alexametrics
33 C
Pontianak
Monday, June 27, 2022

Vaksinasi Lansia Dimulai

PONTIANAK – Kepala Dinas Kesehatan Kota Pontianak Sidiq Handanu mengatakan vaksinasi untuk lansia sudah dimulai sejak, Senin 8 Desember 2021. “Sudah dimulai sejak Senin kemarin,” kata Sidiq saat diwawancarai Selasa (9/2) sore.  Meski demikian vaksinasi lansia itu belum dilakukan pada masyarakat umum. Vaksinasi itu masih dilakukan pada tenaga kesehatan lansia di fasilitas kesehatan swasta.

“Secara jumlah belum ada. Prosesnya masih berjalan hingga sekarang, karena vaksinasi itu untuk tenaga kesehatan faskes swasta, sementara di faskes negeri tidak ada nakes yang lansia,” jelas Sidiq.

Seperti diketahui dalam siaran pers di situs di POM. GO. ID Badan POM telah membahas bersama Tim Komite Nasional (Komnas) Penilai Obat dan para ahli di bidang vaksin, ITAGI (Indonesian Technical Advisory Group on Immunization), Dokter Spesialis Alergi dan Imunologi, dan Dokter Spesialis Geriatrik dalam menetapkan keputusan penggunaan vaksin COVID-19 untuk lansia. Berdasar hasil evaluasi bersama tersebut, maka pada tanggal 5 Februari 2021 Badan POM menerbitkan EUA vaksin CoronaVac untuk usia 60 tahun ke atas, dengan 2 dosis suntikan vaksin yang diberikan dalam selang waktu 28 hari.

Namun, mengingat populasi lansia merupakan populasi berisiko tinggi, maka pemberian vaksin harus dilakukan secara hati-hati. Kelompok lansia cenderung memiliki berbagai penyakit penyerta atau komorbid yang harus diperhatikan dalam penggunaan vaksin ini.

Di samping itu, manajemen risiko harus direncanakan dengan sebaik-baiknya sebagai langkah antipasti mitigasi risiko apabila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan setelah pemberian vaksin. Penyediaan akses pelayanan medis dan obat-obatan untuk penanganan Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) yang serius yang mungkin terjadi harus menjadi perhatian bagi penyelenggara pelayanan vaksinasi untuk Lansia. Kesiapsiagaan petugas kesehatan di lapangan juga merupakan hal yang sangat penting.

Baca Juga :  Polisi Bantah Kasus Perorangan Terkesan Dipaksakan

Selain menyetujui indikasi untuk kelompok Lansia, Badan POM juga memberikan persetujuan untuk alternatif durasi pemberian pada 0 dan 28 hari untuk populasi dewasa yang menjadi alternatif penggunaan pada kondisi rutin (di luar kondisi pandemi). Meskipun durasi pemberian 0 dan 28 hari menunjukan imunogenisitas baik, tetapi dalam masa pandemi untuk mendapatkan cakupan imunisasi yang cepat dengan regimen yang lengkap lebih disarankan menggunakan jadwal pemberian 0 dan 14 hari.

Setelah memberi persetujuan terhadap Vaksin CoronaVac ini, Badan POM akan mengevaluasi beberapa vaksin yang akan digunakan oleh pemerintah dalam program vaksinasi. Dalam hal ini, Badan POM akan selalu mengacu pada standar Internasional dan yang telah ditetapkan oleh WHO dalam menerapkan standar dan persyaratan keamanan, khasiat, dan mutu dari vaksin yang tersedia.

Sementara itu di lain tempat, Kepala Dinas Kesehatan Kalbar Harisson mengatakan jumah tenaga kesehatan divaksin akan terus bertambah.  Hingga tanggal 7 Februari jumlah tenaga kesehatan di Kalimantan Barat yang sudah divaksin sebanyak 12.143 orang atau setara dengan 42,47 persen dari sasaran sebanyak 28.998 orang.

Baca Juga :  Launching Mal Sadar Jaminan Sosial Ketenagakejaan

Ini berdasarkan data Komite Penanganan Coronavirus Disease 2019 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN).  “Itu berdasarkan data KPCPEN pada Tanggal 7 Februari 2021 pukul 18.00 wib,” kata Harisson di Pontianak, kemarin.

Sementara yang batal divaksin sebanyak 2.935 orang. Sedangkan yang ditunda 1.646 orang.  Adapun yang menyebabkan batal atau ditunda vaksinasinya antara lain 64,5 persen karena menyusui dan 29,72 persen hipertensi. Sisanya alasan penyintas Covid atau pernah tertular covid-19, sedang Hamil dan lainnya.

Ia mengatakan tenaga kesehatan yang pelaksanaan vaksinasi ditunda maupun batal agar memperbaiki kriteria kontra indikasi vaksinasi sebagaimana petunjuk dari Kemkes. Kemudian vaksinasi covid-19 dikontra indikasikan hanya untuk ibu hamil, menyusui, dan penyakit autoimun. Sementara untuk kelainan jantung bila tidak ada keluhan dalam tiga bulan terakhir maka vaksinasi dapat diberikan. Begitu juga untuk penderita diabetes melitus, bila terkontrol maka vaksinasi juga dapat diberikan.

“Sementara untuk penyintas Covid-19 atau pernah tertular covid kalau dulu dikontra indikasikan maka saat ini dapat diberikan vaksinasi tersebut,” ungkapnya.  Selanjutnya fasilitas layanan kesehatan juga diharapkan menggunakan tensimeter manual atau tensimeter jam yang menggunakan jarum dalam melakukan skrining kesehatan karena penggunaan tensimeter digital sangat sensitif yang menyebabkan banyak nakes yang ditolak untuk divaksin karena terdeteksi memiliki tekanan darah tinggi atau hipertensi.  “Dengan demikian nakes akan banyak yang divaksinasi karena pemeriksaan tekanan darah yang lebih tepat,” pungkasnya. (mse)

PONTIANAK – Kepala Dinas Kesehatan Kota Pontianak Sidiq Handanu mengatakan vaksinasi untuk lansia sudah dimulai sejak, Senin 8 Desember 2021. “Sudah dimulai sejak Senin kemarin,” kata Sidiq saat diwawancarai Selasa (9/2) sore.  Meski demikian vaksinasi lansia itu belum dilakukan pada masyarakat umum. Vaksinasi itu masih dilakukan pada tenaga kesehatan lansia di fasilitas kesehatan swasta.

“Secara jumlah belum ada. Prosesnya masih berjalan hingga sekarang, karena vaksinasi itu untuk tenaga kesehatan faskes swasta, sementara di faskes negeri tidak ada nakes yang lansia,” jelas Sidiq.

Seperti diketahui dalam siaran pers di situs di POM. GO. ID Badan POM telah membahas bersama Tim Komite Nasional (Komnas) Penilai Obat dan para ahli di bidang vaksin, ITAGI (Indonesian Technical Advisory Group on Immunization), Dokter Spesialis Alergi dan Imunologi, dan Dokter Spesialis Geriatrik dalam menetapkan keputusan penggunaan vaksin COVID-19 untuk lansia. Berdasar hasil evaluasi bersama tersebut, maka pada tanggal 5 Februari 2021 Badan POM menerbitkan EUA vaksin CoronaVac untuk usia 60 tahun ke atas, dengan 2 dosis suntikan vaksin yang diberikan dalam selang waktu 28 hari.

Namun, mengingat populasi lansia merupakan populasi berisiko tinggi, maka pemberian vaksin harus dilakukan secara hati-hati. Kelompok lansia cenderung memiliki berbagai penyakit penyerta atau komorbid yang harus diperhatikan dalam penggunaan vaksin ini.

Di samping itu, manajemen risiko harus direncanakan dengan sebaik-baiknya sebagai langkah antipasti mitigasi risiko apabila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan setelah pemberian vaksin. Penyediaan akses pelayanan medis dan obat-obatan untuk penanganan Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) yang serius yang mungkin terjadi harus menjadi perhatian bagi penyelenggara pelayanan vaksinasi untuk Lansia. Kesiapsiagaan petugas kesehatan di lapangan juga merupakan hal yang sangat penting.

Baca Juga :  Polisi Bantah Kasus Perorangan Terkesan Dipaksakan

Selain menyetujui indikasi untuk kelompok Lansia, Badan POM juga memberikan persetujuan untuk alternatif durasi pemberian pada 0 dan 28 hari untuk populasi dewasa yang menjadi alternatif penggunaan pada kondisi rutin (di luar kondisi pandemi). Meskipun durasi pemberian 0 dan 28 hari menunjukan imunogenisitas baik, tetapi dalam masa pandemi untuk mendapatkan cakupan imunisasi yang cepat dengan regimen yang lengkap lebih disarankan menggunakan jadwal pemberian 0 dan 14 hari.

Setelah memberi persetujuan terhadap Vaksin CoronaVac ini, Badan POM akan mengevaluasi beberapa vaksin yang akan digunakan oleh pemerintah dalam program vaksinasi. Dalam hal ini, Badan POM akan selalu mengacu pada standar Internasional dan yang telah ditetapkan oleh WHO dalam menerapkan standar dan persyaratan keamanan, khasiat, dan mutu dari vaksin yang tersedia.

Sementara itu di lain tempat, Kepala Dinas Kesehatan Kalbar Harisson mengatakan jumah tenaga kesehatan divaksin akan terus bertambah.  Hingga tanggal 7 Februari jumlah tenaga kesehatan di Kalimantan Barat yang sudah divaksin sebanyak 12.143 orang atau setara dengan 42,47 persen dari sasaran sebanyak 28.998 orang.

Baca Juga :  Launching Mal Sadar Jaminan Sosial Ketenagakejaan

Ini berdasarkan data Komite Penanganan Coronavirus Disease 2019 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN).  “Itu berdasarkan data KPCPEN pada Tanggal 7 Februari 2021 pukul 18.00 wib,” kata Harisson di Pontianak, kemarin.

Sementara yang batal divaksin sebanyak 2.935 orang. Sedangkan yang ditunda 1.646 orang.  Adapun yang menyebabkan batal atau ditunda vaksinasinya antara lain 64,5 persen karena menyusui dan 29,72 persen hipertensi. Sisanya alasan penyintas Covid atau pernah tertular covid-19, sedang Hamil dan lainnya.

Ia mengatakan tenaga kesehatan yang pelaksanaan vaksinasi ditunda maupun batal agar memperbaiki kriteria kontra indikasi vaksinasi sebagaimana petunjuk dari Kemkes. Kemudian vaksinasi covid-19 dikontra indikasikan hanya untuk ibu hamil, menyusui, dan penyakit autoimun. Sementara untuk kelainan jantung bila tidak ada keluhan dalam tiga bulan terakhir maka vaksinasi dapat diberikan. Begitu juga untuk penderita diabetes melitus, bila terkontrol maka vaksinasi juga dapat diberikan.

“Sementara untuk penyintas Covid-19 atau pernah tertular covid kalau dulu dikontra indikasikan maka saat ini dapat diberikan vaksinasi tersebut,” ungkapnya.  Selanjutnya fasilitas layanan kesehatan juga diharapkan menggunakan tensimeter manual atau tensimeter jam yang menggunakan jarum dalam melakukan skrining kesehatan karena penggunaan tensimeter digital sangat sensitif yang menyebabkan banyak nakes yang ditolak untuk divaksin karena terdeteksi memiliki tekanan darah tinggi atau hipertensi.  “Dengan demikian nakes akan banyak yang divaksinasi karena pemeriksaan tekanan darah yang lebih tepat,” pungkasnya. (mse)

Most Read

Artikel Terbaru

/