaksanaan vaksin tiap kurun waktu 10 tahun, dan kesadaran masyarakat yang sangat kurang tentang bahaya penyakit difteri. Di samping itu perubahan jadwal imunisasi pada kelompok usia tertentu dan masih buruknya pelayanan kesehatan juga turut memberikan dampak.

Founder Happy Foundation, Happy Hendrawan heran dengan tingginya kasus difteri di Kota Pontianak dan Singkawang. Pasalnya, keduanya merupakan kota besar di Kalbar.

“Ini menunjukan dua hal dari dua kutub yang beririsan yaitu lemahnya sosialisasi dan rendahnya tingkat higienis cara hidup masyarakat,” ujarnya.

Dia menilai, sistem monitoring dan evaluasi penanganan difteri di Kalbar, terutama di dua kota tersebut dipertanyakan jika tiap tahun kasus difteri mengalami peningkatan karena difteri tidak akan terlalu berbahaya apabila sistem pencegahan dini terbangun dan dijalankan dengan baik.

Imunisasi sebenarnya merupakan hak setiap anak Indonesia yang dijamin oleh Undang-Undang dalam rangka mencegah terjadinya berbagai penyakit. Pemerintah menurutnya ikut bertanggung jawab terhadap pemenuhan hak anak untuk sehat tersebut. Rendahnya imunisasi yang menyebabkan tingginya kasus difteri, khususnya di Kota Pontianak dan Singkawang, dinilainya sebagai kelalaian pemerintah kota terhadap upaya perlindungan hak kesehatan anak.

Di sisi lain, Happy menilai masih ada penolakan masyarakat terhadap vaksin. Persoalan ini tentu menjadi sebuah pekerjaan besar yang harus bersama-sama dicarikan solusinya.

“Ini menunjukkan bahwa penanganannya tidak bisa berdiri sendiri,” imbuhnya.

 

Terkendala Vaksinasi Covid-19

Pemerintah Kota Pontianak pada 2022 melaksanakan Program Outbreak Response Immunization (ORI) untuk menanggulangi KLB difteri. ORI merupakan sebuah operasi standar apabila terjadi KLB Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I), dalam hal ini difteri.

“Kita melakukan percepatan vaksinasi lewat program ORI perwilayah kasus. Melalui Puskesmas melakukan imunisasi, termasuk imunisasi ulang untuk anak sampai usia sembilan tahun,” ungkap Kepala Bidang P3PL Dinas Kesehatan Kota Pontianak, Dadang Fitrajaya, pertengahan April 2022 yang lalu.

Program percepatan sudah mulai dijalankan di puskesmas dan sekolah. Namun diakui Dadang, program ini menghadapi kendala dalam implementasinya. Kendala utamanya adalah orangtua yang meminta agar vaksinasi tersebut ditunda lantaran anak mereka baru mendapatkan suntikan vaksin Covid-19. Hal ini membuat realisasi vaksin DPT masih rendah.

Baca Juga :  Midji Tawarkan Konsep SMK 2 Tahun

“Kalau vaksinasi difteri ini masih kecil, paling baru 30 persen. Karena vaksin ini juga mengulang vaksinasi kita yang masih rendah. Saat ini kita tidak memandang status vaksin sebelumnya, karena dilakukan vaksin ulang. Ini dilakukan agar penyakit ini tidak meluas,” jelasnya.

Pantauan Pontianak Post di sejumlah sekolah di Kota Pontianak sudah mulai digalakkan kembali imunisasi di sekolah-sekolah untuk mencegah tersebarnya wabah difteri dan agar tidak lagi terjadi KLB difteri. Meski begitu, hal tersebut tidak serta merta membuat kota ini nol kasus difteri.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kalbar, dari Januari-10 Maret 2022 terdapat empat kasus difteri. Tak hanya di Kota Pontianak, pada rentang waktu tersebut, terdapat 14 kasus difteri di Kalbar. Kasus lainnya tersebar di Kota Singkawang, Kabupaten Mempawah, Sambas, Bengkayang, dan Kubu Raya.

Ahli Epidemiologi dari Poltekkes Pontianak, Malik Saepudin meminta pemerintah kabupaten/kota di Kalbar segera melakukan imunisasi massal dan imunisasi ulangan bagi kelompok usia prasekolah, remaja, hingga kelompok lanjut usia. Saat ini, pola imunisasi lengkap masih pada kelompok usia 0 – 1 tahun, 2 tahun, dan usia sekolah.

“Sangat disayangkan belum ada imunisasi untuk remaja,” katanya.

Sebagai langkah untuk mengatasi KLB difteri ini, Malik menilai program ORI serentak di Kalbar memang perlu dilakukan. Tindakan cepat, antisipatif, dan responsif seharusnya dilakukan pemerintah kabupaten/kota agar dapat menekan laju perkembangan kasus difteri yang membahayakan bagi usia rentan seperti usia 0-2 dan balita serta usia sekolah.

Hasil Lama Keluar

Lebih dari satu bulan setelah putranya dinyatakan sembuh dari difteri, Sarah dihubungi petugas Puskesmas Pal 3 Kota Pontianak. Pihak puskesmas mengabari bahwa hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan bahwa anak ketiganya, Karimah (6) terkonfirmasi positif terserang difteri.

“Saya sempat kesal karena hasil tes difteri baru keluar setelah hampir dua bulan diambil sampelnya,” ungkap warga Kota Pontianak ini.

Sarah menceritakan, setelah Syakir menjadi suspek difteri, seluruh anggota keluarganya yang tinggal seatap diambil sampel spesimen untuk diperiksa lebih lanjut tentang kemungkinan mereka terpapar bakteri tersebut.

Putrinya yang sudah sekolah saat itu diliburkan sementara agar wabah tidak semakin tersebar. Sarah juga sempat khawatir anaknya terkena difteri karena interaksi dengan si abang cukup intens.

“Sempat agak demam saat itu. Tapi mungkin karena dia ini kuat imunnya jadi tidak begitu besar gejala yang timbul,” katanya.

Kepala Puskesmas Pal 3 Pontianak, Hamidan mengakui bahwa hasil tes laboratorium keluar cukup lama sejak pengambilan sampel ke keluarga yang dinyatakan suspek difteri. Dia mengatakan, sampel spesimen tersebut dikirim ke Jakarta untuk dilakukan uji lab.

Meski begitu, pihaknya tidak menunggu hasil keluar baru melakukan tindakan. “Ketika temuan kasus, kita langsung melakukan investigasi,” katanya.

Kepala Bidang Pencegahan, Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P3PL) Dinas Kesehatan Kota Pontianak, Dadang Fitrajaya mengatakan, beberapa kasus difteri yang ditemukan berstatus suspek.

“Dari delapan kasus difteri di Kota Pontianak, 3 kasus dinyatakan positif, sisanya adalah suspek. Suspek hanya terduga. Kondisi ini bisa karena ada yang meninggal terkonfirmasi suspek namun tidak diambil sampelnya,” kata Dadang.

Suspek Difteri dapat diartikan sebagai seseorang dengan gejala faringitis, tonsilitis, laringitis, trakeitis, atau kombinasinya disertai demam atau tanpa demam dan adanya pseudomembran putih keabu-abuan yang sulit lepas, mudah berdarah apabila dilepas atau dilakukan manipulasi.

Ahli Epidemiologi dari Poltekkes Pontianak, Malik Saepudin, berpendapat bahwa tata laksana penanganan difteri harus segera dilakukan pada pasien tanpa menunggu hasil pemeriksaan laboratorium terlebih dahulu. Sebab, kasus infeksi ini mudah menular dan berbahaya, hingga dapat menyebabkan kematian.

“Apabila tidak diobati dan penderita tidak mempunyai kekebalan, angka kematiannya akan mencapai 50 persen. Bila diobati akan turun 10 persen,” ucapnya.**

Difteri ternyata masih menjadi ancaman. Di Kalimantan Barat, beberapa daerah ditetapkan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB) pada tahun 2021. Lantas, bagaimana penanganan wabah tersebut setelah berstatus KLB?

Siti Sulbiyah, Pontianak

Betapa terkejutnya Sarah (42) ketika mendengar kabar bahwa sang anak didiagnosa terkena difteri. Kabar yang membuatnya syok tersebut disampaikan oleh seorang dokter THT di salah satu rumah sakit swasta di Kota Pontianak.

“Saya syok karena sudah tahu difteri seperti apa. Difteri itu pernah menjadi pembunuh nomor satu anak,” katanya, kepada Pontianak Post, pertengahan April 2022 lalu.

Pengalaman itu dilaluinya pada September 2021. Saat itu, Syakir (8), putranya menunjukkan gejala mirip Covid-19, seperti sakit tenggorokan, batu-batuk, sampai sesak napas. Suara sang anak juga terdengar sangat lemah. “Saat itu lagi ramai Covid-19 varian Delta. Jadi curiganya ke sana,” ujarnya.

Sarah pun berinisiatif membawa anaknya ke rumah sakit. Di sana dilakukan tes PCR, namun hasilnya negatif. Kemudian Syakir menjalani rontgen thorax, namun hasilnya menunjukkan paru-parunya bersih dari virus corona.

Menurut Sarah, dua orang dokter yang memeriksa putranya di rumah sakit yang berbeda sama sekali tidak menaruh kecurigaan terhadap gejala-gejala difteri yang tampak. Namun, setelah diperiksa oleh dokter THT, barulah diketahui difteri yang menjadi penyebab keluhan sakit anaknya itu.

Syakir akhirnya harus mendapatkan perawatan intensif di rumah sakit. Menurut dokter yang menangani, gejala difteri sudah mulai terlihat di rongga mulutnya.

“Karena sudah abu-abu. Bagian dalam (rongga mulut) sudah abu-abu. Makanya sudah sesak napas. Kata dokternya,” ujarnya.

Buah hatinya mendapatkan perawatan di rumah sakit sekitar lima malam. Bagi Sarah, itu merupakan masa-masa terberat dalam hidupnya. Pada hari kedua dirawat, bakteri yang menginfeksi sedang berada dalam kondisi puncak. Syakir mengalami sesak napas hebat. Kebutuhan oksigennya meningkat hingga 15 liter per menit.

“Saya sempat punya prasangka kalau ini anak mungkin nggak bisa sampai besok siang,” tuturnya mengira Syakir tak akan selamat.

Sarah tidak menyangka anaknya terserang difteri karena yakin sudah diberi imunisasi lengkap hingga usia dua tahun. Syakir hanya belum diberi imunisasi booster.

“Kalau booster, saya agak kurang perhatian. Apalagi saat TK kita sampai kelas 1 SD sekolah daring. Tidak ada program imunisasi,” katanya.

Setelah melewati masa kritis, kondisi Syakir perlahan membaik. Beberapa alat medis yang digunakan mulai dilepas. Tepat pada hari keenam, ia diperbolehkan untuk pulang ke rumah.

Kini Syakir sudah sehat. Ia tumbuh sebagaimana layaknya anak di usianya. Namun, tidak semua anak yang terserang difteri bisa selamat seperti dia. Sebagian dari mereka justru harus meregang nyawa akibat infeksi bakteri corynebacterium diphteriae tersebut.

Kepala Bidang Pencegahan, Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P3PL) Dinas Kesehatan Kota Pontianak, Dadang Fitrajaya mengatakan, selama 2021 terdapat delapan kasus difteri di Kota Pontianak, tiga di antaranya meninggal dunia. Dia menilai, capaian imunisasi dasar lengkap yang rendah pada tahun tersebut menjadi salah satu pemicu tingginya kasus difteri.

“Difteri menyerang wilayah yang tingkat imunisasinya rendah. Di Kota Pontianak, capaian imunisasi kita di bawah 70 persen,” ungkapnya.

Untuk diketahui, penyakit difteri merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Corynebacterium Diphtheriae yang terutama menginfeksi tenggorokan dan saluran udara bagian atas, dan menghasilkan racun yang mempengaruhi organ lain. Penyakit ini menyebar melalui kontak fisik langsung, atau melalui pernapasan di udara yang mengandung sekresi dari penderita yang batuk atau bersin.

Kementerian Kesehatan RI tahun 2021 yang lalu mencatat kejadian luar biasa (KLB) penyakit difteri pada anak-anak terjadi di banyak daerah. KLB difteri paling banyak ternyata ditemukan di Kalimantan Barat (Kalbar), terutama di Kota Pontianak dan Singkawang.

Dinas Kesehatan Kalbar mencatat ada kenaikan kasus difteri pada 2021 dibandingkan dengan 2020. Pada 2021 terdapat 50 kasus difteri, atau naik 38 kasus dibandingkan dengan tahun 2020 yang hanya ada 12 kasus. Dari total tersebut, jumlah kematian akibat difteri sebanyak empat orang pada 2020 dan tujuh orang pada 2021.

Baca Juga :  Windy: Tempat Ibadah Maksimal 75 Persen

Tingginya kasus difteri di Kalbar berkorelasi dengan rendahnya tingkat imunisasi dasar lengkap anak, khususnya vaksin DPT. Vaksin ini diberikan kepada anak untuk mencegah tiga penyakit, yakni difteri, pertusis dan tetanus (DPT)

“Pandemi Covid-19 memang ada pengaruh terkait dengan pemberian imunisasi anak. Prosesnya agak terhambat karena tenaga kesehatan kita banyak mengurus covid-19. Tetapi pelaksanaan imunisasi saat itu tetap kami upayakan,” kata Kepala Dinas Kesehatan Kalbar, Hary Agung Tjahyadi.

 

Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Kalbar, capaian imunisasi dasar lengkap pada tahun 2020 dan 2021 di provinsi ini masing-masing sebesar 71,0 persen dan 73,8 persen. Capaian ini menurut Hary masih di bawah target 85 persen.

Kota Pontianak dan Singkawang menjadi wilayah di Kalbar dengan capaian imunisasi dasar lengkap paling rendah di tahun 2021. Di Kota Singkawang tercatat hanya 40,4 persen dan di Kota Pontianak 59,4 persen.

Meski begitu, sebelum pandemi Covid-19 melanda, kasus difteri masih ditemukan di Kalbar. Berdasarkan laporan Kementerian Kesehatan, kasus difteri di provinsi ini pada 2017 terdapat 10 kasus dengan satu kematian, 2018 terdapat 22 kasus tiga kematian, dan 2019 sebanyak 20 kasus dengan dua kematian.

Ahli Epidemiologi dari Poltekkes Pontianak, Malik Saepudin berpendapat faktor yang menyebabkan difteri kembali muncul dan mewabah di beberapa wilayah Indonesia termasuk Kalbar adalah menurunnya imunitas suatu kelompok yang diakibatkan dari beberapa hal. Salah satunya adalah program imunisasi yang tidak lengkap.

“Program imunisasi yang tak tercapai target sebagaimana dari data yang ada rata-rata di provinsi Kalbar masih di bawah 85 persen,” ungkapnya.

Faktor lain yang memengaruhi capaian imunisasi menurutnya adalah adanya gerakan antivaksin di masyarakat, tidak adanya pelaksanaan vaksin tiap kurun waktu 10 tahun, dan kesadaran masyarakat yang sangat kurang tentang bahaya penyakit difteri. Di samping itu perubahan jadwal imunisasi pada kelompok usia tertentu dan masih buruknya pelayanan kesehatan juga turut memberikan dampak.

Founder Happy Foundation, Happy Hendrawan heran dengan tingginya kasus difteri di Kota Pontianak dan Singkawang. Pasalnya, keduanya merupakan kota besar di Kalbar.

“Ini menunjukan dua hal dari dua kutub yang beririsan yaitu lemahnya sosialisasi dan rendahnya tingkat higienis cara hidup masyarakat,” ujarnya.

Dia menilai, sistem monitoring dan evaluasi penanganan difteri di Kalbar, terutama di dua kota tersebut dipertanyakan jika tiap tahun kasus difteri mengalami peningkatan karena difteri tidak akan terlalu berbahaya apabila sistem pencegahan dini terbangun dan dijalankan dengan baik.

Imunisasi sebenarnya merupakan hak setiap anak Indonesia yang dijamin oleh Undang-Undang dalam rangka mencegah terjadinya berbagai penyakit. Pemerintah menurutnya ikut bertanggung jawab terhadap pemenuhan hak anak untuk sehat tersebut. Rendahnya imunisasi yang menyebabkan tingginya kasus difteri, khususnya di Kota Pontianak dan Singkawang, dinilainya sebagai kelalaian pemerintah kota terhadap upaya perlindungan hak kesehatan anak.

Di sisi lain, Happy menilai masih ada penolakan masyarakat terhadap vaksin. Persoalan ini tentu menjadi sebuah pekerjaan besar yang harus bersama-sama dicarikan solusinya.

“Ini menunjukkan bahwa penanganannya tidak bisa berdiri sendiri,” imbuhnya.

 

Terkendala Vaksinasi Covid-19

Pemerintah Kota Pontianak pada 2022 melaksanakan Program Outbreak Response Immunization (ORI) untuk menanggulangi KLB difteri. ORI merupakan sebuah operasi standar apabila terjadi KLB Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I), dalam hal ini difteri.

“Kita melakukan percepatan vaksinasi lewat program ORI perwilayah kasus. Melalui Puskesmas melakukan imunisasi, termasuk imunisasi ulang untuk anak sampai usia sembilan tahun,” ungkap Kepala Bidang P3PL Dinas Kesehatan Kota Pontianak, Dadang Fitrajaya, pertengahan April 2022 yang lalu.

Program percepatan sudah mulai dijalankan di puskesmas dan sekolah. Namun diakui Dadang, program ini menghadapi kendala dalam implementasinya. Kendala utamanya adalah orangtua yang meminta agar vaksinasi tersebut ditunda lantaran anak mereka baru mendapatkan suntikan vaksin Covid-19. Hal ini membuat realisasi vaksin DPT masih rendah.

Baca Juga :  Sultan Pontianak Resmi Jadi Pengacara

“Kalau vaksinasi difteri ini masih kecil, paling baru 30 persen. Karena vaksin ini juga mengulang vaksinasi kita yang masih rendah. Saat ini kita tidak memandang status vaksin sebelumnya, karena dilakukan vaksin ulang. Ini dilakukan agar penyakit ini tidak meluas,” jelasnya.

Pantauan Pontianak Post di sejumlah sekolah di Kota Pontianak sudah mulai digalakkan kembali imunisasi di sekolah-sekolah untuk mencegah tersebarnya wabah difteri dan agar tidak lagi terjadi KLB difteri. Meski begitu, hal tersebut tidak serta merta membuat kota ini nol kasus difteri.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kalbar, dari Januari-10 Maret 2022 terdapat empat kasus difteri. Tak hanya di Kota Pontianak, pada rentang waktu tersebut, terdapat 14 kasus difteri di Kalbar. Kasus lainnya tersebar di Kota Singkawang, Kabupaten Mempawah, Sambas, Bengkayang, dan Kubu Raya.

Ahli Epidemiologi dari Poltekkes Pontianak, Malik Saepudin meminta pemerintah kabupaten/kota di Kalbar segera melakukan imunisasi massal dan imunisasi ulangan bagi kelompok usia prasekolah, remaja, hingga kelompok lanjut usia. Saat ini, pola imunisasi lengkap masih pada kelompok usia 0 – 1 tahun, 2 tahun, dan usia sekolah.

“Sangat disayangkan belum ada imunisasi untuk remaja,” katanya.

Sebagai langkah untuk mengatasi KLB difteri ini, Malik menilai program ORI serentak di Kalbar memang perlu dilakukan. Tindakan cepat, antisipatif, dan responsif seharusnya dilakukan pemerintah kabupaten/kota agar dapat menekan laju perkembangan kasus difteri yang membahayakan bagi usia rentan seperti usia 0-2 dan balita serta usia sekolah.

Hasil Lama Keluar

Lebih dari satu bulan setelah putranya dinyatakan sembuh dari difteri, Sarah dihubungi petugas Puskesmas Pal 3 Kota Pontianak. Pihak puskesmas mengabari bahwa hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan bahwa anak ketiganya, Karimah (6) terkonfirmasi positif terserang difteri.

“Saya sempat kesal karena hasil tes difteri baru keluar setelah hampir dua bulan diambil sampelnya,” ungkap warga Kota Pontianak ini.

Sarah menceritakan, setelah Syakir menjadi suspek difteri, seluruh anggota keluarganya yang tinggal seatap diambil sampel spesimen untuk diperiksa lebih lanjut tentang kemungkinan mereka terpapar bakteri tersebut.

Putrinya yang sudah sekolah saat itu diliburkan sementara agar wabah tidak semakin tersebar. Sarah juga sempat khawatir anaknya terkena difteri karena interaksi dengan si abang cukup intens.

“Sempat agak demam saat itu. Tapi mungkin karena dia ini kuat imunnya jadi tidak begitu besar gejala yang timbul,” katanya.

Kepala Puskesmas Pal 3 Pontianak, Hamidan mengakui bahwa hasil tes laboratorium keluar cukup lama sejak pengambilan sampel ke keluarga yang dinyatakan suspek difteri. Dia mengatakan, sampel spesimen tersebut dikirim ke Jakarta untuk dilakukan uji lab.

Meski begitu, pihaknya tidak menunggu hasil keluar baru melakukan tindakan. “Ketika temuan kasus, kita langsung melakukan investigasi,” katanya.

Kepala Bidang Pencegahan, Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P3PL) Dinas Kesehatan Kota Pontianak, Dadang Fitrajaya mengatakan, beberapa kasus difteri yang ditemukan berstatus suspek.

“Dari delapan kasus difteri di Kota Pontianak, 3 kasus dinyatakan positif, sisanya adalah suspek. Suspek hanya terduga. Kondisi ini bisa karena ada yang meninggal terkonfirmasi suspek namun tidak diambil sampelnya,” kata Dadang.

Suspek Difteri dapat diartikan sebagai seseorang dengan gejala faringitis, tonsilitis, laringitis, trakeitis, atau kombinasinya disertai demam atau tanpa demam dan adanya pseudomembran putih keabu-abuan yang sulit lepas, mudah berdarah apabila dilepas atau dilakukan manipulasi.

Ahli Epidemiologi dari Poltekkes Pontianak, Malik Saepudin, berpendapat bahwa tata laksana penanganan difteri harus segera dilakukan pada pasien tanpa menunggu hasil pemeriksaan laboratorium terlebih dahulu. Sebab, kasus infeksi ini mudah menular dan berbahaya, hingga dapat menyebabkan kematian.

“Apabila tidak diobati dan penderita tidak mempunyai kekebalan, angka kematiannya akan mencapai 50 persen. Bila diobati akan turun 10 persen,” ucapnya.**

Most Read

Artikel Terbaru

/