alexametrics
27.8 C
Pontianak
Thursday, July 7, 2022

Ketiadaan Regulasi, Cagar Budaya Terancam Punah

PONTIANAK-Ketiadaan regulasi peraturan daerah menjadi salah satu penyebab hilangnya bangunan cagar budaya di Kota Pontianak. Agar kejadian seperti itu tidak kembali terjadi, pengajuan raperda pengamanan cagar budaya akan dilakukan dengan target 2020 disahkan. Demikian dikatakan Pelaksana Tugas Kepala Bidang Litbang Bappeda Pontianak, Nur Intan Panjaitan, belum lama ini.

“Total ada 61 cagar budaya Pontianak sudah terdata. 54 nya sudah teregistrasi, 10 cagar budaya sudah diusulkan ke tim ahli cagar budaya tingkat nasional untuk dikaji dan diterbitkan referensinya sebagai dasar penetapan cagar budaya peringkat kota. Dua cagar budaya lagi sudah ditetapkan oleh Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata,” kata Nur Intan.

Diakui dia, peninggalan bangunan yang seharusnya menjadi cagar budaya telah hilang. Satu diantaranya adalah Gereja Katerdal. Agar kejadian seperti ini tak terjadi dikemudian hari, pihaknya akan mendorong regulasi perda tentang cagar budaya.

Baca Juga :  Prakira Cuaca Panas

Mengenai hilangnya cagar budaya lalu, diakui pihaknya (pemerintah) tidak bisa berbuat banyak. Pasalnya aturan tentang pengamanan bangunan cagar budaya belum dimiliki.

Bicara soal peninggalan cagar budaya, kemudian menindaklanjuti pemberian bangunan dan tanah hibah milik Haji Salmah ditepian Sungai Kapuas lalu, akan dilakukan pengecekan ke lapangan. Tujuannya untuk melihat histori dari sejarah, lalu melihat lingkungan setempat. Rencananya, rumah itu akan direstorasi, dengan menggunakan bahan baku yang sama. Jika berdiri kembali, rencana akanmenajdi salah satu destinasi wisata di Kota Pontianak.

Dosen Program Studi Arsitektur Unversitas Tanjung Pura Pontianak, Zairin Za’in melihat persoalan peninggalan bangunan di atas 50 tahun jika dibiarkan ke depan bisa punah. Padahal jika dikelola dengan baik, cagar budaya ini berpotensi mendatangkan pemasukan bagi pemerintah. Yaitu sebagai destinasi wisata.

Baca Juga :  Upgrade Kemampuan Koperasi Lewat Pelatihan Manajemen

Seperti Pelabuhan Senghie, dulu tidak seramai sekarang. Namun ketika ditingkatkan kualitas lingkungannya menjadi waterfront, kinipun orang berbondong-bondong ke sana.

Sebelum berbicara ke sana, ada beberapa langkah mesti ditempuh.

Pertama pemerintah disarankan untuk melakukan investigasi terhadap bangunan-bangunan yang memiliki nilai sejarah, tetapi belum masuk dalam data. Setelah data investigasi di lapangan didapat langkah selanjutnya perbaikan bangunan mesti dilakukan. (iza)

PONTIANAK-Ketiadaan regulasi peraturan daerah menjadi salah satu penyebab hilangnya bangunan cagar budaya di Kota Pontianak. Agar kejadian seperti itu tidak kembali terjadi, pengajuan raperda pengamanan cagar budaya akan dilakukan dengan target 2020 disahkan. Demikian dikatakan Pelaksana Tugas Kepala Bidang Litbang Bappeda Pontianak, Nur Intan Panjaitan, belum lama ini.

“Total ada 61 cagar budaya Pontianak sudah terdata. 54 nya sudah teregistrasi, 10 cagar budaya sudah diusulkan ke tim ahli cagar budaya tingkat nasional untuk dikaji dan diterbitkan referensinya sebagai dasar penetapan cagar budaya peringkat kota. Dua cagar budaya lagi sudah ditetapkan oleh Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata,” kata Nur Intan.

Diakui dia, peninggalan bangunan yang seharusnya menjadi cagar budaya telah hilang. Satu diantaranya adalah Gereja Katerdal. Agar kejadian seperti ini tak terjadi dikemudian hari, pihaknya akan mendorong regulasi perda tentang cagar budaya.

Baca Juga :  Rayakan Natal, PT ANTAM Tbk - UBPB Kalbar Serahkan Bantuan CSR

Mengenai hilangnya cagar budaya lalu, diakui pihaknya (pemerintah) tidak bisa berbuat banyak. Pasalnya aturan tentang pengamanan bangunan cagar budaya belum dimiliki.

Bicara soal peninggalan cagar budaya, kemudian menindaklanjuti pemberian bangunan dan tanah hibah milik Haji Salmah ditepian Sungai Kapuas lalu, akan dilakukan pengecekan ke lapangan. Tujuannya untuk melihat histori dari sejarah, lalu melihat lingkungan setempat. Rencananya, rumah itu akan direstorasi, dengan menggunakan bahan baku yang sama. Jika berdiri kembali, rencana akanmenajdi salah satu destinasi wisata di Kota Pontianak.

Dosen Program Studi Arsitektur Unversitas Tanjung Pura Pontianak, Zairin Za’in melihat persoalan peninggalan bangunan di atas 50 tahun jika dibiarkan ke depan bisa punah. Padahal jika dikelola dengan baik, cagar budaya ini berpotensi mendatangkan pemasukan bagi pemerintah. Yaitu sebagai destinasi wisata.

Baca Juga :  Pasien Warga Pontianak yang Diisolasi Masih Menunggu Hasil

Seperti Pelabuhan Senghie, dulu tidak seramai sekarang. Namun ketika ditingkatkan kualitas lingkungannya menjadi waterfront, kinipun orang berbondong-bondong ke sana.

Sebelum berbicara ke sana, ada beberapa langkah mesti ditempuh.

Pertama pemerintah disarankan untuk melakukan investigasi terhadap bangunan-bangunan yang memiliki nilai sejarah, tetapi belum masuk dalam data. Setelah data investigasi di lapangan didapat langkah selanjutnya perbaikan bangunan mesti dilakukan. (iza)

Most Read

Artikel Terbaru

/