alexametrics
23.2 C
Pontianak
Thursday, August 18, 2022

Perairan Kalbar Tercemar Batu Bara

Perairan Kalimantan Barat (Kalbar) menjadi salah satu jalur transportasi laut. Baik transportasi distribusi barang maupun bahan tambang. Kondisi seperti ini, secara tidak langsung dapat menyebabkan pencemaran lingkungan. Mulai dari pencemaran air laut, kelestarian biota laut, hingga aktivitas nelayan.

ARIEF NUGROHO, Pontianak

DAMPAK tersebut mulai dirasakan oleh masyarakat, khususnya nelayan yang berada di sekitar pesisir. Satu di antaranya adalah nelayan asal Dusun Teluk Suak, Desa Karimunting, Kecamatan Sungai Raya Kepulauan, Kabupaten Bengkayang. Bukan ikan atau udang yang didapat oleh nelayan itu, melainkan bongkahan batu bara.

Bongkahan batuan tambang yang biasanya digunakan sebagai bahan bakar mesin Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) ini menyangkut di jaring nelayan saat mencari ikan sekitar daerahnya. Desa Karimunting sendiri hanya berjarak sekitar 22,3 kilometer dari PLTU 3 Parit Baru Site Bengkayang.

Peristiwa terjaringnya bongkahan batu bara itu pun mendapat sorotan dari berbagai pihak, satu di antaranya Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Provinsi Kalimantan Barat, Sigit Sugiardi.

“Ini sudah masuk kategori pencemaran,” ujar Sigit saat dihubungi Pontianak Post.

Ia merujuk pada definisi pencemaran dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 19/1999 tentang Pengendalian Pencemaran dan atau Perusakan Laut. Dalam PP tersebut, kata Sigit, definisi pencemaran laut adalah masuk atau dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi, dan atau komponen lain ke dalam lingkungan laut oleh kegiatan manusia. Masuk zat, energi, atau makhluk hidup ini mengakibatkan kualitas lingkungan laut itu turun sampai tingkat tertentu yang menyebabkan lingkungan laut tidak sesuai lagi dengan baku mutu dan atau fungsinya.

Baca Juga :  Tanpa Masker Langsung Di-Swab

“Karena itu sudah termasuk dalam kategori pencemaran, maka ada aturan lain yang berbicara soal penegakan hukumnya,” katanya.

Dalam Undang-Undang (UU) Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, ditegaskan dia, sudah mengatur tindakan hukum bagi para pencemar tersebut.

Menurut Sigit, keberadaan batuan tambang di dasar laut itu bisa terjadi karena beberapa faktor. Di antaranya, sebut dia, pada saat proses pengangkutan.

Pengangkutan batu bara dengan metode kapal laut, diakui dia, bukanlah metode yang aman. Bahkan, dia menambahkan, sering kali cara ini menimbulkan permasalahan, seperti batu bara yang tumpah ke laut, memuat batu bara dalam jumlah besar, melebihi kapasitas yang mampu diangkutnya. Proses angkut bahan tambang seperti batu bara yang tidak sesuai SOP, menurut Sigit, berpotensi mencemari air laut.

Menurutnya, batu bara yang bercampur dengan air laut akan sangat sulit terurai. Jika dilihat sekilas saja, air laut, menurut dia, akan terlihat sehitam batu bara jika terkena tumpahan batu bara dari kapal pengangkut. Hal ini jelas, dikhawatirkan dia, akan membahayakan, bukan hanya untuk biota laut, tetapi juga bagi kapal lain yang melintas, karena tentu tingkat kepekatan air akan berubah.

Baca Juga :  Eropa Saja Berburu Batubara, Indonesia Harus Apa?

“Ini sudah sering terjadi di perairan kita di Indonesia. Di Aceh, PLTU Paiton dan beberapa daerah lainnya,” kata Sigit.

Dampak lainnya, lanjut Sigit, dapat mengancam kelestarian biota laut. Menurutnya, sifat atau unsur kimia yang ada pada batu bara, lama kelamaan akan mengancam kelestarian biota laut, terutama terumbu karang.

Batu bara, menurut dia, mengandung zat-zat karbon, besi sulfida atau pirit jika berinteraksi dengan air laut, bisa menghasilkan asam sulfat dengan kadar tinggi. Asam sulfat, dikatakan dia, bisa membunuh ikan serta biota laut lainnya. Ini karena biota laut cenderung sensitif terhadap perubahan pH yang cepat.

“Apabila hal tersebut terjadi pada kawasan perairan yang kaya akan biota laut, jelas akan sangat merugikan,” jelasnya.

Selanjutnya, kata Sigit, dapat membahayakan kesehatan. Menurutnya, selain bisa merusak laut, ternyata batu bara juga bisa membahayakan orang-orang yang bersinggungan langsung dengannya. Dalam hal ini, diingatkan dia, termasuk orang-orang yang mengangkut dan mengirimkan batu bara.

Untuk itu, kata Sigit, perlu mencari solusi terhadap dampak tersebut. Menurutnya, perlu dilakukan sinergitas antara pemerintah kabupaten dan pemerintah provinsi dalam pengelola perairan di Kalimantan Barat.

“Ini menjadi perhatian yang serius dan segera dicari solusinya,” katanya. (*)

Perairan Kalimantan Barat (Kalbar) menjadi salah satu jalur transportasi laut. Baik transportasi distribusi barang maupun bahan tambang. Kondisi seperti ini, secara tidak langsung dapat menyebabkan pencemaran lingkungan. Mulai dari pencemaran air laut, kelestarian biota laut, hingga aktivitas nelayan.

ARIEF NUGROHO, Pontianak

DAMPAK tersebut mulai dirasakan oleh masyarakat, khususnya nelayan yang berada di sekitar pesisir. Satu di antaranya adalah nelayan asal Dusun Teluk Suak, Desa Karimunting, Kecamatan Sungai Raya Kepulauan, Kabupaten Bengkayang. Bukan ikan atau udang yang didapat oleh nelayan itu, melainkan bongkahan batu bara.

Bongkahan batuan tambang yang biasanya digunakan sebagai bahan bakar mesin Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) ini menyangkut di jaring nelayan saat mencari ikan sekitar daerahnya. Desa Karimunting sendiri hanya berjarak sekitar 22,3 kilometer dari PLTU 3 Parit Baru Site Bengkayang.

Peristiwa terjaringnya bongkahan batu bara itu pun mendapat sorotan dari berbagai pihak, satu di antaranya Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Provinsi Kalimantan Barat, Sigit Sugiardi.

“Ini sudah masuk kategori pencemaran,” ujar Sigit saat dihubungi Pontianak Post.

Ia merujuk pada definisi pencemaran dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 19/1999 tentang Pengendalian Pencemaran dan atau Perusakan Laut. Dalam PP tersebut, kata Sigit, definisi pencemaran laut adalah masuk atau dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi, dan atau komponen lain ke dalam lingkungan laut oleh kegiatan manusia. Masuk zat, energi, atau makhluk hidup ini mengakibatkan kualitas lingkungan laut itu turun sampai tingkat tertentu yang menyebabkan lingkungan laut tidak sesuai lagi dengan baku mutu dan atau fungsinya.

Baca Juga :  Batu Bara Bikin Harga Listrik Indonesia Murah, Begini Penjelasannya

“Karena itu sudah termasuk dalam kategori pencemaran, maka ada aturan lain yang berbicara soal penegakan hukumnya,” katanya.

Dalam Undang-Undang (UU) Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, ditegaskan dia, sudah mengatur tindakan hukum bagi para pencemar tersebut.

Menurut Sigit, keberadaan batuan tambang di dasar laut itu bisa terjadi karena beberapa faktor. Di antaranya, sebut dia, pada saat proses pengangkutan.

Pengangkutan batu bara dengan metode kapal laut, diakui dia, bukanlah metode yang aman. Bahkan, dia menambahkan, sering kali cara ini menimbulkan permasalahan, seperti batu bara yang tumpah ke laut, memuat batu bara dalam jumlah besar, melebihi kapasitas yang mampu diangkutnya. Proses angkut bahan tambang seperti batu bara yang tidak sesuai SOP, menurut Sigit, berpotensi mencemari air laut.

Menurutnya, batu bara yang bercampur dengan air laut akan sangat sulit terurai. Jika dilihat sekilas saja, air laut, menurut dia, akan terlihat sehitam batu bara jika terkena tumpahan batu bara dari kapal pengangkut. Hal ini jelas, dikhawatirkan dia, akan membahayakan, bukan hanya untuk biota laut, tetapi juga bagi kapal lain yang melintas, karena tentu tingkat kepekatan air akan berubah.

Baca Juga :  Eropa Saja Berburu Batubara, Indonesia Harus Apa?

“Ini sudah sering terjadi di perairan kita di Indonesia. Di Aceh, PLTU Paiton dan beberapa daerah lainnya,” kata Sigit.

Dampak lainnya, lanjut Sigit, dapat mengancam kelestarian biota laut. Menurutnya, sifat atau unsur kimia yang ada pada batu bara, lama kelamaan akan mengancam kelestarian biota laut, terutama terumbu karang.

Batu bara, menurut dia, mengandung zat-zat karbon, besi sulfida atau pirit jika berinteraksi dengan air laut, bisa menghasilkan asam sulfat dengan kadar tinggi. Asam sulfat, dikatakan dia, bisa membunuh ikan serta biota laut lainnya. Ini karena biota laut cenderung sensitif terhadap perubahan pH yang cepat.

“Apabila hal tersebut terjadi pada kawasan perairan yang kaya akan biota laut, jelas akan sangat merugikan,” jelasnya.

Selanjutnya, kata Sigit, dapat membahayakan kesehatan. Menurutnya, selain bisa merusak laut, ternyata batu bara juga bisa membahayakan orang-orang yang bersinggungan langsung dengannya. Dalam hal ini, diingatkan dia, termasuk orang-orang yang mengangkut dan mengirimkan batu bara.

Untuk itu, kata Sigit, perlu mencari solusi terhadap dampak tersebut. Menurutnya, perlu dilakukan sinergitas antara pemerintah kabupaten dan pemerintah provinsi dalam pengelola perairan di Kalimantan Barat.

“Ini menjadi perhatian yang serius dan segera dicari solusinya,” katanya. (*)

Most Read

Artikel Terbaru

/