alexametrics
33 C
Pontianak
Thursday, August 18, 2022

Puluhan Replika Naga Dibakar

Hunian Hotel Penuh Saat Cap Go Meh

PONTIANAK – Puluhan replika naga yang telah menjalani ritual buka mata saat perayaan Cap Go Meh dibakar di Komplek Yayasan Bhakti Suci, Jalan Adi Sucipto, Kecamatan Sungai Raya, Kubu Raya, Minggu (9/2).

Halaman Yayasan Bhakti Suci saat itu dipenuhi warga yang ingin secara langsung melihat prosesi pembakaran. Ritual bakar naga itu menjadi tanda penutup rangkaian kegiatan Imlek dan Cap Go Meh 2020.

Dari pantauan Pontianak Post, proses pembakaran naga dilakukan secara bertahap. Replika naga yang sudah siap dibakar disimpan di ruangan terbuka, tepatnya di halaman Yayasan Bakti Suci dengan posisi melingkar.

Setelah seluruh persiapan matang, barulah naga dibakar. Kobaran api pun tampak menyelimuti langit-langit di halaman yayasan. Tampak warga begitu antusias melihat prosesi pembakaran replika tersebut.

Pengurus Yayasan Pemadam Merdeka, Vounchunfui mengatakan, ritual bakar naga wajib dilaksanakan. Hal itu dipercaya untuk mengirim mahluk naga ke kahyangan, yang sebelumnya dipanggil merasuki replika naga, saat ritual ‘buka mata’.

Dia menjelaskan, menurut keyakinan bahwa naga yang kemarin ikut ritual buka mata harus dibakar. Jika replika naga tidak mengikuti prosesi pembakaran, maka dapat membawa musibah atau hal yang tak diinginkan

“Abu sisa pembakaran replika naga disimpan di tempat sembahyang. Abu itu diyakini pula bisa menangkal dan mengusir roh jahat sekaligus membawa keberuntungan,” kata Vounchunfui.

Menurutnya, tradisi buka mata dan pembakaran replika naga tersebut adalah tradisi kepercayaan dan ritual bakar naga menjadi penutup perayaan Imlek dan Cap Go Meh.

Baca Juga :  Nonton Cap Go Meh Didenda Rp30 Ribu

“Replika naga kami yang dibakar sepanjang 64 meter. Di malam puncak perayaan Cap Go Meh, naga kami ikut beratraksi dalam kegiatan bertajuk naga bersinar,” ucapnya.

Arman, salah satu penonton mengatakan, dirinya sengaja datang ke Yayasan Bhakti Suci untuk melihat prosesi pembakaran replika naga. Dia mengaku ingin melihat langsung naga-naga cantik dan indah harus dimusnahkan setelah buka mata.

“Proses pembakaran replika naga ini setiap tahun berlangsung di sini. Selalu ramai dipadati masyarakat. Menarik untuk dilihat,” pungkasnya.

Sementara itu, Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono memperkirakan jumlah masyarakat yang menyaksikan pawai naga bersinar pada rangkaian acara Cap Go Meh di Pontianak Sabtu malam mencapai lebih sepuluh ribu orang. Dari jumlah itu, sebagiannya adalah wisatawan.

Pada acara Pawai Naga Bersinar di Jalan Gajah Mada, Sabtu malam, begitu ramai disaksikan masyarakat. Jumlahnya, kata Edi, bisa mencapai sepuluh ribu orang. Dia berani mengatakan bahwa sebagian masyarakat yang hadir merupakan wisatawan dari luar dikarenakan jumlah hujan hotel di Pontianak semuanya terisi oleh wisatawan.

Ia menilai pawai naga bersinar yang digelar dalam rangka Perayaan Cap Go Meh ini juga sebagai wadah perekat keberagaman yang ada di Kota Pontianak. Menurutnya, antusias masyarakat begitu tinggi menyaksikan kegiatan tersebut menunjukkan hal ini sebagai perekat keberagaman. Apalagi para pemain naga dan barongsai yang terlibat terdiri dari beragam suku bangsa. “Jadi tak hanya etnis Tionghoa, tetapi beragam suku bangsa,” kata Edi.

Baca Juga :  Wali Kota Pontianak Butuh Dukungan Semua Pihak Wujudkan Kota Pintar

Ke depan, dia meminta kepada panitia untuk semakin meningkatkan kemasan acara ini lebih kreatif dan inovatif. “Ada baiknya, tidak hanya menampilkan budaya Tionghoa saja, tetapi juga melibatkan budaya dari suku-suku lainnya sehingga akan semakin meriah acaranya,” tukasnya.

Agar pelaksanaan even Cap Go Meh semakin menarik, anggota DPRD Pontianak Anwar Ali memandang harus ada yang unik dan tidak terdapat di daerah lain. Dengan begitu dia meyakini di tahun berikutnya jumlah pengunjung yang ingin menyaksikan Cap Go Meh di Pontianak semakin ramai.

Jumlah hunian hotel kata dia, memang ramai. Namun data spesifiknya belum diketahui. “Hunian memang penuh. Tapi, apakah merata di semua hotel. Kalau hanya di satu atau dua hotel artinya ke depan promosi acara ini mesti ditingkatkan lagi,” katanya.

Agar pengemasan acara ini makin menarik, dia meminta pihak penyelenggara juga melibatkan hotel-hotel. Apabila visinya sudah senada dia optimis ke depan pelaksanaan setiap even di Kota Pontianak semakin ramai dikunjungi para wisatawan dari luar.

Silvie, karyawan di salah satu hotel berbintang di Pontianak mengungkapkan, sejak H-2 Cap Go Meh hunian hotel mulai penuh.

Di hari H, semua kamar hotel di tempatnya bekerja penuh diisi pengunjung. Menurut Silvie, rata-rata pengunjung datang  untuk menyaksikan Cap Go Meh. “Kebanyakan berasal dari Jakarta,” kata Silvie. (adg/iza)

Hunian Hotel Penuh Saat Cap Go Meh

PONTIANAK – Puluhan replika naga yang telah menjalani ritual buka mata saat perayaan Cap Go Meh dibakar di Komplek Yayasan Bhakti Suci, Jalan Adi Sucipto, Kecamatan Sungai Raya, Kubu Raya, Minggu (9/2).

Halaman Yayasan Bhakti Suci saat itu dipenuhi warga yang ingin secara langsung melihat prosesi pembakaran. Ritual bakar naga itu menjadi tanda penutup rangkaian kegiatan Imlek dan Cap Go Meh 2020.

Dari pantauan Pontianak Post, proses pembakaran naga dilakukan secara bertahap. Replika naga yang sudah siap dibakar disimpan di ruangan terbuka, tepatnya di halaman Yayasan Bakti Suci dengan posisi melingkar.

Setelah seluruh persiapan matang, barulah naga dibakar. Kobaran api pun tampak menyelimuti langit-langit di halaman yayasan. Tampak warga begitu antusias melihat prosesi pembakaran replika tersebut.

Pengurus Yayasan Pemadam Merdeka, Vounchunfui mengatakan, ritual bakar naga wajib dilaksanakan. Hal itu dipercaya untuk mengirim mahluk naga ke kahyangan, yang sebelumnya dipanggil merasuki replika naga, saat ritual ‘buka mata’.

Dia menjelaskan, menurut keyakinan bahwa naga yang kemarin ikut ritual buka mata harus dibakar. Jika replika naga tidak mengikuti prosesi pembakaran, maka dapat membawa musibah atau hal yang tak diinginkan

“Abu sisa pembakaran replika naga disimpan di tempat sembahyang. Abu itu diyakini pula bisa menangkal dan mengusir roh jahat sekaligus membawa keberuntungan,” kata Vounchunfui.

Menurutnya, tradisi buka mata dan pembakaran replika naga tersebut adalah tradisi kepercayaan dan ritual bakar naga menjadi penutup perayaan Imlek dan Cap Go Meh.

Baca Juga :  Artis Ibu Kota Hingga Malaysia Ramaikan Festival Imlek Dan CGM Tri Dharma Pemangkat

“Replika naga kami yang dibakar sepanjang 64 meter. Di malam puncak perayaan Cap Go Meh, naga kami ikut beratraksi dalam kegiatan bertajuk naga bersinar,” ucapnya.

Arman, salah satu penonton mengatakan, dirinya sengaja datang ke Yayasan Bhakti Suci untuk melihat prosesi pembakaran replika naga. Dia mengaku ingin melihat langsung naga-naga cantik dan indah harus dimusnahkan setelah buka mata.

“Proses pembakaran replika naga ini setiap tahun berlangsung di sini. Selalu ramai dipadati masyarakat. Menarik untuk dilihat,” pungkasnya.

Sementara itu, Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono memperkirakan jumlah masyarakat yang menyaksikan pawai naga bersinar pada rangkaian acara Cap Go Meh di Pontianak Sabtu malam mencapai lebih sepuluh ribu orang. Dari jumlah itu, sebagiannya adalah wisatawan.

Pada acara Pawai Naga Bersinar di Jalan Gajah Mada, Sabtu malam, begitu ramai disaksikan masyarakat. Jumlahnya, kata Edi, bisa mencapai sepuluh ribu orang. Dia berani mengatakan bahwa sebagian masyarakat yang hadir merupakan wisatawan dari luar dikarenakan jumlah hujan hotel di Pontianak semuanya terisi oleh wisatawan.

Ia menilai pawai naga bersinar yang digelar dalam rangka Perayaan Cap Go Meh ini juga sebagai wadah perekat keberagaman yang ada di Kota Pontianak. Menurutnya, antusias masyarakat begitu tinggi menyaksikan kegiatan tersebut menunjukkan hal ini sebagai perekat keberagaman. Apalagi para pemain naga dan barongsai yang terlibat terdiri dari beragam suku bangsa. “Jadi tak hanya etnis Tionghoa, tetapi beragam suku bangsa,” kata Edi.

Baca Juga :  Cap Go Meh tanpa Perayaan, Tatung pun “Pensiun” Pawai

Ke depan, dia meminta kepada panitia untuk semakin meningkatkan kemasan acara ini lebih kreatif dan inovatif. “Ada baiknya, tidak hanya menampilkan budaya Tionghoa saja, tetapi juga melibatkan budaya dari suku-suku lainnya sehingga akan semakin meriah acaranya,” tukasnya.

Agar pelaksanaan even Cap Go Meh semakin menarik, anggota DPRD Pontianak Anwar Ali memandang harus ada yang unik dan tidak terdapat di daerah lain. Dengan begitu dia meyakini di tahun berikutnya jumlah pengunjung yang ingin menyaksikan Cap Go Meh di Pontianak semakin ramai.

Jumlah hunian hotel kata dia, memang ramai. Namun data spesifiknya belum diketahui. “Hunian memang penuh. Tapi, apakah merata di semua hotel. Kalau hanya di satu atau dua hotel artinya ke depan promosi acara ini mesti ditingkatkan lagi,” katanya.

Agar pengemasan acara ini makin menarik, dia meminta pihak penyelenggara juga melibatkan hotel-hotel. Apabila visinya sudah senada dia optimis ke depan pelaksanaan setiap even di Kota Pontianak semakin ramai dikunjungi para wisatawan dari luar.

Silvie, karyawan di salah satu hotel berbintang di Pontianak mengungkapkan, sejak H-2 Cap Go Meh hunian hotel mulai penuh.

Di hari H, semua kamar hotel di tempatnya bekerja penuh diisi pengunjung. Menurut Silvie, rata-rata pengunjung datang  untuk menyaksikan Cap Go Meh. “Kebanyakan berasal dari Jakarta,” kata Silvie. (adg/iza)

Most Read

Artikel Terbaru

/