alexametrics
25 C
Pontianak
Friday, August 19, 2022

Ke Saigon Belajar Pertanian Sekaligus Agama

Melihat Khaul ke 77 HM Yusuf Saigon Al Banjari

Khaul ke 77 dari tokoh kampong Saigon, Pontianak, HM Yusuf Saigon Al Banjari dilaksanakan dengan khidmat oleh ribuan warga setempat. Khaul berlangsung Sabtu, 7 September (8 Muharram) dimulai 20.00 di lapangan kompleks pemakaman Keluarga, Jalan Yusuf Karim, Kampung Saigon.

Moeslim Minhard, Pontianak

KOMPLEKS pemakaman yang biasanya lengang, kemarin ramai. Kebanyakan kaum prianya mengenakan gamis. Atau baju koko berwarna putih. Khaul ke 77 dari HM Yusuf Saigon Al Banjari, memang menyedot perhatian banyak pengunjung. Khususnya, warga setempat. Yang begitu menghormati pendiri kampung yang namanya diambil dari tokoh yang sedang dilaksanakan khaulnya, HM Yusuf Saigon.

Penceramah yang dihadirkan panitia adalah Habib Muhammad Al Qadri, yang menyambil tema merawat tradisi merajut hati.

Siapakah HM Yusuf Saigon Al Banjari?

Berikut kisah singkatnya yang dipetik dari buku Sejarah Singkat, HM Yusuf Saigon dan Mufti H Abdussamat Saleh yang disusun oleh anak cucu almarhum.

Seorang keturunan atau cucu dari syaikh Arsyad al-Banjari, yang bernama Syaikh HM Thasin bin Syaikh Jamaludin merantau ke Pontianak (Kalbar) dalam rangka menyebarkan agama. Sekaligus berniaga (intan berlian). Selama beliau merantau di kota Pontianak menikahi wanita bernama Fatimah binti H. Jamaluddin bin H. Abu Sood dan dianugrahi seorang anak yang bernama Syaikh Yusuf Saigon.

Kemudian beliau kembali ke Banjarmasin dan syaikh Yusuf Saigon tersebut dibesarkan di Banjarmasin. Karena keluarga besar sebelah ibunya berasal dari Pontianak dan sebagai tanah kelahirannya, maka Syaikh Yusuf merindukan kampung tersebut untuk menziarahi makam ibunya (Fatimah).

Baca Juga :  Oknum Polisi Terjaring Razia, Seorang Wanita Melompat dari Lantai 4 Hotel

Tahun 1892 di usia 30 tahun beliau kembali ke Pontianak, dengan keinginan menemui saudara sesusunya dari pasangan H. Ja’far bin H.Arsyad dengan Hj. Hafifah binti H.Jamaluddin.

Karena kakek beliau sebelah ibu yang bernama H.Abu Sood berasal dari Singapura,maka 1893 beliau berangkat ke Singapur dan bertemu pamannya H. Karim bin H. Jamluddin bin H.Abu Sood. Untuk menambah pengalaman di bidang pertanian dan perkebunan untuk dibawa pulang ke Pontianak, maka HM Yusuf melanjutkan perjalanannya ke Vietnam (Saigon).

Di sana selama kurang lebih lima tahun. Di sanalah dia mendapatkan banyak pengalaman dalam dunia pertanian dan perkebunan khususnya karet. Ia juga kemudian menikahi seorang wanita setempat (Vietnam) yang bernama Sarijah binti Abdullah. Sarijah ini dibawa ke Pontianak. Kepulangan beliau dari

Vietnam 1898, selain membawa seorang istri beliau juga membawa benih pohon karet untuk ditanam dan dikembangkan di Kalbar, khususnya di kerajaan

Pontianak, yang kala itu di kampung Saigon oleh karena itu sekitar tahun 1937 beliau mendapatkan bintang penghargaan dari Belanda.

Penamaan kampung tersebut didasarkan pada tempat kelahiran istri beliau yaitu Saigon, Vietnam. Selain mengembangkan kampung halaman dalam bentuk perkebunan dan

pertanian, karena beliau juga merupakan seorang yang allamah (mengetahui dalam bidang ilmu agama) karena beliau juga adalah keturunan Waliyullah al-allaamah Syaikh Arsayad Al-Banjari, maka beliau merasa bertanggungjawab untuk berdakwah

Baca Juga :  Penularan PMK Meluas, Serang Empat Kecamatan di Pontianak

menyebarkan agama Allah.

Setelah beberapa tahun dari kedatang kedua beliau di Pontianak (kampung Saigon), belaiu berpikir untuk mengembangkan dunia pendidikan khususnya agama, maka beliau mendirikan Madrasah Saigoniah School. Madrasah tersebut merupakan satu-satunya madrasah yang berada di Pontianak sekitar tahun 1894.

Sebagai anak cucu keturunan alim ulama yang memiliki perhatian tinggi dan besar terhadap dunia pendidikan Islam, maka sekitar 1928 beliau mendirikan Madrasah Saigoniah School.

Sudah menjadi kebiasaan beliau, jika berpergian senantiasa menyantuni kaum dhua’fa, fakir miskin. Pada setiap hari Jumat bahkan dikatakan hampir setiap hari, beliau selalu didatangi kaum dhu’afa dan faqir miskin, dan beliau tak pernah membiarkan mereka pulang dengan tangan hampa. Sifat dermawan ini berlanjut sampai beliau wafat. Kaum dhuafa dan faqir miskin pada masa itu sangat mengenal H.M.Yusuf Saigon adalah seorang hartawan lagi dermawan. Pada setiap menjelang ramadhan datang, beliau mengeluarkan infak dari hasil usahanya yaitu perkebunan karet kepada kaum kerabat
khususnya anak cucu beliau dari keperluan sandang pangan dan papan. Serta ia berikan buat pekerja – pekerjanya. Bahkan di saat beliau pulang belanja dalam perjalanan pulang

setiap betemu dengan masyarakat yang dilihat tidak mampu selalu membagikan uang dan barang belanjaannya yang kebanyakan yaitu bahan-bahan pokok atau sembako. (bersambung)

Melihat Khaul ke 77 HM Yusuf Saigon Al Banjari

Khaul ke 77 dari tokoh kampong Saigon, Pontianak, HM Yusuf Saigon Al Banjari dilaksanakan dengan khidmat oleh ribuan warga setempat. Khaul berlangsung Sabtu, 7 September (8 Muharram) dimulai 20.00 di lapangan kompleks pemakaman Keluarga, Jalan Yusuf Karim, Kampung Saigon.

Moeslim Minhard, Pontianak

KOMPLEKS pemakaman yang biasanya lengang, kemarin ramai. Kebanyakan kaum prianya mengenakan gamis. Atau baju koko berwarna putih. Khaul ke 77 dari HM Yusuf Saigon Al Banjari, memang menyedot perhatian banyak pengunjung. Khususnya, warga setempat. Yang begitu menghormati pendiri kampung yang namanya diambil dari tokoh yang sedang dilaksanakan khaulnya, HM Yusuf Saigon.

Penceramah yang dihadirkan panitia adalah Habib Muhammad Al Qadri, yang menyambil tema merawat tradisi merajut hati.

Siapakah HM Yusuf Saigon Al Banjari?

Berikut kisah singkatnya yang dipetik dari buku Sejarah Singkat, HM Yusuf Saigon dan Mufti H Abdussamat Saleh yang disusun oleh anak cucu almarhum.

Seorang keturunan atau cucu dari syaikh Arsyad al-Banjari, yang bernama Syaikh HM Thasin bin Syaikh Jamaludin merantau ke Pontianak (Kalbar) dalam rangka menyebarkan agama. Sekaligus berniaga (intan berlian). Selama beliau merantau di kota Pontianak menikahi wanita bernama Fatimah binti H. Jamaluddin bin H. Abu Sood dan dianugrahi seorang anak yang bernama Syaikh Yusuf Saigon.

Kemudian beliau kembali ke Banjarmasin dan syaikh Yusuf Saigon tersebut dibesarkan di Banjarmasin. Karena keluarga besar sebelah ibunya berasal dari Pontianak dan sebagai tanah kelahirannya, maka Syaikh Yusuf merindukan kampung tersebut untuk menziarahi makam ibunya (Fatimah).

Baca Juga :  TP-PKK Kalbar Sasar 600 Orang Ikut Vaksinasi

Tahun 1892 di usia 30 tahun beliau kembali ke Pontianak, dengan keinginan menemui saudara sesusunya dari pasangan H. Ja’far bin H.Arsyad dengan Hj. Hafifah binti H.Jamaluddin.

Karena kakek beliau sebelah ibu yang bernama H.Abu Sood berasal dari Singapura,maka 1893 beliau berangkat ke Singapur dan bertemu pamannya H. Karim bin H. Jamluddin bin H.Abu Sood. Untuk menambah pengalaman di bidang pertanian dan perkebunan untuk dibawa pulang ke Pontianak, maka HM Yusuf melanjutkan perjalanannya ke Vietnam (Saigon).

Di sana selama kurang lebih lima tahun. Di sanalah dia mendapatkan banyak pengalaman dalam dunia pertanian dan perkebunan khususnya karet. Ia juga kemudian menikahi seorang wanita setempat (Vietnam) yang bernama Sarijah binti Abdullah. Sarijah ini dibawa ke Pontianak. Kepulangan beliau dari

Vietnam 1898, selain membawa seorang istri beliau juga membawa benih pohon karet untuk ditanam dan dikembangkan di Kalbar, khususnya di kerajaan

Pontianak, yang kala itu di kampung Saigon oleh karena itu sekitar tahun 1937 beliau mendapatkan bintang penghargaan dari Belanda.

Penamaan kampung tersebut didasarkan pada tempat kelahiran istri beliau yaitu Saigon, Vietnam. Selain mengembangkan kampung halaman dalam bentuk perkebunan dan

pertanian, karena beliau juga merupakan seorang yang allamah (mengetahui dalam bidang ilmu agama) karena beliau juga adalah keturunan Waliyullah al-allaamah Syaikh Arsayad Al-Banjari, maka beliau merasa bertanggungjawab untuk berdakwah

Baca Juga :  BNNK Gelar Workshop di SMPN 1 Pontianak

menyebarkan agama Allah.

Setelah beberapa tahun dari kedatang kedua beliau di Pontianak (kampung Saigon), belaiu berpikir untuk mengembangkan dunia pendidikan khususnya agama, maka beliau mendirikan Madrasah Saigoniah School. Madrasah tersebut merupakan satu-satunya madrasah yang berada di Pontianak sekitar tahun 1894.

Sebagai anak cucu keturunan alim ulama yang memiliki perhatian tinggi dan besar terhadap dunia pendidikan Islam, maka sekitar 1928 beliau mendirikan Madrasah Saigoniah School.

Sudah menjadi kebiasaan beliau, jika berpergian senantiasa menyantuni kaum dhua’fa, fakir miskin. Pada setiap hari Jumat bahkan dikatakan hampir setiap hari, beliau selalu didatangi kaum dhu’afa dan faqir miskin, dan beliau tak pernah membiarkan mereka pulang dengan tangan hampa. Sifat dermawan ini berlanjut sampai beliau wafat. Kaum dhuafa dan faqir miskin pada masa itu sangat mengenal H.M.Yusuf Saigon adalah seorang hartawan lagi dermawan. Pada setiap menjelang ramadhan datang, beliau mengeluarkan infak dari hasil usahanya yaitu perkebunan karet kepada kaum kerabat
khususnya anak cucu beliau dari keperluan sandang pangan dan papan. Serta ia berikan buat pekerja – pekerjanya. Bahkan di saat beliau pulang belanja dalam perjalanan pulang

setiap betemu dengan masyarakat yang dilihat tidak mampu selalu membagikan uang dan barang belanjaannya yang kebanyakan yaitu bahan-bahan pokok atau sembako. (bersambung)

Most Read

Artikel Terbaru

/