alexametrics
22.8 C
Pontianak
Sunday, August 14, 2022

Menilik Pasar Legenda Lorong Seroja, Terhimpit Zaman, Menyisakan Satu Pedagang yang Bertahan

Setiap zaman ada masanya, setiap masa ada zamannya. Kalimat ini mungkin tepat untuk menggambarkan kondisi lorong Pasar Seroja sekarang. Sepi. Antusias pembeli ketika belanja di lorong ini makin sedikit. Sekarang, satu persatu pedagangnyapun meninggalkan lokasi jualan ini

MIRZA AHMAD MUIN, Pontianak

BUNYI alat pemutar musik milik Syarif Saleh, seorang pedagang asesoris di lorong Pasar Seroja, jelang siang kemarin berdentum lumayan keras. Irama lagu yang diputar sangat rancak. Bahkan musik rancak itu terdengar dari pintu masuk, lorong ujung Terminal Kampung Bali, tembusan lorong Seroja.

Mungkin bagi Syarif Saleh, musik rancak yang diputar itu akan mampu menarik perhatian pengunjung untuk sekadar datang dan melihat dagangan asesoris miliknya.

Pantauan Pontianak Post, kondisi Pasar di lorong Seroja kini memprihatinkan. Aktivitas pedagang yang dulunya penuh sesak menempati lorong Pasar Seroja, kini berbanding terbalik. Hanya menyisakan satu pedagang bertahan. Dia adalah Syarif Saleh.

“Dulu ada enam pedagang menempati sepanjang Pasar Lorong Seroja ini. Sekarang sisa saya sendiri. Kondisi lorong Seroja pun sudah tak seramai dulu,” ujar Syarif Saleh yang sudah berjualan sejak tahun 1981 itu, kepada Pontianak Post, Selasa (9/3).

Baca Juga :  Tim E-Sports Kalbar Wakili Indonesia di Kejuaraan Internasional

Pasar Lorong Seroja kata dia, dulu merupakan tempat perlintasan masyarakat, baik dari Terminal Kampung Bali-Seroja dan sebaliknya. Namun kondisinya kini sepi. Sebab dua terminal ini, yaitu Kampung Bali dan Seroja tak seramai dulu. Itu karena pengguna oplet makin tersisih. Al hasil perlintasan lorong Seroja tak terjamah oleh masyarakat.

Apalagi sejak Covid-19. Penjualan asesoris makin ambruk. Bahkan dari jam delapan pagi hingga empat sore, belum tentu ada barang laku. Pelanggan yang biasa memasok barang untuk dijual ke Malaysia pun juga sendat, akibat pemberlakuan aturan larangan masuk ke border Malaysia. Padahal itulah pemasukan terbesarnya sekarang.

Ia melanjutkan, penjualan barang ke Malaysia diterapkan dengan sistem tukar barang. Artinya untuk barang yang tidak laku bisa dikembalikan lalu mengambil barang baru yang ada di sini.

Baca Juga :  Operasi Tangani Covid-19 Tiga Juta Orang Dapat Teguran, Denda Capai Rp186 Juta

Zaman kini memang telah berubah. Namun ia tetap bertahan, menunggu konsumen membeli dagangan asesoris di lorong yang telah menghidupi keluarganya. Tidak seperti lima rekan pedagang lainnya, yang sudah tutup duluan. Mereka lebih memilih pekerjaan lain, supaya dapur tetap ngepul. “Sebagian pedagang ada yang jadi sopir, selain itu memilih kerja swasta. Karena jika menunggu di sini, pendapatannya sudah tak tentu,” ujarnya.

Ia mengenang, di tahun 80 dan 90-an. Perhari, untung bersih dagangannya bisa sampai Rp600 ribu. “Jelang lebaran, malahan sehari bisa dapat Rp3 juta,” ujar bapak tiga anak ini.

Dulu untuk mencari uang di sini benar-benar mudah. Ia bahkan bisa menguliahkan anak pertamanya hingga ke Yaman.

Untuk harga jual asesoris, seperti topi pun tak mahal. Ia patok mulai dari Rp20-Rp35 ribu. Kemudian ikat pinggang mulai dari Rp20-Rp150 ribu. Harga segitu, jika dibanding dengan harga di Mall, tentu jauh lebih miring. Namun kondisi sekarang memang berat. Sangat sulit untuk melakukannya.(*)

Setiap zaman ada masanya, setiap masa ada zamannya. Kalimat ini mungkin tepat untuk menggambarkan kondisi lorong Pasar Seroja sekarang. Sepi. Antusias pembeli ketika belanja di lorong ini makin sedikit. Sekarang, satu persatu pedagangnyapun meninggalkan lokasi jualan ini

MIRZA AHMAD MUIN, Pontianak

BUNYI alat pemutar musik milik Syarif Saleh, seorang pedagang asesoris di lorong Pasar Seroja, jelang siang kemarin berdentum lumayan keras. Irama lagu yang diputar sangat rancak. Bahkan musik rancak itu terdengar dari pintu masuk, lorong ujung Terminal Kampung Bali, tembusan lorong Seroja.

Mungkin bagi Syarif Saleh, musik rancak yang diputar itu akan mampu menarik perhatian pengunjung untuk sekadar datang dan melihat dagangan asesoris miliknya.

Pantauan Pontianak Post, kondisi Pasar di lorong Seroja kini memprihatinkan. Aktivitas pedagang yang dulunya penuh sesak menempati lorong Pasar Seroja, kini berbanding terbalik. Hanya menyisakan satu pedagang bertahan. Dia adalah Syarif Saleh.

“Dulu ada enam pedagang menempati sepanjang Pasar Lorong Seroja ini. Sekarang sisa saya sendiri. Kondisi lorong Seroja pun sudah tak seramai dulu,” ujar Syarif Saleh yang sudah berjualan sejak tahun 1981 itu, kepada Pontianak Post, Selasa (9/3).

Baca Juga :  Pelajar SMA GB Raih Perunggu AIGC Singapore 2020

Pasar Lorong Seroja kata dia, dulu merupakan tempat perlintasan masyarakat, baik dari Terminal Kampung Bali-Seroja dan sebaliknya. Namun kondisinya kini sepi. Sebab dua terminal ini, yaitu Kampung Bali dan Seroja tak seramai dulu. Itu karena pengguna oplet makin tersisih. Al hasil perlintasan lorong Seroja tak terjamah oleh masyarakat.

Apalagi sejak Covid-19. Penjualan asesoris makin ambruk. Bahkan dari jam delapan pagi hingga empat sore, belum tentu ada barang laku. Pelanggan yang biasa memasok barang untuk dijual ke Malaysia pun juga sendat, akibat pemberlakuan aturan larangan masuk ke border Malaysia. Padahal itulah pemasukan terbesarnya sekarang.

Ia melanjutkan, penjualan barang ke Malaysia diterapkan dengan sistem tukar barang. Artinya untuk barang yang tidak laku bisa dikembalikan lalu mengambil barang baru yang ada di sini.

Baca Juga :  Pelatihan Pusdiklat DPD Perpamsi Kalbar Tingkatkan Kemampuan Ide Inovatif

Zaman kini memang telah berubah. Namun ia tetap bertahan, menunggu konsumen membeli dagangan asesoris di lorong yang telah menghidupi keluarganya. Tidak seperti lima rekan pedagang lainnya, yang sudah tutup duluan. Mereka lebih memilih pekerjaan lain, supaya dapur tetap ngepul. “Sebagian pedagang ada yang jadi sopir, selain itu memilih kerja swasta. Karena jika menunggu di sini, pendapatannya sudah tak tentu,” ujarnya.

Ia mengenang, di tahun 80 dan 90-an. Perhari, untung bersih dagangannya bisa sampai Rp600 ribu. “Jelang lebaran, malahan sehari bisa dapat Rp3 juta,” ujar bapak tiga anak ini.

Dulu untuk mencari uang di sini benar-benar mudah. Ia bahkan bisa menguliahkan anak pertamanya hingga ke Yaman.

Untuk harga jual asesoris, seperti topi pun tak mahal. Ia patok mulai dari Rp20-Rp35 ribu. Kemudian ikat pinggang mulai dari Rp20-Rp150 ribu. Harga segitu, jika dibanding dengan harga di Mall, tentu jauh lebih miring. Namun kondisi sekarang memang berat. Sangat sulit untuk melakukannya.(*)

Most Read

Artikel Terbaru

/